BAB 1 Bukan Lagi Pelukan Seorang Ibu
"Arka! Jangan!"
Teriakan Nadira memecah keheningan rumah mewah itu, tetapi semuanya sudah terlambat.
Brak!
Sebuah vas kristal setinggi hampir satu meter menghantam lantai hingga pecah berkeping-keping. Suara benturannya menggema memenuhi ruang keluarga. Serpihan kaca beterbangan ke segala arah, membuat seorang pengasuh yang berusaha menahan Arka menjerit ketika pecahan tajam menggores pelipisnya.
"Nona Nadira... maaf... saya tidak bisa menahannya...."
Wanita paruh baya itu mundur sambil menekan luka di dahinya. Darah tipis mengalir di sela jemarinya. Sementara itu, Arka yang baru berusia lima tahun masih berdiri di tengah ruangan dengan d**a naik turun. Wajah kecilnya memerah, matanya dipenuhi air mata dan amarah. Kedua tangannya mengepal erat, lalu kembali meraih apa saja yang berada di dekatnya.
"Aku mau robot yang besar! Aku maunya sekarang! Sekarang!"
Nadira menarik napas panjang sebelum mendekat. Meski jantungnya berdegup begitu cepat, ia tetap berjongkok hingga sejajar dengan putranya. Senyum lembut dipaksanya terbit, berharap amarah di wajah kecil itu perlahan mereda.
"Sayang, dengarkan Mama dulu, ya. Robot yang Arka mau sudah Mama pesan. Besok pagi pasti sampai."
"Aku nggak mau besok!"
Arka mendorong bahunya sekuat tenaga hingga tubuh Nadira sedikit kehilangan keseimbangan. Namun wanita itu tidak marah. Ia kembali mengulurkan tangan dengan sabar.
"Kalau Arka terus marah seperti ini, nanti Arka sendiri yang capek."
"Aku benci Mama!"
Sebuah mobil-mobilan logam melayang begitu saja.
Buk!
Benda itu menghantam pelipis Nadira. Rasa nyeri langsung menjalar, disusul darah hangat yang menetes perlahan dari kulitnya yang robek. Namun ia hanya memejamkan mata sesaat sambil menarik napas panjang.
Ini bukan pertama kalinya.
Sudah berkali-kali Arka kehilangan kendali seperti ini, dan sudah berkali-kali pula Nadira menjadi sasaran amukan putranya sendiri.
"Nona... sebaiknya saya panggil Pak Adrian...."
Belum sempat pengasuh itu bergerak, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah pintu utama.
"Apa lagi yang terjadi?"
Adrian masuk dengan wajah penuh kekesalan. Jas mahal yang masih melekat di tubuhnya menandakan ia baru pulang dari kantor. Tatapannya langsung menyapu ruang tamu yang porak-poranda; pecahan vas di lantai, meja yang bergeser, pengasuh yang terluka, hingga Nadira yang masih berusaha menenangkan Arka meski pelipisnya sendiri berdarah.
Bukannya bertanya apa yang sebenarnya terjadi, pria itu justru mengembuskan napas kasar.
"Nadira."
Wanita itu mendongak.
"Iya?"
"Apa yang sebenarnya kau lakukan di rumah?"
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada benturan mobil mainan tadi.
"Arka hanya sedang...."
"Jangan membela diri!"
Suara Adrian meninggi hingga membuat seluruh pelayan yang berada di sekitar rumah spontan menundukkan kepala.
"Setiap kali aku pulang, rumah selalu berantakan. Guru sekolah terus menghubungiku. Pengasuh berganti hampir setiap bulan. Apa kau tidak sadar ada yang salah dengan caramu mendidiknya?"
Nadira menggigit bibir pelan.
"Aku sudah mengikuti semua saran psikolog."
"Lalu kenapa hasilnya tidak ada?"
"Aku juga rutin membawanya terapi dua kali seminggu."
"Itu berarti caramu tetap salah."
Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada seorang pun yang berani menyela. Nadira hanya mengusap pelan kepala Arka yang kini mulai terisak kelelahan.
"Anak seusia Arka memang butuh proses...."
"Cukup!"
Adrian memotong ucapannya tanpa memberi kesempatan menjelaskan.
"Kau bahkan tidak mampu mengurus satu anak."
Ucapan itu membuat d**a Nadira sesak.
Lima tahun.
Sudah lima tahun ia mendengar tuduhan yang sama.
Demi Arka, ia rela meninggalkan jabatan sebagai Direktur Utama Cabang Timur Maheswara Group, perusahaan yang ia bangun dengan kerja keras sejak muda. Saat itu ayahnya sempat mencoba mencegah.
"Kau yakin? Cabang itu berkembang karena kemampuanmu."
Namun Nadira hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Adrian.
"Aku ingin melihat anakku tumbuh dengan kasih sayang orang tuanya sendiri."
Saat itu Adrian membalas genggamannya dengan penuh keyakinan.
"Percayakan perusahaan itu padaku. Aku akan menjaganya sampai kau siap kembali."
Karena percaya sepenuhnya kepada suaminya, Nadira menyerahkan seluruh operasional perusahaan. Sejak hari itu hidupnya hanya berputar di sekitar Arka. Ia membaca buku parenting hingga larut malam, mengikuti seminar tumbuh kembang anak, mengantar terapi tanpa pernah absen, bahkan mengubah seluruh pola hidup keluarganya demi membantu putranya.
Sayangnya, semua usaha itu seolah tidak pernah terlihat.
Setiap kali Arka mengamuk...
Orang pertama yang disalahkan selalu dirinya.
"Mama jahat!"
Arka kembali berteriak sebelum berlari menuju pintu depan.
Di saat yang sama, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari lorong.
"Pak Adrian?"
Seorang wanita berpenampilan rapi muncul sambil membawa beberapa map. Rambutnya disanggul sederhana, sementara senyum hangat menghiasi wajah cantiknya.
"Livia?" Nadira tersenyum tipis. "Bukannya rapat sudah selesai?"
"Tadi masih ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani Pak Adrian, jadi saya sekalian mengantarnya."
Belum sempat Nadira menghampiri sahabatnya itu, Arka yang sejak tadi menangis mendadak berhenti.
Matanya berbinar.
"Tante Livia!"
Bocah itu berlari lalu memeluk kaki Livia erat-erat.
Nadira terpaku.
Beberapa detik yang lalu Arka masih mengamuk hebat. Kini ia justru tersenyum lebar.
Livia berjongkok sambil mengusap lembut rambut Arka.
"Kenapa jagoan Tante menangis?"
"Mama jahat."
"Memangnya Mama kenapa?"
"Mama nggak mau beliin robot."
Livia terkekeh pelan.
"Kalau begitu besok Tante yang belikan, ya?"
"Benarkah?"
"Iya."
Senyum Arka langsung merekah.
"Aku sayang Tante!"
Nadira ikut tersenyum, meski ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya. Ia mencoba berpikir positif. Mungkin memang Livia lebih pandai menghadapi anak-anak. Lagi pula wanita itu sudah menjadi sahabatnya sejak masa kuliah. Tak pernah sekali pun Nadira meragukan ketulusannya.
Namun suara Adrian kembali menghancurkan pikirannya.
"Lihat? Arka langsung tenang ketika bersama Livia."
"Mungkin karena Livia jarang bertemu dengannya," jawab Nadira pelan.
"Atau mungkin..." Adrian menatap istrinya tanpa sedikit pun rasa iba. "...karena Livia jauh lebih mengerti cara memperlakukan anak dibanding ibunya sendiri."
Nadira membeku.
Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan ditancapkan ke dalam dadanya. Ia ingin membela diri. Ingin mengatakan bahwa menuruti semua keinginan anak bukanlah cara mendidik yang benar.
Namun tidak satu pun kata berhasil keluar.
Tatapannya hanya terpaku pada Arka yang kini tertawa riang dalam pelukan wanita lain.
Entah sejak kapan...
Ia merasa ada jarak yang begitu jauh dengan putranya sendiri, Padahal dialah yang mengandung Arka selama sembilan bulan.
Dialah yang mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya.
Lalu mengapa...
Pelukan wanita lain justru menjadi tempat paling nyaman bagi anaknya?
Di sisi lain, Livia menundukkan kepala agar tak seorang pun melihat senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Jemarinya terus mengusap rambut Arka dengan penuh kelembutan, sementara tatapannya dipenuhi rasa sayang yang begitu dalam.
Tatapan itu sama sekali bukan tatapan seorang sekretaris.
Melainkan...
Tatapan seorang ibu.