Ya gimana kata Tika, Put, kenapa nggak datang untuk terapi? Sudah aku sediakan waktu khusus tadi, aku diajak makan siang sama temanku, aku nolak karena aku ingin Tika segera ada hasilnya selama terapi
Kamu ini gimana sih katanya cuman Atikah pasiennya? Ternyata kamu nerima pasien lain yang bikin Tika semakin trauma
Hah? Beneran nggak ada Puuut, masa aku bohong
Gus, ini Atikah bareng pembantuku, dia bilang hal yang sama, dia lihat ibu tiri Atikah ke luar dari ruangan kamu, makanya Atikah sampai mau berhenti nggak mau lagi terapi sama kamu, ibu tiri Atikah namanya Julia, catat Ju ... liiii ... aaaa nah tadi ada nggak pasien kamu yang namanya Julia, nggak mungkin Atikah dan Bi Minah bohong
Ya Allaaaah masa iya Julia yang sama?
Hah, emang kenapa?
Tadi memang ada Julia temanku yang aku bilang tante-tante suka sama aku itu datang bentar ke klinik aku, ngajak makan siang di tempat dia buka cafe baru tapi aku nolak karena janjian sama Atikah
Guuus, Gus, sekalinya ada yang naksir kok ya tante-tante, kok ya pas tante-tante psikopat lagi, dia itu yang ngasi obat perangsang ke minuman anaknya dan anaknya merkosa Atikah, udah ya Gus, maaf, aku nggak bisa nerusin Atikah terapi di kamu lagi, aku nggak mau psikisnya makin terganggu gara-gara dia merasa terancam ibu tirinya lagi
Loh, looooh tunggu Put, aku lebih baik nggak temanan sama tu tante dari pada Atikah nggak sembuh, jangan gini Put, biar aku ke rumahmu, aku mau bicara sama Atikah
Serah kamu, intinya aku nggak mau Tika jadi semakin ketakutan, ini malah nambah trauma dia Gus
Kasi aku waktu ketemu Atikah, jangan sampai dia nggak sembuh
.
.
.
"Ada apa Anda mau bertemu saya lagi? Anda sampai mengejar saya ke kantor ini."
Angkasa menghela napas, ia terlihat bingung dan berkali-kali menghela napas.
"Bagaimana kabar Atikah?"
"Baik-baik saja, belum ada perubahan yang signifikan, sudah saya terapi pada seorang psikolog, hanya ya masih seperti itu, mungkin karena traumanya menahun hingga dia rasanya masih perlu berkali-kali terapi lagi agar terlihat hasilnya, dia masih saja takut dan tidak percaya pada kaum laki-laki, tidak mau disentuh awalnya tapi mungkin karena sering bersama dan melihat saya akhirnya diam saja saat saya usap kepalanya, dia masih sering ketakutan jika mendengar rintik hujan, emosi dia juga tidak stabil, makannya sangat sulit, saya sampai bingung apa yang dia suka? Sepertinya semua makanan jadi sulit ia telan."
Air mata Angkasa terasa penuh di pelupuk matanya. Perasaan berdosa pada Atikah semakin besar, dan rasa marah pada mamanya juga semakin tak bisa ia pungkiri.
"Saya ingin bertemu dia, saya ingin meminta maaf atas apa yang saya lakukan padanya, dalam lubuk hati saya tak ingin merusaknya, saya ingin menikahi Atikah saat ia sudah selesai berkuliah, itu sudah ada niatan di hati saya, jadi tak ada sedikitpun niat dalam hati untuk mengambil kesuciannya, toh kami saling mencintai, kejadian tak terduga itu telah merusak segalanya, membuat ia membenci saya, jadi saya ingin meminta bantuan Anda agar mempertemukan saya dengan Atikah, saya ingin membuat ia percaya lagi pada saya, saya tetap ingin menikahi dia, bantulah saya, saya mohon."
Putra mengangguk, hanya beberapa kali bertemu Angkasa, ia bisa melihat kesungguhan dari mata laki-laki di depannya, ia bisa melihat ketulusan Angkasa hanya nasib yang membuatnya harus menderita karena jalan takdir yang tak begitu mulus.
"Saya tidak bisa berjanji apa-apa, akan saya sampaikan keinginan Anda, nanti bagaimana keputusannya tergantung Atikah."
"Sekali lagi saya mohon, bantu saya, akan saya sembuhkan dia dengan cara saya, akan saya yakinkan dia bahwa tak ada niatan hati saya merusaknya, semua di luar kuasa saya, tolong sampaikan juga saya sudah tak di rumah Atikah lagi, saya mengontrak tak jauh dari perusahaan tempat saya bekerja, karena semakin hari pertengkaran saya dengan mama saya semakin jadi."
"Eeemm ... maaf jika boleh saya tahu, sebenarnya saya hanya ingin konfirmasi saja, meski sebenarnya bukan urusan saya, apakah mama Anda saat ini dekat dengan seseorang yang usianya lebih muda dari mama Anda?"
Angkasa menunduk, ia pejamkan matanya, ada rasa malu tapi mau bagaimana lagi karena semua yang ia lihat di depan matanya memang benar adanya.
"Saya tidak tahu lagi harus bagaimana, mama saya banyak berhubungan dengan laki-laki yang usianya lebih muda, yang bikin saya risih kadang dibawa ke rumah dan melakukan hal itu di rumah, makanya saya memilih pergi saja, dan lagi pula rumah itu adalah rumah peninggalan orang tua Atikah, itu hak Atikah, sejak awal kami hanya numpang saja."
Putra geleng-geleng kepala, ia ingat Gustav yang masih beruntung tidak terjerat oleh rayuan tante gila itu.
"Maaf jika tak ada hal yang penting lagi, bisa kita lanjutkan kapan-kapan karena hari ini masih banyak yang harus saya kerjakan."
Angkasa bangkit, ia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari hadapan Putra.
"Ya Allah Gustaaaav sekalinya kenal tante-tante kok ya kayak iblis betina, binal, liar, jahat, paket komplit lagi, kalo sampe kamu jadi simpanan dia hadeeeuh tamat beneran dah." Putra terkekeh memikirkan nasib sahabatnya yang untungnya masih belum ada hubungan apapun dengan Julia.
.
.
.
"Makan ya Non, Bibi suapin ya?"
Bi Siti mengambil piring lalu menyendokkan nasi dan lauk. Atikah hanya menatap saja tanpa berkata sepatah pun. Tak lama datang Bi Minah.
"Biar saya saja Mbak Yu yang nyiapin Non Atikah."
Bi Siti memberikan piring yang telah berisi sedikit nasi serta lauk opor ayam dan sambel goreng ati kentang, pada Bi Minah.
"Makan yang banyak Non, biar sehat, kalo perut kenyang hati jadi tenang, badan tidak meriang-meriang."
"Sejak dulu aku memang sulit makan kan Bi, dan sejak mengalami hal menakutkan itu aku jadi semakin nggak mau makan, gimana mau makan enak, pikiran jalan terus."
"Nah itu yang salah, yuk makan dulu bibi suapin, aaak ...."
Dan Atikah membuka mulutnya, mengunyah pelan sambil melamun, ingatannya kembali pada kejadian siang tadi saat ia melihat Julia lagi.
"Aku nggak mau bertemu wanita itu lagi Bi." Lirih terdengar suara Atikah.
"Iya, iyaaa nggak akan ketemu lagi."
"Aku nggak mau terapi lagi."
"Loh ya nggak boleh, harus terapi biar sembuh."
"Orang itu ternyata temannya wanita jahat itu paling ya Bi, kenapa juga tadi ada di sana."
"Nggak boleh punya pikiran jelek, siapa tahu dia juga mau berobat."
"Atikah selesaikan makannya ya, itu ada Gustav ingin ketemu kamu." Tiba-tiba saja Putra sudah berdiri di belakang Bi Minah, dan Atikah menggeleng dengan keras.
"Aku nggak mau ketemu sama Kak Gustav, dia temannya wanita itu, pasti nanti aku nggak dibuat sembuh, nggak mau aku Kak, aku nggak mau ketemu Kak Gustav lagi."
"Nggak boleh gitu, nggak boleh netting sama siapapun."
"Aku nggak netting, buktinya ada wanita itu di sana, ngapain juga di sana? Kan dia nggak mau bertobat pastinya."
"Demi Atikah, aku nggak akan temenan sama dia lagi."
Dan Gustav muncul di ruang makan itu juga.