Rindu pernah melihat suasana semacam ini dalam film, seorang pria kaya dengan banyak pelayan di rumahnya. Namun, Rindu tidak tahu bahwa hal itu berdasarkan kisah nyata dan sekarang ia ada di dalamnya.
Sarapan paginya selalu dimulai dengan sesuatu yang sederhana dan tidak memerlukan banyak waktu bahkan jika bisa hanya selembar roti tawar saja yang menempel di mulutnya sambil ia berlari untuk menaiki busway. Tapi sekarang, di hadapannya tersaji terlalu banyak makanan jika hanya untuk dua orang. Roti tawar, makanan itu juga ada di sana tapi rasanya berbeda sekali dengan roti tawar milik Rindu yang harganya tidak lebih dari dua puluh ribu rupiah. Juga buah-buahan beraneka ragam dalam keranjang.
Terlalu mulus, tidak ada cacat dalam cangkang buahnya bahkan dari luar terlihat sangat mengkilap mereka tampak seperti plastik bagi Rindu. Tapi dari aroma yang tercium sepertinya mereka asli. Dan orang kaya seperti bosnya itu tidak mungkin menyajikan buah palsu di mejanya.
Kegilaan pagi ini tidak hanya itu saja, pukul enam ketika Rindu menggeliat dan merasakan sesuatu yang aneh, ia membuka mata dan mendapati tiga atau empat orang pelayan berdiri di sisi kiri tempat tidur dan menatapnya yang tertidur.
"Saya menunggu Anda bangun, Tuan Chris meminta Anda segera bersiap dan ikut sarapan bersama." Salah satu dari keempat orang itu menjelaskan tujuannya berada di sana kepada Rindu.
"Maaf ... apa menatap orang tidur adalah bagian dari job desc kalian?" Rindu penasaran dengan keanehan tersebut namun ia tidak mendapat jawaban, sepertinya mereka berbicara hanya sesuai script saja.
"Silahkan! Air hangatnya sudah siap."
Rindu tidak lagi bertanya, percuma, ia masuk ke kamar mandi dan membuka semua pakaian yang semalam dipinjamkan oleh Chris kepadanya kemudian masuk ke dalam bathtub berisi air hangat dengan aroma yang lembut dan menenangkan, seperti campuran lavender dan parfum mewah. Tubuhnya yang semalam terasa pegal dan sakit mulai nyaman kembali.
Selanjutnya satu set pakaian formal sudah tergeletak di atas tempat tidur yang sekarang sudah rapi kembali. Rok hitam dengan potongan lurus pendek dan kemeja soft pink berlengan panjang yang terlihat sederhana namun ketika Rindu menyadari logo yang tertera pada kerah bajunya, ia tahu harganya tidak sesederhana itu. Hand bag berwarna hitam dan stiletto berwarna putih juga melengkapi penampilan Rindu hari ini. Terlalu mewah, seperti bukan dirinya.
"Karena ini weekend jadi Nona bisa memakai seragam bebas, Tuan Chris sudah memberitahu kami."
Rindu tidak punya kesempatan untuk membantah karena para pelayan itu langsung mendekat dan membantunya berganti pakaian, ia bahkan tidak diijinkan untuk melakukannya sendiri. Rindu bukan pemilik rumah dan ia rasa ini terlalu berlebihan. Belum selesai dengan semua itu, para pelayan membantu Rindu memoles dirinya dengan makeup tipis dan menata rambut panjangnya. Ia menatap dirinya di cermin dengan segala yang sudah ia pakai dan dirinya tampak sangat berbeda.
Chris bergabung dengannya untuk sarapan, pria itu seperti biasa memakai tuxedo berwarna navy dengan kemeja putih dan dasi yang sudah menggantung rapi, di tangannya tersampir jas yang senada dengan tuxedo yang ia gunakan. Aroma parfum pria itu tidak berubah, Rindu masih mengingatnya dengan baik dan ia bisa menciumnya dengan jelas.
"Aku rasa kau lebih suka sarapan dengan nasi goreng daripada roti atau bacon."
Setelah ucapannya itu, seorang pelayan membawakan nasi goreng dengan kacang polong dan potongan wortel lengkap dengan sosis dan telur mata sapi. Rindu menghirup aromanya yang membuat liur hampir menetes tapi ia merasa kesopanannya diuji oleh Chris sehingga ia menunggu pria itu mengambil rotinya lebih dulu.
"Kau menungguku?" tanya Chris dengan sudut bibirnya yang terangkat sebelah. Tangannya lalu memberi isyarat agar Rindu memulai sarapannya.
Gadis itu pasti lapar sekali, semalam ia tidak memakan apa pun untuk mengisi perutnya dan langsung tertidur begitu saja. Sarapan paginya sangat tenang, Chris tidak mengajak Rindu berbicara dan gadis itu juga kecuali ketika keduanya telah selesai.
"Kau akan bekerja?" Suara beratnya membuat Rindu selalu tersentak lalu menahan napas.
"Iya."
Chris memperhatikan Rindu, ia menautkan kedua tangannya di depan wajah seolah tengah memikirkan sesuatu, tatapannya dalam dan irisnya yang biru berkali-kali mengajak Rindu untuk membalas tatapannya.
"Baiklah."
Pria itu bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Rindu di meja makan suara langkah kakinya menggema dalam ruangan tersebut namun baru beberapa langkah ia berjalan Chris menghentikan gerak kakinya seketika.
"Bukannya kau juga mau pergi?" Alis Chris terangkat naik menatap Rindu.
Gadis itu seperti mendapat sinyal dan ia langsung mengekori Chris di belakangnya, pandangannya terus menunduk menatap lantai marmer yang ia pijak, sepatu yang Rindu gunakan tampak sangat menawan ketika melangkah di atas lantai mahal tersebut.
"Aaaawww ...." Rindu mengaduh, refleks memegang hidungnya ketika Chris berhenti tepat di depannya dan membuat Rindu tanpa sengaja menabraknya hingga menimbulkan suara.
Chris dengan santai berbalik dan menatap Rindu yang tengah menengadah menatap pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Angkat kepalamu, tegakkan tubuhmu!" perintah Chris. "Menyedihkan," lirihnya lagi.
Rindu bisa mendengar meski kata terakhir yang diucapkan begitu pelan, dirinya menyedihkan?
Keduanya menaiki mobil yang sama, anehnya Chris tidak memakai sopir hari ini karena Rindu tahu betul setiap kali pria itu datang ia tidak menyetir sendiri kecuali dalam beberapa situasi.
Sebenarnya dalam mulut Rindu sudah siap kata penolakan untuk menaiki mobil yang sama, tapi ia tidak membawa uang sepeser pun juga ponsel, jadi ia tidak mungkin berjalan kaki menuju kantornya.
Suasana yang dingin membuatnya terasa menekan Rindu jadi ia bermaksud membuka kaca jendela dan melihat Jakarta pagi ini dengan udaranya yang pengap tapi Chris sepertinya tidak suka. Jendelanya ia naikan otomatis dan membuat Rindu hanya bisa bermain dengan kedua ibu jarinya yang berada di atas pangkuan.
Rindu mulai gelisah ketika ia melihat jalanan yang biasa ia lewati untuk sampai di kantor, apa yang akan teman-teman katakan kalau melihat Rindu turun dari mobil bosnya, obrolan dalam kepalanya membuat Rindu asyik dengan kegelisahannya sendiri meski yang ia bahas adalah pria di sampingnya. Benar, Chris menjadi topik utama dalam isi kepala Rindu.
Tangan Chris membuka dashboard dan mengeluarkan sebuah ID card kemudian menyerahkannya kepada Rindu tangan gadis itu juga refleks menerima benda yang Chris berikan. Tanda pengenalnya tertera di sana dengan foto yang sama yang Rindu miliki pada ID card miliknya. Chris membuatkan duplikat untuknya dan Rindu juga baru sadar kalau ia tidak bisa bekerja tanpa benda tipis yang menggantung di lehernya ini.
"Terima kasih, Pa-"
"Chris. Panggil saya Chris."
"Chris." Untuk pertama kalinya nama pria itu keluar dari mulut Rindu, rasanya aneh seperti ada sesuatu yang membuat lidahnya gatal tapi Chris menyukainya, bagaimana namanya disebut oleh gadis itu.
"Bahkan di depan pegawai lain, saya boleh memanggil Anda dengan cara seperti itu?"
"Yes."
Rindu masih tidak mengerti, apa Chris meminta hal yang sama pada yang lain? Seingatnya semua orang memanggilnya 'Pak' atau 'Sir' dan 'Tuan' kata yang terakhir baru ia dengar di rumah pria itu. Ralat. Istana pria itu.
"Bagaimana kau akan mengatasi kejadian seperti semalam setelah ini?" Pertanyaan Chris mengagetkan Rindu yang tengah berbicara sendiri dalam kepalanya.
"Saya bisa mengatasinya, ini bukan kali pertama." Rindu tersenyum getir menatap Chris yang sibuk dengan kemudi. "Tapi terima kasih karena bantuan Anda."
"Kau tidak takut dia membunuhmu?"
Rindu diam tidak menjawab, ia rasa bukan kewajibannya juga untuk menjelaskan kepada Chris tentang hidupnya. Tapi kalau harus jujur ia takut, ia bisa saja mati di tangan Derren atau bahkan kehilangan apa pun yang tidak pernah ia bayangkan. Tapi ketakutan terbesarnya adalah kalau Derren melakukan apa yang ia ancamkan kepada Rindu, menyakiti ayahnya.
"Kau bisa menghubungiku kalau sesuatu terjadi lagi, atau perlu aku kirimkan pengawal?"
Rindu langsung mengibaskan tangannya menolak tawaran Chris yang berlebihan, lagipula ia siapa sampai Chris harus berlaku sejauh ini.
"Saya akan baik-baik saja."
Chris bukan sekali ini melihat Rindu diperlukan kasar, ia melihatnya juga beberapa waktu lalu dan ia tidak bisa diam ketika melihat tangan pria melayang untuk memukul seorang wanita atau bahkan membuatnya terluka meski hanya dengan kata-katanya saja. Pria seperti itu, menjijikkan.
Namun, bagi Chris yang lebih menjijikkan dari itu semua adalah seorang gadis yang dengan rela diperlukan seperti itu dan tetap menganggap semuanya baik-baik saja.
"Kalau kau terluka lagi, aku tidak akan membantumu."