“Nino Kar...”rengekku setelah melepaskan pelukan Karin. Karin ikutan mengusap airmatanya. “Biar tenang dulu dia Non,berat juga buat dia,apalagi dia ikutan berjuang banget sampai elo bisa hamil sebesar ini”kata Karin. Aku hanya bisa mengangguk.Tapi benar Karin,kalo bicara hancur,Nino pasti sama hancurnya denganku. “Pindah dulu ruang rawat Ya!,operasinya Nino minta ba'da Zuhur”kata dokter Sabrina. Sekarang sudah jam setengah dua belas.Setengah jam lagi.Aku menurut waktu Karin membantuku mengganti bajuku dengan baju khas operasi lalu aku di dorong keluar kamar periksa. “Non!!”pekik teman temanku pasukan komplit plus kedua orangtuaku juga. Aku hanya bisa tersenyum manatap wajah wajah sedih itu bersamaan airmataku yang lolos tanpa bisa aku cegah. Hanya papa dan mamaku yang berani mendek

