“Ya Tuhan, aku pasti sudah gila!” Jeslyn yang sudah masuk ke kamar hotelnya menjambak rambutnya sendiri dengan perasaan frustasi. “Ini semua karena ulah Jefran!”
Dia mendaratkan bolongnya di atas ranjang dengan perasaan kacau. Bisa-bisanya dia tidur bersama calon Kakak iparnya yang baru saja kembali dari luar negeri. Pria asing, yang baru dia temui tadi malam.
“Gila, Jeslyn! Aku harus bagaimana sekarang? Kalau misalkan dia ingat kejadian semalam. Aku gimana?” Jeslyn benar-benar frustasi dan tidak bisa berpikir jernih.
“Bodoh! Kenapa aku harus mabuk dan masuk ke kamarnya. Kenapa aku malah mengira dia Jefran?”
Jeslyn menggigit bibirnya, matanya memandang langit-langit kamar hotel dengan nanar. Detak jantungnya masih belum stabil sejak dia terbangun dan menyadari kesalahannya. Pria itu, calon kakak iparnya bisa saja mengingat semuanya. Lalu bagaimana jika dia menceritakan ini pada Jefran? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika pria itu justru menuntut tanggung jawab darinya?
"Aku harus keluar dari sini sebelum dia bangun dan menyadari semuanya," gumam Jesslyn panik. “Sebisa mungkin aku harus menjauh dan menghindari!”
Dengan cepat, Jesslyn membereskan pakaiannya ke dalam koper, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia harus keluar dengan tenang, dan bersikap seakan semuanya tidak pernah terjadi.
“Oke, aku harus pergi sekarang!” ucap wanita itu setelah bersiap dan menderek koper meninggalkan kamarnya.
Namun, saat dia baru saja menutup pintu kamarnya, seseorang mengagetkannya.
“Berniat kabur?” ucapan itu berhasil membuat Jeslyn tertegun, tubuhnya menegang seketika. Dia menelan ludah sebelum perlahan menoleh.
Pria itu sudah berdiri dengan bersandar ke dinding tak jauh dari pintu kamarnya. Kedua tangannya dilipat di d**a dan dia tampak lebih segar, seperti baru selesai mandi.
“Ubur-ubur ikan lele. Sial! Gagal kabur, Le!” batin Jeslyn mengutuk dirinya yang terlalu lama membuang waktu sampai ketauan.
Wanita itu berdehem kecil sambil berbalik ke arah pria yang masih menatapnya dengan intens dan ekspresinya sulit ditebak. Tatapan matanya mengunci Jeslyn di tempat, membuat napasnya tercekat.
"Sial! Di saat seperti ini dia terlihat begitu tampan!" batin Jeslyn, menghela napasnya. Tapi, gadis itu segera menghilangkan kegugupannya dan berusaha bersikap biasa saja.
“Selamat pagi, Kak Leonel,” sapa Jeslyn yang berpura-pura polos. “Kakak datang untuk mencari Jefran, ya? Sayang sekali, Jefran gak ada di sini. Dia…“ Jeslyn berpikir cukup lama. “Dia sudah pulang duluan. Ya, dia sudah pulang,” jawabnya berusaha tersenyum walau gugup.
“Ka… kalau gitu, aku juga pamit, Kak. Aku harus segera pergi karena ada kegiatan,” pamitnya.
Leonel tetap bersandar di dinding, tidak bergerak sedikit pun. Bibirnya melengkung tipis, entah senyum mengejek atau hanya ekspresi santai. Tatapan matanya tajam, seolah menelanjangi kebohongan Jeslyn.
"Jefran sudah pulang duluan?" Leonel mengulang perkataan Jeslyn dengan nada datar, lalu melirik koper di tangannya. "Dan kau juga kebetulan harus pergi di pagi buta seperti ini?"
Jeslyn menelan ludah, mencoba mempertahankan senyumannya. "Iya, kebetulan banget! Aku ada urusan mendadak."
Leonel mengangkat alis, lalu mendorong punggungnya dari dinding dan melangkah mendekat. Jeslyn spontan mundur, tapi pintu di belakangnya menghalangi.
"Kau yakin bukan karena kejadian tadi malam?"
Dada Jeslyn semakin sesak. "Ke-kejadian apa?" tanyanya, berpura-pura bingung.
Leonel tersenyum kecil, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak mereka semakin dekat. Jeslyn bisa mencium aroma segar dari tubuh pria itu, yang baru saja mandi.
"Kau mabuk," kata Leonel, suaranya rendah tapi jelas. "Lalu kau masuk ke kamarku dan..."
"Cukup!" Jeslyn buru-buru menutup telinganya dengan kedua tangan, wajahnya merah padam. "Aku tidak mau mendengar!"
Leonel terkekeh pelan. "Jadi kau ingat?"
Jeslyn mendengus, menurunkan tangannya dengan kesal. "Tentu tidak! Aku bahkan tidak ingat apa pun, jadi aku tidak akan ambil pusing. Dan kakak juga jangan mengada-ada!"
Leonel memperhatikan ekspresi Jeslyn dengan seksama, lalu mengangkat bahu santai. "Baiklah, kalau kau tidak ingat, aku juga tidak akan memaksamu mengingat."
Jeslyn mengerutkan kening, sedikit bingung dengan sikap pria itu.
"Serius?" tanyanya curiga.
Leonel tersenyum miring. "Serius."
Untuk sesaat, Jeslyn merasa lega. Tapi kemudian, pria itu menambahkan sesuatu yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
"Tapi kalau suatu hari kau ingin tahu apa yang terjadi semalam... Aku bersedia menceritakannya dengan detail. Dan aku juga akan menagih pertanggungjawabanmu. "
Jeslyn membelalakkan mata, jantungnya hampir melompat keluar. "Me-menagih pertanggungjawaban?" suaranya terdengar gemetar, tapi dia berusaha keras untuk tetap terlihat tenang.
Leonel menyandarkan satu tangan ke dinding, tepat di samping wajah Jeslyn, membuat gadis itu terjebak di antara pintu dan tubuhnya. "Tentu saja," ujarnya santai, tapi ada nada penuh makna di balik suaranya. "Kau pikir aku tipe pria yang membiarkan sesuatu seperti ini berlalu begitu saja?"
Jeslyn meneguk ludah. "Tapi aku kan nggak ingat! Bagaimana bisa aku bertanggung jawab atas sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu?"
Leonel menatapnya lebih dalam, seolah menunggu sesuatu. Tapi saat Jeslyn tetap menghindari kontak mata, pria itu tersenyum tipis. "Baiklah, kalau begitu aku kasih waktu."
"Waktu?" Jeslyn mengerutkan kening.
"Waktu untuk mengingat."
Jeslyn semakin panik. "Dan kalau aku tidak ingat?"
Leonel menepuk pelan dagunya seolah berpikir, lalu menjawab dengan santai, "Maka aku yang akan mengingatkanmu... dengan caraku sendiri." Pria itu menunjukkan seringainya.
Seketika wajah Jeslyn memanas. "Jangan macam-macam!" desisnya sebelum mendorong tubuh Leonel dan buru-buru menyeret kopernya pergi.
Sementara itu, Leonel hanya terkekeh pelan, matanya masih menatap punggung Jeslyn yang semakin menjauh.
"Menarik," gumamnya, senyum di wajahnya semakin lebar. "Aku ingin tahu, sampai kapan kau bisa lari dariku, calon adik ipar?"
***
“Nyebelin! Huhu… “ Jeslyn meninggalkan kopernya begitu saja saat dia sampai di kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang empuk miliknya.
“Aku benar-benar sudah gila. Kenapa aku harus berurusan dengan pria itu,” gumamnya meruntuki dirinya sendiri.
Jeslyn memeluk bantal erat-erat, mengubur wajahnya di sana sambil merintih frustasi. "Kenapa harus dia?! Dari sekian banyak pria di dunia ini, kenapa harus calon kakak iparku sendiri?! Huhuhu..."
Dia berguling ke sana kemari di atas ranjang, kepalanya penuh dengan wajah Leonel dan senyum jahilnya tadi. "Dan yang lebih parah, kenapa aku malah sempat berpikir dia tampan?!" Jeslyn langsung menampar pipinya sendiri. "Sadar, Jeslyn! Sadar! Ini bencana besar!"
Dia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. "Oke, oke. Aku harus melupakan semuanya. Aku harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa."
Namun, bayangan Leonel yang berkata "Maka aku yang akan mengingatkanmu... dengan caraku sendiri." kembali terngiang di kepalanya.
Jeslyn langsung bangkit duduk. "Astaga! Jangan bilang dia benar-benar akan mengingatkanku dengan cara yang sama?!"
Dia buru-buru meraih ponselnya dan membuka aplikasi chat, berniat menghubungi Jefran. "Aku harus tahu seberapa berbahayanya pria itu!"
Tapi sebelum dia sempat mengetik pesan, layar ponselnya tiba-tiba menyala dengan panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Jeslyn menyipitkan mata curiga sebelum akhirnya mengangkatnya. "Halo?"
Suara berat yang sudah terlalu akrab di telinganya terdengar dari seberang.
"Pikirkan baik-baik, Jeslyn. Karena aku benar-benar akan menagihnya."
Jeslyn langsung menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatapnya dengan horor.
Jeslyn menelan ludah, jari-jarinya gemetar saat menggenggam ponsel. "Ka-kak Leonel?" suaranya bergetar.
Di seberang, tawa rendah pria itu terdengar, membuat bulu kuduk Jeslyn meremang.
"Kau pikir bisa menghindar dariku begitu saja?" suaranya terdengar santai, tapi ada sesuatu di balik nada itu yang membuat Jeslyn semakin waspada.
"Aku... aku tidak tahu apa yang kakak bicarakan," Jeslyn mencoba mengelak, meski jelas terdengar gugup.
"Benarkah?" Leonel terdengar seperti sedang tersenyum. "Baiklah, kalau begitu..."
Jeslyn menunggu kelanjutan kata-katanya, tapi yang terdengar justru suara ketukan di pintu kamarnya.
Tok. Tok. Tok.
Jeslyn terlonjak, jantungnya seolah berhenti berdetak. Perlahan, dia menoleh ke pintu yang tertutup rapat.
Suara Leonel kembali terdengar di telepon, kali ini lebih rendah dan menggoda.
"Kenapa tidak membukakan pintu, Jeslyn?"
Degh!