"Nona, biar saya bantu."
"Aaaawwww!" Rindu memekik ketika handuk berisi butiran es menempel di pipinya yang memar, sontak ia menjauhkan pipinya karena rasa perih yang tiba-tiba muncul.
Rindu tidak merasakan pipinya yang sakit tadi namun ia tahu kalau sudut bibirnya mengeluarkan darah karena tamparan keras yang Derren lakukan.
"Tolong tahan, saya akan menempelkan lagi kompresnya!" Wanita itu tampaknya sedikit jengkel karena Rindu yang meringis, perlakuannya membuat Rindu jadi tidak enak.
"Kau boleh pergi!" Perintah Chris pada pelayan itu. Tanpa membantah, wanita itu pergi dengan kepalanya yang menunduk seakan ketakutan karena sudah melakukan kesalahan.
Chris kemudian menggantikan tugas tersebut dan mengompres sudut bibir Rindu perlahan. Meski gadis itu mengerutkan wajahnya menahan sakit namun Chris melakukannya dengan sangat hati-hati. Rindu bahkan sampai harus memejamkan mata setiap kali perihnya kembali terasa, gadis itu tidak sadar kalau Chris menikmati wajah Rindu yang polos dengan jarak sedekat ini.
"Open your eyes!"
Chris menggerakan tangannya yang memegang gelas mug berisi air putih hangat di depan Rindu, gadis itu gemetar ketika tangannya bergerak naik untuk mengambil minuman yang disodorkan padanya. Bagian luarnya terasa hangat dan menjalar pada telapak tangan Rindu yang mati rasa namun tangan Chris yang lain bergerak untuk membantunya mengepal gelas seraya pria itu duduk di samping Rindu, rasa terkejut membuat napasnya tertahan namun Chris mengabaikannya dan membantu Rindu untuk meneguk airnya. Uap yang mengepul membuat pria itu refleks meniupnya perlahan hingga udara hangat menerpa kulit wajah Rindu yang terasa dingin.
"Minum!"
Seteguk air yang masuk ke dalam kerongkongannya membuat Rindu merasa lebih baik, gadis itu kini sadar bahwa Chris membawanya ke sebuah rumah mewah di daerah elit Jakarta. Ia tidak ingat bagian depan rumah megah ini bahkan ia tidak ingat jalan yang ia lewati namun ia tahu bahwa rumah ini milik Chris setelah beberapa orang pelayan membukakan pintu untuknya tanpa perlu di suruh.
Chris membawakan selimut hangat berwarna orange dengan brand ternama yang tercetak sebagai motif dari selimut itu sendiri, harganya puluhan juta, bahkan nominalnya lebih besar dari gaji Rindu bekerja selama tiga bulan. Ia tidak pernah mengerti kenapa orang membeli barang semahal ini. Tapi sekarang benda itu amat berguna, terlebih untuk menutupi pakaian Rindu yang terbuka.
Pria itu duduk di samping Rindu, pada sofa empuk berwarna cream yang ada di tengah ruangan, matanya menyipit menatap Rindu dengan tatapan yang sama yang membuat Rindu selalu merasa ditelanjangi olehnya. Aroma tubuhnya masih sama harum seperti saat terakhir keduanya bertemu di ruangan Chris.
Tidak ada satu pertanyaan pun yang keluar dari mulutnya, Rindu tidak mengerti namun perasaan gugup dan tidak nyaman membuat dirinya juga tidak bertanya. Gadis itu hanya menunduk saja kecuali saat Chris pergi mengambil selimut tadi, Rindu sibuk menjelajahi sekeliling ruangan dengan matanya.
Rumah megah itu memiliki atap yang tinggi dengan gaya Mediterania dan tiang kayu besar yang menopang atapnya, jendela besar di semua sisi ruangan membuat pencahayaannya pasti luar biasa di siang hari dengan sirkulasi udara yang baik. Gorden tebal menutupi sebagian besar dinding kaca yang entah menghadap ke mana, namun untuk sebuah rumah mewah pemandangannya pasti sama menakjubkannya.
Rindu pernah melewati rumah ini seingatnya, saat ia menaiki taksi online sepulang dari suatu acara bersama Derren tapi pria itu asyik dengan teman-temannya dan Rindu memutuskan untuk pulang lebih dulu, rumah itu begitu menarik perhatian Rindu dengan banyak pohon palm tinggi dan pagar yang mengelilingi taman di bagian depan yang luasnya mungkin setengah dari luas rumah ini sendiri. Ia pikir rumah sebesar ini akan ditinggali oleh satu keluarga besar dengan kakek dan cucu di dalamnya namun ternyata hanya Chris dengan banyak pengurus rumah saja. Ia tidak melihat anggota keluarga lainnya dan setahu Rindu, bosnya memang tinggal sendiri di Indonesia.
"Terima kasih Pak Chris, untuk bantuan Bapak hari ini."
Chris mengerutkan keningnya dengan alis yang bertaut, ia tidak suka Rindu memanggilnya dengan sebutan 'Pak' namun gadis itu juga bingung karena semua orang di kantor memang memanggil nama Chris dengan cara yang sama jadi Rindu tidak merasa ada yang salah dari kata-katanya sampai Chris harus menatapnya seperti itu.
"Maaf ... Pak."
Situasi ini benar-benar membuatnya frustasi, Rindu jadi lupa pada apa yang baru saja menimpa dirinya.
"Aku lebih suka jika kau memanggil namaku saja." Pria itu bersandar pada sofa dan membuat Rindu merasakan ada sesuatu yang berdesir dalam tubuhnya ketika Chris merentangkan tangan di sepanjang sofa itu dan membiarkan dadanya yang bidang menantang Rindu, refleks Rindu langsung menggeser duduknya sedikit menjauh dari Chris.
"Maaf, bukan, saya bukan mencurigai Anda melakukan sesuatu-" Rindu menatap ke arah tangan Chris yang direntangkan dan pria itu mengikuti pandangannya. "Saya hanya merasa tidak sopan saja terlalu dekat dengan, Anda."
Rindu menemukan kata lain selain 'Bapak' dan itu adalah 'Anda' sebuah panggilan yang lagi-lagi tidak sesuai harapan Chris tapi lebih baik dari sebelumnya jadi ia memutuskan untuk tidak mengeluh lagi.
"Kau punya teman?"
"Ya? Ada. Ahh iya, saya harus mencari tempat menginap. Tapi ...." Rindu menunduk saat menyadari ia tidak membawa alat komunikasi apa pun.
"Teman sekantor?"
Rindu mengangguk. "Irhen, dia di bagian resepsionis juga."
Chris mengambil ponsel miliknya dan memberikannya kepada Rindu namun gadis itu hanya diam dan menatap benda yang Chris sodorkan dengan bingung.
"Kau mau menghubunginya?"
Rindu menggeleng, ia tidak hafal nomor ponsel Irhen. "Dan lagi, pacar saya tahu tempat kos Irhen, saya tidak bisa pergi ke sana."
Chris mengangkat sebelah alisnya, Rindu masih bisa menyebut pria b******k itu sebagai pacar? Padahal ia hampir mati di tangannya.
"Di sini ada banyak kamar kosong, kau bisa pilih sesukamu." Chris bangkit dari duduknya membuat Rindu menengadahkan kepala menyadari tinggi pria itu yang luar biasa, kemejanya yang terbuka di bagian atas menampilkan dadanya yang bidang dan berwarna kecokelatan seperti warna kulitnya.
Rindu menggeleng kasar, ia pasti gila karena menatap tubuh Chris dengan pandangan menjijikkan itu. Tubuhnya bangkit menyusul Chris yang berdiri lebih dulu namun itu malah membuat selimut yang ia gunakan merosot dan hampir jatuh ke lantai beruntung Rindu buru-buru meraihnya dan menutupi tubuhnya kembali sedang gadis itu tidak menyadari bahwa Chris menutup matanya dengan cepat.
"Tidak usah, saya akan cari penginapan saja. Terima kasih atas tawarannya." Rindu berjalan dengan selimut di bahunya namun ia tiba-tiba saja berhenti dan berbalik seolah melupakan sesuatu.
"Boleh saya pinjam t-shirt atau apa pun itu?" Rindu sebenarnya tidak merasa nyaman meminta hal itu tapi ia tidak punya pilihan.
"Biar saya pesankan." Chris meraih ponselnya kembali yang tadi ia letakkan di atas sofa.
"Pesan?" Rindu mencoba menahan pria itu. "Tidak usah, tidak usah. Biar saya pinjam selimut ini saja."
Rindu sedikit membungkuk kemudian ia berbalik kembali dan hendak keluar dari ruangan tersebut namun kali ini Chris yang menahannya.
"Apa kau punya uang?" Pria itu dengan santainya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia gunakan, sebelah kakinya ia letakkan lebih depan daripada kaki lainnya dan menatap punggung Rindu yang berhenti seketika.
Bodohnya Rindu untuk kedua kalinya ia berbalik menatap Chris yang dengan geli menatap dirinya kemudian Rindu menggeleng dengan bibirnya yang merengut ke depan seperti seekor bebek. Sebisa mungkin Chris menahan senyumnya tersungging di bibirnya karena tingkah lucu karyawannya tersebut.
Chris mendekat sambil melirik arloji mahal yang ia kenakan, jarum pendeknya menunjukkan pukul 10 malam. "Tanpa ponsel dan uang, dan pakaian yang-" Chris menatap bagian atas tubuh Rindu yang ia tutupi dengan selimut. "Saya harus memaksa kamu untuk tinggal. Ini ibukota dan kamu tidak aman, saya tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan wartawan seandainya sesuatu terjadi pada diri kamu."
Dingin. Rindu bisa merasakan sifat pria itu yang sedingin es, bahkan Chris tidak banyak berekspresi kecuali setiap kali Rindu membuatnya terkesan. Manusia yang satu ini terlihat berbahaya sekaligus aman untuk ia mintai pertolongan.
Chris memberi isyarat dengan jarinya yang diangkat naik kepada seorang pelayan wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka, pelayan itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang dengan rambutnya yang di gulung di bagian belakang, bukan hanya ia, tapi pelayan lainnya memakai seragam yang sama dengan name tag yang menempel di d**a sebelah kiri. Bahkan sepertinya pelayanan wanita yang tadi mengompres wajahnya juga mengenakan pakaian yang sama.
"Antar dia ke kamar tamu."
Pelayan itu mengikuti perintah Chris, mempersilahkan Rindu untuk berjalan mengikuti dirinya sedang Rindu mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang pelan.
Dirinya melewati lorong dengan dinding berwarna cream dan lampu dinding berpendar keemasan yang membuat suasananya terasa hangat meski pendingin ruangan sepertinya bekerja dengan baik pula.
Pelayan itu membuka pintu kamar di sebelah kanan dan mempersilahkan Rindu untuk masuk, kamarnya sangat luas dengan kasur berukuran king dan seprei putih bersih tampak nyaman dan empuk, berbeda jauh dengan tempat tidurnya di kos yang berukuran double atau 120x200 meski kamarnya sudah sangat layak bagi Rindu jika harus dibandingkan juga dengan kamarnya di kampung.
"Nona, kalau Anda memerlukan sesuatu silahkan hubungi kami lewat extension yang tertulis di samping telepon."
Rindu mengangguk. "Terima kasih banyak."
Gadis itu terpukau ketika ia menutup pintu dan menghampiri telepon seperti yang dimaksud oleh pelayan, nomor extension yang tertulis sangat lengkap berikut dapur dan semua ruangan publik. Ia tidak mengerti kenapa Chris membutuhkan semua fasilitas ini.
Selimut yang sedari tadi tersampir di pundaknya kini bisa Rindu letakkan di atas tempat tidur, ia juga melemparkan tubuhnya yang lelah dan sakit ke atas ranjangnya yang sangat empuk sampai Rindu rasanya tenggelam di dalamnya.
Ia tidak tahu kenapa dirinya malah menginap di rumah bosnya sendiri, ia juga tidak menyangka kenapa bisa bertemu Chris di saat yang tepat ketika ia membutuhkan bantuan tapi hari ini Rindu ingin beristirahat, esok hari ia harus berpikir bagaimana menyelamatkan dirinya lagi karena Derren pasti akan membunuhnya, apalagi jika ia tahu kalau Rindu tinggal di rumah seorang pria malam ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Derren akan mengamuk.
Tapi sekarang Rindu lelah ia memejamkan matanya dan terlelap tanpa sadar.
Chris menyeruput secangkir kopi yang disuguhkan untuknya di atas meja, pria itu tengah berada di kamarnya yang bernuansa abu di hampir semua bagian. Matanya menatap layar komputer yang ada di meja dengan fokus, dalam layar terlihat seorang gadis yang tengah terbaring di atas tempat tidur dan tidak bergerak. Senyum Chris terlihat misterius kemudian hilang seiring dengan cangkir kopi yang menempel di bibirnya.