Bab 4

1164 Kata
Suara ponsel yang nyaring membuat dua anak manusia yang baru saja menikah beberapa hari itu bangun dari tidurnya dengan kaget. Raut wajah lelah dengan muka khas orang bangun tidur membuat keduanya saling menatap dengan penuh kekesalan. "Ponselnya siapa sih ini? Ganggu orang tidur aja," gerutu Aira dengan kesal. Gibran yang sangat mengenali suara ponsel itu pun meraihnya dari nakas. Melihat nama yang sedang menelfonnya membuat dia semakin terkejut. Rupanya panggilan dari seseorang yang pasti sedang memantau dirinya dan sang istri. Siapa lagi jika mama kandungnya. Wanita paruh baya yang sangat menyukai Aira. Bahkan, sepertinya sang mama lebih perhatian kepada Aira daripada dirinya yang berstatus sebagai sang anak.  "Siapa?" Aira bersedekap.  "Mama," jawab Gibran dengan suara pelan tetapi terdengar oleh Aira. "Angkat saja! Aku tahu maksud mamamu menelfon. Apalagi jika bukan memastikan kita." Hendak mengangkat panggilan telfon itu, suara ponsel lain terdengar. Suara getarnya mampu membuat Aira berdecak kesal. Dia menghela nafas panjang. Baru saja bisa tidur jam 2 malam, dan masih jam 5 sudah ditelfon.  "Siapa?" Kini giliran Gibran yang bertanya. "Kamu jelas tahu jawabannya." Orang tua mereka benar-benar penasaran akan hubungan keduanya. Namun, mereka sudah melakukan kesepakatan hingga tak akan mungkin menimbulkan kecurigaan bagi mereka. Pasangan yang terlihat manis dan romantis di depan umum, tetapi nyatanya tampak seperti teman jauh ketika di rumah.  Entah apakah lambat laun seiring berjalannya waktu, keduanya akan memiliki perasaan cinta yang menghantarkan kepada kebahagiaan yang sesungguhnya. Jika dilihat dari harta yang melebihi cukup, hanya saja kasih sayang dan rasa cinta yang tak begitu ada membuat rumah itu terasa lebih sunyi.  "Angkat saja. Kita angkat bersama. Kalau perlu vidio call," suruh Gibran membuat Aira mau tak mau mengiyakan.  Detik selanjutnya terisi suara wanita paruh baya yang menanyakan anaknya masing-masing mengenai bulan madu yang dirasa mereka sukses. Terlebih saat mendengar jeritan Aira. Yang padahal karena cubitan Gibran yang membuatnya kaget. Hal yang dilakukan Gibran dengan sengaja. Hingga sambungan telfon terputus. Mereka memutuskan kembali tidur selesai melaksanakan ibadah. Gerutuan Aira yang tidak digubris oleh Gibran karena cubitan tadi. Hingga membuat wanita itu merasa kesal dan memutuskan untuk tidur di sofa sambil bermain ponsel. Membiarkan kedua matanya menahan kantuk. Namun, lagi-lagi sang suami tak peduli. Padahal sang istri telah membantunya memijat tadi malam karena kelakuan cerobohnya. Aira pun tidak selayaknya sang istri yang bangun pagi untuk membuat sarapan dan melaksanakan tugas membersihkan rumah. Bagaimanapun, baginya pernikahan itu saling membutuhkan, dan saling lainnya. Keduanya telah sepakat saling membantu dalam mengerjakan rumah. Menurutnya ini hal yang bagus, karena pemikiran Gibran cukuplah baik. Hingga cahaya matahari masuk ke dalam kamar mereka. Tak menyadari waktu telah menunjukkan pukul 08:00. Tidak terlalu siang, mereka bahkan masih mengantuk. Aira yang masih nyenyak pun terpaksa bangun karena tubuhnya digoncang oleh Gibran. Lelaki itu meminta dibuatkan sarapan sebelum sama-sama membersihkan rumah. "Bisa tidak beli bubur saja?" tanya Aira dengan mata lesunya. "Tidak bisa, aku sudah lapar." "Ya 'kan tinggal beli saja. Kalau nunggu selesai memasak ya lama. Katanya kamu sudah lapar," ujar Aira sambil merapikan rambutnya yang berantakan seperti orang yang habis tersengat listrik. Walau begitu penampilannya, dia tetap cantik. "Iya, iya. Kita beli saja." "Maaf, bukannya aku tak mau. Kamu sendiri yang mengatakan sudah lapar." Aira bangkit dari sofa, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Gibran berjalan mengikutinya, melakukan hal yang sama. "Oh ya, nanti selesai berberes kita belanja." "Oke," jawab Aira dengan singkat. ****** Menjadi seorang istri tidaklah mudah. Dari pagi sampai malam rasanya pekerjaan tidak ada habisnya. Apalagi nanti setelah memiliki anak. Aira yang menjadi wanita karir itupun suka mengeluh kecapekan. Namun, inilah kehidupannya dan dia harus menerimanya dengan lapang d**a. Gibran dengan langkah terseok pun menghampiri Aira yang duduk sambil memegang ponsel. Membuka salah satu aplikasi yang menayangkan soal wanita karir. "Kamu yakin masih mau bekerja?" "Bukankah aku sudah mengatakannya dan kamu setuju?" "Iya, aku mendengarnya." "Lalu? Kamu tahu sendiri jika aku akan bosan di rumah terus," ucap Aira kemudian berkata kembali, "Ya, dan kuharap kamu tidak perlu menanyakannya lagi." "Oke, oke. Apa kamu marah?" "Untuk apa?" Gibran mengedikkan bahu. Dia menatap Aira dari samping yang tampak serius. "Adeline, wanita karir yang sukses di usia 28 tahun." Gibran membaca judul artikel yang dibaca Aira. "Iya, dia memiliki banyak usaha, salah satunya di bidang fashion. Dia bahkan memiliki banyak butik yang tersebar di negara kita, dengar-dengar tahun depan dia akan mencoba membuka butik di luar negeri," jawab Aira tanpa menatap Gibran. "Pasti banyak lelaki yang psimis untuk mendekatinya." "Tentu, selain cantik, Adeline juga wanita karir yang begitu hebat. Banyak disegani masyarakat. Banyak anak muda yang menjadikannya motivator." "Apa kamu ingin sepertinya?" "Tidak perlu ditanyakan, tentu aku mau sepertinya. Itulah kenapa lebih baik di masa muda dihabiskan dengan banyak kegiatan, banyak teman, ambil saja pengalaman dari mereka-mereka." "Ya, aku setuju akan hal itu." Keheningan pun melanda keduanya. Hanya suara jam yang terdengar. Setelah lelah kemarin belanja dan membersihkan rumah, kini keduanya bersantai sambil mengobrolkan banyak hal. Aira yang terlihat ambisius dan Gibran yang tak kalah ambisius. Dua pasangan yang begitu cocok dari segi pemikiran, tetapi tidak dengan hati keduanya yang belum ada kata cocok. "Sepertinya aku tidak perlu membuat kandang dibelakang." "Kenapa? Bukannya kamu ingin mencoba bisnis baru juga." "Sepertinya aku akan membangun di tempat lain saja." "Tidak perlu merasa tidak enak. Lagipula jaraknya cukup jauh. Kamu hanya perlu berjuang supaya tercapai apa yang kamu inginkan." "Baiklah, terima kasih sudah menerima keinginanku." Gibran hanya mengangguk tanpa mengulas senyuman manis khas orang bucin. Karena dia tak memiliki rasa kepada Aira yang cantik itu. Wanita cantik saja dia abaikan, apalagi wanita sok genit? Sudah pasti dia akan semakin cuek. "Oh ya, gimana sama kinerja karyawan akhir-akhir ini?" "Cukup baik, walau ada beberapa yang melakukan kesalahan." Aira mengangguk saja. Kemudian dia kembali fokus membaca artikel tentang bisnis. Menambah wawasan juga membantu menggerakkan jiwanya untuk mencoba membuka berbagai bisnis. Entah itu kuliner, peternakan, dan lain sebagainya. Suatu saat dia akan menjadi pebisnis sukses.  Gibran yang berada disampingnya dia acuhkan. Tak akan berbicara lagi jika lelaki itu tak bertanya. Dia sudah cukup pusing akan semuanya. Memilih membaca artikel ini membuat semangatnya makin tinggi.  Jika beberapa orang memandang. Wanita tak perlu bekerja, apalagi suaminya ini sudah cukup kaya. Hei, mereka tak tahu saja bahwa bekerja itu menyenangkan. Apalagi jika bisa membeli apapun hasil dari bekerja. Walau sudah menikah tetapi menjadi wanita karir tetap terasa menyenangkan baginya. Lagian, Gibran bukanlah lelaki yang suka mengekang. Justru mendukung dirinya.  Ini hidupnya, orang lain tidak berhak mengatur hidupnya. Bahkan, keluarganya sekalipun. Walaupun Gibran kaya, bukan berarti dia bisa santai-santai saja. Biarkan dia menjadi apa yang dia inginkan untuk saat ini. Mengumpulkan pundi uang di masa muda, supaya kehidupan anaknya nanti nyaman dan tentram. Tidak lagi ada namanya masalah ekonomi.  "Nanti malam, makan di luar saja," ucap Gibran sambil meletakkan ponsel. Kemudian, mengambil remot dan menyalakan televisi. "Oke," jawab Aira dengan singkat.  Obrolan nan singkat tetapi cukup manis bagi pasangan yang baru menikah itu. Ini masih awal, entah seberapa besar ujian untuk kedepannya. Tentang pernikahan mereka yang diawali tanpa cinta dan sikap dinginnya Gibran. Aira dapat merasakannya, dia berharap semua akan baik-baik saja dan akan indah pada waktunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN