Dia adalah pahlawan wanitaku. Dialah Laura, Mommyku. Aku sepertinya baru kali ini melihat Mom menunjukkan wajah yang begitu tegas dan penuh wibawa di hadapan orang lain. selama ini Mom selalu menunjukkan sikap lemah lembut, tenang, dan penuh sabar di hadapanku dan orang lain. Hal itu membuatku menjadi lebih kagum dengan Mom.
Mungkin benar tentang istilah seorang ibu tidak akan bersikap lemah jika hal itu menyangkut keselamatan anak kandungnya. Aku merasa mom begitu melindungiku saat ini, layaknya seekor singa betina yang yang garang.
“Oh lihatlah. Sudah jelas anak anda telah membuat anak kami masuk ke rumah sakit dan sekarang anda berusaha melindungi anak itu?! Luar biasa! Bagaimana cara anda mendidik anak itu sebenarnya?! Memalukan!” ucap wanita berbibir merah menyala itu.
Seketika aku menggeram marah mendengarnya. Ini masalah aku dan Jason. Tidak ada sangkut pautnya dengan cara didikan kedua orang tuaku selama ini, karena yang jelas bersalah di sini adalah Jason, anak kesayangan wanita itu sendiri. Bagaimana bisa wanita itu bersikap tidak tahu diri sampai sejauh ini? Yang harusnya malu itu adalah dia, bukan kami!
Aku menarik napas hendak membalas ucapan busuk wanita itu. Tidak anak, tidak ibu, kelakuan mereka benar-benar sama saja sialannya! Namun kemudian aku merasakan tepukan mantap pada tanganku yang berpangku di atas paha. Seakan tepukan itu mencoba menahan kemarahanku kembali untuk tetap tenang. Aku menoleh ke arah Dad yang baru saja menepukku.
Dad hanya melirik ke arahku dan menyuruhku untuk tetap tenang lewat kedipan matanya. Beliau menyuruhku untuk memerhatikan dengan sabar arah perbincangan kami semua. Dan membiarkan Mom yang mengambil alih semuanya.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain hanya bisa pasrah menuruti keinginan Dad. Aku hanya bisa menghela napas panjang dan berusaha menahan diri kembali. Sementara Mom masih menghadapi segala ocehan wanita tersebut.
“Nyonya Vandolf, saya mengerti bahwa seorang ibu pasti anda juga ingin melindungi anak anda bukan? Begitu juga dengan saya. Sebagai seorang ibu, saya juga ingin melindungi anak saya bagaimanapun caranya. Karena itu, saya akan memberi maklum pada ucapan anda barusan. Sekarang mari kita bicarakan masalah ini lebih tenang, dan coba dengarkan dengan lebih baik cerita dari dua sisi.”
“Nyonya Peter, tolong jangan samakan saya dengan anda, karena tentu saya lebih tahu caranya menjaga anak saya. Saya sudah tidak punya banyak waktu hanya untuk mendengar permintaan dari anak anda. Jika dia tidak segera melakukannya, maka saya yakin pertemuan ini sudah tidak ada gunanya lagi di antara kita. Tentu anda juga mengetahui konsekuensi yang akan anda dapatkan bukan?!”
“Saya takut anda akan menyesal jika melakukan hal itu Nyonya Vandolf. Kenapa kita tidak memberikan waktu sejenak untuk membicarakan masalah ini dan mendengar cerita detailnya lebih jauh? Saya tidak akan menghalangi anak saya untuk meminta maaf kepada anda jika memang semua itu terbukti benar, bahwa anak saya memang bersalah. Tapi yang saya tahu, semua itu terjadi karena ulah anak anda. Jika anak saya harus meminta maaf, maka saya juga ingin mendengar kata maaf dari anak anda nyonya Vandolf!”
“Apa maksudmu?! Kau ingin ucapan maaf dari kami?! Pastinya kau bermimpi. Keluarga Vandolf adalah keluarga terhormat. Beraninya kau meminta kami meminta maaf sedangkan anakmu sudah jelas telah membuat anakku terluka parah seperti itu!”
“Permisi nyonya Vandolf dan nyonya Peter, tolong bersikap lebih tenang terlebih dahulu. Di sini kita ingin membahas masalah tersebut dengan cara damai. Jangan buat semua ini menjadi semakin sulit.” Pak Kepala Sekolah berusaha menengahi perdebatan di antara Mom dan wanita itu.
“Apa anda tidak mendengarnya pak Kepala Sekolah? Mereka tidak ingin mengakui kesalahan yang telah diperbuat kepada anak kami Jason! Untuk apa pertemuan ini dilakukan kalau begitu huh?!” bentak wanita itu dengan penuh kesal ke arah Kepala Sekolah.
“Tapi nyonya Vandolf, ada benarnya apa kata nyonya Peter. Kita perlu membicarakan hal ini dengan baik dan mendengar cerita detailnya dari dua belah sisi. Dengan begitu kita akan sama-sama bisa menilai apa yang terjadi.”
“Untuk apa semua itu?! Semua sudah jelas anak saya adalah koran di sini dan anda hanya akan semakin menguras waktu saya di sini. Ingat, pak kepala sekolah. Anda hanya seorang Kepala Sekolah di sini. Hati-hati jika anda berbicara karena saya tidak akan tinggal diam dengan ini semua, mengerti?!” ancam nyonya Vandolf yang langsung membuat Kepala Sekolah terdiam menundukkan kepala.
Aku mendecih dalam hati melihat betapa pengecutnya pria tua itu. Hanya dengan ancaman seperti itu, semua orang menjadi menutup mata pada kebenaran yang terjadi. Sungguh memuakkan! Dunia yang kotor!
“Nyonya Vandolf, kenapa anda tidak ingin sekali mendengar penjelasan dari dua sisi? Jika anda takut anak anda terbukti bersalah, maka tidak perlu semakin mempersulit masalah ini.” Kini Dad akhirnya mulai ikut berbicara.
“Hei, anda lebih baik diam saja! Tunggu sebentar. Saya dengar bukankah anak anda adalah anak yang telah diberitakan pernah ditangkap oleh seekor monster dan dibawa pergi ke hutan kan? Hah pantas saja dia menjadi bar-bar seperti ini. Aku sangat yakin bahwa anak anda itu telah dirasuki oleh monster tersebut sehingga membuatnya menjadi seperti anjing gila yang tidak bisa menahan amarahnya.”
“Nyonya Vandolf, saya bilang tolong jangan berbicara sembarangan dengan anak saya!” Tentu Mom tidak akan tinggal diam mendengar aku direndahkan seperti itu. “Yang seharusnya dipertanyakan itu adalah kelakuan anak anda! Jika anak anda tidak melakukan kesalahan lebih dulu pada anak saya, maka anak saya tidak akan sampai bersikap seperti itu kepada anak anda! Coba lihat! Wajah Danny juga terluka! Itu berarti—“ ucapan Mom terhenti ketika melihat luka di wajahku yang ternyata telah menghilang tanpa bekas. Aku memejamkan kedua mata dengan rapat karena lupa akan cepatnya daya sembuh tubuhku ini.
“Di mana luka yang anda bicarakan itu hah?!”
“Mungkin lukanya telah sembuh, dan itu bukan masalah intinya di sini. Yang jelas, banyak saksi mata yang melihat kejadian itu bukan? Saya yakin jika anda melakukan gugatan atau kasus ini, maka anak saya akan terbukti tidak bersalah!”
“Bersalah atau tidak, apa anda pikir saya tidak akan bisa membalik keadaan? Bisa apa anda dengan penampilan seperti itu?!” jawab tuan Vandolf yang sedari tadi hanya diam mendengarkan segala ocehan istrinya itu. Mendengar ucapan itu, seketika membuatku kembali menggeram marah.
Aku merasa marah karena kali ini wanita itu mulai membahas masalah penampilan Dad yang duduk di atas kursi roda. Sungguh, aku benar-benar ingin merobek mulut tidak tahu diri itu. Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi hingga akhirnya aku benar-benar bersuara dengan tegas.
“Anda tidak perlu berkata seperti itu, tuan Vandolf! Dad telah berani mempertaruhkan nyawanya untuk masuk ke dalam sarang monster hanya karena ingin menyelamatkanku, hingga kondisinya menjadi seperti ini. Saya yakin, tidak semua ayah akan berani melakukan hal itu, termasuk dengan anda!” ucapku dengan mantap.
Seketika membuat semua orang terdiam di tempat. Aku yakin aku telah melihat raut wajah malu di atas wajah tuan Vandolf beberapa saat yang lalu. Aku mengatakan hal ini bukan untuk sebuah mainan saja. Aku sungguh menghormati Dad. Tidak banyak orang yang bisa berani mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelamatkan seseorang seperti beliau.
Dad pantas diberi penghargaan terbesar karena usahanya itu. Dan tidak pantas dipermalukan karena kondisinya yang berada di kursi roda saat ini, meski itu dari kelurga terpandang seperti keluarga Vandolf sekalipun.