Bab 68

1955 Kata
Suasana di ruangan itu masih terlihat berat, terlebih setelah aku membalas ucapan dari tuan Vandolf mengenai kondisi Dad yang berada di atas kursi roda saat ini. Aku menatap dengan tajam penuh emosi ke arah tuan Vandolf, begitu juga dengan pria itu yang tidak kalah tajamnya menatap ke arahku dengan wajah memerah.   “Kau pikir semua harus dilakukan dengan pertaruhan nyawa?! Kau tahu kan keluarga Vandolf memiliki segalanya! Tidak perlu mempertaruhkan nyawa seperti itu, karena kami bisa membayar orang untuk melakukannya! Orang miskin seperti kalian tahu apa hah?!” sahut nyonya Vandolf lagi dengan tidak kalah kerasnya. “Jangan buat ketidakmampuan kalian itu sebagai hal yang luar biasa. Kalian hanya tidak bisa melakukan cara seperti kami, karena itu kalian memilih cara nekad seperti itu.”   “Apa?!” geramku dengan suara bergetar. Sungguh aku tidak tahu di mana pemikiran luar biasa seperti itu datang. Bisa-bisanya mereka berpikir seperti itu. Apa mereka pikir uang bisa membayar semuanya?! Kedua tanganku kembali terkepal dengan kuat hingga membuat buku-buku jemariku memutih.   Aku merasa marah karena mereka seakan telah menganggap bahwa perjuangan Dad yang mencariku hingga masuk ke dalam sarang monster itu adalah perbuatan yang terpaksa. Beraninya mereka berpikir seperti itu!   “Anda salah, nyonya Vandolf,” balas Dad kemudian. Aku menoleh ke arah Dad dengan wajah terkejut. Dad nampak masih tenang dan menatap lurus ke arah mereka berdua, terlebih menatap ke arah nyonya Vandolf yang baru saja mengatakan hal bodoh seperti itu.   “Meskipun aku memiliki banyak uang sekali pun, aku pasti akan memilih cara yang sama untuk menyelamatkan anakku kembali. Danny adalah anak kami yang berharga. Dia adalah anugerah terindah yang telah dititipkan ke dalam hidup kami. Tidak mungkin aku akan membiarkan orang lain mencari anakku sampai mempertaruhkan nyawa mereka, sedangkan aku hanya berpangku tangan dengan tenang menanti perkembangan yang datang dalam kehangatan rumah sendiri. Aku lebih baik mati jika aku harus menjadi seorang ayah yang seperti itu,” tegas Dad kemudian dengan penuh yakin.   Sekali lagi, aku diingatkan bahwa Dad adalah pahlawan superku di dalam dunia nyata. Dia benar-benar luar biasa. Tidak, kedua orang tuaku adalah orang tua yang luar biasa. Aku sungguh terkesan dengan ucapan mereka berdua. Sekali lagi kemarahanku perlahan mereda mendengar jawaban penuh cinta yang dilontarkan oleh Mom dan Dad kepada mereka semua.   Kulihat nyonya Vandolf hanya mendengus remeh setelah mendengar jawaban Dad, sedangkan tuan Vandolf sendiri hanya diam tidak menanggapi ucapan Dad. Pihak kepala sekolah sendiri hanya terlihat bingung melihat perdebatan yang terjadi di antara kami semua.   Tok! Tok! Tok! Pintu ruangan dibuka. Semua mata langsung menoleh ke arah pintu tersebut. Di sana ada professor Robert yang kini memasuki ruangan dengan tersenyum sopan.   “Professor Robert?” panggil pak Kepala Sekolah dengan wajah penuh tanya.   “Maaf telah mengganggu, tapi saya membawa beberapa saksi yang ada untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu,” jelas professor Robert. Lalu pria itu menoleh ke arah pintu dan menyuruh orang yang berdiri di luar masuk ke dalam.   Ada beberapa siswa yang dibawa professor Robert ke dalam ruangan. Aku memerhatikan pintu ruangan yang mulai menutup setelah saksi terakhir masuk ke dalam. Di celah pintu yang terbuka, aku sempat menangkap sosok Hellen yang ternyata tengah berdiri di luar sana. Melihat keberadaan gadis itu membuatku mengerutkan kedua alis dengan wajah bingung. Kenapa dia berdiri di sana?   Setelah itu pintu benar-benar tertutup dan perhatianku kembali teralihkan pada professor Robert dan para saksi tersebut. Professor Robert menjelaskan dan memperkenalkan para saksi itu terlebih dahulu sebelum kemudian pak Kepala Sekolah mengijinkan mereka untuk menjelaskan semua kejadian kemaren di depan kami semua.   Dari penjelasan mereka, rata-rata bisa disimpulkan bahwa Jason yang telah datang terlebih dulu menghampiriku dan tiba-tiba memukul wajahku beberapa kali, sebelum kemudian aku akhirnya membalas pukulan Jason dengan hitungan yang sama. Mendengar mereka mengatakan hal yang sebenarnya di depan kami semua, membuat aku merasa lega.   Aku menoleh ke arah Mom dan Dad yang juga membalas tatapanku dengan pandangan lega. Aku yakin mereka merasa tidak menyesal karena telah memercayaiku sampai akhir. Aku merasa puas dengan itu. Selebihnya, kini bagaimana kami menghadapi keluarga Jason yang nampaknya masih tidak ingin mengakui kesalahan mereka, terutama dengan nyonya Vandolf.   “Jika Jason tiba-tiba memukulmu, aku yakin pasti ada yang terjadi di antara kalian sebelumnya, benar kan?!” tuduh wanita bergincu merah itu. Aku menyipitkan mata menatap wanita itu. Merasa lelah sendiri dalam menghadapi manusia bar-bar seperti dia.   “Kami tidak tahu masalah itu Nyonya,” jawab salah satu dari para saksi itu untuk mewakili mereka semua.   “Baiklah. Kalau begitu kalian boleh pergi.” Pak Kepala Sekolah akhirnya membuarkan mereka dan berterima kasih karena telah membantu menjelaskan. Kini kembali kami yang tersisa di ruangan itu, menyelesaikan urusan yang entah sampai kapan selesainya.   “Apa yang sudah kau lakukan pada anakku Jason, hingga dia marah seperti itu padamu?!”   “Sepertinya anda salah bertanya pada orang, nyonya Vandolf. Karena selama ini yang selalu mencari gara-gara di antara kita adalah anak anda sendiri, Jason,” jawabku dengan tegas. “Dia yang selalu senang berlaku seenaknya kepada saya. Dia dan teman-temannya selalu senang mencari cara untuk membully saya.”   “Anakku adalah anak yang baik.”   “Jika anda tidak percaya, anda bisa bertanya pada seluruh siswa di sekolah ini bagaimana sikap Jason terhadap saya selama ini,” tantangku dengan penuh keyakinan. Aku tidak takut sama sekali dengan mereka. aku justru ingin membuktikan bagaimana sebenarnya wajah asli dari anak kesayangan mereka itu.   “Aku semakin tidak mengerti kenapa Jason sangat tidak menyukaimu. Aku yakin kau pasti telah melakukan sesuatu kepadanya, hingga dia menjadi begitu benci kepadamu!”   “Kalau begitu kenapa anda tidak menanyakannya saja langsung pada anak anda? Kenapa dia sangat membenci saya? Karena saya juga ingin tahu jawabannya.”   “Ck!” Nyonya Vandolf mendecak lidah dengan kasar. Wanita itu tiba-tiba bangkit dari kursinya dan menoleh ke arah tuan Vandolf. “Ayo Sayang! Kita sudah membuang-buang banyak waktu di sini,” ucapnya. Aku dan kedua orang tuaku menatap terkejut sekaligus heran dengan tingkah dan ucapan wanita itu.   “Tunggu, nyonya Vandolf. Bukankah hal ini masih belum selesai? Sekarang semua sudah terbukti jelas bahwa anak anda yang menyerang anak saya terlebih dahulu. Saya menunggu ucapan maaf dari pihak anda,” tegur Mom yang masih terlihat tidak terima dengan segala ucapan, tingkah, dan tuduhan yang telah mereka lontarkan kepada keluarga kami.   Mendengar ucapan itu, nyonya Vandolf kembali menoleh ke arah Mom dan menatap sinis ke arah kami.   “Jangan harap, nyonya Peter. Jangan lupakan bahwa anak anda sudah membuat anak saya masuk ke rumah sakit dengan luka parah seperti itu. Sedangkan anak anda sendiri masih terlihat segar bugar tanpa luka sama sekali di wajahnya. Ini sungguh tidak adil! Jika kalian ingin membawa ini ke jalur hukum, maka silahkan saja. Tapi jangan pernah menyesal ketika kalian melihat hasilnya nanti!” balasnya dengan penuh kesal.   Setelah itu nyonya Vandolf melangkah dengan tidak tahu dirinya keluar ruangan, yang lalu diikuti dengan tuan Vandolf yang juga menyusulnya setelah melempar pandang ke arah kami semua, terutama pada Dad. Aku dan Mom sama-sama saling melongo memerhatikan tingkah luar biasa dari keluarga itu.   Mereka berkata bahwa mereka adalah keluarga terpandang dan terhormat di kota ini, tapi aku merasa sangsi dengan sikap yang telah mereka tunjukkan selama pertemuan di antara kami berlangsung. Semua itu seolah tidak menunjukkan kelas mana seharusnya mereka berada.   Setelah kepergian mereka yang berarti masalah ini akhirnya telah diselesaikan, kami bertiga pamit undur diri pada Kepala Sekolah. Kami sendiri telah sepakat untuk tidak semakin memperbesar masalah ini ke dalam jalur hukum, karena menganggap semua itu hanya sesuatu yang sia-sia saja. Aku pulang dengan perasaan lega dengan Mom dan Dad hari itu.   “Miss Hasley!” Panggilan itu langsung menghentikan langkah Hasley yang tengah melangkah menyusuri lorong panjang menuju laboratorium kerjanya. Hasley menoleh ke arah belakang dan melihat salah satu rekan kerjanya berdiri cukup jauh darinya.   “Ya?” jawab Halsey kemudian. Rekan kerja bergender perempuan itu segera berlari kecil menuju ke arahnya.   “Miss Halsey, apa kau memiliki waktu? Ada yang ingin kutunjukkan padamu,” ucapnya sekaligus meminta kepada Halsey. Kedua tangan wanita itu sibuk membawa papan d**a yang berisi beberapa lembar berkas di sana dan mendekapnya dengan erat. Mendengar permintaan itu membuat Halsey mengangkat satu alisnya ke atas merasa penasaran dengan apa yang akan diperlihatkan rekan kerjanya itu.   “Ya, apa itu?” tanya Halsey kemudian. Halsey memberikan perhatian penuh pada apa yang akan diucapkan rekan kerjanya itu sekarang. Terlebih ketika rekan kerjanya bergerak lebih mendekat dengan hati-hati seakan apa yang diucapkannya ini adalah sesuatu yang tidak boleh tersebar di sekitar. Halsey yang paham akan situasi lalu ikut menoleh ke arah sekitar mereka untuk memastikan bahwa keadaan telah aman.   “Miss Halsey, coba kau lihat laporan yang telah kubuat ini.” Wanita itu memberikan papan d**a yang sedari tadi didekapnya pada Halsey untuk menunjukkan isi di dalamnya. Halsey segera menerima berkas itu dan melihat isinya dengan cermat.   “Ini ...”   “Itu adalah laporan penelitian dari monster yang telah menyerang kota Miss Hasley. Kau ingat bukan bahwa pihak kita telah mengambil alih penanganan lebih lanjut mengenai monster itu kemaren.”   “Ya, kau benar. Bagaimana itu? Apa ada sesuatu yang aneh?” tanya Halsey. Wanita itu masih sibuk membaca dengan teliti satu per satu data penting yang tertulis di sana.   “Saya rasa, monster itu berbeda dengan monster sebelumnya Miss Halsey. Baik dari segi bentuk tubuh, reaksi yang ditunjukkan, atau pun kemampuan dalam bertahan hidup, dia jauh berbeda dengan monster sebelumnya. Tapi.” Wanita itu menggantung penjelasannya, membuat Halsey menoleh ke arahnya.   “Tapi?”   Wanita itu mendekatkan wajahnya pada Halsey dan berbisik dengan lirih di sana. “Saya telah menemukan sesuatu yang familiar di dalam tubuhnya.”   Seketika Halsey memandang wanita itu dengan wajah penuh rasa penasaran. “Apa itu?”   “Bisakah anda ikut saya dan melihat sendiri apa itu?”   Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu jawaban dari Halsey, wanita itu langsung menarik tangan Halsey untuk ikut bersama dengannya. Mereka memasuki ruangan lain. Di sana ada beberapa petugas yang masih berjaga di sana, sementara Halsey dan rekan kerjanya itu tetap masuk ke dalam menuju sebuah layar yang menampilkan gambar monster baru yang telah menyerang kota dalam bentuk hologram.   Mereka berdua berdiri menatap hologram tersebut. Wanita itu menoleh ke arah Halsey terlebih dahulu sebelum kemudian tangannya mulai bergerak menyentuh hologram tersebut. Seketika gambar monster itu berubah menjadi beberapa bagian dan berisi data-data penting yang jauh lebih detail dari laporan tulis yang dibuat wanita tersebut.   Beberapa kali wanita itu menggerakkan tangannya untuk menyentuh layar tersebut dan membuat beberapa gambar yang muncul saling hilang timbul, hingga akhirnya gambar final akhirnya muncul bersamaan dengan beberapa data penting di sampingnya. Mata Halsey langsung menyipit tajam memerhatikan semua data itu.   “Apa kau mengerti maksudku, Miss Halsey?”   “Ini ...”   “Formula yang sama yang pernah diciptakan oleh professor dulu,” jelas wanita itu dengan mantap. Bibir Halsey secara perlahan terbuka saking terkejutnya dan menatap tidak percaya ke arah layar tersebut, sebelum beralih ke arah rekan kerjanya.   “Apa kau yakin?”   “Saya tidak begitu yakin, karena itu saya mengajak anda untuk melihat sendiri isinya. Saya tahu meski beberapa formulanya ada sedikit perubahan, namun saya merasa bahwa itu adalah formula yang memiliki kesamaan seperti milik professor Robert dulu. Dan formula itu berada di dalam monster itu.”   “Astaga,” gumam Halsey dengan lirih. Ini adalah penemuan yang mengejutkan untuk dirinya. Halsey tidak menyangka akan menemukan jejak yang mungkin saja milik penelitian professor Robert di dalam tubuh monster itu. Karena formula yang ada di dalam tubuh monster hidup yang tengah mereka jaga saat ini, sangat berbeda dengan formula dari tubuh monster yang menyerang kota itu.   Mempelajari monster hidup itu seperti mempelajari sesuatu yang baru bagi Halsey karena dirinya tidak menemukan clue sama sekali dengan hal itu. Namun setelah melihat formula yang terlihat familiar untuknya itu, Halsey merasa seperti tengah menemukan suatu titik terang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN