Kegilaan Aaron

1219 Kata
Luke meraih kedua belah bahunya dan menghadapkan Joyce ke hadapannya hingga kedua netranya saling bertemu, dan menatap lekat. Pria itu memegang dagu Joyce dan menyatukan bibirnya. "Aku mencintaimu, Joyce," ucapnya dengan lembut dan berbisik saat melepaskan bibirnya sejenak. Namun, ujung hidung mereka masih saling menyentuh. Membuat Joyce yang mendengarnya merasa ucapan Luke terdengar begitu mesra, hingga membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan. "Aku ... eumph." Luke kembali menyambar bibirnya saat Joyce menggantung kalimatnya, dan kali ini melumatnya dengan lembut seraya merengkuh pinggang belakang Joyce untuk mengikis jarak di antara mereka. Joyce pun mulai terbawa suasana akan ciuman manis Luke, hingga akhirnya ia mengalungkan lengannya di leher pria itu dan membalas ciumannya. Ciuman yang tadinya lembut menjadi semakin menuntut, napas mereka pun saling memburu karena hasratnya yang tengah bergejolak. Luke melepaskan ciumannya sejenak dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Joyce. "Katakan padaku kau menginginkannya, Baby," bisiknya dengan mesra yang berhasil membuat Joyce melenguh. Joyce hanya mengangguk kecil dengan tatapan yang sangat menginginkan, dan napasnya yang masih terdengar memburu. Luke tersenyum, kemudian mengangkat tubuh ramping Joyce agar kedua kaki Joyce melingkari pinggangnya. Mereka pun melanjutkannya dengan bibir yang saling bertaut. Luke melakukannya sambil berjalan, membawanya menuju kamar Joyce. Setibanya di kamar yang luas dan didominasi warna putih dan hijau mint itu, Luke merebahkan tubuh Joyce di atas ranjang king size itu, lalu mulai mengungkungnya. Mereka pun akhirnya bercinta untuk yang kedua kalinya, dan kali ini Joyce dalam keadaan sadar. *** Di tempat lain, di basemen apartemen Aaron, ada seorang wanita yang tengah menunggu pria itu di samping mobil yang terparkir di tempat khusus 4 buah koleksi mobil mewah Aaron berbaris. Saat Aaron baru saja keluar dari lift dan masuk ke dalam mobilnya, wanita itu segera membuka pintu kabin lain dan duduk di sebelah Aaron. "Kau?" pekik Aaron dengan alisnya yang nampak seperti hampir menyatu. "Kenapa kau memblokir nomerku, huh?" omel Allen pada pria itu. Ya! Allen lah wanita yang sudah menunggu Aaron. "Kau masih mempertanyakan hal itu, huh? Tentu saja karena kau sudah merusak hubunganku dengan Joyce!" tegas Aaron dengan matanya yang memelotot. "What's? Kau ... kau menyalahkanku?" Allen menunjuk dirinya sendiri. "Apa kau tidak punya otak, huh? Siapa yang lebih dulu merayuku? Kau! Bukan aku, Aaron!" teriak Allen yang tak terima disalahkan seperti itu. Aaron tersenyum miring, "Kau saja yang murahan dan tidak memiliki harga diri. Kau tidak akan termakan rayuanku jika kau sungguh setia pada Joyce yang selama ini sudah membantu dan menaikkan derajatmu," katanya memojokkan Allen. "Kau itu tak ada bedanya dengan wanita jalang di luar sana!" imbuhnya menghina Allen sambil menerbitkan senyum smirk di wajahnya. Plak! Satu tamparan mendarat di sebelah pipi Aaron. "Kau sungguh b*rengsek, Aaron!" jerit Allen setelah menampar pria itu. "Kau tahu? Sekarang aku sedang mengandung anakmu, b*jingan!" jeritnya lagi sambil memukul-mukul Aaron dengan kedua tangannya yang mengepal. Alih-alih terkejut, Aaron justru terkekeh. "Kau pikir aku percaya kau mengandung benihku, huh? Kau itu hanya w************n yang sudah tidak virgin, yang pastinya banyak pria lain yang tidur bersamamu. Entah benih pria mana yang ada di perutmu itu," cibirnya dengan tatapan menghina sambil tersenyum miring. "Aku hanya melakukannya denganmu, Aaron!" Allen terus berteriak, tak terima akan tuduhan-tuduhan Aaron. Namun, kali ini ia menjerit sambil menangis terisak. Bagaimana bisa pria b*rengsek itu menuduhnya seperti itu, sedangkan sejak dirinya mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya tiga tahun yang lalu, ia belum pernah menjalin hubungan lagi dengan pria mana pun. Apalagi tidur bersama lelaki lain selain Aaron. "Kau harus bertanggung jawab, Aaron! Kau harus menikahiku seperti janjimu selama ini. Atau aku akan memanggil semua wartawan sekarang juga!" ancam Allen sambil merogoh ponselnya dari dalam tas tangannya. "Aakkkh ...." Suara Allen tercekat di tenggorokan dengan mulutnya yang terbuka, sambil memukul-mukul tangan Aaron, karena pria itu tengah mencekik lehernya sekarang. "b***h! Aku akan membunuhmu sekarang juga jika kau benar-benar melakukannya!" Aaron balik mengancamnya dengan rahangnya yang mengetat. Air mata Allen tak hentinya mengalir di kedua belah sudut matanya. Ia sungguh menyesal sudah termakan rayuan pria b*rengsek yang hendak membunuhnya ini, rasa bersalahnya pada Joyce kian menyelimuti hatinya. Akan tetapi, ia bersyukur jika sahabatnya itu sungguh membatalkan pertunangannya, dan mengakhiri hubungannya dengan pria b*rengsek dan kasar seperti Aaron. Ia sendiri pun tak menyangka jika Aaron mampu bersikap kasar seperti ini, padahal yang ia lihat selama ini, Aaron selalu bersikap lembut pada Joyce. Aaron merampas ponsel Allen, lalu melepaskan cekikannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sungguh akan memberi hukuman pada Allen. Dibawanya Allen ke rumah orang tuanya yang selama satu bulan ini kosong, hanya ada para maid, karena kedua orang tuanya tengah berlibur keliling dunia dengan kapal pesiar. Ia menarik Allen dengan kasar menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah mewah bergaya vintage itu. Setibanya di kamar Aaron, pria itu mengikat kedua tangan Allen pada kedua sisi headboard. "Lepaskan aku, B*rengsek!" teriak Allen sambil meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari Aaron. Setelah berhasil mengikat kedua tangannya, Aaron mencubit dagu Allen dan mendongakkan wajahnya. Sialnya, alih-alih ingin mengancam wanita itu, Aaron justru tak kuasa menahan hasratnya saat menatap bibir ranum Allen yang menurutnya sangat seksi. Terlebih, dahi Allen yang saat ini tengah dipenuhi peluh dengan kedua tangannya yang terikat, membuatnya terlihat jauh lebih seksi di mata Aaron. Aaron menyambar bibir Allen dengan kasar, kemudian mulai mengungkung wanita itu. Allen berusaha sekuat mungkin untuk memberontak. Namun, alih-alih melepaskannya, Aaron justru semakin memperlakukannya dengan kasar. Akhirnya, Allen menyerah, ia hanya mematung seperti mayat hidup dengan air bening yang tak hentinya mengalir dari kedua belah sudut matanya, selagi Aaron menumpahkan kembali benihnya di dalam rahimnya. Usai melakukannya, Aaron memanggil dua orang maid untuk membantunya membersihkan tubuh Allen. Karena Allen nampak shock akan kegilaan Aaron. Wanita itu hanya mematung dengan pandangannya yang kosong. Pria itu pun mengancam semua orang yang bekerja di rumahnya itu, untuk tidak melepaskan Allen, dan tidak memberitahu kedua orang tuanya jika ia telah membawa dan mengurung wanita lain di kamarnya. *** Keesokan paginya, Luke terbangun lebih dulu di atas ranjang yang penuh dengan peluh karena pergumulan mereka semalam. Dipandanginya penuh cinta wajah polos Joyce yang nampak begitu meneduhkan. Ia sungguh rela meninggalkan kehidupan mewahnya asal ia bisa hidup bahagia bersama Joyce, dan selalu ada wanita cantik itu setiap pertama kali ia membuka kedua matanya di pagi hari. "Aku sangat mencintaimu, Joyce," gumamnya yang berhasil membuat Joyce terbangun. Joyce tersenyum menatap Luke dan membelai lembut pipinya dengan ibu jari, "Good morning," ucapnya lembut. Sangat berbeda dengan Joyce yang sebelumnya. "Good morning, Baby," jawab Luke, lalu mencium keningnya dengan mesra. Terdengar suara perut Luke yang membuat mereka berdua tertawa. "Kau lapar?" tanya Joyce yang masih membelai pipinya. "Sepertinya," jawab Luke tersenyum. "Apa yang kau inginkan? Biar aku pesankan saja," tawar Joyce. Alih-alih menjawabnya, Luke kembali mengungkung tubuh Joyce, lalu menenggelamkan wajahnya di sebelah daun telinga Joyce. "Aku hanya menginginkanmu, Baby," bisiknya mesra yang membuat Joyce terkekeh, lalu mengalungkan lengannya di leher Luke. Mereka pun kembali melanjutkan pergumulannya di pagi hari yang indah ini. Jam 11 siang, Luke melajukan mobilnya menuju lokasi pemotretan Joyce di sebuah pantai, dengan salah satu produk minuman yang telah mengontraknya. Kali ini, Joyce duduk di kursi depan, di samping kursi pengemudi. Suasana di dalam mobil pun seketika menjadi hening saat ponsel Joyce bergetar. Wanita itu terus menatap ponselnya yang masih terus bergetar. Luke yang tengah melajukan mobilnya, menoleh sekilas pada Joyce yang tak kunjung menjawab panggilan dari seseorang yang meneleponnya. Hanya tertegun menatap layar ponselnya. "Siapa yang menelepon?" tanya Luke penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN