Nara tersenyum lebar usai meminum air sungai yang begitu bening. Kerongkongannya terasa kembali segar, layaknya hujan yang turun di padang pasir yang gersang. Ia lalu menoleh pada lelaki yang berada di sebelahnya. "Bagaimana? Bukankah airnya terasa segar?" ujar Nara. Yooshin mengangguk. "Aku bersyukur hutan di sini masih sama, tak ada kerusakan sama sekali sejak terakhir aku ke sini." "Apa ayahmu sering ke sini?" Nara bertanya. Ia dan Yooshin kembali melanjutkan perjalanan mereka. "Ayah jarang ke sini semenjak ibuku meninggal." Yooshin membuang napas pelan. "Jadi aku yang ke sini sendirian. Yah, walaupun jauh tapi rasanya semua lelahku terbayarkan saat aku sampai di sini. Apalagi begitu sampai di kuil, aku serasa seperti bertemu dengan ibuku, walau aku tak bisa melihatnya." Lelaki itu

