Semakin Dekat

1183 Kata
Joyce terus menatap raut wajah Luke dari spion dalam mobil. "Nama asliku Luke, Bryan hanya nama samaran agar orang-orang yang sedang mencariku tidak mudah untuk menemukanku," jelas Luke yang mengandung setengah kebenaran dan setengah kebohongan. "Oh. Baiklah. Tapi, aku akan tetap memanggilmu Bryan jika sedang di depan umum," jawab Joyce. Luke tersenyum, "Ya," sahutnya. "Oh ya, apa kau bisa mengerti dengan urusan administrasi dan mengatur schedule?" tanya Joyce. "Tentu saja. Kenapa?" "Apa kau bersedia menjadi manajerku? Aku sangat kesulitan jika tidak ada yang mengingatkanku tentang schedule ku. Aku sedikit pelupa," tawar Joyce. "Okay! Aku akan menjalani tiga peran sekaligus untukmu," jawab Luke. "Tiga peran?" Joyce mengernyitkan dahi, "Apa saja?" tanyanya. "Bodyguard, manajer, juga kekasih barumu," jawab Luke dengan wajah tanpa dosa dan penuh keyakinan sambil menahan senyuman. Joyce membelalakkan matanya mendengar jawaban Luke, kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap ke luar jendela mobil. *** Satu minggu berlalu, Joyce semakin disibukkan dengan rutinitas pekerjaannya, dan ada beberapa pekerjaan yang masih mengharuskannya bertemu dengan Aaron. Seperti permintaan CEO agensinya, tuan Victor, Joyce menjalani perannya sebagai tunangan Aaron dengan mesra ketika mereka sedang pemotretan atau pun menghadiri interview tentang hubungan mereka berdua. Namun, Aaron sungguh mengambil kesempatan jika sedang dalam situasi seperti sekarang ini. Aaron merangkul mesra bahu Joyce dan sesekali mencium pipi dan keningnya dengan mesra, membuat Joyce sangat kesal. Namun, ia tahan sebisa mungkin, dengan tetap menahan senyum manisnya. Setelah acara selesai dan mereka tiba di ruang make up, dengan cepat Joyce menepis kasar tangan Aaron yang masih melingkar di pinggangnya dan memicingkan matanya dengan tatapan jijik, karena di ruangan itu hanya ada mereka berdua sekarang. Tanpa mengetuk pintu, Luke masuk ke ruangan itu. Kemudian pria itu memeluk Joyce dari belakang dan mengecup pipinya di hadapan Aaron, bersikap seolah sudah menjadi pasangan baru wanita itu. Joyce pun membalasnya dengan mencium mesra bibir Luke, sengaja untuk membuat hati Aaron terbakar cemburu, dan berhasil membuat pria itu membelalakkan matanya. Rupanya dugaannya salah, padahal ia mengira Joyce mencium bodyguardnya di hadapannya saat itu hanya untuk membuat dirinya terbakar api cemburu. Namun, kali ini sikap mereka berdua sungguh nampak mesra, seperti sepasang kekasih sungguhan. "Kalian ...." Aaron menggantung kalimatnya menatap Joyce dan Luke bergantian. Joyce tersenyum manis dengan tatapan meremehkan Aaron. "Ya! Seperti yang kau lihat. Dia kekasih baruku," tuturnya. "Joyce, yang benar saja! Mengapa harus dengan seorang bodyguard? Apa kau tidak bisa mendapatkan yang jauh di atasku, huh?" Aaron mengatakannya sambil menatap remeh Luke yang tengah tersenyum sinis kepadanya. "Tentunya kau lebih tahu berapa banyak pria yang posisinya jauh di atasmu yang sudah lama mengejarku. Dan, kau pun pasti jauh lebih tahu kalau mereka itu sama b*rengseknya sepertimu!" Joyce mengucapkannya dengan penuh penekanan di dua kata terakhir. Aaron berdecih dan tersenyum miring, "Dan kau yakin dia tidak sama sepertiku, Joyce?" "Tentu saja!" jawab Joyce tanpa ragu. "Kita lihat saja nanti!" balas Aaron lagi. Pria itu menghela napas kasarnya, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah pintu kembali tertutup, Joyce melepaskan tangan kekar Luke yang melingkari perutnya. Namun, Luke memeluknya begitu erat, hingga Joyce kesulitan untuk melepaskannya. "Luke, please! Tolong lepaskan. Grace dan Kelly sebentar lagi tiba," mohon Joyce. Alih-alih melepaskannya, Luke justru mencium ceruk leher Joyce yang membuat Joyce memejamkan kedua matanya. Luke tersenyum setelah melirik bayangan Joyce yang terpantul di cermin. Wanita itu terlihat menikmati cumbuannya. Namun, tiba-tiba seorang staf dari salah satu stasiun televisi yang mewawancarainya masuk ke ruangan itu. Luke langsung melepaskan tangannya, menjauh dari Joyce, dan kembali memakai masker untuk menutupi wajahnya. Joyce langsung menyambar botol air mineral yang ada di atas meja rias, lalu meneguknya untuk meredakan rasa gugupnya. "Joyce, Allen ke mana? Mengapa dia tiba-tiba berhenti menjadi manajermu?" tanya staf wanita yang bernama Grace itu. "Entahlah, dia tiba-tiba mengatakan ingin berhenti," jawab Joyce asal. "Lalu, dia pengganti Allen?" tanya wanita berambut blonde dengan panjang sebahu itu, sambil melirikkan matanya pada Luke yang tengah berpura-pura fokus pada layar tablet PC-nya. Joyce hanya mengangguk kecil sambil meraih ponselnya. "Siapa namanya?" tanya Grace lagi. "Lu ... sorry, maksudku, Bryan," jawab Joyce. Setelah berbincang dengan Grace, mereka pun kembali ke apartemen, karena pekerjaan Joyce hari ini telah usai. Mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing, Luke saat ini sudah menempati kamar Allen setelah Joyce mempersilakannya. Merasa rindu pada sang mommy dan Allen, Joyce hanya bisa menatap foto-foto dirinya bersama mereka yang tersimpan di memori ponselnya, sambil duduk di sofa yang ada di balkon apartemennya. Walau pun sudah dikecewakan oleh Allen, entah mengapa hatinya tidak bisa membenci Allen begitu dalam. Ia terlalu menyayanginya, karena Allen mengingatkannya pada sang adik yang telah tiada. Joyce memiliki adik perempuan yang bernama Belle. Namun, Belle sudah pergi untuk selamanya karena penyakit kanker darah yang dideritanya. Belle pergi dua tahun lebih dulu dari kepergian sang ayah. Luke menghampiri Joyce usai membersihkan tubuhnya. Joyce menoleh dan menatap kedatangan Luke. Kedua matanya nampak berembun dan terlihat ingin tumpah. Namun, Joyce menahannya sebisa mungkin. Menyadari itu, Luke duduk di sisi Joyce, lalu merengkuhnya ke dalam pelukan. "Menangislah jika ingin, tidak perlu ditahan. Kau bisa gila jika terus menahannya," tuturnya seraya membelai lembut rambut panjang Joyce yang berwarna kecokelatan. Mendengar itu, Joyce langsung menangis terisak di dalam dekapan Luke hingga napasnya tersengal. Setelah tangisnya mereda, Joyce mulai mengurai pelukannya, dan menatap lekat wajah tampan yang tengah menatapnya dengan senyuman getir yang terlukis di wajahnya, sambil mengusap lembut wajahnya untuk menghapus air mata Joyce. "Kenapa senyummu seperti itu?" tanya Joyce yang heran saat melihat raut wajah Luke. "Apa kau masih sangat mencintainya hingga tangismu seperti ini?" Luke justru balik bertanya. Joyce tiba-tiba tersenyum, "Jadi, kau pikir aku menangisi pria b*rengsek itu?" Luke mengangguk dan menatapnya penuh tanya. "Yang benar saja kau! Untuk apa aku menangisinya. Pria sepertinya hanya perlu dihempaskan jauh-jauh ke tempat pembuangan sampah," jawab Joyce sambil mengomel, lalu bangkit dari sofa dan menghampiri pagar kaca pembatas balkon, menatap langit yang begitu cerah sambil melipat tangannya di d**a, seolah sedang memeluk dirinya sendiri. "Lalu, siapa yang sebenarnya kau tangisi?" tanya Luke lagi yang nampak semakin penasaran. "Belle," jawab Joyce lirih. "Siapa dia?" "Mendiang adikku," jawab Joyce lagi yang kembali menitikkan air matanya. "Maaf, aku tidak bermaksud ...." "Tidak perlu meminta maaf," kata Joyce sambil menghapus air matanya sendiri dan mengulas senyuman manis. "Itu sudah lama berlalu," imbuhnya. "Aku tadi hanya tiba-tiba merindukan ... Allen. Dan membuatku sekaligus merindukan Belle. Karena Allen seperti pengganti Belle bagiku," terang Joyce. Luke pun ikut bangkit, berdiri di sisinya sambil menatapnya penuh tanya. "Kau masih merindukannya walaupun sudah dikhianati seperti itu, Joyce? Apa kau tidak membencinya?" tanyanya lagi penasaran. "Aku hanya membenci perilakunya, Luke. Bukan orangnya. Dia seperti itu pun pasti karena rayuan maut Aaron. Siapa yang tidak akan jatuh cinta jika dirayu olehnya? Dia tampan dan pandai merayu. Aku saja yang sulit untuk jatuh cinta, bisa termakan oleh rayuan b*jingan itu, dan akhirnya menjadi kekasihnya. Bahkan tunangannya. Apa lagi yang hanya seorang gadis polos seperti Allen," ujar Joyce. Luke tersenyum dan memandang lekat wajah cantik Joyce dari samping. Ia merasa sangat bersyukur hubungannya semakin dekat dengan wanita berhati lembut itu. Hanya perilakunya saja yang sering ketus pada orang yang baru dikenalnya. Joyce menoleh dan membalas tatapan Luke, "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya dengan jantungnya yang mulai bergemuruh karena berdetak lebih cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN