'RemajaRemajiBlokJ4"
Begitu nama grup sekumpulan anak muda yang tadi pagi Rasya temui. Ada 28 anggota disana.
Sekarang Rasya sedang rebahan di sofa ruang tamu. Menggulir layar HP membuka Grup w******p yang tadi pagi nomor kontak Rasya dimasukan di sana.
Nomor kontak Emira yang pertama dia cari.
Setelah ditemukan nomor kontaknya, langsung saja dia simpan ke dalam kontak HP nya. Rasya pandangi Photo profilnya, yang disana terlihat Emira sedang pose tersenyum dengan menunjukkan 2 jarinya.
Rasya tersenyum, manis tapi tomboi. Di usapnya perlahan wajah Emira dalam layar HP menggunakan jempolnya. Rasya menyukai perempuan tomboi itu. Benar-benar menyukainya.
Grup w******p ramai dengan obrolan anggota, Rasya hanya menyimak saja. Hingga dirinya ternotice
"Hai Rasya, anggota baru nih digrup ini. Perkenalkan diri dong"
Oh itu Emira yang mengetik. Senyum Rasya melebar, deg-deg an?? sudah pasti.
"Wah.. ada anggota baru ya.. selamat datang di grup bocor ini Rasya"
Rasya tidak tau siapa yang mengetik barusan. Tapi dipojok kolom obrolan tertulis nama 'Nina'. Mungkin namanya Nina.
Rasya pun mulai mengetik hendak ikut berkomen di grup itu.
"hai.. perkenalkan, aku Rasya."
Seperti itu saja yang Rasya kirimkan kedalam obrolan grup.
Tapi riuh respon anggota membuat grup gambah ramai.
"oh.. yg rmhnya di dpn lapangan basket yaaa"
"yg sekolah di Bina Nusa ya"
"kirim dong potonya kayak apa sh mukanya. Biar kenal kalau ketemu dijln"
Kira-kira begitu respon dari anggota grup. Dan banyak lagi respon yang lain.
Yang Rasya hanya balas dengan "hehe "dan "iya"
Tapi tidak dia kirimkan Fotonya 1 pun di grup itu.
Malamnya,
Anak-anak yang tadi pagi main basket dan sempat mengajak Rasya untuk bergabung dan berkenalan, sekarang sedang berada di pinggiran lapangan. Seperti biasa Rasya berada di balkon, tidak minat untuk bergabung dengan mereka. Meskipun disana ada Emira, gadis yang baru-baru ini selalu mendebarkan jantungnya.
Rasya merasa kurang nyaman apabila berada di sana, berada di sekumpulan pemuda dan satu orang pemudi itu. Mungkin karena baru kenal dan belum terlalu dekat, jadi Rasya merasa canggung.
Sudah biarkan saja Rasya memandang dari atas sana. Memandang Emira yang... kok selau jadi bidadari sendiri disana. Yang lain perjaka semua.. Duh Emira apa tidak punya teman perempuan?. Di grup Watsapp aja ada sekita 8 orang perempuan. Tapi, mereka pada kemana sih?
Emira berbeda dengan gadis-gadis di kompleknya. Emira tu tomboynya jangan ditanya. Sedangkan gadis sepantarannya mah pada syantik-syantik, merawat diri. Tidak urakan seperti Emira. Kalau gadis-gadis lain pada suka caper dengan berdandan, baju, tas, sepatu yang modis, rambut rapi pakai pita. Sedangkan Emira? Hari-harinya berkaos oblong, pakainya celana, Emira pakai rok hanya waktu sekolah saja, rambut di ikat atau dicepol dengan asal. Jangankan berdandan, di rumah, Emira cuma punya bedak bayi yang dia gunakan untuk memulas wajah saat habis mandi. Tapi jangan sedih, biar tidak berdandan Emira termasuk Good looking pemirsa. Alis, hidung, bibir terpahat sempurna di wajahnya. 'Manis' kalau Rasya bilang.
Karena keadaan gelap malam, keberadaan Rasya di balkon tidak disadari oleh Emira dan kawan-kawanya. Lihat aja, Emira yang memegang gitar, dia yang memainkannya, yang lain kompak bernyanyi di iringi alunan gitar yang Emira mainkan.
Uh mantap, permainan gitar Emira bukan main-main. Bukan asal genjreng, bahkan petikan melodi pada lagu pun dia kuasai.
Benar-benar takjub Rasya oleh pesona tomboy Emira.
Rasanya ingin bergabung disana, bisa ikut bernyanyi, bisa melihat dengan dekat si dia. Si tomboy yang jago bermain gitar.
'Turun gak ya?' begitu perang batin Rasya pengen turun tapi takut canggung.
Akan tetapi Rasya memutuskan untuk turun dan berjalan santai menuju sekumpulan pemuda itu. Emira melihat Rasya berjalan santai dibawah cahaya lampu lapangn. Menuju ke arahnya. Tapi biasa saja, ngga terlalu jelas soalnya. Lain dengan Rasya, yang berjalan tanpa lepas tatapan ke arah Emira, diiringi debaran asyik didalam dadda nya. Emira tidak melihatnya, perasaan yang Rasya punya terhadapnya. Biasa saja bagi Emira.
Galih menengok ke arah Rasya, "Sini Rasya, duduk sini."
Galih menggeser duduknya. Rasyapun duduk di tempat yang galih kosongkan tadi. Tepat didepan Emira.
"Rasya nyanyi dong!" ucap Dani yang duduk
disebelah Emira.
Rasya tersenyum saja, sesekali memandangi Emira dalam diamnya. Emiranya malah cuek aja, mungkin tidak merasa di perhatiin sama Rasya. Masih asyik menggenjreng gitarnya yang di ikuti suara-suara kawan-kawanya. Mereka kompak sekali bernyanyinya.
Permainan gitar berhenti, dilanjutkan dengan obrolan dan candaan. Sesekali menanyakan tentang kehidupan Rasya. Yang Rasya jawab se adanya. Emira pun sempat membicarakan Airin sobatnya. Bahwa sang sobat naksir berat sama Rasya.
"Hah? masa sih? yang mana orangnya?" begitu respon Rasya, yang pura-pura tertarik dengan obrolan Emira. Padahal mah hanya demi akrab dengannya.
Tidak terasa, ini sudah jam setengah sepuluh malam, apa mereka tidak belajar? Padahal besok pagi sekolah.
Mereka sudah bubar, pulang ke rumah masing-masing.
Di kamarnya, Rasya ingin sekali mengirim chat untuk Emira. Masih ingin melanjutkan obrolan, yang tentu saja bukan mau ngobrolin Airin. Tapi, tidak jadi. Rasya memilih keluar kamar, menuju balkon rumahnya. Di lemparkan pandangan menuju balkon rumah Emira, yang tidak ada Emira di sana. Bahkan lampu kamarnya tidak menyala. Mungkin Emira sudah tidur.
Rasya hela nafasnya, orangnya tidak ada disana. Ya sudah, Rasya masuk kembali ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya. Emira, Emira, Emira yang sekarang ada didalam pikirannya.
Mungkin akan menjadi mimpi didalam tidur Rasya nanti.
Rasya pandangi langit-langit rumahnya, berpikir.. bagaimana cara mendekatinya?.
__________________________________________
bersambung...