Selama seminggu ini Aira dan Gibran kembali sibuk dengan pekerjaan. Bahkan, tak sedikitpun menengok keadaan Naura. Anak kecil itu hanya bisa menahan tangis dan mengeluh kepada sang pengasuh. Baginya kenapa kebahagiaan hanya sekejap mata. Kenapa orang tuanya selalu menarik ulur dirinya. Sang pengasuh yang sedang menyuapi Naura makan karena anak itu tak mau makan. Bahkan, makan pagi ini pun cenderung telat. Jika sampai Aira tahu pasti akan marah. Tetapi, Naura yang dasarnya 11 12 dengan Gibran keras kepalanya, membuatnya agak kesulitan dalam membujuk. "Ayo dong makan, Sayang!" "Enggak mau," katanya dengan air mata yang mulai ke luar dari kedua matanya. Hidungnya memerah. "Nanti mama marah lho kalau Naura gak mau makan," bujuk sang pengasuh lagi. "Naura mau disuapin mama, kenapa mama sa

