Sejak pulang mengatar Sisy dari dr. Sinta, pikiran Bagja kalut. Dia lebih banyak berdiam diri di kamar. Pikirannya berputar tentang bagaimana cara untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Untuk tes DNA bisa saja dilakukan, tetapi pastinya harus menunggu jabang bayi terlahir ke dunia. Sembilan bulan, dia tidak bisa berjauhan dengan istrinya dalam waktu yang begitu lama. Ada kekhawatiran juga muncul. Bagaimana kalau Ceria betul-betul meninggalkannya? “Mas, bagaimana hasilnya tadi pagi?” Suara Ceria membuyarkan kekalutan pikirannya. Bagja membenahi duduknya, ditarik punggungnya dari sandaran sofa. Matanya yang tadi menatap kosong ke sembarang arah, kini beralih pada wanita cantik yang sudah berdiri di sampingnya. “Dia beneran hamil.” Bagja menarik napas panjang. “Mas, kalau kamu memang

