Ashraf lantas menunduk sebentar, sebelum memiliki keberanian untuk memandangi wajah teduh Yasmin akhir-akhir ini. Digenggamnya lengan mulus itu, Ashraf menciumnya dalam waktu lama, sebagai tanda maaf. Namun, Yasmin tidak akan mudah luluh begitu saja. Setelah hatinya diluluh lantakkan, Yasmin tidak bisa menata ulang sesuatu hal yang sejatinya sudah dirusakan. Ibarat kata, seperti kaca pecah. Meski masih bisa diperbaiki, tidak bisa semula pada bentuk awalnya. Begitu pula dengan hati. "Kamu tahu dari mana?" tanya Ashraf. Yasmin sudah terlanjur sesak, dia hanya bisa membalas tatap tanpa adanya sebuah kata terucap. "Hanya menebak saja, tetapi pertanyaanmu itu seolah membenarkan jika memang kalian melakukan. It's oke, no problem. Aku mengerti jika kalian pasangan halal, memang sedang hangat

