My Driver 9

844 Kata
Selama beberapa tahun Kevin mengabdi pada keluarga Mila, sekali pun Mila tak pernah menanyakan dimana alamat lelaki itu, hari ini Mila mengetahui alamat Kevin dari supirnya yang lain dan hari ini juga Mila membawa sendiri mobilnya menuju alamat yang sudah didapatkannya. Dari dalam mobilnya Mila menatap rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung supir tampannya. Mila keluar dari mobilnya dengan membawa sekeranjang buah yang tadi sempat dibelinya. "Permisi" Mila berdiri tepat didepan pintu. "Ya... anak ini siapa?" Ratih ibu Kevin membuka pintunya. "Perkenalkan bu saya Mila, saya mau menjenguk Kevin, benarkan disini rumah Kevin" ucap Mila. "Oh ini... ini non Mila? iya benar sekali non, disini rumah Kevin saya ibunya, mari silahkan masuk non" ucap Ratih. "Mila saja bu, tidak usah pakai non" ucap Mila. "Tapi non..." "Cukup Mila saja bu" ucap Mila lagi dengan tatapan yang penuh arti. "Baiklah non... maksud ibu Mila. Oh ya ayo masuk Kevin ada dikamarnya" ucap Ratih. "Oh ya ini bu sedikit buah buat ibu dan Kevin" ucap Mila. "Terimakasih non" ucap Ratih. Perlahan Mila membuka pintu kamar Kevin, kamar yang tidak terlalu luas ada ranjang yang hanya cukup untuk 1 orang dan lemari 2 pintu serta meja kecil yang berada disamping ranjang, tanpa ac hanya ada kipas angin kecil. Mila masuk ia melihat Kevin sedang terbaring dengan wajahnya yang terlihat pucat. Mila duduk ditepi ranjang, merasa ada pergerakan orang lain didekatnya Kevin pun membuka mata, ia kaget melihat Mila berada dikamarnya. "Mila..." ucap Kevin. "Kamu sakit apa sih?" tanya Mila seraya meletakkan punggung tangannya pada kening Kevin. "Aku baik-baik saja Mil cuma sedikit pusing dan agak demam, mungkin karena kurang istirahat akhir-akhir ini" ucap Kevin. "Sudah diperiksa dokter?" tanya Mila. "Orang seperti kami ini kalau sakit paling cuma beli obat warung Mil, gak perlulah diperiksa dokter" ucap Kevin. "Jadi belum periksa? ya Tuhan Vin... aku panggil dokter ya" ucap Mila. "Mil... gak perlu" ucap Kevin. "Aku gak terima penolakan" ucap Kevin. "Permisi... ada apa ini kok ribut?" Ratih ibu Kevin masuk kamar, membawakan secangkir teh untuk tamunya. "Ini bu Mila mau panggil dokter buat Kevin" ucap Mila. "Gak usah non, tadi Kevin sudah minum obat kok, paling sebentar lagi sudah baikan" ucap Ratih. "Ya Tuhan... ibu sama anak sama aja, pokoknya Mila tetap panggil dokter" Mila mengeluarkan iphonenya dan mencari nama dokter keluarganya. Kevin menghela nafasnya dalam melihat sikap keras kepala Mila yang kembali kumat. Dokter sudah datang dan sudah memeriksa kondisi Kevin, dan hasilnya lelaki tampan itu hanya kurang istirahat saja. Usai memeriksa kondisi Kevin dokter pun pamit pulang, kini tinggallah Kevin dan Mila dikamar itu. "Kamu gak kuliah?" tanya Kevin, lelaki itu duduk bersandar diranjangnya. "Hari ini aku mau nemenin kamu" ucap Mila seraya menyandarkan kepalanya didada Kevin dan memeluknya. "Jangan dibiasakan bolos Mil" ucap Kevin, ia membalas pelukan gadis itu sambil mengusap punggungnya. "Siapa yang bolos sih, aku kan sudah susun skripsi. Jadi tadi rencananya aku mau ketemu dosen hari ini lalu mendengar kamu sakit batal deh" ucap Mila. "Hhh kamu... makasih ya sudah tengokin aku" ucap Kevin. "Kembali kasih" ucap Mila, ia mendongak dan tanpa sengaja hidung mancungnya bertabrakan dengan bibir Kevin. Keduanya terdiam dan saling tatap, Kevin merasa kurang nyaman dengan situasinya sekarang. "Maaf" ucap Kevin, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sengaja ya..." goda Mila. "Gak sengaja Mil, maaf" ucap Kevin lagi. "Sengaja juga gapapa" goda Mila lagi. "Kenapa sekarang kamu terlihat semakin centil sih, iya kamu centilnya sama aku, kalau sama orang lain sudah ditelan kamu Mil" omel Kevin. "Kamu telan aku sekarang juga gapapa" goda Mila lagi seraya mengusap d**a bidang Kevin. "Ya Tuhan Milaaaa..." geram Kevin. Mila tertawa puas karena berhasil menggoda sang supir, namun tawa Mila seketika terhenti bibirnya dibungkam Kevin dengan ciumannya. "Kamu kan yang minta" ucap Kevin setelah melepaskan ciumannya. "Aku penasaran dengan bibirmu supir tampanku" ucap Mila, ia meraih tengkuk Kevin dan terciptalah sebuah lumatan dan pagutan panjang. Keduanya saling tatap usai ciuman panjangnya dan saling mengusap bibirnya yang basah. "Sepertinya kamu masih pemula, ciumanmu masih terlalu buruk Mil" ucap Kevin dan membuat wajah Mila memerah. "Apa sangat terlihat" ucap Mila. "Ya. Mau aku ajarin bagaimana ciuman yang bagus?" goda Kevin. "Sialan... enak di kamu dong" omel Mila. "Kamu yang memnacingku" ucap Kevin dan dengan lancangnya Kevin kembali meraih tengkuk Mila melumat habis bibir majikannya itu. Bukan hanya bibir Mila yang menjadi sasarannya, kini ciuman Kevin sudah beralih ke leher dan pundak mulus Mila yang terekspose. "Vin..." tegur Mila. "Ini akibatnya, kamu memancingku" bisik Kevin. "Jangan berbuat lebih" bisik Mila. "Rapikan pakaianmu pulanglah dan maafkan aku" ucap Kevin, ia mengecup punggung tangan Mila. "Diantara kita memang gak ada apa-apa, tapi... jujur aku menikmatinya" ucap Mila. Kevin menaikkan satu alisnya saat mendengar ucapan Mila tersebut. "Apa ini artinya kita bisa mengulang kembali?" tanya Kevin. "Itu kalau kamu memang bernafsu padaku" ucap Mila. "Lelaki mana yang gak bernafsu padamu seksi" seakan lupa dengan sakitnya Kevin menarik Mila hingga jatuh ke pangkuannya. "Vin..." "Kamu sudah memberikan ijin padaku maka jangan salahkan aku kalau aku berbuat sesukaku" ucap Kevin. "Kita bisa lanjutkan ini besok, cepat sehat dan aku tunggu keganasanmu" bisik Mila. "Kamu benar-benar panas sayang" bisik Kevin. "Aku pulang" ucap Mila, ia mengecup bibir Kevin sebelum pergi meninggalkan kamar itu. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN