My Driver 13

866 Kata
Mattew sudah mencium kedekatan putrinya dengan sang supir, meskipun ia tau tak ada hubungan apa-apa diantara keduanya namun ia tetap saja tidak menyukai keakraban yang terjadi antara putrinya dan sang supir. "Ikut ke ruang kerja saya Vin" ucap Mattew. "Ya pak" ucap Kevin. Kevin dan Mattew sudah berada diruang kerja dirumahnya, Mattew duduk dikursinya sementara Kevin masih berdiri. "Duduklah, ada yang ingin saya bicarakan" ucap Mattew. "Ada apa pak? apa saya membuat kesalahan? atau kerja saya kurang baik?" tanya Kevin. "Ini bukan tentang pekerjaan kamu Vin, tapi ini tentang kamu dan Mila" ucap Mattew, ia menatap Kevin. "Ada apa dengan saya dan non Mila pak?" tanya Kevin gugup, ia khawatir bosnya mengetahui apa yang sudah dilakukannya dan Mila. "Orang kepercayaan saya melaporkan mengenai kedekatan kamu dan Mila, jujur Vin saya kecewa padamu, saya mempekerjakan kamu disini untuk menjaga dan mengantar jemput putri saya bukan untuk memacarinya" ucap Mattew, ia menatap tajam Kevin. "Maaf pak tapi kami tidak pacaran" ucap Kevin. "Kalian memang tidak pacaran, tapi kedekatan kalian sudah menjurus ke arah sana dan saya tidak menyukainya, siapa kamu? kamu hanya supir, gak pantas kamu bersanding dengan putri saya" geram Mattew. "Saya tau itu pak dan saya sangat sadar" ucap Kevin. "Bagus kalau kamu tau diri, sekarang tanda tangani ini, mundur dari pekerjaan ini dan jauhi putri saya" Mattew menyodorkan sebuah surat pernyataan pengunduran diri yang sudah ia siapkan. "Tapi pak..." "Saya akan berikan pesangon dengan syarat, berhenti dari pekerjaan ini... dan menjauhlah dari kota ini, jangan muncul dihadapan Mila lagi" ucap Mattew. "Saya..." "Tanda tangan Kevin" geram Mattew. Dengan sangat terpaksa akhirnya Kevin menandatangani surat pernyataan pengunduran dirinya. "Maafkan aku Mil" ucap batin Kevin. --- Pagi ini Mila membawa mobilnya sendiri menuju kediaman Kevin, Kevin beralasan absen karena menjaga sang ibu yang sedang sakit hari ini. "Vin... ibu..." panggil Mila dari depan pintu. "Masuk" ucap Kevin begitu ia membukakan pintu. "Ibu sakit apa?" tanya Mila. "Gapapa kok, katanya cuma pusing" ucap Kevin, ia mengusap pipi Mila seolah tak mau kehilangan gadis itu. "Boleh aku lihat?" tanya Mila. "Iya silahkan" ucap Kevin. "Eh iya nih tadi aku beli bubur ayam dijalan" Mila memberikan kantong plastik yang dibawanya. "Thanks ya" ucap Kevin, ia memeluk Mila dengan erat. "Iya sama-sama kamu kenapa sih?" tanya Mila. "Aku hanya merindukanmu" ucap Kevin. "Hhh... ya udah sana masukkan ke piring buburnya, biar dimakan sama ibu" ucap Mila. "Oke cantik" ucap Kevin. Mila memasuki kamar Ratih ibu Kevin, dan terlihat perempuan itu tengah terbaring dengan mata terpejam. "Bu..." panggil Mila pelan. "Eh Mila..." Ratih membuka matanya pelan dan berusaha bangun. "Jangan bu, biar ibu berbaring saja, ibu sakit apa?" tanya Mila. "Gapapa nak, tadi cuma pusing sedikit, tapi sekarang sudah gapapa" ucap Ratih. "Perlu Mila panggilkan dokter bu?" tanya Mila. "Gak perlu nak, ibu hanya perlu tidur sekarang" ucap Ratih. "Yakin?" tanya Mila. "Gak usah maksa deh, ibu bilang gapapa" ucap Kevin yang baru masuk, ia membawa semangkok bubur dan teh hangat. "Ya sudah, sekarang ibu makan dulu ya setelah itu boleh lanjut tidur, ayo biar Mila suapi" ucap Mila, ia mengambil bubur tersebut dari tangan Kevin. "Tapi nak..." "Ayo buka mulutnya" paksa Mila dan dengan segan Ratih membuka mulutnya menerima supan dari majikan putranya. Kevin terus menatap Mila yang menyuapi Ratih, ia yakin saat ini hatinya sudah tertambat pada gadis itu, tapi apa daya ia tak mampu menggapainya, belum lagi ia menyuarakan isi hatinya langkahnya sudah dicegat Mattew yang menginginkan dirinya menjauhi Mila. Setelah menghabiskan buburnya Ratih meminum obat yang biasa ia konsumsi dan tak lama obat tersebut bekerja hingga rasa kantuknya datang. Mila dan Kevin sudah keluar dari kamar Ratih membiarkan perempuan itu beristirahat. "Ayo kita makan" ucap Kevin. "Makan aku ya?" canda Mila. "Kalau serius aku mau makan kamu gimana" goda Kevin. "Ih kamu" tawa Mila seraya mencubit perut Kevin. "Kita ke kamar" Kevin menarik Mila dan membawa perempuan itu ke kamarnya. Keduanya berdiri didepan cermin menatap pantulan bayangannya, Kevin memeluk Mila dari belakang dan menyandarkan dagunya dibahu Mila. "Apa masih berlaku tawaran kemaren?" bisik Kevin. "Tawaran apa? yang mana?" tanya Mila yang pura-pura tidak mengerti. "Aku menginginkanmu" bisik Kevin. "Kenapa tiba-tiba kamu berubah? bukankah kamu bilang tidak ingin merusakku" ucap Mila gugup, ia tak menyangka Kevin akan berkata seperti itu. "Mila... entah kapan hari apa tanggal berapa aku gak tau, perasaan ini tumbuh dengan sendirinya dan tadi malam aku baru merasakannya, aku baru mengetahui kalau perasaan yang aku punya buat kamu itu adalah cinta" ucap Kevin. "Vin... aku..." "Aku sadar aku tau diri Mil kita jauh berbeda, aku hanya supir dan kamu majikanku, gak perlu kamu membalas cinta ini, aku hanya ingin kamu tau perasaan itu yang aku punya buat kamu" ucap Kevin. "Maaf... sejauh ini aku gak merasakan apapun padamu Vin, rasaku hanya sebatas rasa sayang" ucap Mila. "Gapapa" Kevin tersenyum. Kevin mendaratkan bibirnya di bibir Mila, dimulai dengan cumbuan ringan hingga memanas. Pakaian keduanya sudah terlempar, Mila pun sudah terbaring di atas ranjang sederhana Kevin, kegiatan terlarang tersebut telah terjadi Mila memberikan mahkotanya pada Kevin, mahkota yang seharusnya ia peruntukkan pada suaminya nanti kini telah ia serahkan suka rela pada sang supir. "Maafkan aku" Kevin memeluk erat Mila usai menyirami rahim gadis itu dengan spermanya. "Gak ada yang perlu dimaafkan Vin, kita melakukannya atas dasar suka sama suka" Mila tersenyum. Mila masih bisa menebarkan senyumnya saat ini, ia belum mengetahui rencana apa selanjutnya yang akan dilakukan Kevin. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN