Rasya mempersilahkan Emira untuk memilih mau menggunakan kamar yang mana. Kamar-kamar itu belum pernah di tempati. Barang-barangnya pun masih sedikit. Belum terlihat seperti kamar seorang laki-laki. Sebab isinya masih standart, berupa Bed, nakas, meja belajar dan lemari baju. Karena penghuninya masih berada di Bandung, dan barang-barang mereka seperti buku, baju dan lain-lain belum di angkut ke rumah ini.
Ya sudah, Emira memilih salah satu kamar. Kamar itu belum di klaim milik Reyhan atau milik Reynald. Sebab keduanya belum akan menempati. Emira duduk di tepi ranjang. "Ra, aku ambil tas kamu dulu di bawah."
Emira mengangguk. Rasya sudah keluar pintu kamar. Emira menghela nafasnya. "Hhhh, benar-benar gak nyaman. Aku mau pulang." keluh Emira.
Rasya pun kembali, membawa tas Emira. "Ini, Ra." Menaruh tas di samping Emira.
"Makasih, Ras." Pikirannya masih kalut. Benar-benar tidak nyaman menumpang di rumah tetangga yang bisa di bilang baru dikenalnya. Tatapannya kosong.
"Ra". Mengusap bahu Emira. " Udah, santai aja di sini. Kami dengan senang hati kok kamu ada di sini."
"Tapi." menatap Rasya. "Aku udah benar-benar merepotkan kalian."
"Ck, kita gak merasa di repotkan, Ra."
Tetap saja Emira tidak enak hati. Kenapa papa harus sakit, dan membuat mama panik. Hingga melupakan anaknya dan meninggalkannya begitu saja.
Emira harus gimana? harus berapa lama di rumah Rasya?
"Sekarang, mau tidur atau mau ngobrol dulu sama aku?"
Emira tak menjawab. Gak tau Emira mau ngomong apa.
"Yuk, ke balkon kamarku aja dulu. Kita ngobrol dulu." Membawa Emira menuju kamar Rasya kemudian Rasya membuka pintu balkon kamarnya.
Rumah itu hanya kamar Rasya saja yang ada balkonnya. Mumpung kakak-kakaknya tidak ikut pindahan waktu itu, maka menjadi kesempatan Rasya untuk memilih kamar.
Rasya memilih kamar yang ada balkonnya.
Kini mereka duduk di kursi panjang yang biasa Rasya gunakan untuk rebahan.
"Rumah aku gelap gitu." tatapan Emira tertuju pada rumahnya di sebrang sana.
"Iya, mama kamu lupa nyalain lampu waktu mau berangkat, mungkin."
"Jangankan lampu, anak sendiri aja dia lupa."
Rasya tersenyum. "Orang lagi panik, Ra. Wajar kalau lupa semua."
"Tapi, aku jadi kelimpungan gini. Kalau gak ada kamu, aku jadi gembel hari ini."
"Yang penting papa kamu baik-baik aja. Biar mama kamu merawatnya dulu sampai sembuh."
"Resiko LDR kayak gini mungkin Ras. Apa aku ikut pindah ke Surabaya aja ya, Ras? Biar kejadiannya gak kayak gini."
Jangan, jerit hati Rasya .. Hey, tolong.... jangan pergi. Rasya baru saja jatuh cinta padanya. Jangan pernah bicara untuk pergi jauh dari Rasya. Rasya tidak suka.
Emira berucap lagi. "Tapi, papa tidak pernah setuju saat mama berencana mau pindah ke Surabaya. Biar deket terus dengan papa. Papa bilang, [di sini aja. kan papa sebulan sekali pulang.] Nyatanya, 3 bulan sekali saja belum tentu papa pulang."
"Sabar, Ra. Mungkin papa kamu sibuk terus, jadi tidak bisa pulang 1 bulan sekali."
Emira hanya diam. Menatap lurus ke langit. Di dalam hatinya.. 'Ya Allah sembuhkanlah papa."
Mereka terdiam beberapa saat.
"Ra, si itu dah hubungi kamu?
"Siapa?"
"Siapa yg tadi sore ketemu, junet jamet apa siapa itu?"
"Juna?"
"Hmm"
"Belum"
"Oooh, aku kira udah."
"Hp aku mati."
Eh, Rasya Tergelak. "Udah di charger belum?"
"Belum, nanti aku pinjam charger hp nya ya."
"Iya..."
Mereka terdiam. Akhirnya Rasya menanyakan perihal Juna yang mereka temui tadi sore.
"Ra, Juna .. sedekat apa kamu sama dia dulu pas SMP?"
"Cuma temen, sama kayak temen-temen aki yang lain. Kenapa?"
"Enggak, aku kira kalian pernah ada hubungan dulu waktu SMP."
"Enggak ada, cuma emang dia sih yang paling deket sama aku. Lagian bocah SMP mana ada mikir hubungan pacaran."
"Ck, adalah. Temen SMP aku banyak kok yang pacaran."
" Iya sih, temen aku juga ada. Kamu, gimana pas SMP? Pacaran juga ya?
" Mmmmm, ada sih. Heheh. Tapi udah putus pas lulus sekolah."
"Kenapa? Gara-gara kamu pindah ya? Cantik gak? Liat potonya dong.." Emira meraih tangan Rasya, menggoyang-goyangkan berharap agar di kasih lihat poto mantan pacarnya.
"Ih apa sih, gak ada. Udah aku hapus."
Emira langsung cemberut. "Pelit banget."
"Ck, beneran Ra, lagian juga cantikan kamu."
"Dih, untung aku kebal."
"Kok kebal?"
"Iyalah, kata-kata kamu tuh udah sama kayak buaya-buaya, tau gak?"
"Emang fakta, Ra. Cantikan kamu."
"Tapi kata orang-orang, aku ini ganteng loh Ras. Hihihi." Emira terkekeh. Memang bener yang ucapkan Emira. Mungkin di lihat dari cara jalan Emira yang tidak ada feminim-feminimnya. Jalan, lari udah seperti lqki-laki.
"Tapi, menurut aku kamu cantik, manis, gak ngebosenin untuk di tatap." Rasya serius, bahkan sekarang Rasya sedang menatap wajah Emira lekat-lekat.
Emira melengos, "Dasar, Buaya." Ucap Emira.
Rasya mendengarnya. "Aku bukan buaya, Ra. Aku bicara fakta."
"Iya-iyaa." Emira menutup mulutnya yang sedang menahan senyum. Sebetulnya menurut pemikiran Emira Rasya memang buaya.
Rasya jadi gemas melihatnya. Rasanya ingin menenggelamkan Emira.. dalam pelukannya.
"Kamu, seperti tidak percaya. Kalau aku buaya, aku udah nerkam kamu dari tadi."
Huss! Rasya kontrol dulu emosinya. Emira masih berstatus teman. Tidak boleh main terkam-terkam.
"Uuuuh... Takuuut...." Emira masih meledek saja.
Benar-benar membuat Rasya gemas. Yang tidak disadari, Rasya sudah meraih tubuh Emira.. benar-benar menenggelamkan dalam peluknya. Sambil di uyel-uyel wajah Emira.
"Ras, udah... lepasin." Emira masih terkekeh. Berusaha melepaskan diri.
Emira tidak bisa menghindar apalagi lari, hanya berontak dengan membuka pelukan Rasya dengan kedua tangannya. Tapi tidak berhasil, Tenaga Rasya lebih kuat dengan Emira. Ya sudah, sekarang Emira habis di uyel-uyel Rasya hingga membuat Rambut Emira berantakan.
Dan seketika itu juga mama Rasya datang.. dan langsung menjewer telinga sang putra yang posisinya masih memiting Emira...