Bulan madu yang sebenarnya tentu menghabiskan waktu berdua bersama pasangan. Makan malam bersama dengan lilin sebagai penghias, dan menikmati malam-malam bersama. Nyatanya semua itu tak masuk apa yang dipikirkan Aira bahkan Gibran.
Pasangan yang baru menikah tiga hari yang lalu, dan sudah semalam menginap di hotel. Tidak ada jalan-jalan ke tempat wisata. Yang ada hanya duduk berdiam diri tanpa saling menyapa. Sibuk dengan ponsel yang dipegang masing-masing. Tidak ada yang spesial.
Aira memutuskan untuk mengambil camilan yang ia letakkan si koper. Menginap di hotel dua malam, biaya menginap yang lumayan. Hanya diam di dalam kamar, ke luar hanya untuk menikmati udara tanpa melihat indahnya kota. Besok ia putuskan untuk mencari oleh-oleh supaya keluarganya mengira bahwa bulan madu ini memang begitu indah. Walau kenyataannya sebaliknya.
"Aira," panggil Gibran.
Aira menoleh dengan alis terangkat sebelah. Gibran menatap Aira dengan terpana. Entah kenapa wanita itu tampak begitu cantik. Rambut panjang yang terurai dengan baju tidur lengan panjang bergambar daun maple.
"Ada apa, sih?" tanya Aira heran.
"Bagaimana jika besok kita jalan-jalan?"
Aira mengerutkan dahinya. Ia tampak berpikir kemudian mengangguk. Tangan kananya dengan segera mengambil camilan lalu kembali duduk di sofa, tepat di sebelah Gibran. Ia menyodorkan keripik pisang kepada lelaki itu, Gibran menggelengkan kepala.
"Eh, aku lupa sesuatu." Aira berkata dengan tiba-tiba membuat Gibran tersentak kaget. "Kita belum foto bersama. Mereka pasti tanya bagaimana bulan madu kita."
"Tetapi, mereka sudah tahu 'kan kalau kita ini butuh saling mengenal satu sama lain dulu. Karena kenyataannya kita dijodohkan."
"Kita tak akan dijodohkan jika kamu tidak bilang mencintaiku. Kamu yang memulai lebih dulu," tukas Aira dengan kesal.
Ia jadi mengingat moment di mana makan bersama di rumah Gibran karena memang diundang untuk syukuran ulang tahun lelaki itu bersama teman-teman kantornya. Akan tetapi tidak kondisional. Gibran yang saat itu ditanya mengenai siapa calon istrinya karena sebelumnya bilang bahwa sudah memiliki calon. Sedangkan, saat itu lelaki itu sama sekali belum memiliki calon.
Gibran yang bingung pun dengan seenaknya menarik Aira untuk memperkenalkannya sebagai calon istri. Usut punya usut bahwa keduanya memang telah dijodohkan. Akan tetapi belum diketahui keduanya. Aira dan Gibran hanya pasrah menerima takdir mereka. Mencoba menjalaninya walaupun terasa gugup, bingung, dan lain sebagainya.
"Maaf."
"Tidak perlu, mungkin ini takdir. Kita hanya perlu menjalaninya. Lagipula aku menerimamu bukan karena paksaan atau keterpaksaan," jawab Aira dengan senyuman tipis. Umurnya juga terbilang sudah cukup menikah. Keluarganya bahkan tetangga sering bertanya soal calon kepadanya. Sampai ia bingung dan pusing sekaligus.
"Besok bangun pagi, kita full jalan-jalan."
"Oke, aku ngikut saja gimana baiknya. Mau tidur dulu."
Gibran mengangguk. Ia membiarkan Aira tidur lebih dulu. Ia kembali fokus dengan ponselnya. Bermain game. Walau sudah dewasa ia tetap bermain game disela bosan. Sebagai hiburan saja untuk mengurangi rasa jenuhnya dengan segala urusan pekerjaan. Lagipula ia sudah memiliki segalanya. Rumah, uang, tanah, aset di mana-mana. Istri juga punya, hanya saja ia masih belum mencintainya. Ia juga belum memiliki anak sebagai penerusnya nanti. Semua tinggal menunggu waktu saja.
"Akhhh."
Suara erangan itu membuatnya sontak berdiri. Gibran menoleh ke arah Aira yang duduk sambil memegang kepalanya. Ia berjalan tergesa menuju ranjang. "Kamu kenapa?"
"Pusing."
"Kok bisa?"
"Sedari tadi nahan pusing tahu," keluh Aira.
"Kenapa tidak bilang?"
"Gak mau nyusahin," jawab Aira dengan ketus.
Gibran bingung mau menanggapi apa. Ia mengulurkan tangan untuk memijat kening Aira. "Gimana, udah enakan?"
Aira menggelengkan kepala pelan.
"Saya ke luar dulu beli obat."
Aira menggelengkan kepala. Ia kembali berbaring. Menaikkan selimut sampai di leher.
"Biar hilang pusingnya."
"Enggak."
"Ya udah." Gibran memilih mengalah dan memutuskan memijat kening Aira. Tepat dibagian yang pusing.
Karena keenakan, tanpa sadar Aira tertidur. Gibran tersenyum tipis melihatnya. Ia menatap ponselnya yang masih menyala di sofa. Meringis pelan karena saking terkejutnya tadi. Kasihan si ponsel yang ia abaikan.
******
Embun menyapa, tadi malam jam 2 sempatnya hujan turun. Tangan besar nan kokoh melingkar di perut Aira. Memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan. Aira melenguh pelan dan membuka kedua matanya.
Wajahnya begitu dekat dengan Gibran. Bahkan, lelaki itu menyembunyikan wajahnya di lekukan lehernya. Ia merasa geli. "Bangun," ujarnya dengan pelan sambil berusaha melepaskan tangan Gibran dari perutnya.
Gibran hanya melenguh dengan kedua mata yang masih terpejam. Aira mendengkus kesal. "Bangun gak? Aku mau ke kamar mandi."
Mau tak mau Gibran menjauh dari Aira. Ia semakin mengeratkan selimutnya.
"Salah sendiri tidur gak pakai baju. Emang enak," ucap Aira dengan ceplas-ceplos. Gibran menggerutu pelan.
"Kebiasaan ya kebiasaan tetapi lihat sikon dulu." Aira kembali berkata lalu melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
"Cerewet," gerutu Gibran.
Menggosok gigi dan mencuci wajah itu yang dilakukan Aira. Lalu mengambil air untuk wudhu. Walau ia bukan orang baik, setidaknya sebisa mungkin ia harus menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang Muslim.
Selesai berwudhu, ia ke luar kamar mandi menatap Gibran yang masih tertidur. "Bangun!" ucapnya sedikit keras.
Tak ada sahutan dari suaminya itu. Ia menarik selimut hingga akhirnya kedua mata itu terbuka. Gibran menatapnya tajam. Namun, ia tak takut sama sekali.
"Bangun! Sudah jam berapa ini?"
Gibran mendengkus lalu bangkit menuju kamar mandi. Aira tersenyum tipis. Ia membeberkan sajadah untuknya dan Gibran. Entah yang keberapa kali ia melaksanakan sholat berjama'ah dengan Gibran. Lelaki itu bahkan terlihat alim sekali. Belum lagi suaranya yang merdu saat melantunkan adzan dan membaca ayat suci Al-Qur'an. Hanya saja hatinya tak bisa lepas untuk Gibran. Padahal bisa saja ia mencintai karena nyatanya sampai kapanpun Gibran akan menjadi miliknya. Tetapi, lagi-lagi ia tak bisa.
"Aira," keluh Gibran di kamar mandi.
Aira dengan segera ke kamar mandi. Ia menatap Gibran yang duduk di lantai.
"Ngapain kamu?"
"Ngantuk lalu terpleset."
"Astaghfirullah."
Aira membantu Gibran berdiri tanpa menyentuh kulit Gibran. Sepertinya kaki suaminya itu kesleo. Ia membawanya ke kasur. "Kamu ganti baju dulu deh. Aku sholat duluan."
Gibran mengangguk. Aira memberikan baju ganti untuk lelaki itu lalu menjalankan ibadah. Gibran segera berganti.
Selesai menjalankan ibadah, Aira membantu Gibran ke kamar mandi untuk berwudhu. Gibran yang tak bisa sholat dengan berdiri karena kakinya sakit pun memutuskan sholat dengan duduk. Aira memilih diam menatap Gibran. "Hari yang panjang," ucapnya dengan suara pelan. Tentu ia tak akan jadi ke tempat wisata dan yang ada mengurus bayi besarnya. Benar-benar hari yang panjang.