Bab 5

1617 Kata
Makan malam yang dikira romantis seperti pasangan lainnya. Nyatanya, makan malam ini tak lebih dari sekedar makan biasa. Bahkan, tidak ada yang memulai bicara selain bertanya makanan yang ingin dipesan. Gibran yang sibuk dengan ponselnya juga Aira yang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia menutupi wajahnya dari samping sehingga tak tampak dia melamun. Aira menghela nafas pelan ketika menyadari pernikahan ini terasa lama baginya. Dia tak biasa dengan adanya sebuah ikatan. Menjalin hubungan dengan lelaki pun rasanya tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Terlalu sibuk mencari uang untuk membungkam mulut-mulut jahannam yang telah tega merusak mentalnya. Kini, dia bukanlah wanita lemah lembut dan baik kepada siapapun. Dia bertransformasi menjadi wanita jahat yang bisa menganiaya siapapun itu. Tak ada kata tegaan maupun kasihan. Hanya saja, sifat nalurinya masih mendominasi untuk saat ini. "Kamu tidak makan?" Perkataan Gibran membuatnya mengerjapkan kedua mata. Dia baru sadar meja dihadapannya sudah tersedia banyak sekali makanan. Sungguh hal yang tak pernah dia bayangkan menunggu makanan sampai melamun selama itu. Semoga saja Gibran tak curiga padanya. "Apa yang sedang kamu pikirkan sebenarnya?" tanya Gibran menatap kedua mata Aira hingga membuat wanita itu gugup seketika. "Eh, tidak ada. Aku hanya merasa lapar saja." "Ya sudah, makan nih!" Aira mengangguk. Ikan gurame bakar pedas tampak enak sekali. Hanya saja dia harus makan menggunakan tangan tanpa sendok maupun garpu. Okelah tidak masalah karena sudah disediakan tempat cuci tangan. Gibran lebih memilih ayam goreng kecap pedas dengan cumi-cumi asam manis.  Aira menikmati makanannya dengan lahap. Sesekali melihat luar yang penuh dengan lampu-lampu. Dari atas lantai dua ini dia dapat melihat banyak pasang mudi yang jalan-jalan untuk sekedar menikmati udara di malam hari. Bahkan, ada beberapa wanita yang hanya memakai atasan tanpa lengan yang membuatnya mengedikkan bahu. Tiga kata terlintas dalam benaknya. Apa tidak dingin? Kedua matanya terpaku pada dua manusia, dimana seorang ibu dan anak yang duduk di emperan toko yang telah tutup. Mungkin saja tokonya hanya buka sampai sore saja. Mereka membentangkan koran dan tungguh mereka tidur di atas koran tersebut. Sang anak memegang perutnya, tampak menahan lapar. Kasihan sekali mereka. Takdir hidup membuat mereka harus seperti itu. "Kamu menatap siapa?" tanya Gibran yang heran akan Aira yang tak fokus akan makanannya. Padahal tadi katanya lapar. "Seorang ibu dan anak di seberang jalan," jawab Aira membuat Gibran menatap sesuatu yang disebutkannya. "Nanti kita belikan makanan untuk mereka. Kamu nikmatin makanannya. Oh ya, jangan lupa foto dan upload di sosial media. Kalau perlu berikan caption yang manis supaya orang tua kita percaya," pinta Gibran. Aira mengangguk saja mengikuti perintah sang suami. Ini demi kebaikan mereka. "Kalau kamu sendiri memiliki usaha di bidang kuliner, kenapa kamu harus menikmati makanan di tempat lain?" tanya Aira tiba-tiba. "Aku memiliki banyak usaha yang tidak kamu ketahui. Kenapa aku harus menikmati makanan di tempat lain? Aku perlu penilaian dan pembandingan." Aira mengangguk saja. "Setiap tempat usaha memiliki ciri khas tertentu." "Iya kamu benar." Setelahnya hanya keheningan yang terjadi. Aira maupun Gibran hanya diam menikmati makanan yang telah mereka pesan. Aira sampai nambah karena rasanya yang memang mantap. Begitupula dengan Gibran. Mereka seperti tidak dikasih makan selama 2 hari. Tempat makan ini lumayan ramai. Kebanyakan keluarga yang datang. Anak-anak muda zaman sekarang lebih milih ke cafe yang makanannya sesuai dengan isi dompet. Tidak dengan di sini yang lumayan menguras isi dompet walaupun perut akan terasa kenyang. "Aku sudah selesai," kata Aira. Gibran yang sudah menyelesaikannya sejak tadi pun memutuskan untuk membayar sekaligus memesan makanan untuk ibu dan anak yang berada di seberang jalan. Aira tersenyum tipis menatap lelaki itu yang benar-benar masih memiliki jiwa mulia mau membantu sesama. "Kamu tunggu aja di parkiran!" suruh Gibran. Dia tak malu harus membayar makanan. Jika biasanya wanita yang membayar, dia justru yang membayar.  Aira menunggu Gibran di parkiran. Dia menatap anak dan ibu itu yang kelihatannya juga kedinginan. Melihat bibir mungil sang anak yang menggigil. Begitu miris hidup mereka. Entah dimanakah keadilan. Dimana sosok lelaki yang berperan sebagai suami dan ayah itu. Dengan teganya membiarkan hidup istri dan anaknya terluntang-lantung seperti itu. Bahkan, untuk makan dan tidur di tempat yang layak pun belum terjamin. Gibran yang datang pun langsung meraih pergelangan tangan Aira dan membawanya ke seberang jalan. Daripada nanti dia akam putar balik, lebih baik biarkan mobilnya di sini dulu saja. Aira tersenyum tipis akan perhatian yang diberikan oleh Gibran. Dia mengingat bagaimana pernikahan ini terjadi. Aira melepaskan genggaman itu. Menayap seorang ibu dan anak yang tampaknya belum menyadari kehadirannya. "Selamat malam, Bu," sapa Aira dengan suara lembut. Halus sekali bagaikan kapas. Ibu tersebut tersentak kaget. "Iya, ada apa?" tanyanya agak takut melihat Aira dan Gibran. "Ibu tidak perlu takut. Kami tidak berniat jahat kepada ibu dan si adik. Kami hanya ingin memberikan ini," ujar Aira dan mengode Gibran untuk memberikan makanan yang sudah dipesan tadi. "Terima kasih banyak. Kalian pasangan yang baik hati," ujar ibu tersebut sambil menangkupkan kedua tangannya. Tampak kedua matanya berkaca-kaca membuat hati Aira tersentuh. Dia merogoh tasnya dan mengambil lima lembar uang untuk diberikannya kepada ibu tersebut. "Untuk apa ini Mbak?" Aira tersenyum. "Untuk membeli s**u si adik atau mungkin baju." "Ya Allah. Terima kasih. Ternyata di dunia ini masih ada orang sebaik kalian." "Kalian tinggal dimana?" tanya Gibran dengan suara datar membuat sang ibu sedikit segan untuk menjawabnya. Aira menegur Gibran. Tampaknya lelaki itu tak peduli. "Ibu dan adik tinggal dimana?" tanya Aira mewakili. "Kami pindah-pindah." "Apa ibu dan adik tidak memiliki rumah?" Ibu tersebut menggelengkan kepala. "Ya sudah, ini digunakan saja untuk membeli keperluan sang adik. Ini saya tambahkan untuk biaya sewa kos dua bulan kiranya cukup," ujar Aira sambil memberikan uang lagi. Terhitung ada 1,5 jt setengah dia memberikannya. "Terima kasih banyak. Kalian baik sekali. Saya tidak tahu harus mengatakan apapun untuk membalas kebaikan kalian. Semoga kalian menjadi pasangan yang berbahagia," ucap ibu tersebut yang mulai menangis karena terharu akan pemberian Aira dan Gibran. Lelaki itu juga memberikan uang 1 jt supaya mereka bisa tidur di tempat yang layak.  Aira dan Gibran hanya tersenyum saja. Setelah banyak mengobrol, keduanya memutuskan untuk pulang. Inilah yang Aira inginkan ketika memiliki uang yang banyak. Dia bisa membantu banyak orang yang membutuhkan. Dia senang ketika bisa membantu orang lain. ****** Rumah baru Gibran kedatangan tamu yakni teman-temannya. Tidak ada Aira, karena wanita itu memutuskan untuk ke mall belanja pakaian kerja. Rumah yang semula rapi pun mendadak kotor dan ramai. Banyak sampah makanan ringan yang dibiarkan berserakan di meja.  "Gibran, uang lo banyak malah milih tinggal di sini," ujar teman Gibran berkacamata hitam. "Ya nih, kayak miskin aja lo." "Ya adanya rumah ini nih gue," jawab Gibran. "Beneran dah lo. Bangkrut ya?" Gibran menggelengkan kepala. Dia melotot tajam ke arah temannya. Jangan sampai hal itu terjadi.  "Lo 'kan bisa beli rumah lagi. Uang juga banyak. Lagak lo kayak gak punya uang aja deh. Apa perlu gue bantu cariin rumah yang sesuai dengan selera lo?" Gibran mendengkus kesal. Apa masalahnya dengan rumah ini. Tinggal dicat ulang dan diisi barang-barang lainnya pasti akan lebih baik dari sebelumnya. Lagipula hanya dirinya dan Aira yang tinggal di sini. Yang penting dia memiliki uang yang banyak, bukan seberapa biasanya rumah yang dia tempati sekarang. Berbeda dengan rumah kedua orang tuanya yang mewah bak istana. "Iya nih, apa lo gak kasihan sama istri lo?" "Betul, pasti istrinya pura-pura bahagia. Hei, man! Wanita mampu menyembunyikan rasa cintanya, tetapi tidak dengan kekecewaannya. Lo mau gimana lagi nanti. Aira udah cantik, pintar, bodynya okelah. Banyak diincar cowok jelas sekali. Malah lo perlakukan kayak gini." "Jangan-jangan lo ngetes si Aira itu ya? Biar lo tahu si doi matre atau gak." Gibran seketika menyesal membuka pintu rumah dan membiarkan teman-temannya masuk ke dalam rumah. Cukup cerewet membuatnya kesal seketika. "Lagian udah jelas Aira itu gak suka sama lo. Matre buat apa? Dia punya uang dan wanita karir. Aduh, Gibran gue gak habis pikir sama pikiran lo." Gibran menendang meja dengan kesal. Dia menatap satu persatu temannya dengan tatapan tajam. "Lebih baik kalian ke luar deh jika membuat suasana hati gue burem." "So—sorry, bro. Gak ada maksud." "Lo sih, Irfan. Mulut lemes banget macam minyak." "Ngalah-ngalahin minyak nih Irfan. Pak boss marah tuh." Gibran memilih diam saja. Namun, ada benarnya perkataan teman-temannya itu. Hanya saja rumah ini daripada tidak ditempati lebih baik direnovasi. Lagipula Aira juga tak masalah tinggal di sini. Bahkan, wanita itu hendak membuka usaha peternakan di belakang rumah yang tanahnya masih luas. Bakal dirawat oleh orang. Tinggal Aira yang memantau saja. Namun, rasanya dia juga tak betah lama-lama tinggal di tempat ini. Dia terbiasa akan kemewahan lalu harus tinggal di dalam rumah yang bagian finishingnya masih belum selesai. Apalagi banyak nyamuk tak jarang membuatnya susah tidur.  "Gue masih gak nyangka lo udah nikah sih. Malahan gue pikir lo bakalan gak mau nikah." "Orang tualah pasti, mereka ingin Gibran segera menikah." Gibran mengedikkan bahu. "Gimana sama pekerjaan kalian-kalian ini?" "Lumayan sih, kalau pekerjaan kita mah menunggu pembeli. Beda sama lo dan Irfan yang duduk manis memantau." "Lo juga." "Tetapi, masih kecil usaha gue." "Udah, lama-lama juga makin banyak. Ibaratnya yang semula satu karyawan jadi 5 karyawan," ujar Gibran penuh pengertian. "Bener tuh. Nikmatin aja waktu. Tiap orang prosesnya emang beda-beda. Ada yang udah sukses bisa membeli rumah, tanah bahkan bisnisnya dimana-mana kayak Gibran tuh contohnya. Ada yang masih jatuh bangun membangun bisnisnya kembali. Ada yang masih mau merangkak membangun bisnis." "Nah, kuncinya sabar saja dan jangan pernah berhenti untuk tidak berusaha. Semua pasti ada jalannya. Yang penting tuh sabar aja deh," kata Gibran. Dia cukup lega teman-temannya tidak lagi membahas soal Aira. Dia merasa jengkel mendengarnya. Memang tidak ada lagi selain Aira apa yang dibahas. Aira adalah istrinya, tak baik orang lain membicarakan istrinya dihadapan suaminya sendiri. Mereka sepertinya sengaja melakukan hal tersebut kepadanya. Dia tahu Aira memang baik, tetapi tak ada salahnya jika dia harus bisa menguasai Aira. Supaya tidak bermacam-macam padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN