bc

REPEAT

book_age12+
2.3K
IKUTI
11.6K
BACA
love after marriage
others
single mother
drama
mxb
others
Writing Academy
like
intro-logo
Uraian

Sebuah pernikahan yang harus kandas hanya sebuah kesalahpahaman tanpa meminta penjelasan malah memilih untuk berpisah karena salah satu pihak merasa terkhianati. Hingga satu bulan kemudian, Kalea—ibu muda ini tidak menyadari ada yang menghuni rahimnya dan ia memilih untuk merahasiakan karena ia merasa takut jika anak yang dikandungnya itu tidak diakui oleh sang suami—yang telah menjadi mantan. Namun, seiring berjalannya waktu Dirga pun mengetahui. Dan benar, ketakutan Kalea terjadi—anaknya tidak diakui. Benang merah itu menghalangi hubungan mereka. Apakah kesalahpahaman itu akan terselesaikan dan pasangan itu memilih rujuk atau membangun kehidupan baru dengan yang lain?

Pernikahan ini bentuk penyatuan bukan bosan lalu pergi tanpa pamitan.

Dulu kau yang memintaku, kini pula kau yang membuangku. Apa ini bentuk cintamu?

Simak kisah mereka, Havika Azalea dengan Dirgantara Al-Fatih.

Cover : Penerbit Novelindo Publishing

chap-preview
Pratinjau gratis
1. HARI YANG INDAH
                Selalu dan tetap bersyukur tentang apapun kenikmatan yang ada pada hari ini   Tepat pukul 6:30 pagi, Kalea mengantarkan anaknya ke sekolah TK Al-Fath dengan mengendarai motor matic keluaran tahun 2016. Hal itu menjadi kegiatan rutinitasnya. Semenjak suaminya mengucapkan talaq pada Kalea dan tidak tinggal lagi bersama, Kalea melakukan semuanya sendiri. Dia menjadi bunda sekaligus ayah bagi anak perempuannya; Naufalyn Alayya. Begitu sampai di sekolahan Ayya, seperti biasa Ayya akan mencium punggung tangan Kalea serta perut yang kini sedikit membuncit. "Yang nurut sama guru, ya," tutur Kalea dengan mengelus puncak kepala Ayya. "Nanti bunda jemput." "Siap, Bunda!" kata Ayya bersemangat. Setelah berkata demikian Ayya pun berlenggang pergi untuk masuk kelas. Sementara Kalea  masih diam ditempatnya untuk memastikan hingga Ayya sampai masuk kelasnya. Baru kemudian ia meninggalkan area tersebut lantas menuju ke Sekolah Dasar tempat ia mengajar. Guru, itulah profesi Kalea setelah resmi bercerai dengan suaminya tiga bulan yang lalu. Selain itu, ia juga menyambi dengan jual barang-barang secara online. Karena biaya yang dibutuhkan bukan hanya untuk makan saja namun juga untuk yang lainnya. "Assalamu’alaikum!" serunya kala memasuki ruang guru. "Wa’alaikumussalam," sahut dari beberapa guru yang sudah tiba itu. Kalea tersenyum mendapat tanggapan seperti itupun menyalami guru yang sudah hadir pada waktu itu. Setelah bersalaman Kalea beranjak duduk di kursinya. Hari ini anak didiknya akan melakukan ujian kenaikan kelas, itu artinya libur panjang akan datang. Kalea berencana akan mengajak Ayya ke kampungnya selama liburan berlangsung. Kalea merindukan kota kelahirannya. Bel berbunyi tiga kali itu tandanya semua murid diwajibkan masuk ke kelas masing-masing. Setelah itu Kalea pun segera berlenggang pergi untuk masuk kelas. Dan sebelumnya ia berpamitan dengan guru yang lainnya. "Mrs. Kalea." Kalea menoleh lantas tersenyum. "Iya." Lelaki itu pun segera mensejajarkan langkah Kalea. "Sebentar lagi libur panjang, ada rencana kemana?" tanyanya. "Mungkin saya akan menghabiskannya di rumah orang tua saya," jawab Kalea dengan tersenyum, membayangkannya saja membuat dirinya tak sabar untuk menikmati waktu itu datang. Lalu mereka berbincang-bincang tentang hal lain, namun kebanyakan Nofic bertanya tentang Ayya—anak Kalea. Sedangkan Kalea yang ditanya seperti itu menjawabnya pun dengan penuh ramah tanpa menaruh curiga. Hingga langkah kakinya berhenti di depan kelas tiga membuat Kalea harus menghentikan percakapannya dengan guru olahraga tersebut. "Oh ya, saya duluan Mr. Nofic." izin Kalea setelah itu ia pun masuk ke kelasnya untuk menjadi pengawas. "Silahkan." Nofic mempersilahkan kemudian, lalu menatap punggung Kalea dan setelahnya ia pun pergi.     °^°     Sudah lima belas menit yang lalu Kalea berada di sekolahan Ayya. Menunggu anaknya hingga keluar kelas, sambil berbincang-bincang ringan dengan ibu dari teman anaknya. Dengan duduk di kursi yang disediakan bagi orang tua ketika sedang menjemput anaknya. "Mbak Kalea pulang dari ngajar, ya?" tanya salah satu ibu-ibu yang sedang berkumpul disana untuk menunggu anaknya. Karena usianya yang masih terbilang muda, ibu tiga anak itu memanggil Kalea dengan sebutan mbak. "Iya, bu," jawab Kalea seadanya dengan senyum ramah. "Mbak Kalea lagi isi?" tanya ibu yang lainnya saat matanya tak sengaja melihat perut Kalea yang terlihat sedikit menonjol. "Berapa bulan, Mbak?" Kalea tersenyum lalu tangannya mengelus perut dengan perlahan. "Iya, Bu. Baru jalan empat bulan." "Semoga sehat terus ya, Mbak. Persalinannya lancar." Mendapatkan doa seperti itu, Kalea segera mengamini-nya. Hingga percakapan tersebut berakhir karena anak didik TK Al-Fath telah berhambur keluar dengan wajah yang penuh ceria. Kalea melihat ke arah Ayya yang sedang celingukan pun melabaikan tangannya sambil tersenyum. Begitu mata bulat Ayya menemukan sosok bundanya langsung berbinar dan segera berlari. "Bunda!!" Kalea tersenyum senang melihat Ayya yang begitu riang, tubuh kecil itu langsung berhambur memeluknya. Setelah itu mencium punggung tangan Kalea dan perutnya. "Kangen Bunda," ujar Ayya dengan kembali memeluknya. Kalea terkekeh mendengarnya seraya mengusap puncak kepala Ayya yang tertutup kerudung seragam dengan sayang. "Baru juga nggak ketemu beberapa jam udah kangen. Udah, yuk. Pulang!" ajak Kalea. Ayya mengangguk lalu mengikuti langkah bundanya. "Permisi Ibu-ibu." pamitnya sebelum meninggalkan area sekolahan. Jarak sekolah Ayya dengan rumah yang di tempatinya cukup dekat hanya sekitar 1 kilometer. Tak memakan waktu banyak, mereka pun akhirnya tiba di rumah. "Ganti baju, cuci tangan sama kaki terus makan abis itu bobok. Oke!" Kalea menyuruh Ayya seperti biasanya saat pulang dari sekolah. Sedangkan Ayya—tipe yang penurut itu pun langsung berlenggang pergi untuk melakukan apa yang telah diperintahkan bundanya. Sementara Kalea pun juga melakukan hal yang sama dengan apa yang disuruhnya pada Ayya. Kalea segera memasak untuk makan siang mereka, Kalea yakin Ayya merasa lapar setelah sepulang sekolah. Dan benar, Ayya berjalan ke arahnya dengan langkah lesu. "Ayya laper, Bunda." "Sebentar, Sayang." Tak lama masakan Kalea telah matang dan menaruhnya di wadah lalu meletakkannya di meja. Hanya memasak sayur asem dan tahu-tempe goreng beserta sambal teri. "Bunda masak ini, mau?" Ayya mengangguk saja dan segera mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya. Lalu menyuapinya.   °^°   Sore harinya Kalea mengantar Ayya ke tempat pendidikan al-qur'an. Hanya beberapa meter dari rumahnya. Di usianya yang masih dihitung balita Ayya sudah iqra' 5, Kalea bangga—tentu saja. "Sayang, bunda tinggal sebentar ya? Nanti bunda jemput kalau udah selesai." Ayya langsung menggeleng kuat mendengar ucapan bundanya. "Nggak boleh." "Bentar aja." "No!" "Ya udah, bunda tungguin. Sekarang Ayya ngaji dulu sama Ustadzahnya, ya," ujar Kalea. Ayya langsung mengangguk lalu dengan langkah pelan ia pun segera mendekat ke arah ustadzahnya. Sebelum Ayya mengaji ia menoleh terlebih dahulu ke arah bundanya, memastikan bahwa bundanya itu masih ada—menunggunya. Kalea yang melihat itu pun melemparkan senyumannya dan mengangguk. Jika mengaji seperti ini, Kalea memang sering menunggu Ayya. Karena hanya memakan waktu satu jam saja, selain itu juga pada waktu seperti ini ia tak ada kegiatan seperti di pagi harinya; mengajar. Setelah semua anak didik diajarkan mengaji, mereka juga diajarkan berdoa. Agar bisa menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari. Dan Kalea lagi-lagi bangga dengan Ayya yang mudah menyerap ilmu yang diterimanya. Ia selalu mengingatnya apa yang telah diajarkan padanya. Walau terkadang harus dipancing lebih dulu. Setelah beberapa menit kemudian, acara belajar mengaji pun berakhir dengan bacaan doa khotmil qur'an. "Kita nganter barang pembeli dulu, ya?" ujar Kalea begitu mereka menaiki motor matic-nya. "Beli martabak ya, Bunda." pinta Ayya. Kalea terkekeh kemudian menjawab, "Oke!" Mereka pun segera melajukan motor matic-nya ke tempat tujuannya untuk bertemu customer. Hanya memakan waktu tujuh menit, Kalea pun telah sampai ke tempat tujuan. Kalea langsung turun dan menggandeng tangan Ayya untuk diajaknya mencari customer yang telah membeli produk yang dijualnya. "Mbak Kalea?" belum sempat Kalea menemukan sosok customer tersebut, sudah ada yang mengetahui keberadaannya. "Iya, Mbak yang pesen tas, bukan?" Kalea bertanya pada wanita yang ada dihadapannya. Customer Kalea itu mengangguk. "Iya, Mbak." Jawabnya. "Duduk, Mbak." "Maaf Mbak, telat. Tadi nungguin si kecil ngaji dulu." Customer Kalea tersenyum dan mengangguk—tanda tak mempermasalahkannya. Hal itu, membuat Kalea lega. Lalu Kalea pun duduk dan segera menyerahkannya kantong plastik warna ungu itu kepada customernya. "Harganya sesuai sama yang dipajang ‘kan, Mbak?" "Iya, Mbak." Wanita itu pun segera menyerahkan beberapa lembar uang sesuai akad sebelumnya. Jika bertatap langsung seperti ini Kalea akan free ongkos kirim, tapi jika harus melalui perantara dengan jasa pengiriman maka Kalea akan meminta tambahan untuk ongkos kirimnya. "Makasih ya, Mbak. Semoga kembali berbelanja lagi," kata Kalea tersenyum. "Iya, sama-sama. Insyallah.." Ayya yang sedari tadi diam kini bersuara—merengek. "Bunda, ayo beli martabak." Customer Kalea tersenyum lalu tangannya terulur untuk mengelus pipi Ayya. "Namanya siapa cantik?" tanya customer Kalea yang mungkin baru saja menyadari keberadaan Ayya. "Ditanyain tuh, namanya siapa?" Kalea menundukkan kepala saat Ayya mendongak. "Ayya." jawab Ayya sedikit lirih karena malu. "Salim dulu sama Tante, Sayang." titah Kalea yang langsung diindahkan oleh Ayya. "Pinternya, tambah cantik." puji customer Kalea. "Ya udah, kami pamit dulu, Mbak. Makasih sekali lagi," ujar Kalea meminta izin mengundurkan diri. Customer Kalea itu mengangguk dan tersenyum. Sesuai keinginan Ayya, Kalea pun membelikan martabak di tempat langganannya. Karena Ayya suka sekali dengan martabak. Begitu selesai mereka pun segera bergegas pulang, karena waktu akan segera adzan maghrib.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FINDING THE ONE

read
34.7K
bc

DIA UNTUK KAMU

read
39.9K
bc

Noda Masa Lalu

read
205.8K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.1K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.0K
bc

Accidentally Married

read
110.2K
bc

Air Mata Maharani

read
1.4M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook