Tidak bisa di sembunyikan, lutut Emira tidak baik-baik saja. Bahkan dia berjalan pincang menuju kelasnya. Bu Widya pun sampai bertanya, "Dari mana Ra? Kenapa jalanmu pincang begitu?"
Emira membungkuk sebagai tanda hormat setelah membuka pintu dan berjalan ke arah tempat duduknya. "Dari toilet bu, jatuh tadi disana." Emira menjawab dengan sopan.
"Diobatin dulu kalau sakit Ra, sampai pincang gitu jalannya. Takutnya ada luka."
"Mmm.. enggak usah bu, paling nanti juga sembuh sendiri. Nggak luka kok." Cuma ngilu aja di salah satu lututnya kalau buat jalan.
" Ya sudah, kamu duduk sana."
Bu Widya memulai pelajaran, beliau adalah guru Bahasa Inggris.
Di tempat duduknya Dita pun bertanya. Pelan suaranya, sebab bu Widya sudah mulai menulis materi di papan tulis.
"Ra, kamu gak papa? kok bisa jatuh sih, gara-gara lari ya tadi?."
"sshhh..." Emira mendesis saat akan duduk dibangkunya. Kok sakit banget lututnya.
"Iya. Ngeblong aku tadi." Tangan kiri Emira masih mengusap lutut sebelah kirinya.
"Kebiasaan sih kamu, kalau lari dah kayak anak laki."
Emira nyengir aja, tanpa menjawab ocehan Dita.
***
Jam istirahat
Airin sudah berada di kelas Emira, bermaksud mengajak Emira ke kantin.
"Ra, kantin yuk!"
Emira melihat Airin sebentar kemudian memeriksa lututnya kok terasa tambah sakit. Oh tidak!! bengkak!! lututnya.
Airin dan Dita ikut melongok kearah lutut Emira.
"Ya ampun Ra, itu kenapa lututnya?" Airin histeris. Dan Dita meringis.. ngilu sendiri lihat lutut Emira yang bengkak dan memar.
"Jatuh tadi di toilet." jawab Emira seadanya. Dan masih meratapi lututnya sambil mengusapnya.
"Aku nitip aja ces, beliin aku somay sama es teh." Ucap Emira, enggan jalan ke kantin dengan lutut yang bengkak. Emira pikir bakalan memar saja lututnya, tetapi salah, ini malah lebih parah.
"Ya udah deh."
"Aku nitip juga deh." Ucap Dita.
"Yeee, ayo sama kamu ke kantinnya. Males aku jalan sendiri."
"Aku kan nemenin Emira, Rin."
Emira pun menjawab. "Udah temenin Inces aja sana Dit, aku gak papa kok. Masih banyak anak-anak juga dikelas."
"Ya udah deh, yuk Rin."
Mereka berjalan berdua menuju kantin. Berpapasan dengan Rasya yang rencananya ingin ke kelas Emira, ingin tau keadaannya.
Dan dengan tiba-tiba, membuat terkejut seorang Airin ketika Rasya menghentikan langkahnya bersama Dita.
"Mmm. . maaf, Emira kok gak bareng kalian?" to the point Rasya menanyakan Emira.
Airin masih belum sadar dari terkejutnya, ditambah terpesona melihat cowok ganteng idaman dari pertama masuk SMA.
Akhirnya Dita yang menjawab. "Ada di kelas, lagi sakit. Bengkak lutunya, abis jatuh tadi." Mereka tidak tahu saja, kalau Manusia didepannya ini yang membuat Emira jatuh dan terluka.
'Hah, bengkak??' Batin Rasya khawatir. Oke baiklah, Rasya akan langsung menuju kelas Emira. " Oh.. makasih ya."
Airin masih terpesona, hingga dia diseret tangannya oleh Dita. "Woy, sadar woy. Mata kalau udah kelilipan cogan ya kayak gini nih." Dita ngedumel sambil berjalan membawa Airin ke kantin.
***
Di kelas Emira
Rasya mengetuk pintu kemudian masuk kelas tanpa ada yang menjawab ketukannya atau mempersilahkan masuk. Hanya saja, siswi-siswi yang berada di kelas terkejut oleh kedatangan Rasya. Cowok ganteng yang tidak banyak tingkah dan terkesan dingin kepada siapa saja. Siswi-siswi itu sampai terpesona.
Rasya langsung menuju meja Emira, yang juga sempat terkejut meliha kedatangannya. Rasya berdiri disamping meja Emira.
"Ra, gimana lutunya? Aku lihat tadi pagi kamu jalannya masih pincang. Apa parah lukanya?" Tampak raut khawatir di wajah Rasya. Sebab, tadi pagi Rasya tidak langsung ke kelasnya. Tapi menunggu Emira sampai Emira masuk ke kelasnya. Rasya mengawasi diam-diam tanpa Emira tahu.
Emira masih menatap heran ke Rasya, 'kenapa ini bocah?" Emira heran, biasanya pendiam, tapi ini??
"Oh, Nggak apa-apa kok. Ntar juga sembuh sendiri." Emira pura-pura baik-baik saja.
"Jangan bohong Ra, tadi temen kamu bilang bengkak loh." Padahal Rasya ingin sekali lihat luka di lutut Emira. Yang ada nanti di kira kurang ajaar.
"Hah? mmmm... ya udah nggak apa-apa juga biar bengkak, aku masih bisa jalan. Kenapa kamu khawatir gitu?"
Rasya menegang, bingung, canggung dengan ucapan Emira barusan.
"Masalahnya kamu jatuh gara-gara aku. Aku ambilin minyak untuk bengkak dulu di UKS."
"Eh, Rasya!" Seru Emira, bermaksud menghentikan Rasya yang sudah berbalik badan dan akan beranjak menuju UKS.
Tidak sadarkah mereka? Bahwa sejak tadi para siswi yang berada di kelas itu diam-diam setia memyimak onrolan mereka berdua? Seru.
"Enggak perlu, enggak usah. Aku gak kenapa-kenapa, sueer." Emira menunjukkan 2 jarinya.
"Ra, kalau nggak buru-buru di obatin nanti bisa fatal akibatnya."
'ish.. berisik banget ternyata ini bocah. Aku kira anaknya kalem.' Jerit batin Emira.
"Kamu jangan nakut-nakutin, pergelangan kaki aku dulu pernah bengkak keseleo. Bisa kok sembuh sendiri."
Rasya hampir lupa siapa Emira, kalau perempuan ini bukan perempuan lemah.
"Hhhh.." Rasya menghela nafas.
"Ya udah, aku pergi dulu.. Saran aku, kamu harus obatin lutut kamu itu. Periksakan ke dokter kalau perlu. Aku takut ada luka dalam." Ucap Rasya sebelum meninggalkan Emira.
Yang ketika Emira menatap punggung Rasya yang sedang berjalan menuju pintu kelas, Emira melihat Ryana, diluar pintu kelas. Sedang melihat ke arah Emira beberapa saat, kemudian berjalan pergi menjauh dari pintu kelas Emira.
__________________________________________