Ciuman Manis

1125 Kata
"Beraninya kau membentak mommy!" hardik Helena pada putrinya. Seketika air mata Joyce kembali luruh di kedua pipinya. Seumur hidupnya baru kali ini ia mendapat perlakuan kasar dari mommy-nya. Aaron yang sejak tadi hanya duduk di sofa, seketika berdiri melihat Joyce mendapat tamparan. Ditangkupnya wajah Joyce. Namun, dengan cepat Joyce menepisnya kasar. "Jangan pernah menyentuhku lagi!" tegas Joyce dengan tatapan penuh kebencian pada Aaron. Berlarilah ia keluar dari rumah sang mommy menuju mobil miliknya, yang langsung dikejar oleh Luke. Sepanjang perjalanan, Joyce terus menangis membayangkan perlakuan kasar sang mommy padanya. "Bryan, tolong bawa aku ke tempat yang tidak ada orang, di mana aku bisa berteriak dengan kencang," pintanya pada Luke setelah puas menangis. "Hum," sahut Luke. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, tibalah mereka di sebuah bukit dengan pemandangan yang sangat indah, dan sungguh tak ada orang di sana, sesuai permintaan Joyce. Joyce menyapu pandangannya ke sekitar setelah turun dari mobilnya. "Dari mana kau tahu ada tempat indah yang tersembunyi seperti ini?" tanyanya sambil menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, dan membentangkan kedua tangannya dengan mata yang terpejam, menikmati sejuknya udara di tempat itu. Luke yang berdiri di sisinya, tersenyum menatap wanita cantik itu. Wajah cantiknya sungguh membuat yang memandangnya tak pernah merasa bosan ketika menatapnya. "Aku menemukan tempat ini saat kepergian ayahku. Aku melajukan mobilku tanpa arah," jawab Luke tersenyum, "Dan ... hingga akhirnya aku terdampar di tempat ini," jawabnya tersenyum getir sambil menatap awan yang nampak cerah di hari yang sudah menjelang siang itu. Joyce membuka kedua matanya, lalu menoleh dan menatap pria itu. "Sendirian?" "Tentu saja," jawab Luke lagi membalas tatapannya, hingga tatapan mereka saling bertemu. Luke meraih tangan Joyce dan membawanya untuk duduk di rerumputan. Pria itu membuka jasnya dan meletakkan jas berwarna hitam itu di atas rerumputan untuk Joyce duduk, agar tidak mengotori rok yang dikenakan wanita itu. Joyce tertegun mendapat perlakuan semanis itu dari bodyguardnya. Lagi-lagi membuat hatinya kian berdebar. "Duduklah," kata Luke tersenyum saat melihat Joyce melamun sambil menatapnya. "Hum? I-Iya! Thank you," jawab Joyce gugup. Setelah hening beberapa menit karena mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, Joyce mulai memecah keheningan di antara mereka. "Kau benar, Bryan. Pria b*rengsek itu sungguh licik. Dia sudah lebih dulu menjelekkan aku di hadapan mommyku," tuturnya seraya menatap pegunungan yang ada di seberang tempat mereka duduk. Luke hanya tersenyum menatap Joyce. "Dan kau tahu? Berkat pria licik itulah akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya ditampar oleh wanita yang telah melahirkanku," sambung Joyce dengan air matanya yang mengalir dan mulai kembali membasahi wajahnya. "Tapi, kau masih mencintai b*jingan itu, 'kan?" tanya Luke dengan tatapan penuh harap. Berharap Joyce menjawabnya 'tidak'. Joyce menggelengkan kepalanya, "Sebelum mommy menamparku, masih ada sedikit rasa itu di sini," jawab Joyce memegang dadanya. "Tapi, setelah dia berhasil membuat mommyku terlihat membenciku seperti tadi, sungguh tidak ada lagi perasaan itu di hatiku. Yang tersisa hanyalah rasa benci. Aku bersumpah aku ingin sekali membalasnya," lanjutnya. "Jika kau membalasnya, karirmu akan hancur. Apa kau siap kehilangan karirmu yang sedang naik daun seperti sekarang ini?" tanya Luke. "Sebenarnya, jika saja aku mempublikasikan perselingkuhannya dengan Allen, para penggemarku pasti akan berpihak padaku. Karirku tidak akan benar-benar hancur. Tapi, aku memikirkan keadaan paman Theo, serangan jantungnya pasti akan kembali menyerangnya jika tahu putrinya melakukan hal seperti itu padaku," tutur Joyce, lalu mendesah pelan. "Paman Theo? Siapa dia?" tanya Luke mengernyitkan dahi. "Dia ayah Allen. Dia sangat menyayangiku dan selalu bersikap