Di sebuah apartemen di pinggir kota, wanita yang dicari oleh Albert itu masih bermalas-malasan di ranjangnya walau dia sudah bangun dari tadi.
Sejak kemarin siang pulang ke apartemen, yang dilakukan oleh Jacq hanyalah makan dan tidur, sesekali mengurus panggilan alam dan dia mengumpat setiap kali rasa sakit yang menusuk itu datang saat dia pipis. Karena hal ini jugalah, dia malas bangun dari ranjang, setidaknya hingga dia tidak merasa sakit lagi saat berjalan.
Pekerjaannya adalah peretas, jadi jika sedang tidak ada yang harus diretas, maka dia pengangguran dan bisa melakukan apapun yang dia inginkan, hingga panggilan kerja itu datang dan kadang bisa membuatnya tidak tidur berhari-hari.
Biasanya dia suka datang ke kantor untuk membantu rekan-rekannya, tapi sekarang dia sedang ingin bermalas-malasan saja.
Pintu kamarnya diketuk dan dia menjawab, setelahnya pintu dibuka dan Shawn muncul disana.
“Ini sudah jam sepuluh, mau sampai kapan kau bergaya gadis lemah yang baru diperawanin,” ejek Shawn.
“Gue mank baru diperawanin walau tidak lemah,” dengus Jacq.
“Aku mau ke kantor dulu, makan siang sudah ada di meja. Nanti malam aku nginep di tempat Chelly,” kata Shawn memberi tahu. Chelly adalah pacarnya dan mereka sebenarnya tinggal bersama sejak Shawn berpacaran dengan wanita itu, tapi sesekali Shawn tetap kembali ke apartemen tempatnya tinggal dengan Jacq.
“Ya, sana temani Chelly. Tar dia kurang belaian,” ejek Jacq yang tahu kalau Chelly tergila-gila pada Shawn, sedangkan Shawn sendiri, entah berapa lama lagi dia masih mau bersama dengan Chelly?
***
Sudah lebih dari satu minggu dan Albert masih belum mendapatkan informasi apapun tentang Jacq dan dia mulai frustasi karena sangat mengkhawatirkan wanita itu.
“Aku akan keluar dulu sebentar. Aku akan kembali jam tiga,” kata Albert pada Reno, asistennya dan Yuri, sekertarisnya.
“Saya perlu ikut?” tanya Reno.
“Tidak perlu. Aku hanya pergi ke kantor Volle Guard,” kata Albert sambil melewati asistennya.
“Baik,” jawab Reno walau dia tahu Bosnya yang sudah berlalu tidak akan bisa mendengar jawabannya.
Dia tahu untuk apa Bosnya pergi ke Volle Guard, pasti untuk mencari informasi tentang wanita bernama Jacqueline Miquel. Dia mulai penasaran dengan wanita itu, jika hanya urusan biasa, Bosnya tidak akan turun tangan sendiri untuk meminta tolong pada Kakak Ipar bosnya itu.
Tidak sampai satu jam kemudian, Albert sudah tiba di Volle Tower. Di resepsionis, telah ada staf Volle Guard yang menunggunya dan langsung memandunya naik melalui lift direksi. Setelahnya sampai di lantai delapan belas, dia langsung diantar ke ruangan Direktur, ruangan dimana Kakak Iparnya berada.
Percayalah, jika masih ada jalan lain, dia tidak akan mencari Kakak Iparnya yang merupakan mantan pembunuh bayaran made in Italia ini.
“Hai, Albert,” sapa Garry saat melihat adik iparnya itu masuk ke ruangannya.
“Hai, Garry,” balas Albert yang berjalan masuk dan setelahnya langsung duduk di kursi di depan meja kerja Garry.
“Apa yang membawamu kemari hari ini?” tanya Garry penasaran. Albert mencarinya di jam kerja dan itu artinya berhubungan dengan pekerjaan.
“Aku ingin mencari informasi tentang seorang wanita,” kata Albert langsung.
“Orangmu tidak bisa mendapatkannya?” tanya Garry tersenyum.
“Tidak ada yang bisa,” keluh Albert.
“Baik. Siapa dia?” tanya Garry.
“Jacqueline Miquel,” jawab Albert.
“Jacqueline Miquel?” ulang Garry.
“Ya,” jawab Albert
“Kau tahu ciri-cirinya?” tanya Garry.
“Cantik, mata hitam, hidung mancung, bibir tipis, rambut lurus panjang warna hitam, punya t**i lalat di bawah mata kiri, memiliki tato di lengan kanan dan punggungnya,” jawab Albert menjelaskan rinci dan Garry mengangkat sebelah alisnya.
“Oh, iya, dia juga punya teman pria yang dipanggil Shawn,” kata Albert menambahkan.
“Mengapa kau mencarinya?” tanya Garry.
“Itu …” Albert agak bingung untuk menjawab. Sebelumnya, Garry tidak pernah menanyakan hal ini saat dia memintanya membantu mencari tahu tentang seseorang.
“Haruskah aku memberitahu alasannya?” tanya Albert setelah beberapa saat, karena Garry terlihat sedang menunggu jawabannya.
“Ya. Karena kau memang tidak akan dapat mengakses informasi apapun tentang Jacq. Aku juga tidak memiliki kuasa untuk memberitahukan apapun padamu tentang wanita itu,” jawab Garry dan Albert terbelalak.
“Kau mengenalnya?” tanya Albert cepat. Garry bahkan memanggil wanita itu dengan Jacq, bukan Jacqueline!
“Ya,” jawab Garry.
“Volle yang melindunginya?” tanya Albert setelah melihat tatapan penuh arti Garry.
“Ya, tapi aku tidak bisa memberitahukan apapun tentangnya, padamu.” jawab Garry.
“Siapa yang melindunginya?” tanya Albert penasaran bercampur rasa antusias karena kali ini, dia pasti akan bisa menemukan Jacq.
“Morin,” jawab Garry sambil tersenyum miring.
“Morin?” ringis Albert memastikan dan Garry mengangguk. Sekarang dia tidak tahu harus tertawa atau menangis? Berurusan dengan Morin selalu membawa masalah untuknya.
“Ya, Morin. Kau harus memiliki alasan yang kuat agar Morin mau membantumu, kau tahu sendiri kalau Morin sangat melindungi orang-orang yang dekat dengannya,” jawab Garry yang lalu tertawa saat melihat wajah nelangsa Albert, yang tentu dia tahu penyebabnya.
Istrinya sudah menceritakan banyak kemalangan yang harus ditanggung Albert yang diakibatkan masalah yang selalu dibuat oleh Morin dan istri tercintanya itu, serta sahabat-sahabat mereka yang lain, yang walaupun semua sekarang sudah menikah, tetap suka berulah.
“Apa hubungan Morin dengan Jacq?” tanya Albert lemas.
“Wanita itu teman Morin dan berada dalam perlindungan Morin. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu,” jawab Garry.
Albert yakin, jika Jacq berada dalam perlindungan Volle Guard, berarti wanita itu akan aman, jadi seharusnya, dia tidak perlu mengkhawatirkan Jacq. Tapi sekarang dia tetap tidak merasa tenang, dia tetap harus bertemu dengan Jacq. Siapa tahu wanita itu hamil? Jika Tuhan berkehendak, maka Jacq tetap bisa hamil walau sudah minum obat pencegah kehamilan.
Dia tidak akan bisa mengelabui Morin, tapi dia juga tidak mau Morin dan Kakaknya ikut campur dalam urusan pribadinya yang pastinya berujung pada masalah yang akan merugikannya.
“Bagaimana kalau aku mencari Om Darius saja?” tawar Albert menyebutkan nama suami Morin.
“Kau tahu sendiri dia sangat memanjakan Morin, mana mungkin dia memberimu informasi tanpa ijin dari Morin,” jawab Garry tertawa. Dalam hati Albert menggerutu, lu juga sangat memanjakan Kak Sissy sampai diluar nurul! Mana ada orang normal yang honeymoonnya di tengah hutan belantara Afrika, hanya karena Kak Sissy ingin main dengan macan, singa dan hewan buas lainnya?
“Aku akan memikirkannya nanti. Kurasa dengan adanya perlindungan dari Volle, Karen dan Ibunya tidak akan bisa mencelakakan Jacq,” kata Albert yang sementara memilih mundur.
Wanita hamil itu selalu membuat masalah untuknya sejak dia mengenal wanita itu saat usianya dua belas tahun. Walau sekarang sudah menjadi seorang Ibu, Morin tetap tidak berhenti membuat ulah. Dan sudah pasti, dia tidak ingin melibatkan urusan pribadinya dalam pusaran rencana gila Morin.
“Sepertinya kau mengenalnya cukup dekat?” ledek Garry iseng. Dia tahu kalau kondisi Jacq tidak biasa, tidak ada orang biasa yang berpikir kalau dirinya harus menyembunyikan jati dirinya. Dan sekarang Albert mengatakan kalau ada yang ingin mencelakakan Jacq.
“Tidak sedekat itu. Hanya saja, aku khawatir kalau dia sendirian melawan kekuasan keluarga Miquel.” jawab Albert jujur.
“Jacq bukan orang lemah,” kata Garry dengan senyum miringnya.
Sepertinya hari ini adalah hari yang cukup beruntung untuk Albert, saat dia pamit pada Garry, pintu ruangan itu diketuk dan setelahnya masuklah seorang pria yang dia kenal.
“Shawn!”
***