bc

Suamiku Tiba-Tiba Banyak Uang

book_age16+
231
IKUTI
1.3K
BACA
second chance
independent
drama
bxg
betrayal
like
intro-logo
Uraian

Siska bingung, suaminya yang sudah lama menganggur tiba-tiba banyak uang, dan penampilannya pun semakin modis saja. Saat diselidiki, ternyata suaminya menjadi simpanan tante-tante. Dengan cara yang cerdik, Siska akan mengungkapkan semuanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Suamiku Tiba-Tiba Banyak Uang 1
Suamiku Tiba-Tiba Banyak Uang 1 "Bun, ini aku ada uang. Nanti langsung belanja s**u dan diapers untuk anak-anak ya. Yang tiga juta pakai untuk membayar hutang di Mas Rio, sisanya atur saja, apa yang kamu mau beli saja, Bun," ucap Mas Ali sore itu. "Ya Allah, Yah. Uang sebanyak ini kamu dapat dari mana? Dua hari yang lalu 'kan kamu sudah memberiku uang belanja enam juta, eh ini sekarang malah dikasih lagi tujuh juta, uang dari mana kamu, Yah?" ujarku. "Ya dari hasil kerjaku to, Bun. Pokoknya itu bukan uang hasil minjem, yang nanti ujung-ujungnya malah bikin kita bingung juga," timpalnya. "Memangnya kamu sekarang kerja apa sih Yah, kok belum seminggu menghasilkan uang segini banyak. Hampir senilai uang gajimu selama dua bulan bekerja di kantor dulu loh, Yah." "Sudahlah Bun, kamu jangan banyak tanya. Aku ini sudah capek-capek kerja loh, masak nggak kamu hargai? Yang penting ini bukan uang hasil curian dan bukan hasil nipu orang, ini uang halal. Doakan saja pokoknya, agar kerjaanku ini lancar terus, agar bisa memberikan hidup yang lebih baik untukmu dan dua anak kita. Sudah ah, aku capek mau istirahat dulu," ujarnya sambil meninggalkanku dan masuk ke kamar. Sungguh sangat mengherankan, dari mana suamiku itu mendapat uang sebanyak ini, hanya dalam selang waktu dua hari saja? Memang benar sih, kami sedang memerlukan uang untuk biaya kehidupan sehari-hari, dan juga untuk membeli s**u dan diapers dua batitaku, namun aku harus tahu juga dong dari mana Mas Ali mendapatkan uang sebanyak ini secara cepat. Enam bulan sudah suamiku itu menganggur di rumah, karena pandemi ini, dia menjadi salah satu karyawan yang di rumahkan oleh perusahaanya. Uang pesangon yang tidak seberapa itu, digunakan oleh Mas Ali untuk investasi di proyek temannya, karena saat itu temannya menjanjikan akan ada laba dua puluh persen tiap bulan. Namun nyatanya uang tersebut malah dibawa pergi dan hingga kini tak jelas rimbanya. Sejak itu, Mas Ali mulai sedikit down, dia jadi tak semangat untuk mencari kerja lagi. Aku pun berusaha memahami itu, mungkin dia butuh waktu untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Apalagi di saat pandemi seperti ini memang sangatlah sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru. Alhasil selama enam bulan ini, kami hanya bergantung dari menjual perhiasanku dan hasil jualan online-ku yang tak seberapa itu. Bagiku tak masalah dia belum bekerja saat itu, karena dia juga sangat sayang kepada anak-anak, dan mau membantuku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dua bulan terakhir, simpanan kami telah habis tak bersisa, dan karena pandemi yang berkepanjangan, jualan onlineku pun semakin sepi, kadang dalam sehari tak ada satu pun daganganku yang laku. Hingga aku pun sering berhutang kepada Mas Rio, kakak kandungku satu-satunya. Kebetulan Mas Rio memiliki toko sembako yang besar di pasar, jadi untuk kebutuhan rumah tangga dan anak-anak, aku berhutang di sana setiap hari. Hingga kemudian sekitar dua minggu yang lalu, seperti biasa kami datang ke tokonya untuk mengutang beras dan s**u. "Sis, kapan kamu mau bayar utang-utangmu ini? Utang-utangmu sudah sangat banyak disini," tanya Mas Rio mengagetkanku. "Eh, belum tahu Mas, kami usahkan bulan ini. Nanti kalau Mas Ali belum juga dapat kerjaan, motor itu akan kujual untuk bayar utang dan modal usaha," jawabku. "Sampai kapan kamu menunggu suamimu ini dapat kerjaan? Malas kerja gitu kok! Kalau aku jadi kamu, sudah tak tinggal pergi laki-laki pengangguran seperti itu, laki-laki yang tak berguna, hanya menyusahkan keluarga saja," teriak Mbak Hesti, kakak iparku. Mendengar ucapan itu, seketika wajah Mas Ali memerah, dan langsung berdiri menggandeng tanganku, dan mengajakku pulang. "Jangan menghinaku hanya karena saat ini aku belum mendapat pekerjaan! Tak sampai satu bulan aku akan mengembalikan uang kalian yang tak seberapa itu! Dan kupastikan, kami bisa lebih kaya dari pada kalian! Jadi jangan sombong kalian! Hanya karena mempunyai toko kecil ini saja! Ingat kata-kata dariku tadi! Kami pasti bisa lebih kaya dari kalian!" Ujar Mas Ali murka. Setelah hari itu, Mas Ali mulai sering keluar rumah, dan penampilannya juga kembali rapi. Namun aku tak curiga sama sekali, mungkin memang dia sedang ikhtiar mencari pekerjaan. Satu minggu yang lalu, dia mulai memberiku uang, meski hanya lima ratus ribu, katanya uang hasil pinjam dari temannya. Tiga hari kemudian Mas Ali memberiku uang lima juta, dan dua hari kemudian, tepatnya sore ini, dia kembali memberiku uang tujuh juta rupiah. Bermacam dugaan melintas dipikiranku, kira-kira apa sih pekerjaan baru suamiku ini? Sedangkan kini, penampilannya pun semakin rapi dan tambah ganteng saja. Kira-kira suamiku itu kerja apa?, aku sangat heran, bagaimana bisa Mas Ali memberiku uang dalam jumlah banyak dan hanya dalam selang waktu yang terbilang sangat singkat. "Apa pekerjaan Mas Ali sekarang? Kenapa dia bisa memberiku uang yang banyak saat ini? Padahal kan kemarin dia sudah memberiku uang dan sekarang dia memberiku uang lagi dan itu pun dalam jumlah yang banyak," gumamku bingung. Siapa yang tidak heran, jika suaminya tiba-tiba dalam waktu singkat memberikan uang yang sangat banyak, padahal dia baru saja mendapatkan pekerjaan, yang entah pekerjaan apa itu, aku pun belum tahu. Ingin rasanya aku mengikuti suamiku saat dia bekerja, tetapi aku juga harus percaya dan berpikir positif saja kepada suamiku itu. Tidak mungkin dia bekerja yang tidak halal kan. Aku mencoba meyakinkan diriku agar tak berpikir macam-macam tentang suamiku. "Bun, tolong buatkan aku kopi hitam ya!" Teriak Mas Ali dari kamar, yang menyadarkanku dari lamunan tadi. "Iya, Yah. Tunggu sebentar ya, aku buatin dulu," jawabku juga teriak agar bisa Mas Ali bisa mendengar. "Iya, bun," jawab Mas Ali. Setelah beberapa menit aku membuatkan kopi untuk Mas Ali, kini kopinya sudah siap. Sekarang aku akan mengantarkan kopinya untuk Mas Ali ke kamar. "Ini, Mas kopinya," ucapku. "Iya, Bun. Taruh di meja situ saja, tunggu agak dingin, habis itu aku minum," jawab mas Ali tersenyum kepadaku. "Ya sudah, Yah. Aku mau lihat anak-anak dulu, kamu disini saja istirahat tidak apa-apa," "Ini aku juga mau istirahat, Bun. Badanku rasanya capek," jawab Mas Ali. "Jangan lupa kopinya diminum, Yah. Aku mau ke anak-anak," ucapku mengingatkan. "Iya, Bun. Siap," jawab Mas Ali sambil mengelus tanganku dan tersenyum. Aku keluar kamar menuju ruang keluarga, karena Dina dan Dini sedang menonton tivi disana, sambil terus memikirkan pekerjaan suamiku. Saat aku sampai disana, kulihat Dina dan Dini sedang menonton film kartun doraemon sambil bermain lego, aku sangat senang melihatnya. Aku berjalan menuju mereka, lalu aku duduk di samping mereka. "Sedang main apa nih anak Bunda?" "Main ego, Bun" jawab Dina yang memang sudah agak bisa berbicara dengan lancar. "Oh, ya sudah Bunda temenin ya disini." "Iya, Bun." Kini giliran Dini yang menjawab. Aku ikut menonton tivi bersama anak-anak, tetapi pikiranku tidak bisa fokus ke acara tivi yang ku tonton, aku terus memikirkan pekerjaan baru Mas Ali. Kira-kira apa pekerjaan baru Mas Ali, ya?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook