“Tuhanku yang Maha Kaya akan menyiapkan untuk saya seorang pria yang bersih, suci, masih perjaka dan mencintai saya bukan karena fisik saya. Karena saya wanita baik-baik maka jodoh saya adalah pria baik-baik, bukan pezina. Heiiiish, tak berhenti-berhentinya dia menyindirku? Cih!” seru Reiko sambil menatap pintu yang baru ditutup olehnya. “Dasar wanita alim. Jadi sekarang kamu ingin menyindirku dengan bawa-bawa nama Tuhan? Memang kau pikir kamu wanita suci?” Ya percuma Aida mengoceh juga di luar. Walaupun mendengar, Reiko juga tidak mau menimpalinya dia malah mencebik, mengoceh sendiri sambil melihat pintu yang sudah ditutup rapat dan kini bibirnya pun manyun menatap ke arah pembalut di pinggir wastafel. "Terserah dialah kalau mau bermimpi. Bukan urusanku, tapi aku sudah mengatakan yang

