"Kau masih menangis?" Moa menatap Nara dari samping. ia dan Nara saat ini tengah duduk di atas tebing tempat Nara membuang norigae miliknya tadi. "Tidak," jawab Nara singkat. "Kenapa? Apa kau merasa kasihan setiap kali melihatku menangis?" Moa mengerjap. "Ti-tidak, bukan begitu maksudku," ujarnya. Namun di luar dugaan, Nara justru tertawa pelan, hal itu membuat Moa mengerutkan dahi. "kenapa kau tiba-tiba tertawa seperti itu? Memangnya ada yang lucu?" Nara menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak ada, hanya saja rasanya agak aneh jika aku menyadari kalau kau adalah orang yang sudah membunuh kedua orang tuaku. harusnya aku membuuhmu, kan. Tapi aku justru duduk di sini denganmu seakan tak pernah ada kejadian apa-apa," ujar Nara. "Tapi tak apa, karena selama kau tak mengingkari kesepakatan

