Bara memutuskan untuk memenuhi undangan di pengirim tiket. Jadi, di sinilah ia berada sekarang. Di pintu masuk restoran yang disebutkan oleh si pengirim tiket, ragu untuk meneruskan langkah. Sampai seorang pramusaji menghampirinya dan menanyakan apakah keperluannya. "Excuse me, Sir. May I help you?" tanya pramusaji laki-laki itu ramah. Matanya yang sipit tampak semakin mengecil saat ia tersenyum. Bara mengembuskan napas melalui mulut sebelum menjawab. Sial! Kenapa ia gugup? Padahal ia sudah sering mengalami hal seperti ini, tetapi entah kenapa siang ini jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Perasaannya juga sedikit tidak enak, seolah ada sesuatu yang buruk menantinya di depan sana. Bara mengangguk sebagai respon atas pertanyaan pramusaji itu. "Smith," ucap Bara sambil membetulk

