Episode 3

703 Kata
Pagi ini Hari Senin, seperti biasa sekolah mengadakan kegiatan upacara. Tadi Emira sudah ketemu sama Airin, pas baru datang menuju kelasnya. Sekarang mereka berada di lapangan, di barisan masing-masing. Untuk mengikuti Upacara Bendera. Pun Rasya, tempat barisnya dibelakang dan jauh dari barisan Emira. Tapi tetap celingak-celinguk mencari gerangan. Upacara bendera telah usai, para siswapun bubar jalan menuju kelas masing-masing. Tapi tidak dengan Airin, yang malah lari-lari kecil, menghampiri Emira yang sedang berjalan menuju kelasnya. " Ra," tanganpun sudah menggandeng lengan Emira. Bisa-bisanya Airin nyruntul dari belakang. Padahal sedang ramai sama siswa-siswa lain. Emira menoleh ke Airin sekejap, tanpa menghentikan langkah. Hingga Emira menyadari di depan sana... "Ces, pujaan hati mu tuh di depan" Pelan suara Emira, jarinya menunjuk memberi tahu Airin bahwa ada Rasya beberapa langkah didepan mereka. "Hah? iya tu Ra" Uh girang banget Airin hanya melihat punggungnya saja. Emira tersenyum saja melihat tingkah sobatnya yang sudah dari SD sampai SMA selalu disekolah yang sama. "Ra, itu Ryana kayaknya deket ya sama babang Rasya?" Begitu pelan suara Airin mengingat banyak siswa lain sedang berjalan di depan, samping kanan, samping kiri, dan belakang. Tapi Emira masih bisa mendengarnya, sebab saat Airin bicara, mulutnya didekatkan di telinga Emira. Emira mengamati mereka berdua, sepertinya iya dekat. Sebab, Ryana yang termasuk siswa kelas 10 yang paling modis, cantik, tinggi, rambut hitam panjang sepunggung dan di biarkan ter urai indah bak iklan shampoo itu terlihat akrab bicara dengan Rasya. Ryana anaknya kalem, lemah lembut idaman para cowok disekolah ini. Bahkan kakak-kakak kelas pun ada beberapa yang mencoba mendekatinya. Airin yang termasuk cantik saja kalah kalau dibandingin dengan Ryana. Seharusnya di sini Ryana yang menjadi pemeran utama. Tapi, bukan, bukan dia orangnya. "Iya kali, lagian mereka sekelas. Wajar aja kalau deket." Ucap Emira. Airin melihat tidak suka ke arah Ryana. "Ah aku mundur kalau saingannya dia" Ucap Airin patah semangat. Emira tersenyum meliat wajah Airin yang sedang terlihat pasrah. Kecewa. Emira melepaskan gandengan tangannya, beralih merangkul sobatnya dan berucap. "Sabar, cowok ganteng bukan dia aja. Lagian kalau jodoh gak akan kemana" Airin melirik saja, kata-kata Emira malah terkesan meledek Airin. Mencebik, "Gak apa-apa deh, aku nyari kakak kelas aja." Airin melepaskan diri dari rangkulan Emira, pasalnya mereka sudah sampai didepan kelas Airin. "Aku duluan Ra" ngeluyur masuk kelas menuju tempat duduknya. Emira melanjutkan jalannya, hanya beda 1 ruangan kelas Emira dengan Airin. Sedangkan kelas Rasya berada di paling ujung. Emira memperhatika Rasya dan Ryana sebelum berbelok masuk kekelasnya. Dilihat dari belakang saja mereka sudah kelihatan cocok. Emira tiba dibangkunya. Duduk mengeluarkan buku pelajaran pertama. Dita, temen sebangkunya juga sudah berada disana. Bersandar 'capek' katanya paling sebel kalau upacara. Berdirinya lama. Emira juga bersandar mengipasi wajahnya dengan buku tulis. Gerah, "Dit, aku ketoilet dulu deh" Emira tiba-tiba kebelet. "Dih, bukannya tadi sekalian ke toiletnya, Ra." jawab Dita. "Baru berasa, nanti kalau Bu Widya masuk bilangin ya?" Emira sudah lari melesat menuju toilet tanpa menunggu jawaban Dita. Dita menggeleng saja, melihat larinya Emira sudah seperti laki-laki saja. Kenceng banget. Emira masih berlari di koridor, tapi sudah mengurangi kecepatan. Ketika berbelok menuju toilet, tiba-tiba "BUGH" "Aduh" Emira jatuh. mengusap jidatnya yang terbentur d**a Rasya. Rasya yang baru saja keluar dari toilet laki-laki terkejut ditabrak perempuan yang berlari dan beloknya sudah seperti mobil lagi ngedrift saja. Rasya agak terpental kebelakang, beruntung tidak kejengkang. Tapi Emira sudah tersungkur, lututnya jadi tumpuan ketika dia terjatuh. "Ra" Rasya memanggilnya, panik. "Ngapain lari-lari?" Membungkuk, berusaha membantu Emira untuk berdiri. Emira pun berdiri, tangan yang satu mengusap jidat, tangan satu lagi mengusap lutut. Yakin, dengan cara jatuhnya seperti itu, pasti kedua lututnya berasa sakit dan akan memar beberapa jam kemudian. "Aduh" lirih Emira, benar-benar sakit di dengkulnya. Rasya yang detak jantungnya sudah berantakan sedari tadi, mengerutkan alisnya. Kasihan, benar-benar keras tadi jatuhnya. "Maaf, aku gak liat kamu mau lewat tadi. Gimana? sakit banget? masih bisa jalan kan? mau ke UKS? Saking bingungnya Rasya mau melakukan apa pada perempuan didepannya yg sedang meringis kesakitan. Padahal yang salah Emira, lari tapi rem nya blong. "Ngga usah, aku kebelet. Awas minggir." Pincang-pincang agak membungkuk karena memegangi lututnya, Emira berusaha berjalan, tangan kanannya menyingkirkan Rasya dari hadapannya. Rasya menyingkir selangkah memberi jalan. Rasanya ingin memapahnya, eh menggendongnya. Kalau tidak ingat bahwa perempuan yang tertatih itu adalah jagoan berwujud perempuan. __________________________________________ bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN