Cemburu Tanpa Alasan
Sepasang mata itu kini kembali mendelik dengan kesal. Kian dalam saja sesapan sebatang rokok di antara jemari gadis ini tatkala ia membaca obrolan pada chat grup di ponselnya. Sesuatu yang sepertinya amat nggak penting menurutnya. Tapi ia penasaran dan semua itu sukses membuat moodnya anjlok.
"Arrhhh fu*k you, guys!" ucapnya sembari mengacungkan jari tengah pada ponsel itu. Lalu dalam beberapa detik, ia akan ikut kembali masuk ke dalam obrolan dan memasang emoji senyum atau ikut tertawa haha-hihi tak jelas.
What ever, siapa yang bisa tahu isi hati seseorang di balik pesan singkat. Siapa saja bisa memasang topeng. Persahabatan di antara mereka berempat terjalin sejak masih berada di bangku SMA. Mereka adalah Alya, Ricky, Nina dan Terry.
Alya yang baru setengah tahun menikah ini selalu di buat iri dengan cerita yang dikemukakan Nina. Karena hampir setiap kegiatan yang dilakukannya dan suami, diabadikannya dalam status whats up atau insta story, beserta laporan lengkap pada ketiga sahabatnya itu. Ricky dan Terry sendiri hampir tak pernah mempermasalahkan hal tersebut, mengingat mereka berdua adalah lelaki dan memang masih jomblo.
Beberapa waktu lalu Nina memamerkan kalung dengan liontin sebesar jempol yang indah, hadiah aniversary katanya. Minggu lalu, ia juga memposting foto-foto kemesraannya dengan sang suami yang sedang liburan di pantai. Dan baru saja, lagi-lagi Alya di buat cemburu saat Nina bercerita betapa bahagianya melihat perkembangan foto USG janin yang tengah dikandungnya.
Nina dan kehidupannya yang sempurna. Menikah atas dasar cinta dengan pasangan yang tepat. Suami yang baik hati, tampan, kaya raya ditambah mertua yang tidak pernah ikut campur dalam urusan rumah tangga. Gambaran sebuah keluarga bahagia di mana si cantik memang milik si tampan.
"Apa sih bagusnya Nina. Dia pinter, gue lebih pinter, dia cantik, gue lebih cantik, tapi semua keberuntungan ada di dia," keluh Alya dalam hati.
Alya melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Memilih untuk tak ikut bergabung dalam obrolan mereka sebelum akhirnya emosi. Gadis itu melirik pada jam yang terpasang di dinding kamarnya. Sekarang baru pukul 3 sore. Dalam waktu satu jam lagi biasanya Novan akan pulang.
Novan tahu Alya adalah perokok kelas berat bahkan peminum yang sebenarnya nggak jago-jago amat. Ia tahu gaya hidup Alya yang cenderung terlalu bebas. Awalnya ia tak keberatan, selama pacaran Alya memang tak menutupi segala keburukan nya. Gadis itu membiarkan Novan mengetahui segalanya, lalu sisanya ya terserah. Terima syukur, tidak terima ya masa bodoh.
Tapi setelah menikah, Novan mulai terganggu dengan kebiasaan Alya yang satu ini. Sebagai istri yang baik, tentu saja Alya akan menuruti permintaan suaminya. Tapi di belakang, siapa yang akan tahu kalau Alya masih sama seperti dulu.
Gadis itu menengadahkan kepalanya pada ranjang. Menatap langit-langit berwarna putih yang enam bulan terakhir ini, selalu menjadi pemandangan pertama saat ia membuka mata. Memutuskan menikah di usia muda itu, tidaklah mudah.
Mulanya ia berpikir menikah adalah sesuatu yang menyenangkan. Tentu saja berkaca pada kehidupan Nina yang selalu nampak bahagia, membantu Alya untuk mengambil keputusan yang agaknya terlalu cepat.
Menyenangkan saat kamu tidak perlu repot-repot bekerja, tapi uang mengalir begitu saja. Akan ada wajah pria yang kita cintai saat kita akan tidur, dan saat kita bangun nantinya. Akan ada pria yang memberikan perhatian lebih padanya. Semua hal menyenangkan ada dalam benaknya.
Tentu saja kita tidak bisa menyamakan sikap seseorang sebelum menikah dan sudah menikah. Dan yang paling ia rindukan saat ini adalah ...
"Kebebasan ..." lirihnya tanpa sadar. Hanyut dalam pikirannya sendiri, Alya sudah hampir masuk ke dalam mimpi saat tiba-tiba saja suara mesin kendaraan membuatnya hampir syok. Itu suara mobil Novan.
Gadis itu membuka mata selebar mungkin, berlari dan melihat dari balik kaca jendela. Ia melirik jam di tangannya. Padahal baru jam 4 sore. Biasanya Novan pulang pukul 5 sore. Dan Alya tidak memiliki persiapan apapun.
"Sial! Mampus gue!" gerutu Alya.
Dengan tergesa-gesa ia mengambil sisa rokok dan menyembunyikannya. Memakai parfum, memoleskan sedikit pewarna bibir dan memakan permen. Tak lupa ia menyemprotkan pengharum ruangan dan voila, selesai sudah. Gadis itu kembali berlari dari kamar, menuruni anak tangga. Alya sampai, tepat pada saat Novan membuka pintu.
Gadis itu tersenyum seperti biasa, menyambut kepulangan sang suami. Novan juga tampaknya tak merasakan ada hal yang aneh. Semua berjalan normal.
"Tumben kamu udah pulang Mas?" tanya Alya, basa-basi. Novan berjalan melewati istrinya dan duduk si sofa. Menyandarkan kepalanya sembari mengambil nafas panjang, jelas wajah itu menampakan rasa penat.
"Nggak apa-apa. Kerjaan Mas kebetulan nggak banyak hari ini," jawab Novan.
"Aku siapin air anget buat kamu mandi ya," tawar Alya kemudian.
Novan hanya mengangguk, Alya bergegas pergi. Sambil mengelus d**a ia terus bersyukur diselingi doa.
"Fiuuhhh selamet, selamet. Moga aja Mas Novan nggak nemuin apa -apa," seru Alya dalam hati.
Novan beranjak pergi dari sofa menuju kamarnya dan Alya. Pria itu meletakan barang-barangnya di atas meja dan menyadari ada sesuatu yang berbeda.
"Tumben wangi banget," pikir Novan.
Ia mencium aroma di dalam kamar yang harum, nyaris terlalu harum, hingga membuatnya sedikit heran. Tapi masa bodoh. Novan tak mau repot-repot memikirkan hal sepele seperti wangi kamar yang harum atau puntung rokok yang tak sengaja di injaknya. Dan yup ... Novan baru saja sadar telah menginjaknya. Dan ia kemudian memungut benda itu.
Tak lama kemudian Alya menyusul ke dalam kamar. Ada Novan yang sedang berdiri menghadap ke ranjang dan membelakangi gadis itu.
"Mas, aernya udah siap tuh, ayo mandi."
Novan berbalik sembari memperlihatkan sepuntung rokok kecil di hadapan Alya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Tak ada sepatah katapun yang keluar. Hanya sebuah tatapan tajam, yang amat menusuk diri gadis itu.
Alya menelan ludah, lalu menggigit bibir bawahnya, merutuk, memaki, apapun yang bisa dilakukannya dalam hati. Tapi sayangnya, sangat jelas semua itu tak akan membantu.
"Mas ..." panggil Alya.
"Kamu lagi pusing?" tanya Novan. Alya menggelengkan kepalanya sebagai isyarat jawaban tidak.
"Kamu lagi pengen sesuatu?" tambah Novan lagi.
Lagi-lagi Alya menjawab hanya dengan gelengan kepala.
"Atau kamu lagi punya masalah, tapi kamu segen buat ngomong sama aku?" tanya Novan sekali lagi. Alya yang semula hanya memalingkan muka, kini memberanikan diri untuk membalas tatapan tajam milik suaminya itu.
"Maaf ya, Mas." Alya menunduk.
"Loh, kamu kenapa minta maaf sama aku De?" Alya hanya diam tak bergeming. Novan meletakan puntung rokok yang ditemukannya tadi di atas meja.
Ia meraih bahu Alya, menggenggamnya dengan lembut. Meredupkan tatapan tajamnya yang mengintimidasi Alya.
"Kalau aku melarang kamu melakukan sesuatu, itu ada alasannya, De. Mas yakin kamu udah cukup dewasa. Tahu mana yang baik mana yang buruk," jelas Novan pada sang istri.
"Tapi nggak semua cewek merokok itu jelek Mas. Sama kaya, nggak semua cowok yang nggak ngerokok itu banci." Alya coba membela dirinya sendiri.
"Iya Mas tahu. Tapi nggak semua orang punya pemikiran sama dengan kamu. Lagipula, bukannya kamu udah janji ya mau berubah. Ini baru setengah taun loh."
Novan meraih puncak kepala Alya, membelainya dengan lembut dan sayang.
"Setiap suami cuma mau yang terbaik buat istrinya. Setiap istri juga wajib menuruti perintah suaminya. Tapi istri tentu boleh menolak, dan wajib menegur kalau suaminya salah. Hadehh, kenapa Mas jadi sok bijaksana gini ya, De. Nyebelin banget nggak sih?" Novan berdecak menggelengkan kepalanya. Membuat suasana jadi mencair.
Alya yang semula takut suaminya akan marah, jadi terkekeh kecil. Ia bergumam sendiri dalam hati.
"Kok bisa ya, Mas Novan tuh sabaaarrrr banget."
Pasalnya ini bukan pertama kali Alya membuat kesalahan, dan Novan hampir tak pernah marah, atau bahkan sekedar meninggikan suaranya pada Alya.
"Jangan bengong kaya gitu. Kamu juga mandi gih, mumpung masih sore kita cari makan di luar," ajak Novan.
Seketika itu juga pandangan Alya berubah menjadi berbinar-binar. Senyum malu-malu yang sempat di tahannya tadi kini terbuka lebar.
"Beneran Mas ... ?" tanya Alya meyakinkan.
"Bawel ih. Mas mandi dulu ah."
Novan berlalu lebih dulu sebelum meninggalkan kamar. Alya jingkrak-jingkrak kegirangan sembari mengambil handuk dan bersiap untuk mandi juga.
Meski Alya selalu merasa kehidupan orang lain amat menyenangkan. Ia belum sepenuhnya sadar, bahwa ia juga memiliki suami yang lebih sabar dari siapapun. Dan itu, juga sebuah keberuntungan bukan?