Malamnya, Rasa penasaran Rasya terhadap luka yang diderita Emira membuat Rasya galau. Rasya mengetik pesan melalui w******p yang rencananya akan dikirim ke nomor Emira, tetapi ragu. Rasya hapus lagi chat nya.
Sekarang Rasya sedang berada di balkon kamarnya. Berjalan ke sana ke mari hanya ingin mengirim pesan untuk Emira. Melihat ke arah balkon Emira pun, gerangan tidak ada di sana. Tapi lampu kamar masih menyala.
Setelah perang dengan keraguannya, akhirnya Rasya kirim juga pesannya ke nomor Emira. "Halo, Ra. Gimana lututnya? Sudah baikan kah?" seperti itu bunyi chatnya.
Satu menit, dua menit, 5 menit hingga 15 menit tidak ada tanda-tanda balasan dari Emira. Padahal pesannya centang dua. Tapi belum di baca oleh pemilik nomor diseberang sana. Bahkan tidak ada tulisan online di roomchatnya dengan Emira.
Akhirnya, Rasya memutuskan untuk menelpon Emira. Tiga kali panggilan Rasya lakukan, tapi sama sekali tidak ada jawaban.
Apa Rasya harus ke rumahnya saja? Rasya berpikir demikian, saat ini jam 8 malam. Belum terlalu malam untuk bertamu, ke rumah calon gebetan. Eh...
Di ketuknya pagar rumah Emira 3 kali. "Assalamu'alaikum." Dan terlihat seseorang keluar dari pintu. Oh.. itu mamanya Emira pasti. "Wa'alaikumsalam" terdengar jawaban salam dari dalam sana.
" Siapa?" Wanita paruh baya membukakan gerbang kemudian bertanya.
"Saya Rasya bu, temen Emira. Emiranya ada?" Ucap Rasya sopan. Sembari menyalami tangan wanita separuh baya di depannya. Tidak lupa Rasya mencium punggung tangan beliau.
"Eeh, anaknya bu Majid ya? Ayo masuk nak.?"
Mama Emira terlihat senang dengan kedatangan Rasya lalu menyuruhnya masuk.
Rasya mengikuti Mama Emira dari belakang.
"Emira ada, tapi lagi di urut kakinya. Katanya jatuh di sekolahan." Ucap Mama Emira tanpa Rasya tanya.
Hingga Rasya tiba di depan pintu dan melihat Emira di ruang tamu, duduk dengan kaki yang diluruskan yang terlihat mengkilap karena minyak urut. Terlihat juga di sana, di hadapan Emira seoarang wanita agaknya sudah berumur 60 tahunan, yang sedang memijit kaki Emira.
Emira terkejut melihat Rasya yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Bahkan pandangan mereka bertemu dan mengunci beberapa detik. Kenapa Rasya tiba-tiba datang. Sekhawatir itukah dengan luka Emira?
"Assalamu'alaikum" Rasya mengucap salam kembali sebelum masuk ke dalam rumah Emira.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Emira dan ibu tukang urut bersamaan.
"Sini nak Rasya duduk dulu." Mama Emira mempersilahkan Rasya untuk duduk di sofa. Kemudian beliau masuk dan menuju ke dapur untuk membuatkan Rasya minuman.
"Terimakasih bu."
Diam sesaat, kemudian Rasya mulai bertanya.
"Gimana Ra? udah baikan belum?" Seharusnya Rasya tidak perlu menanyakan itu, mengingat dihadapannya terlihat jelas bentuk luka Emira yang bikin ngilu orang yang melihatnya. Bengkaknya besar dan memar merah kebiru-biruan. Sedangkan lutut yang sebelahnya lagi tidak kelihatan bengkak, hanya memar saja. Sedangkan Rasya hampir gagal fokus karena Emira memakai celana gemes. Yang pendek maksimal, kira-kira pendeknya setengah pahha sih. Tapi masih terlihat kemulusan disana. Ehem.. Rasya berdehem setelah mata tergelincir di sana. Tapi Emira tidak menyadarinya.
"Yaa.. kayak gini keadaannya. Sakit banget." Ucap Emira.
Rasya masih canggung di tempat, mau nanya apa lagi kira-kira.
"Mmm.. besok gak usah berangkat sekolah kalau masih sakit." Saran Rasya yang tadinya entah mau ngomong apa.
"Iya, tadi aku pulang sekolah di anter guru. Gara-gara gak bisa jalan pas udah mau pelajaran terakhir."
Oh pantas saja, tadi siang Rasya mencari-cari tapi tidak ada.
Mama Emira datang membawa nampan yang di atasnya ada dua buah gelas berisi sirup yang sepertinya rasa jeruk. Sebab warnanya orange ke kuningan.
Mama Emira meletakkan gelasnya, satu di meja tepat di hadapanku, satu lagi di hadapan Emira. Kalau ibu tukang urut tadi sudah di suguhkan teh manis hangat dan segelas air putih.
Dan saat itu pula Ibu tukang urut selesai mengurut kaki Emira. Dan kemudian pamit setelah meneguk teh manis hangat dan menerima amplop upah urut dari mama Emira.
Setelah kepergian Ibu tukang urut, Mama Emira pun berkata "Mama ke dalam dulu ya. Kalian ngobrol aja."
"Iya tante", jawab Rasya.
"Kamu, kenapa kok tumben ke sini?" Emira masih penasaran dengan kedatangan Rasya yang tidak ia duga.
"Mau jenguk kamu, tadi aku kirim chat tapi kamu gak bales. Aku juga telfon tadi tapi tidak di jawab."
"Oh ya? Mmm hp aku di kamar. Jadi gak tau kalau kamu nelfon. Chat apaan emangnya".
Gak nyangka, Rasya akan ngobrol panjang dengan sang pujaan. Ada rasa sorak-sorak gembira di dalam hati Rasya.
"Cuma nanya ke adaan kaki kamu aja."
"Oooh.." Emira manggut-manggut.
"Besok kalau sudah sembuh, jangan lari-larian lagi Ra."
"Iya kalau gak lupa."
"Ra," Rasya sahut ucapan Emira.
"Pokoknya jangan, liat luka kamu itu. Sampai tidak bisa jalan pula."
Kenapa Rasya Emosi? Padahal, pacar bukan sahabat juga bukan. Emira heran, melongo aja ngeliat kelakuan Rasya yang se akan-akan adalah pacar.