Derren menggenggam tangan Rindu kemudian menariknya untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri, ayahnya berjalan lebih dulu dan duduk pada lantai yang diberi alas karpet dan bean bag yang nyaman sebagai pengganti sofa.
"Sayang, kenapa kamu terlambat? Kamu juga enggak bawa hape kamu." Derren kembali bersuara, tangannya masih menggenggam jemari tangan Rindu meski ia tahu kalau gadis itu berkeringat dan gemetar. "Aku minta ayah datang, karena kamu gak enak badan akhir-akhir dan bilang kangen ayah, iya kan?"
Rindu tidak tahu apa yang sedang Derren bicarakan, ia gemetar hingga wajahnya berubah pucat. Bibirnya sedikit terbuka, ia ingin berteriak ketika menatap wajah lembut ayahnya, pria yang memiliki keriput hampir di seluruh wajah, dan rambut yang memutih, ia ingin berteriak dan mengatakan semua penderitaannya tapi Derren mencengkeram tangan Rindu seakan memberinya isyarat bahwa ia tidak bisa lolos darinya, bahwa ia tidak boleh dengan lancang mengatakan segalanya.
"Ini, bibir kamu kenapa, Nak?" Ayahnya Rindu memegang sudut bibirnya yang terluka, meski hanya menyisakan bekas saja dan tertutupi oleh makeup profesional tapi ayahnya masih bisa melihat dengan jarak sedekat ini.
Rindu hanya bisa beralasan kalau ia sariawan, bukan sesuatu yang serius .
"Ndu, kamu sakit?" tanya ayahnya lagi dengan khawatir, pria tua itu mengambil tisu dari atas meja dan mengusap pelipis juga dahi putrinya yang basah oleh keringat, perhatian yang membuat Rindu ingin menangis sejadi-jadinya dan menghambur pada ayahnya untuk meminta pertolongan, tapi ayahnya akan berada dalam bahaya juga jika Rindu nekat melakukannya.
"Rindu cuma kecapean aja Ayah, jangan khawatir." Gadis itu menarik napas panjang dan mencoba tersenyum menatap ayahnya meski ia harus menggigit bibir bawahnya dengan kuat untuk bisa melakukan hal itu. "Ayah, Ayah harusnya di rumah aja, kenapa ke Jakarta?"
Ayahnya tersenyum hangat, Rindu benar-benar akan gila jika terus begini dan menyaksikan senyum ayahnya direnggut.
"Lohh ayah kan khawatir, Derren bilang Ndu sakit jadi ayah datang ke sini. Derren juga yang jemput ayah di stasiun."
Tangan Derren kemudian mengusap rambut Rindu yang tergerai bergelombang membuat tengkuk Rindu merinding dan uratnya menegang, pria itu tahu betul bagaimana cara menaklukkan Rindu. Ia melibatkan satu-satunya kelemahan Rindu yang tidak bisa diganggu gugat. Kalau Rindu mati atau celaka, ia masih bisa memikirkan caranya untuk lepas dari Derren tapi kalau ayahnya, ia tidak bisa membiarkan pria itu melakukannya.
"Ayah tadi sudah berbicara banyak sama Derren, Ndu beruntung di jaga sama orang yang tepat, ya." Senyum ayahnya tidak pernah pudar seakan tengah menyiramkan garam di atas luka yang Rindu terima tanpa sengaja, ayahnya yang tidak tahu apa-apa, ayahnya yang harus Rindu lindungi sekuat tenaga.
"Ayah menginap di sini, ya," pinta Rindu pada ayahnya, pria tua itu mengiyakan permintaan Rindu meski besok ia harus kembali pulang ke Ciamis. Ia hanya ingin memastikan kalau putrinya baik-baik saja.
"Ayah tidur di rumah aku aja, di sini sempit."
Rindu menolehkan kepalanya menatap Derren, ia tidak mau menjadi lemah kalau menyangkut ayahnya. "Enggak. Ayah akan tidur di sini!!"
Derren tersenyum melihat Rindu yang berani menatapnya, ia tidak merasa terintimidasi sama sekali hanya karena Rindu bersikap seperti itu. Derren tahu kalau ia yang mengontrol situasi ini.
"Iya, Nak. Ayah tidur bersama Rindu saja. Hanya satu malam, kan."
Derren akhirnya menyetujui permintaan ayahnya Rindu, hal itu setidaknya membuat Rindu tenang meski hanya sesaat.
"Papa sama mama kamu belum kembali ke Jakarta?" tanya ayahnya Rindu. Orang tua Derren memang sibuk mengurus perusahaan mereka dan selalu meninggalkan Derren sendirian sejak pria itu masih kecil, bahkan mereka tidak khawatir ketika menguliahkan Derren ke Jepang sendirian.
"Mereka sepertinya lupa jalan pulang." Derren tampak serius dengan ucapannya tapi kemudian ia tertawa karena menganggap hal itu hanya lelucon saja.
Ayahnya Rindu kemudian ijin untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket setelah seharian melakukan perjalanan dengan bis, hal itu memberi Derren waktu dan kesempatan untuk berbicara dengan gadis yang kemarin kabur darinya ini.
"Sayang ...," Derren menyelipkan rambut Rindu ke belakang telinga. "Pergi ke mana kamu semalam, bukannya aku bilang jangan buat aku khawatir?" Tangan Derren bergerak menangkup pipi gadis itu mendekatkan wajah keduanya hingga hembusan napas Derren menerpa kulit Rindu yang lembab karena keringat akibat ketakutannya.
Rindu menutup matanya dengan isak tangis yang sebisa mungkin ia tahan, ia tahu betul kalau Derren suka jika Rindu terlihat lemah di tangannya.
"Sayang, kamu enggak mau lihat aku?" Tangannya yang lain bergerak mengusap kelopak mata Rindu membuat gadis itu membuka matanya dan mendapati wajah Derren yang tepat berada di hadapannya.
Rindu tidak sudi melihat wajah pria itu, ia memalingkan muka ke arah lain. Lehernya menegang menahan tangis yang membuatnya terasa pegal tapi Rindu bisa, ia tidak mau membiarkan Derren menang dan menjatuhkan mentalnya.
"Pakaianmu baru? Aku rasa aku tidak pernah membelikan yang seperti ini ...." Derren memegang kancing baju rindu paling atas dan membuat gadis itu semakin gemetar ketakutan, ingatan kejadian kemarin malam membuat Rindu tidak bisa bergerak. Ia takut. Takut sekali.
Pria itu kemudian memeluk Rindu ketika dirinya tidak mendapatkan jawaban, wajahnya ia benamkan pada lekukan bahu dan leher gadis itu, napasnya terasa panas menerpa kulit Rindu yang berkeringat dan saat Derren mengecupnya tubuh Rindu semakin bergetar hebat. Pria itu menyadari kalau Rindu kalah, tangannya bergerak mendekap Rindu semakin erat dan ketika ia mendaratkan bibirnya di tempat yang lain Rindu kembali bergetar dan jantungnya terpompa dengan cepat hingga Derren bisa mendengar debarannya, telinga Rindu seperti berdengung dengan tubuhnya yang merinding. Rindu tidak menikmati apa pun yang Derren lakukan, ia merasa dirinya menjijikkan ketika Derren menyentuhnya dengan cara seperti ini namun ia juga ketakutan hingga mungkin jantungnya akan berhenti saat itu juga.
"Sayang, kamu tahu kalau kamu enggak bisa lari dari aku, kan?" tangan Derren menyentuh bibir Rindu dan mengusap luka memar di sudut bibirnya sisa dari penyiksaan yang Derren lakukan kemarin.
Rindu tidak menjawab, lidahnya kelu, ia ketakutan sampai Derren bisa merasakan lehernya yang semakin menegang dan Derren menikmati momen kemenangannya.
"Lari lagi, Sayang ... kamu tahu aku bisa menangkap ayah kamu lebih dulu, dan kamu akan pulang dengan sendirinya."
"Seperti hari ini." Tawa Derren dengan seringainya yang mengerikan membuat Rindu muak, pria itu menyukai cara Rindu membencinya.
Derren berhenti ketika ia tahu kalau ia sudah menanamkan ketakutan sebagai penjagaan agar Rindu tidak kabur lagi. Pria itu berhenti saat ayahnya Rindu mematikan kran air dan tidak lama keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Ia tidak tahu kalau putrinya juga basah seperti dirinya meski dengan cara yang berbeda.
"Ayah, gimana kalau kita pergi makan diluar malam ini?" tawar Derren.
Ayahnya menatap Rindu yang diam saja tidak berekspresi, putrinya mungkin sakit dan ia tidak mau membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
"Sayang, ayah udah lama enggak ke Jakarta. Kita ajak ayah makan diluar, mau? Kamu bisa tentuin tempatnya."
Derren yang lembut, yang penuh dengan senyuman bahkan telapak tangannya ia gunakan untuk mengusap rambut Rindu dengan penuh kasih. Hal itu yang disyukuri oleh ayahnya, setidaknya itu yang bisa terlihat olehnya.
Rindu mengikuti mau Derren meski akhirnya mereka pergi ke sebuah restoran yang sudah Derren siapkan, pria itu melakukan reservasi dan kebetulan tempatnya masih memiliki meja kosong untuk mereka.
"Aku mengajak Rindu beberapa kali makan di sini dan dia menyukainya." Derren tersenyum ketika mereka sampai di sebuah restoran yang cukup terkenal di Jakarta namun Rindu tidak pernah datang ke sana, apa yang Derren katakan hanya bualan saja.
"Selamat malam Mas Derren dan Mbak Rindu," sapa pelayan di pintu masuk dengan ramah. "Silahkan, tempatnya sudah kami persiapkan. Di tempat biasa, ya!"
Rindu terkesan, Derren benar-benar merencanakan semua ini sampai melibatkan orang lain di dalamnya. Pria itu memang licik dan jahat.
Derren bahkan sudah bermain sandiwara sejak ia mengatakan bahwa Rindu memiliki banyak sekali pakaian mahal dan memintanya memakai salah satu yang Derren belikan minggu lalu, ia juga meminta Rindu membuka lemari pakaiannya dan menunjukkan pada ayahnya, Rindu menemukan tumpukan baju baru yang menggantung di sana, ini bukan milik Rindu, tapi ukuran dan gaya berpakaiannya sangat cocok dengan gadis itu. Derren memang selalu memberinya pakaian baru setiap kali hendak mengajak Rindu pergi keluar tapi tidak sebanyak ini juga. Pria itu benar-benar menakutkan. Ia pasti mempersiapkan semuanya hanya dalam satu malam.
Apa yang Derren lakukan membuat ayahnya Rindu tidak berhenti memuji pria itu juga orang tua Derren yang ia kenal sejak lama karena dirinya pernah bekerja untuk mereka dan entah kebaikan macam apa yang pernah mereka lakukan sehingga mereka mau menjadikan Rindu sebagai menantu. Putrinya memang layak untuk mendapatkan semua kebahagiaan ini.
Sepanjang makan malam ayahnya dan Derren terus saja bercerita mengenai banyak hal, obrolan keduanya terasa menyenangkan jika hanya dilihat dari kaca mata orang lain tapi bagi Rindu ini adalah situasi menyesakkan yang membuatnya tidak bisa bernapas dengan seharusnya, ia takut Derren semakin jauh melibatkan ayahnya dalam permainan busuk ini. Tetapi melihat bagaimana ayahnya tersenyum, Rindu merasa semakin pilu karena ayahnya tersenyum pada pria yang menyiksa putrinya dengan sangat gila.
"Rindu ke toilet sebentar, Ayah." Gadis itu menepuk bahu ayahnya yang tengah tertawa bersama Derren, ia kemudian pergi ke toilet seperti apa yang ia katakan.
Rindu hanya diam, duduk di atas closet yang penutupnya ia tutup. Akhir-akhir ini sepertinya ia sering sekali melakukannya, rasanya bilik toilet adalah satu-satunya tempat yang membuat ia bisa jujur menjadi dirinya sendiri.
Rindu menatap dirinya di cermin, ia mengenakan dress cantik berwarna hitam dengan bahu yang terbuka, rambut panjangnya ia gerai dan hanya memberinya jepit kecil di bagian atas dengan poni tipisnya. Ia terlihat cantik dan bahagia dengan senyumnya yang merona sampai dirinya menghapus makeup pada sudut bibirnya dan orang akan tahu bahwa ada luka di sana, atau ia harus menghapus concelar di bawah matanya hanya untuk memberitahu ayahnya bahwa ia mengalami hari yang buruk. Dan ayahnya pasti akan sedih karena memilihkan Rindu masa depan yang salah. Rindu menyedihkan. Ia tidak bisa melakukan apa pun kecuali kalau Derren mati.
Langkah kakinya terhenti ketika Derren ternyata menunggunya di pintu masuk toilet, pria itu bersandar pada dinding sambil tersenyum kemudian menarik Rindu mendekat ketika gadis itu menghalangi jalan orang lain. Terlalu dekat sampai Rindu bisa merasakan napas Derren menyentuh kulitnya.
"Kenapa lama, Sayang?" bisik Derren tepat di depan wajah Rindu, ia bisa mencium aroma tubuh pria itu yang membuat dirinya selalu bergetar ketakutan. Bahkan hanya parfum yang Derren gunakan bisa membuat tubuh Rindu secara refleks memberi sinyal bahaya. Gadis itu menarik tubuhnya mundur namun Derren menolak, ia mengeratkan pegangannya pada lengan Rindu.
"Kamu mau menghindari aku lagi?" Senyum iblis itu kembali muncul, ditambah tatapan matanya yang tajam pada Rindu.
"Derren lepas! Ini tempat umum." Rindu mencoba melepaskan pegangan Derren pada lengannya namun semakin ia mencoba semakin keras Derren mencengkeramnya, ia bahkan bisa melihat lengan Derren yang memutih karena kuatnya cengkeraman yang pria itu berikan.
"Bahkan di tempat umum sekalipun kamu takut?" sinis Derren. Ia selalu tepat menebak emosi Rindu dan itu bukanlah sesuatu yang baik bagi gadis itu.
"Derren ... Ayah, ayah nunggu kita." Rindu mencoba bersikap lembut dan mengontrol pria itu meski ia tahu Derren tidak akan mudah namun setidaknya di depan ayah Rindu ia pasti akan mengalah.
Derren tersenyum lembut, senyum yang berbeda dengan yang tadi pria itu tunjukkan. "Baiklah, ayah kamu pasti menunggu."
Derren berjalan lebih dulu, namun ia menoleh ketika Rindu tidak mengekor padanya. Bukan karena Derren takut Rindu akan kabur lagi, ia tahu Rindu tidak akan melakukannya sekarang tapi karena ia mau memastikan Rindu mengikuti perintahnya.
"Ayah, kita pulang sekarang?" Rindu membantu ayahnya berdiri kemudian berjalan menuju pintu keluar sedang Derren berjalan di belakang mereka.
Langkah Rindu menjadi lambat suara hentakkan sepatunya hampir berhenti ketika ia melihat pria yang ia kenali berjalan dari arah berlawanan, pria yang selama ini tidak mengusik hidupnya meski ia menjadi bahan pembicaraan banyak wanita, pria yang hanya berlalu begitu saja dalam hidup Rindu. Tapi pria itu yang mendekat, bahunya yang lebar membuat Rindu merasa dirinya dilindungi dengan tatapan matanya yang kuat, iris matanya yang biru membuat mudah dikenali. Pria itu, orang yang kehidupannya harusnya tidak bersinggungan dengan hidup Rindu nyatanya berjalan ke arahnya, mendekat hingga keduanya menghilangkan banyak jarak.
"Chris?" Rindu kini bisa menyebut nama pria itu tanpa menyebutnya 'bapak' atau 'pak' dan Chris selalu menyukai bagaimana Rindu melakukannya. Pria itu tersenyum meski sangat tipis sekali sebab ia tahu ada pria di belakang Rindu yang memerhatikan ekspresinya.
"Kamu kenal, Ndu?" bisik ayah Rindu.
Rindu membatu namun ia bisa menjelaskan dengan fasih kalau ia mengenal Chris.
Chris mengulurkan tangannya lebih dulu pada ayahnya Rindu, pria itu tidak pernah melakukannya. Orang lain akan mengulurkan tangannya dengan sopan kepada Chris dan berharap mendapat balasan namun sekarang Chris menyodorkan tangannya lebih dulu.
"Saya atasannya Rindu."
"Oh ya ampun, maafkan saya karena tidak menyapa lebih dulu." Ayahnya Rindu menjadi tidak enak dan ia menerima uluran tangan yang diberikan kepadanya.
"Putri saya tidak banyak bercerita, jadi saya tidak tahu tentang teman-teman dan lingkungan kerjanya."
"Rindu adalah salah satu pegawai terbaik, jadi bagaimana kalau Anda tidak keberatan kita berbicara sambil minum kopi? Sebagai bentuk kesopanan saya"
Derren tampaknya hendak menolak bentuk kesopanan yang Chris katakan namun ayahnya Rindu mengambil keputusan yang berbeda.
"Tentu, tentu saja."