Hansa masih tidak percaya, sesorean ini otaknya masih berpikir tentang ajakan ibu mertuanya, tentang untuk tinggal bersama. Sebenarnya Hansa senang, tapi sekaligus takut. Pondok Indah Mertua, hmm... indah tapi tak seindah rumah sendiri. Begitu kata orang, ya kadang orang itu ada yang benar ada yang salah. Bagaimana jika nanti dirinya disiksa, diabaikan, lalu Faris dijodohkan kembali dengan wanita lain. Tidak, tidak. Itu seperti sekenario sinetron yang ratingnya lagi naik, biar naik terus jadi diputer-puter terus. Udah baik jahat lagi, jahat lagi. Terus peran utamanya kaya ibu peri, cuma berdoa dan diam saja saat dihina. Nunggu keajaiban biar yang jahat insyaf, atau kalau tidak yang jahat nabrak mobil lagi jalan di trotoar. Ya, begitulah fenomenanya. Jadi membayangkan, tiidak, tidak, Hans