seolah aku adalah putrinya, sampai membuat Allen terkadang merasa cemburu padaku," jawab Joyce tersenyum getir. "Allen itu wanita yang kemarin tidur dengan tunanganmu itu, 'kan?" "Mantan! Dia bukan tunanganku lagi sekarang!" timpal Joyce ketus sambil memelototi Luke, dan berhasil membuat pria itu terkekeh. "Iya-iya. Mantan tunangan," balasnya. "Tapi, itu pun jika kau tidak berubah pikiran," sambung Luke yang membuat Joyce memukuli bahunya. "Maaf maaf," ucap Luke terkekeh sambil menangkap tangan Joyce. Mata mereka pun bertemu, saling menatap lebih dalam, hingga membuat keduanya menyatukan bibir mereka. Melihat Joyce memejamkan matanya dan terlihat menginginkan hal yang lebih, Luke menahan tengkuk Joyce dan mulai melumat bibir manis Joyce dengan lembut, hingga Joyce pun tanpa sadar membalasnya karena terbuai akan ciuman manis pria itu. Terdengar suara getaran dari ponsel Joyce yang membuat mereka melepaskan bibir yang saling bertaut. Luke menyeka bibir Joyce yang terlihat basah karena sisa-sisa salivanya, dengan ibu jarinya. Jantung Joyce semakin terasa berdebar setelah ciuman itu. Dan yang lebih membingungkannya, ia merasa candu akan ciuman manis bodyguardnya itu. Joyce terus menatap bibir Luke. "Jawab dulu panggilannya, Baby. Nanti kita lanjutkan," goda Luke yang berhasil membuat kedua pipi Joyce memerah bak kepiting rebus karena malu pada pria itu. Wanita itu mulai merogoh ponsel dari dalam tas tangannya, dan menjawab panggilan dari CEO agensinya, tuan Victor. "Ada apa?" jawabnya ketus. "Kau ada di mana Joyce? Kau lupa ada shooting iklan siang ini? Para staf dan kru sudah menunggu kedatanganmu di sana. Cepat datang ke lokasi sekarang juga!" omel Victor dari seberang teleponnya, lalu mengakhiri panggilannya sepihak. Joyce seketika berdiri setelah mendengar itu, ia sungguh lupa jika ada shooting iklan hari ini. Yang ia ingat hanya pemotretan sore nanti pukul 4. "Sungguh repot jika tidak ada manajer," gerutunya sambil berjalan ke mobilnya. Melihat bodyguardnya itu masih saja duduk santai, Joyce berteriak memanggilnya. "Ayo kita berangkat! Aku ada shooting iklan!" tegur Joyce setengah berteriak. Luke terkekeh dan bangkit dari duduknya, lalu membukakan pintunya untuk Joyce. "Silakan, Baby," ucapnya mengulas senyum, mempersilakan Joyce untuk masuk ke dalam mobil. Joyce memicingkan matanya, sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita itu terus menatap Luke yang sedang mengitari mobil untuk masuk ke kabin pengemudi. "Jangan memanggilku seperti itu lagi di depan umum!" tegur Joyce setelah Luke duduk di kursi pengemudi. Luke menoleh ke belakang kursinya, di mana ada Joyce duduk di sana, "Apa itu artinya aku boleh melakukannya jika sedang berdua seperti ini?" tanya Luke yang berhasil membuat kedua pipi Joyce semakin memerah. "Ti-tidak! Kau tetap tidak boleh melakukannya!" jawab Joyce ketus. Namun, terlihat gugup. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Luke terkekeh, ia sangat senang menggoda Joyce seperti ini. "Sudah cepat jalan! Kita sudah sangat terlambat, Bryan!" titah Joyce ketus. "Okay, Baby," sahut Luke yang berhasil membuat Joyce mendengus kesal. Akan tetapi, wanita itu tidak membalas apa pun. Ia sedang sibuk mengontrol detak jantungnya yang semakin berdebar. "Oh ya, kau tidak jadi berteriak? Tadi kau mengatakan padaku ingin berteriak sekencang-kencangnya di tempat sepi," tanya Luke sebelum melajukan mobilnya. "Tidak ada waktu! Para staf dan kru sudah menungguku di lokasi shooting. Lagi pula, jika dipikir-pikir, sepertinya itu hanya membuang-buang tenaga saja. Sangat disayangkan bukan jika suara emasku ini dipakai untuk meneriakkan namanya?" jawab Joyce. "Baguslah jika kau berpikir seperti itu," balas Luke. "By the way, bisakah kau panggil aku Luke saja, Joyce?" tanya Luke tiba-tiba, yang berhasil memecah keheningan di sepanjang perjalanan mereka menuju lokasi shooting. Joyce menyatukan alisnya, "Kenapa? Bukankah namamu Bryan?" tanyanya tak mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN