Happy Birthday

1078 Kata
Hari sudah mulai sore, saat akhirnya semua orang sudah berkumpul di meja makan. Harusnya ini adalah acara keluarga yang membahagiakan. Dimana semua anak cucu dan menantu menjadi satu, untuk merayakan hari jadi orang yang paling penting di dalam keluarga mereka. Alya menghela nafas panjang. Jantungnya seakan berdebar tak karuan. Berada di satu meja dengan keluarga Novan justru membuat mentalnya memburuk. "Makanannya enak banget. Ini kalau bukan Rania pasti Syila yang masak. Alya, kamu harus belajar banyak-banyak dari Mbak-Mbak mu ini. Soal perut juga harus jadi perhatian," celetuk Ibu Nindy. Bu Nindy ini sebenarnya berkata dengan lembut, tanpa sama sekali ada nada mengintimidasi di dalamnya. Akan tetapi, terdapat makna pada setiap kalimat yang di lontarkan. Seolah, beliau ingin mangatakan Alya sama sekali tidak bisa memasak, dan bukan istri idaman. Semua orang di meja ini tahu, Alya tidak bisa memasak dan Ibunda dari Novan jelas tidak menyukainya. "Bu ... yang bantu Rania masak itu ..." "Ehmmm nanti Alya belajar masak!" Alya memotong kalimat Rania yang pastinya akan menyebutkan namanya. Syila sudah melotot pada Alya dan Rania. Karena tidak ingin nama baiknya sebagai menantu idaman jadi tercemar. "Alya, nanti belajar dari Mbak Rania, sama Mbak Syila," tambahnya lagi seraya tersenyum. Ia melirik pada Rania yang hanya menggeleng gelengkan kepalanya, karena Alya malah mencegah wanita itu untuk membelanya. Kaum lelaki di rumah ini, tidak pernah tahu dan peduli dengan perseteruan apa yang terjadi di antara ke empat wanita yang mengililingi meja makan. Hanya Novan yang mengerti kegelisahan istrinya. Dari balik meja makan, tangan pria itu bergerak, menyentuh tangan Alya dengan kuat. Memberikan energi positif yang dengan harapannya bisa lebih menenangkan. Namun, di antara semua orang yang kini mulai menyantap hidangan, ada satu manusia yang sesekali melirik Alya, dengan pandangan yang berbeda. Seorang pria, yang memberikan senyum pada gadis itu, dengan amat tipis dan nyaris tak bisa dilihat oleh mata telanjang. *** Semilir angin malam menembus kulit tatkala Alya membuka jendela mobilnya meski hanya sebagian. Hari ini sempat terjadi hujan yang mengguyur kota Jakarta. Membuat udara di sekitar yang tadinya sumpek, menjadi lebih melegakan. Ia melihat keluar jendela dengan tatapan kosong yang menjemukkan. Antara mengantuk, tapi tak bisa terlelap. Semua terasa melelahkan baginya. Pura-pura tersenyum, seolah tak terjadi apapun. Berusaha mengalah, meski ia memang kalah. Novan memperhatikan istrinya yang murung sejak mereka keluar dari rumah. Ia bingung karena tahu apa penyebabnya tapi tidak tahu bagaimana dengan penyelesaiannya. Ibu dan Istrinya adalah dua orang wanita paling penting yang tidak bisa ia jadikan sebuah pilihan. "De, udahlah. Jangan dijadiin pikiran terus. Kita nikah belum ada setahun. Wajar kalau Ibu masih juga bersikap kaya gitu. Nanti lama-lama Ibu juga pasti berubah." Novan selalu berujar dengan lembut. Tidak pernah sekalipun Alya mendapat sentakan, bahkan sejak mereka menjalin hubungan sebelum menikah. Itulah salah satu hal yang membuat Alya mau menerima lamarannya. Sikapnya yang lembut dan baik hati, membuat Alya merasa bahwa kehidupannya setelah menikah, akan lebih baik. Akan tetapi ia ternyata baru tahu, bahwa ada permasalahan rumit di antara dirinya dan juga Ibu Nindy. Setelah mereka menikah, sudah tidak ada lagi yang bisa dipertimbangkan. Apalagi saat kata "Sah" sudah terucap. Bagaimanapun sikap Ibu Nindy Alya harus tetap menerimanya dengan lapang d**a. "Aku cuma ... ya ehm cuma." Alya bicara dengan agak gugup. Dalam hati Alya, ia ingin sekali protes pada Novan. Akan tetapi, sepertinya diam adalah pilihan yang lebih baik untuk saat ini. Novan tidak tahu apa yang terjadi pada Alya sebenarnya. Ia hanya memiliki sepenggal kisah, tanpa tahu apa yang selanjutnya telah di lakukan Ibu Nindy. Semua berawal saat keluarga Novan selesai makan bersama, lalu mereka sampai pada sesi buka kado. Kado pertama yang di buka oleh Ibu Nindy adalah Kado dari Syila. Isinya adalah sebuah tas limited Edition yang sempat akan di pilih Alya berdasarkan, saran dari Terry kemarin. Ibu Nindy, tampak sangat senang dan terus saja memuji pemberian Syila. Alya jadi agak menyesal, kenapa ia tidak menuruti perkataan Terry. Setelah itu, giliran milik Rania yang menjadi bahan perbincangan. Wanita itu memberikan hadian berupa pajangan keramik berbentuk bulat yang cantik. Diatasnya ada ukiran nama Ibu Nindy dengan ucapan selamat ulang tahun beserta doa yang tidak sedikit. Ibu Nindy juga tampak amat menyukainya. Namun yang terakhir saat Ibu Nindy membuka kado dari Alya, suasana rumah pun mendadak berubah. "Bagus banget gelangnya Al?" kata Rania ketika Ibu Nindy mengeluarkan gelang emas putih cantik yang nampak sederhana namun elegan. Itu bukanlah semata-mata pujian untuk membantu Alya. Akan tetapi, Rania memang menyukai gelang yang diberikan oleh Alya. Namun, lain orang, lain pula hatinya. Syila syirik berat, saat menyadari pemberian dari Alya, nampak lebih bagus dan mahal. Namun, senyumya berkembang saat Ibu Nindy dengan secara halus, menyindir bahwa ia tidak suka dengan pemberian dari Alya. ''Ehmmm, gelangnya sih memang bagus.Tapi Ibu kurang suka sama modelnya. Terlalu kaya ABG. Ibu kan, sudah tua. Masa pake kaya beginian." Jantung Alya langsung mendadak sakit, bibirnya mulai terkatup setelah mendengar penututuran dari Ibu Mertuanya. ''Lain kali, kalau mau belanja itu, coba ajak Mbak-mbak mu ini. Tanya selera Ibu itu kaya gimana? Biar nggak salah terus. Masa gitu aja harus dibilangin," tambah Bu Nindy lagi. Ke dua mata Alya sudah mulai akan berkaca kaca. Tapi dengan sekuat hati, Alya terus menyemangati dirinya sendiri. "Ayo Alya, tenanglah. Sabar ... sabar. Jangan cuma gara-gara hal sepele kaya gini, kamu sampai nangis. Ini cuma masalah selera," keluh Alya dalam hati. "Maaf ya Bu. Harusnya kemarin aku nggak ambil gelang itu buat Ibu. Padahal, Alya udah bilang waktu di toko, kalau gelang itu, nggak cocok buat Ibu.'' Alya mengernyitkan dahi. Ibu Nindy tampaknya agak terkejut, seusai mendengar penuturan Novan yang sudah jelas adalah kebohongan. Akan tetapi, Novan tetap terlihat santai. "Loh, jadi ini kamu yang pilihin?" tanya Ibu Nindy sekali lagi. "Bu, udahlah. Masa bahas kado doank aja sampai panjang begini. Novan sama Alya ngasih kado barengan.Ya udah, gitu aja," sergah Indra. Anak pertama di keluarga tersebut. Sepertinya, dia sudah mulai bosan, dengan drama yang terjadi setiap kali ada acara keluarga. "Bukan gitu Indra. Ibu kan cuma mau mastiin aja. Lagipula, kalau diperhatiin baik-baik, gelangnya bagus juga. Pasti kalau dipake arisan bakal banyak yang iri." Alya memutar pandangannya dengan jengah. Sekarang ia amat yakin! Semua hal dan bagaimanapun bentuk sebuah kebaikan yang diciptakan oleh Alya tidak akan pernah di pandang oleh Ibu mertuanya sendiri. Dengan cepat, keadaan ini teralihkan pada hal yang lain. Alya masih berusaha berbaur dengan keluarga Novan. Beruntungnya, Novan selalu punya cara agar Alya bisa keluar dari masalah. Dan Rania juga yang senantiasa memberinya suport. Meskipun dunia ini tidak akan terasa lengkap tanpa adanya orang yang jahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN