Emira sudah berada di dalam kamar. Bersiap untuk tidur. Untung tadi mama Rasya datang, jadi hidup Emira terselamatkan dari pitingan Rasya.
Tadinya Emira sulit untuk memejamkan mata, fikirannya jauh terbang ke Surabaya. Apakah papa baik-baik saja? Emira berfikir, pasti mama akan cepat mengabari apabila terjadi apa-apa di sana. Lambat laun Emira tidak bisa menahan kantuknya, dan akhirnya Emira tertidur.
Subuh-subuh Emira sudah bangun. Dibangunkan oleh deringan alarm dari HP nya yang Emira setting di pukul 4.45 pagi. Emira berusaha berjalan menuju kamar mandi. Ah, Emira sudah bisa berjalan sendiri. Walaupun pelan, tapi yang penting Emira tidak akan tergantung lagi pada Rasya untuk membantunya berjalan.
Emira ingin ke bawah, melihat anak tangga, Emira tidak yakin bisa menuruninya. Emira urungkan. Emira menghela nafas, saat ini dia berada di depan pintu kamarnya. Memandangi pintu kamar Rasya, ingin mengetuk, membangunkan.. tapi ada rasa tidak enak hati pada diri Emira.
"Rasya udah bangun belum ya?"
Emira masuk ke kamar kembali. Dan memutuskan untuk memgirim pesan pada Rasya. "Ras, udah bangun belum?"
Emira menunggu beberapa saat, tidak ada balasan. Pasti Rasya belum bangun. Ya sudah, akhirnya Emira mengirim pesan untuk mamanya. Ingin menanyakan kabar sang papa. "Ma, udah bangun belum? gimana keadaan papa?"
Tidak ada balasan juga dari mamanya. Emira bingung, biasanya jam 5 mamanya sudah bangun, masa iya jam segini masih tidur. Apa semalam mama bergadang nungguin papa?
Emira merebahkan tubuhnya kembali... memejamkan matanya.
Jam setengah 6, Rasya mengetuk pintu Emira. "Ra," panggilnya.
"Hmmm" Emira merespon panggilan Rasya.
"Aku masuk ya?"
Emira sudah dalam posisi duduk dan belum menjawab, Rasya sudah membuka pintunya lalu nyelonong ke dalam.
Rasya pikir Emira kirim pesan karena butuh pertolongan, mau ke kamar mandi mungkin.
"Mau ke kamar mandi ya? Yuk!." Ucap Rasya yang sudah bersiap memapah Emira.
Emira sempat memandangi muka bantal Rasya yang baru bangun tidur. Rambutnya berantakan. Untung gak ada jejak ileran di pipi.
"Aku udah bisa sendiri Ras. Aku udah ke kamar mandi sendiri tadi." mencegah tangan Rasya.
"Ha? Syukur kalau udah baikan lututnya, terus ada apa w******p aku tadi?"
"Mau turun, gak enak sama mama papa kamu. Dikiranya belum bangun kalau aku nggak turun-turun."
"Oo.. Ya udah yuk!."
"Sebentar... nyawa kamu udah ngumpul belum nih? jangan sampai aku nyusruk di tangga ya, Ras!." Soalnya Emira melihat wajah malas Rasya di sana.
Ya ampun, Rasya gemas. Malah ngajak bercanda ni anak.
Yang malah Rasya rebahkan tubuhnya di samping Emira.
"Ras, bangun gak?" Nanti mama naik ke sini dikira ngapa-ngapain lagi kita, kaya semalem."
"Aku mau ngumpulin nyawa dulu."
"Ayo, turun!" Menarik-narik tangan Rasya.
"Sebentar." Yang malah Rasya pegang tangan Emira, mengunci di sela-sela jarinya. Rasya bawa ke atas daddanya.
Ya Tuhan, perasaan apa ini. Jantung Emira berdebar tangannya di pegang Rasya seperti itu. Mata Rasya terpejam, dan lama kelamaan pegangan tangannya melemah.
"Apa dia tidur betulan?" Emira lepaskan genggaman tangan Rasya. Huh sebal, bisa-bisanya tidur lagi.
"Ras, ayo!" kali ini tubuh Rasya yang Emira goncangkan.
Rasya menggeliat, "lagian mau ngapain di bawah, Ra?"
"Ya.. ngapain kek. Bantu mama masak."
"Ck, nggak bakalan dikasih."
"Ya udah yang penting aku di bawah aja. Duduk-duduk di ruang TV atau di meja makan. Sebenernya malah pengen pulang aja aku."
Rasyapun bangun, malas. Mengusap wajahnya. Tapi tidak ada tanda-tanda akan membantu Emira untuk turun tangga.
Melihat Rasya masih mengantuk, Emira jadi urung memaksa Rasya untuk membantunya berjalan menuruni tangga.
"Rasya," gerangan yang disebut namanyapun menoleh.
"Maaf." ucap Emira menunduk.
Yang tidak di respon oleh Rasya.. menatap Emira dalam diam.
"Maaf" Sambung Emira. " Udah nyusahin kamu." imbuhnya.
"Jangan bicara gitu lagi." Rasya bicara dengan aura dinginnya.
"Aku suka...." Yang tidak Rasya lanjutkan, dan membuat mata Emira membola menatap Rasya.
"Aku suka bantuin kamu."
Emira membuang pandangannya. Rasya sudah berdiri, mengulurkan tangan membantunya berdiri dan di sambut oleh Emira.
Mereka pelan-pelan menuruni tangga, yang mama Rasya perhatikan dari bawah. " Hati-hati, Ras." Ucap mama Rasya.
"Iya ma, ini juga pelan-pelan."
Mama Rasya sedang berada di meja makan, mengupas dan memotong sayur yang akan ia masak. Melihat putranya bersama Emira menuruni tangga, kegiatan menyiangi sayuran pun terhenti.
"Kalian ini, udah kayak suami nuntun istri yang lagi hamil gede aja." Celetuk mama sambil tertawa. Sebab kalau mama Rasya perhatikan posisi mereka berdua memang seperti yang mama Rasya ucap tadi.
"Mamaaa ih." ini Emira yang menyahut. Malu.
Mama Rasya malah makin terkekeh.
" Kayaknya Rasya suka sama kamu tuh, Ra."
Emira dan Rasya sudah sampai di anak tangga paling bawah.
Emira bersemu, "Mama ada-ada aja. Mana ada cowok yang suka sama cewek yang pecicilan kayak aku ma."
Rasya eratkan rangkulannya. Seolah mengisyaratkan. "Ada! Aku suka sama kamu." Yang tidak Rasya ucapkan.
Emira hanya menoleh pada Rasya saja saat terasa rangkulan Rasya mengetat.
"Udah, Ras. Kamu tidur lagi sana. Aku mau bantu mama. Makasih udah bantu aku turun tangga."
Emira dorong menjauh tubuh Rasya.
Rasya mengerling tidak suka. Kemudian Rasya ngeluyur menuju karpet bulu di depan TV dan merebahkan tubuhnya di sana. Rasya tidak menyalakan TVnya, tapi matanya terpejam ingin melanjutkan tidurnya lagi.
Emira sudah duduk di sebelah mama Rasya. "Ma, Emira bantu potong-potong sayurannya sini ma."
Sepertinya mama Rasya akan memasak sayur sop. Sebab di meja itu terdapat macam-macam sayuran yang biasanya dipakai untuk membuat sayur sop.
"Kamu kan lagi sakit, Em. Sana nonton TV aja sama Rasya."
"Yang sakit kan kaki, ma. Tangan nyah mah masih bisa buat kerja. Emira pengen bantuin mama."
Ya sudah, mama Rasya sodorkan baskom berisi wortel, daun kol, kentang, tomat dan daun bawang seledri ke hadapan Emira.
"Wortel sama kentang udah mama kupas. Kamu tinggal potong-potong untuk sayur sop ya, Em." Sementara mama Rasya mengupas bumbu-bumbunya. Bawang merah dan bawang putih.
"Ya, ma." Emira pun mulai memotong-motong sayuran yang ada di hadapannya.
"Em, gimana kabar papa kamu?"
"Alhamdulillah, ma. Kata mama, papa udah sadar. Tapi, masih harus di rawat intensive. Mama belum ngabarin lagi, tapi mudah-mudahan tidak ada hal yang serius yang terjadi pada papa."
"Alhamdulillah, mudah-mudahan papamu cepat pulih ya, Em."
"Aamiin. Makasih, ma."
Singkat cerita.
Mama Rasya sudah selesai masak sarapan. Dan makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Di sana ada sayur sop, sambel, tempe tahu goreng dan ada juga ayam goreng. Benar-benar menggugah selera. Perut Emira saja sampai keroncongan minta buru-buru di isi melihat hidangan di atas meja.
"Aku bangunin Rasya ya, ma."
"Iya sana, bawa gayung, Em."
Eh.. gayung buat apa?
"Kok bawa gayung, ma?"
"Iya, kasih air gayungnya. Biar Rasya bangunnya cepet." Mama Rasya tertawa.
"Ya ampun, Emira kira mau buat apa gayungnya." Emira ikut tertawa. Mama Rasya ada-ada saja.
Melihat Rasya tergeletak di bawah, di atas karpet bulu. Emira duduk di sofa dekat Rasya tertidur. Kemudian menggoyangkan pundak Rasya agar bangun. "Ras, bangun. Sarapan dulu yuk."
Dengan gerakan slow motion Rasya menggeliat, meregangkan tangan ke atas kemudian memegangi kaki Emira dengan lembut. Emira menegang, sontak Emira pukul tangan Rasya yang masih bertengger di kaki Emira.
"Aw, apaan sih Ra?. Sakit tau." Rasya pun bangun lalu duduk. Menggeser tubuhnya dan bersandar pada kaki Emira yang sedang duduk di sofa. Kepala Rasya rebahkan di pangkuan Emira.
Belum sempat Emira beringsut dari duduknya, papa Emira keluar dari kamarnya. Melihat kelakuan mereka berdua. Emira pun reflek menggeser duduknya dan membuat Rasya tersentak terbentur sofa dibelakangnya. Lutut Emira pun berdenyut, disebabkan gerakan refleknya tadi.