Ayah?

1665 Kata
Suara hentakkan hak sepatu terasa begitu menggema, padahal ada keraguan dalam setiap langkahnya namun mata semua orang tertuju padanya dengan banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul, mulai disuarakan dengan saling berbisik namun siapa yang berani menyerukan isi hatinya di depan pria itu dengan lantang, apalagi bergosip hal buruk hingga bisa di dengar oleh tokoh utama dalam pembicaraan mereka. Kecuali Rindu. Setelah gadis itu mengucapkan terima kasihnya kepada Chris, pria itu meninggalkannya tanpa sepatah kata pun dan Rindu tidak peduli, gadis itu melangkah menuju loker dan meletakkan tas mahal yang disiapkan oleh Chris pagi ini. Bagaimanapun juga orang akan tahu bahwa benda ini bukanlah sesuatu yang bisa Rindu miliki. "Ndu, kok?" Pertanyaan tidak jelas itu muncul dari seseorang yang mendadak muncul dan menyeruduk Rindu dari belakang. "Ya Tuhan!!!" pekiknya lagi ketika menyadari hand bag yang baru saja menjadi pembicaraan dalam kepala Rindu tentang opini orang pada benda itu, tidak meleset, Rindu mendapatkan salah satu reaksi nyata dari temannya. Irhen. "Kalau kamu pikir aku jadi simpanan bos, jangan harap." Rindu menutup pintu lokernya hingga menimbulkan bunyi yang bergema. "Selera dia jelas bukan perempuan biasa aja kayak aku." Rindu meninggalkan Irhen yang masih melongo. Perlu beberapa detik bagi Irhen untuk tersadar dan menyusul Rindu. Tatapan mata Irhen tidak lepas dari teman satu profesinya ini, ia masih belum mendapat jawaban dari pertanyaan yang ada di kepalanya. Meski ia tahu Rindu tidak mungkin menjadi pacar bosnya atau bahkan simpanan. Tidak mungkin. Irhen menggelengkan kepala sendiri membuat Rindu akhirnya risih juga, ia menoleh pada Irhen dan memberinya isyarat agar Irhen bisa mengatakan apa pun sesuai maunya. "Cerita!" Perintah Singkat yang memerlukan jawaban paling panjang dan malas Rindu jelaskan. "Nanti, sambil makan siang. Tapi kamu tahu aku, kan?" Rindu meminta pembelaan dari satu-satunya teman yang ia miliki di kantor. Karena ia mendapatkan tatapan gila lain dari staff perempuan yang lewat di depan meja resepsionis di mana ia bertugas. Seolah Rindu sudah melakukan perbuatan paling tercela menurut mereka. Irhen mengangguk pasti, ia jelas tahu Rindu sangat waras untuk tidak berhubungan dengan bosnya. "Aku enggak sengaja ketemu Pak Chris di jalan dan aku hampir kesiangan jadi ia tawarin tumpangan dan, dan yahh ... aku menerima kebaikan dia." Irhen masih merasa ada yang janggal dari cerita Rindu namun ia mencoba percaya kepada temannya itu karena kembali pada keyakinan bahwa Rindu adalah perempuan baik-baik bahkan bagi Irhen, Rindu lebih baik dalam segala hal daripada dirinya. "Kamu tahu kan, selain pujian, bos kita itu terkenal memiliki sisi yang ... kelam, hitam?" Irhen memberi tanda kutip dengan kedua tangannya ketika ia dan Rindu sedang menikmati makan siang mereka. "Dia tidak memiliki empati, siapa yang berkhianat atau mengusik hidupnya tiba-tiba saja mereka hilang." "Wussshhhhhh ...." tangannya bergerak memeragakan sesuatu yang menurutnya seperti gerakan angin. Irhen mulai bicara dengan cara berbisik, menoleh kiri dan kanan dan menelan saliva sebelum melanjutkan ceritanya. "Katanya mereka dimutasi atau pindah cabang tapi kamu tahu, beberapa dari mereka berakhir di rumah sakit." Rindu menatap aneh pada temannya itu, ia menganggap cerita Irhen hanya lelucon saja. "Mungkin tuntutan kerja membuat mereka kecapekan atau stres." "Ck, ck, ck bodoh banget jadi orang!" Irhen jengkel karena Rindu menganggap sepele ceritanya padahal ia sudah membangun suasana mencekam diantara keduanya. "Mereka memiliki banyak luka gigitan anjing atau hewan buas lainnya, mungkin buaya atau macan." Irhen tidak yakin dengan gosip yang beredar luas. Kali ini cerita Irhen berpengaruh untuk Rindu, napasnya terhenti dan ia membayangkan brutalnya luka karena gigitan hewan meskipun ia tidak pernah berpikir ada manusia sejahat itu. "Aku tidak terlalu suka bergosip," jawab Rindu mengalihkan perhatian. Tapi ia memang tidak memiliki waktu di luar jam kerjanya karena Derren, pria itu mengontrolnya agar tidak bersosialisasi kecuali Derren akan ikut. "Benar juga, kamu datang ke acara anak-anak aja harus ditungguin cowok kamu itu, kan?" Irhen tiba-tiba memukul-mukul meja dengan telapak tangan kanannya hingga membuat beberapa orang langsung menoleh ke arah dirinya. "Jangan bilang kamu sama Pak Chris semalem." Irhen menatap tajam pada Rindu sambil menjulurkan kepalanya mendekat. "Cowok kamu itu, datang ke kosan aku dan cariin kamu." Tangan Rindu yang berada di atas meja langsung gemetar, keringatnya langsung merembes dari sela rambut dan membuat pelipisnya basah. Derren jelas tahu tempat tinggal Irhen dan itulah alasan kenapa semalam Rindu tidak datang ke tempat temannya itu dan merasa bahwa rumah Chris lebih aman. "Ndu ...," Irhen menggenggam tangan Rindu yang gemetar. "Apa pun masalah kamu sama dia, jangan pergi gitu aja. Dia semalam keliatan kacau banget loh!" Andai saja Irhen tahu apa yang menimpa dirinya, tidak mungkin ia masih memihak Derren tapi membocorkannya kepada Irhen tidak memberi Rindu sebuah solusi dan berpotensi membuat masalahnya semakin rumit. "Hei, coba kamu pikir. Di mana lagi kamu bisa dapat calon suami sempurna kaya dia? Bahkan ...." Kepala Rindu pusing, ia tidak bisa mendengar suara Irhen lagi meski ia melihat bibir temannya itu terus bergerak dan tersenyum. Perutnya tiba-tiba mual, entah kenapa. "Aku ke toilet dulu." Rindu bangkit dari mejanya dengan sempoyongan hingga Irhen memanggil namanya dengan khawatir namun gadis itu tidak menoleh dan berjalan secepat mungkin menuju toilet. Derren. Rindu tidak lupa pada pria itu namun ia tidak memiliki solusi apa pun yang mungkin menyelamatkan dirinya dari kemarahan Derren. Kalau harus mati, ia akan mati saja. Rindu menahan tangis dan ketakutannya dalam bilik toilet, ia tidak mau siapa pun mendengar suara sedu dari tangisannya namun ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Perlu waktu lebih dari sepuluh menit sampai gadis itu memutuskan untuk keluar. "Ndu, jam istirahat kita udah abis!" teriak Irhen ketika melihat Rindu yang berjalan dengan lambat ke arahnya, ia tidak memiliki waktu lagi untuk menghabiskan nampan yang masih tersisa setengahnya, padahal Rindu tidak suka membuang makanan. Gadis itu mengambil tempat makannya dan hendak menaruhnya di tempat yang disediakan di salah satu sudut kantin, tapi seseorang dengan sengaja menabrak tubuhnya hingga Rindu mengaduh. "Mbak, minta maaf donk!" teriak Irhen. Wanita yang menabrak Rindu tampaknya tidak merasa bersalah meski kuah dari sup mengotori pakaian gadis itu, padahal ini bukan milik Rindu dan ia harus bertanggung jawab kalau sampai rusak. "Sorry, tapi dia juga jalannya nunduk sih," jawabnya ketus. "Wahh ... parah ini orang." Irhen memang begitu, ia tidak suka dengan orang yang seenaknya dan ia tidak pernah diam saja. Tapi Rindu, kepalanya sudah sakit dan ia tidak mau membuang energinya untuk hal semacam ini, ia pergi membawa nampan miliknya meletakkan benda itu di tempat seharusnya dan meninggalkan Irhen. Chris yang tidak biasanya makan siang di kantin kantor, hari ini tiba-tiba saja ia ingin mencobanya dan pemandangan yang barusan terjadi antara Rindu dan karyawan lainnya membuat Chris mau tidak mau harus melihatnya. Rindu tidak tahu kalau pria itu memerhatikan setiap gerak geriknya sejak ia keluar dari toilet, ia juga tidak tahu kalau Chris menatap dirinya dengan cara yang aneh. Jangankan Rindu, Chris sendiri tidak tahu kenapa gadis itu menarik perhatiannya. Rindu tidak bisa berkonsentrasi hari ini, ia merasa bodoh karena isi kepalanya yang kosong. Bahkan ketika Pak Bowo bertanya padanya, gadis itu hanya menatap wajah atasannya dengan diam. "RINDU!" Jantungnya seperti mau copot ketika Pak Bowo berteriak tepat di depan wajah gadis itu, ia menarik napas lebih dulu sebelum menjawab panggilan dari atasannya itu. "Iya, Pak." "I-iya, Pak?" Pria itu bertolak pinggang, mulutnya sudah terbuka dan mengambil ancang-ancang untuk mengomeli Rindu. "Kamu dengar saya ngomong enggak dari tadi?" Rindu menunduk sambil menggeleng pelan, ia melihat mulut Pak Bowo yang mengoceh padanya tapi ia tidak bisa mendengar suara dari pria itu. "Dahlah! Irhen segera follow up apa yang saya perintahkan tadi." Pak Bowo mengibaskan tangannya dan mengalihkan perhatiannya pada Irhen, ia sepertinya lelah sekali menghadapi Rindu. Pukul lima sore, jam kerja Rindu sudah habis. Ia mengambil tasnya di dalam loker dan duduk pada bangku kayu panjang yang ada diantara loker di ruangan tersebut. Ia melamun sendiri dengan kepalanya yang kosong, harusnya ia pulang tapi ia takut bertemu Derren namun tidak ada tempat yang bisa ia tuju lagi. Langkah kakinya terasa berat, ia mungkin tidak bisa tidur nyenyak seperti semalam saat berada di rumah Chris. Langit masih terang meski tampaknya akan turun hujan, Rindu biasanya bergegas karena ia tidak mau pakaiannya basah tapi hari ini ia berharap ketika langkahnya mulai keluar dari area kantor hujan akan turun dan membasahi dirinya, bukannya hujan selalu tampak romantis? Busway yang biasa ia naiki hari ini lengang, Rindu bisa duduk sendirian tanpa harus membagi kursinya dengan orang lain. Ia bersandar ke belakang dan menutup matanya menikmati semilir angin dari kaca jendela yang ia buka. Udaranya terasa lembab bercampur dengan asap knalpot dari kendaraan lainnya membuat Rindu akhirnya menutup kembali jendelanya. Hah! Gadis itu merindukan kampung halamannya, di mana udara masih segar dan banyak sekali pepohonan, ia rindu juga pada ayahnya. Rindu ingin pulang. Langkah kakinya menaiki anak tangga satu persatu, ia sedikit waspada namun kesadaran membawanya pada kenyataan kalau ia tidak bisa membebaskan diri lagi dari Derren. Ketika sampai di lantai di mana kamarnya berada Rindu bisa melihat pintunya yang terbuka sedikit, lampu kamarnya menyala dan terdengar suara dari dalam sana. Nyali Rindu ciut, padahal ia bilang tadi kalau ia sudah pasrah saja namun ia takut kalau Derren ada di dalam sana dan siap menyakitinya meskipun ia tahu kalau itu pasti Derren, tidak ada yang memiliki kunci kamarnya selain pria itu. Suara tawa terdengar dari dalam kamar Rindu namun ia tahu kalau itu adalah interaksi dari dua orang atau mungkin lebih, langkah Rindu mencoba lebih dekat lagi dengan mengendap, menahan napasnya yang tercekat di tenggorokan hingga terasa pegal dan menegang. Ia takut namun penasaran, dengan siapa Derren di kamarnya. Pintu kamar Rindu hanya berjarak satu meter darinya dan ia tidak bisa lebih dekat lagi kecuali orang-orang yang ada di dalam yang mendekat. "Ndu?" Namanya di panggil seiring pintu yang tiba-tiba saja terbuka membuat lutut Rindu lemas dan wajahnya basah oleh keringat tapi kekhawatirannya harus selesai di sana ketika ia mengenali suara pria yang memanggil namanya dan raut wajahnya yang dipenuhi keriput. "A-yah?" Senyum itu, agaknya menyeret luka bagi Rindu. Ayahnya yang tidak tahu apa-apa, ayahnya yang mengira bahwa ia tengah bahagia dan kini pria tua itu dengan santainya dirangkul oleh Derren. Seseorang yang sejak tadi membuat Rindu takut dengan kemunculannya. "Sayang, kamu terlambat?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN