Setelah mendapat izin dari Steve, Andhika langsung menggandeng tanganku tanpa permisi dan menarikku menjauh dari tempat Steve berdiri saat ini. Aku mengikuti langkahnya dengan ogah-ogahan. Kami berhenti tidak jauh dari tempat Steve berdiri. Sehingga aku masih dapat melihat sosoknya yang tengah memperhatikan aku dan juga Andhika yang kini berdiri di hadapapanku. Ia terus menerus memandangi kami walaupun tanpa ekspresi di wajahnya. Ia tetap tenang dan santai seperti biasanya. "Stell..." panggil Andhika ragu-ragu. "Ya?!" "Lo cantik banget malam ini," puji Andhika. Pujian klasik. Pujian yang kuharap keluar dari mulut Steve, bukan dari mulutnya. "Makasih." Aku berterima kasih padanya. Datar dan tanpa senyuman di bibirku. "Lo tau nggak, kenapa gue ngajak lo ke sini?" tanya And

