Rindu menaiki lift yang akan membawanya ke lantai paling tinggi dari gedung tersebut di mana ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di sana. Rindu tidak pernah berhubungan langsung dengan atasannya, ia juga tidak memiliki alasan untuk datang ke area yang hanya ditempati oleh para eksekutif itu.
Seorang pria yang Rindu tahu bernama Dikta mempersilahkan dirinya untuk masuk ke ruangan dengan pintu besar di sudut lorong sementara pria itu hanya mengantarnya hingga luar pintu kemudian membungkuk sopan kepadanya. Rindu tidak bertanya lagi mengapa Dikta tidak mengantarnya hingga ke dalam, pikirannya sudah mulai tidak karuan ketika mengetuk pintu besar yang menjadi penghubung antara dirinya dengan bos besar tempat di mana ia bekerja. Rindu berkali-kali membuang napas dengan gugup, ia yang hanya bisa melihat wajah atasannya sekilas setiap harinya seolah sudah tahu bagaimana ekspresi pria itu jika marah.
Rindu masuk setelah mengetuk sebanyak tiga kali, suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer itu terdengar jelas menggema dalam ruangan besar tersebut ketika ia melangkahkan kakinya meski dengan sedikit keraguan. Chris yang tengah duduk di kursinya sibuk menatap dokumen di hadapannya langsung mengalihkan perhatian pada Rindu tanpa mengangkat kepalanya, matanya yang tajam seperti tengah membaca isi hati Rindu yang gemetar dan membuat Rindu benar-benar tidak nyaman sebab Chris tampaknya memiliki kemampuan untuk menelanjangi dirinya dengan tatapan tajam tersebut saat itu juga.
“Pak Chris, apa bapak panggil saya?” tanya Rindu seraya menggigit bibir bawahnya karena gugup. Ia mencoba untuk tidak terbata-bata di bawah intimidasi dari Chris.
“Bapak?” Chris mengulang panggilan yang Rindu berikan, ia keberatan namun sejurus kemudian matanya menatap bibir gadis itu yang dipoles dengan lipstik berwarna nude.
Rindu tampak bingung, satu ucapan yang pria itu lontarkan benar-benar mengintimidasi dirinya, hingga Chris bisa mengalihkan perhatiannya dari bibir Rindu kemudian mempersilahkan gadis itu duduk di sofa berwarna dark brown yang berjejer rapi di tengah ruangan besar itu.
Chris menyilangkan kedua kakinya sambil bersandar dengan nyaman pada sofa yang bagi Rindu pun sangat nyaman namun ia tidak punya keberanian untuk melakukan hal yang bosnya lakukan. Keduanya saling diam untuk beberapa saat, Rindu ciut. Tatapan mata Chris benar-benar membuatnya seperti tikus di pojokan yang siap di mangsa oleh pemburunya padahal ia tidak tahu kesalahan apa yang membawanya ke tempat itu.
“Berapa lama kamu bekerja di sini?” Suara berat Chris membuat tubuh Rindu bergidik.
“Lima ... lima bulan, Pak.”
"Menurut kamu saya orang yang seperti apa?"
Rindu menatap Chris dengan bingung, hingga tatapan keduanya beradu untuk beberapa saat namun kali ini Rindu yang kalah ia tidak berani lagi melakukannya sebab Chris selalu menatapnya hingga masuk ke manik mata Rindu lebih dalam.
"Tegas, berwibawa ...." Rindu kehilangan kata-kata hanya bagian itu saja yang menggambarkan seorang pemimpin dari sebuah perusahaan telekomunikasi besar sedang ia sendiri tidak mengenal Chris secara personal. Jadi jika Chris mengharapkan jawaban yang lebih dari itu Rindu tidak memilikinya.
"Ini pertama kali saya dan Bapak bertemu langsung karena biasanya saya hanya melihat Bapak lewat di lobi jadi saya tidak mengetahui banyak mengenai sifat Bapak." Rindu menundukkan wajahnya lagi menatap lantai yang tengah ia pijak seolah sepatunya yang biasa saja sangat tidak pantas berada di atas lantai mahal tersebut. "Maaf," tambahnya setelah ia merasa mungkin Chris tidak puas dengan jawabannya.
