Aira menatap jengkel Gibran yang sedang tidur-tiduran setelah 30 menitan yang lalu makan. Semula habis makan langsung berbaring di ranjang, tetapi dia omelin karena tidak baik habis makan langsung rebahan. Dia kesal ada sebabnya, karena perlakuan Gibran kepada Naura. Dia meminta kepada sang pengasuh untuk membawanya ke samping rumah. Mengajaknya berkebun atau apalah yang penting tidak bersedih lagi. Karena dia juga disibukkan mengurus orang sakit. Jika di halaman belakang dia tak akan memperbolehkan karena memang itu tempatnya peternakan sapi. "Gibran, kamu bisa gak sikapnya gak gitu ke Naura?" tanya Aira penuh kehati-hatian. Walau Gibran memang suaminya, tetapi dia tak sepenuhnya bisa sabar jika sikap lelaki itu kurang ajar dan semaunya sendiri. Apalagi Naura masih kecil, sangat membutuh