"Kamu tidak pernah mendengar tentang saya dari karyawan yang lain?" Chris tahu betul kalau dirinya menjadi bahan perbincangan terutama di kalangan kaum perempuan jadi tidak mungkin kalau Rindu tidak pernah mendengar namanya disebut di antara obrolan santai mereka.
"Ya? ahh ... itu, mungkin pernah. Yang saya dengar hanya mereka berbicara tentang Pak Chris yang belum menikah."
Ekspresi wajah Chris langsung berubah ketika Rindu mengatakannya dan gadis itu menyadari bahwa mungkin ia salah dengan caranya menyampaikan informasi tersebut atau malah Chris tidak suka ketika hubungan personalnya dibahas.
"Maaf, maafkan saya Pak, karena sudah lancang berbicara seperti itu." Rindu benar-benar takut dengan ekspresi yang Chris tunjukan padahal pria itu sepertinya biasa saja.
"Selain itu?"
Entah apa yang Chris inginkan tapi Rindu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa lagi, ia bahkan jarang sekali berkumpul dengan teman sekantornya untuk membicarakan atasan mereka itu, Rindu memang menjadi sedikit tertutup sejak Derren selalu menyiksanya dan bersikap posesif terhadapnya. Melarang Rindu bersosialisasi dengan teman-temannya karena takut gadis itu akan berkumpul bahkan diluar urusan kerja.
"Kamu sudah bertemu dengan saya jadi harusnya kamu memiliki pandangan sendiri tentang bagaimana saya di mata kamu."
Chris menyadari bahwa rindu tidak bereaksi selain hanya kebingungan dan terus menatap ke bawah menghindari tatapan keduanya kembali bertemu. Lagi.
"Kamu tahu dalam dunia bisnis eye contact itu penting?" Suaranya yang bulat dan tajam membuat tubuh Rindu berdesir aneh setiap kali mendengarnya.
Rindu mengerti maksud dari sindiran tersebut meski tetap saja ia sedikit ragu namun Rindu ingin segera turun dari lantai itu dan tidak lagi berurusan dengan atasannya ini yang tidak tahu apa tujuan memanggil dirinya ke sana. Tidak mungkin hanya untuk mendengar gosip di kalangan para karyawan tentang namanya, bukan?
Chris membenarkan posisi duduknya, kali ini ia menopangkan kedua sikutnya di atas lutut dengan kedua tangan yang saling bertaut menatap Rindu dan menunggu respons dari gadis itu.
Rindu tidak lagi memiliki pilihan, ia memberanikan diri menatap Chris dari atas hingga bawah dan mencoba memberikan penilaian hanya dari kasat mata saja.
"Anda seseorang yang tampan, karismatik, tinggi dengan iris mata yang cantik. Ya, mata Anda sangat indah seperti berasal dari lautan terdalam." Rindu terhanyut dalam penilaiannya sendiri ketika menatap Chris. Gadis itu menyukai bagian matanya yang menawan dan berwarna biru gelap seolah itu adalah palung samudera yang tidak dapat ia masuki namun juga memberikan kedamaian ketika ia melihatnya. Salah satu warna mata yang mampu menghipnotis dan Rindu sepertinya terkena sihir itu.
Chris sering mendengar pujian tentang hal itu kecuali matanya, karena meski memiliki iris yang indah namun orang akan berkata bahwa Chris memiliki tatapan yang tajam saja tidak ada yang berbicara mengenai warna biru laut yang ia miliki pada bola matanya dan Rindu bisa melihat hal itu.
Berada di dekat Chris ternyata membuat Rindu merasa semakin tersudut, hal itu adalah sesuatu yang wajar mengingat Chris adalah atasan Rindu dan seseorang yang luar biasa bahkan dalam lingkungan Rindu yang mana pun tidak ada manusia sejenis Chris, ia merasa dirinya sangat kecil dan lemah di mata pria itu.
"Baiklah, kau bisa kembali bekerja." Chris bangkit dari posisinya semula, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunggu Rindu untuk berdiri dari tempatnya juga. Rindu menghela napa lega, Chris sepertinya sudah puas dengan jawaban Rindu dan meski ia penasaran kenapa pria itu memanggilnya untuk naik ke ruangannya namun Rindu tidak bertanya lagi karena takut hal itu malah akan membuatnya semakin lama berada di dalam sana.
Rindu menuruni lift yang ia gunakan tadi, dirinya masih tidak mengerti kenapa dipanggil ke ruangan Chris tanpa sesuatu yang jelas selain semua pertanyaan yang menurut Rindu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang ia jalani.
Ketika Rindu sampai di meja resepsionis tempat ia biasa menghabiskan harinya, Pak Bowo tengah berdiri di sana dan berbicara dengan teman Rindu, keduanya menoleh ketika gadis itu datang dan mendekat kepada dirinya dan sepertinya memang mereka sedang menunggu untuk mendengar sesuatu dari gadis yang masih tampak kebingungan itu.
"Pak Chris bilang apa?"
"Kamu baik-baik aja?" tanya teman Rindu khawatir. Namun gadis itu hanya diam dan kembali ke balik meja resepsionis tanpa menjawab, ia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada mereka.
"Pasti kena marah, sampai seperti ini." Pak Bowo menggelengkan kepala sambil bertolak pinggang kemudian menatap Rindu dengan wajahnya yang menyesal. Ia sudah berpikir kalau Rindu akan di pecat segera dan ia akan mendapat perintah untuk melakukannya.
"Kamu pasti dapat pekerjaan yang lebih baik." Pria yang merupakan atasan Rindu itu berbicara sendiri sambil menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Rindu dan temannya dengan wajahnya yang merasa bersalah.
"Ya ampun, gimana ini? serius Ndu?"
Dipecat? kata-kata itu terus terngiang dalam otak Rindu hingga ia pulang ke kamar kosnya, ia tidak mau dipecat dan ia menyukai pekerjaannya. Rindu mengingat kembali pertemuannya dengan Chris dan tidak membicarakan hal mengerikan tersebut namun Chris juga tidak tampak senang dengan jawaban Rindu. Jadi apakah salah ketika Rindu hanya memuji atasannya itu, sedikit?
"Harusnya aku bilang kalau dia sempurna." Rindu lemas dan lunglai, ia membuka pintu kamarnya dengan kunci yang ia genggam sejak tadi namun ketika memasukan anak kunci tersebut ternyata kamarnya sudah dibuka sejak awal, pelakunya tidak mungkin orang lain dan Rindu menemukan jawaban yang sudah bisa ia tebak ketika Derren duduk di atas kursi di samping tempat tidur Rindu.
Tubuh Rindu langsung menegang ketika pria itu menatapnya dengan tajam, Rindu tahu ketika Derren menunjukan ekspresi semacam ini artinya suasana hati Derren sedang buruk.
"Sama siapa kamu pulang semalam?" tanya Derren tanpa menatap Rindu, pria itu memainkan jari tangannya mengetuk meja yang biasa Rindu gunakan untuk membaca.
"Ya? sendiri, naik taksi online."
Derren kemudian bangkit dari kursinya sambil berjalan ke arah Rindu, ia membuka dasi yang tadi masih tergantung rapi di lehernya kemudian melilitkannya pada leher Rindu, meski gadis itu sudah bisa menebak apa yang akan Derren lakukan sehingga ia mengganjalnya dengan salah satu tangannya namun tetap saja benda tipis itu membuat Rindu tercekik hingga batuk dan sesak.
"De-derren ... Derren ...."
"Ukhuukkkk ... ukhhuuuukkkk ...." Rindu merasakan sesak ketika Derren melepaskan dasinya dari leher gadis itu, ia terbatuk kemudian oleng ke belakang ketika berusaha bernapas dengan normal kembali.
Derren sepertinya belum selesai dengan Rindu, ia menarik gadis itu dan melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya menahan kedua tangan Rindu di atas kepala dan tidak membiarkan gadis itu melakukan perlawanan sebab kakinya pun di tahan oleh kaki Derren. Pria itu menyeringai ketika Rindu sudah ketakutan sekali, ia takut kalau Derren melakukan sesuatu yang membuat Rindu akan sangat membencinya lebih dari ini.
"Derren, please!!" Rindu menangis memohon pria itu untuk melepaskannya.
"Kenapa? kamu takut? bukannya nanti setelah kita menikah semuanya akan menjadi hal wajar?" Derren masih tersenyum menyeringai dan membuat Rindu gemetar, tangannya lemas karena Derren menekannya dengan kuat, ia merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya termasuk kakinya yang ditindih oleh Derren namun ada hal yang lebih membuatnya takut daripada itu semua.
"Derren ... hikksss ... hikkssss ...."
Pria itu mencoba membungkam Rindu dengan bibirnya namun berkali-kali meleset hingga ia hanya bisa mencium pipi gadis itu, kepala Rindu terus bergerak karena ia menghindari apa yang Derren lakukan dan membuat sebuah tamparan keras mendarat di pipinya sampai membuat telinganya berdengung.
Derren terlanjur marah pada penolakan yang Rindu lakukan, pria itu kembali mendaratkan tamparan keduanya di pipi Rindu dan meninggalkan bekas merah yang juga terasa panas pada kulit gadis itu.
Derren membuka paksa semua kancing kemeja bagian atas yang Rindu kenakan hingga menimbulkan suara renyah dari kancingnya yang terputus dari benangnya dan membuat Rindu harus berbalik untuk melindungi tubuhnya. Ia merasa Derren sudah keterlaluan dan menghinanya lebih parah dari yang pernah pria itu lakukan.
"Rin-rindu ...." Derren tiba-tiba saja berubah, sorot matanya tidak lagi sama seperti sebelumnya ketika menatap Rindu yang memeluk dirinya sendiri untuk menutupi pakaiannya yang terbuka.
"Kamu ... aku ... apa yang aku lakuin ke kamu?" Derren mencoba mendekat dan tangannya berusaha memegang pipi Rindu yang merah dan bengkak namun gadis itu berlari membuka pintu kamar dan menghindari Derren dengan sisa tenaga yang ia miliki, sepatu heels yang ia gunakan membuatnya kesulitan berlari sehingga Rindu memutuskan untuk melepaskan dan melemparnya ke sembarang arah.
Gadis itu terus berlari tanpa menoleh, ia memegang kedua tepi kemejanya dan menjaga tubuhnya agar tetap tertutupi meski sulit, Derren terus memanggil namanya dari jarak sepuluh meter dan membuat Rindu semakin panik tapi kekuatan kakinya berkurang dengan cepat, Rindu lelah, ia tidak berhenti menangis dan pandangannya kabur namun ia tidak mau menyerah. Ia tidak mau terus diperlakukan seperti itu oleh Derren tapi ia benar-benar kesulitan untuk melepaskan diri.
Sebuah mobil sedang hitam melaju dengan cepat dan melewati Rindu, kemudian berhenti tidak jauh di depannya dengan mendadak hingga menimbulkan bunyi berdecit akibat gesekan aspal dan ban yang di rem dengan kuat. Bunyi klakson mobil terdengar seolah memberi Rindu isyarat agar naik ke dalam mobil tersebut. Rindu tidak tahu itu siapa yang jelas ia perlu menyelamatkan dirinya sekarang juga dari Derren yang sudah semakin dekat.
Rindu membuka pintu di samping pengemudi dan segera menutupnya, tepat ketika Derren berhasil meraih bagian belakang mobil tersebut namun pengemudinya langsung menginjak gas hingga membuat Derren tersungkur ke jalan.
Rindu ketakutan setengah mati, ia gemetar di sekujur tubuhnya bahkan bibirnya pun begitu, Rindu bisa merasakan ada darah yang keluar dari sudut bibirnya padahal tadi rasanya tidak ada. Rasa asin dari cairan berwarna merah itu membuatnya semakin panik.
Tiba-tiba sebuah jas di lempar ke atas pangkuan Rindu, sebuah jas milik seorang pria yang aroma tubuhnya terasa tidak asing. Rindu mengangkat kepalanya dan mendapati pria yang memang ia kenal tengah mengemudikan setir dari balik kemudi.
"P-pak Chris?"
"Tutupi tubuh kamu!"