Riyana terdiam sambil bersedekap d**a, berdiri disebelah jendela dengan pandangan lurus kearah halaman depan Kantor perusahaan milik Reyhan. Sinar matahari menerpa wajahnya dari arah timur, bersamaan dengan kicauan burung yang saling bersahutan, membuat Riyana tersenyum tipis.
Pagi tadi, Riyana mendengar bahwa Reyhan akan melakukan kerja sama bisnis dengan perusahaan lain, tidak heran jika hari ini Kantor terlihat ramai sekali. Riyana melirik jam tanganya, ternyata waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
Riyana membenarkan seragam sekolahnya sambil beranjak menjauhi jendela. Ketika dia berbalik, ternyata sudah ada Riyan yang berdiri didekat pintu dengan seulas senyuman. Tidak mau berlama-lama, Riyana pun segera meraih ranselnya dan berjalan mendekati Riyan.
"Maaf ya, pagi ini kita ngga sarapan." Ujar Riyan sambil melirik Riyana yang berjalan disebelahnya.
"Santai, kak. Riyana bisa sarapan di sekolah."
Keduanya berjalan menuruni tangga. Beberapa orang memandang mereka dengan bingung, tidak biasanya kedua adik Reyhan ada di Kantor pagi-pagi begini. Tepat ketika melintasi pintu utama, Reyhan datang dan berdiri tepat didepan kedua adiknya. "Mau berangkat? Ada uang jajan emang?" Tanya lelaki itu.
Riyana menyengir lebar. "Udah nih, nanti dikasi sama Kak Iyan."
"Lah, duit darimana?" Sahut Riyan, membuat Reyhan yang mendengarnya lantas tertawa. Dia kemudian memberikan kedua adiknya beberapa lembar uang, lalu pamit pergi karna sebentar lagi Meeting akan segera dimulai.
Riyana masuk kedalam mobil bersama dengan Riyan, memakai Safetybelt lalu bermain ponsel. Waktu semakin berjalan dengan cepat, Riyan pun segera melajukan mobilnya menuju SMA Rajawali, tempatnya Riyana menempuh pendidikan.
Hanya menghabiskan waktu 20 menit, Riyan pun menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang sekolah. Sebelum pergi, Riyana sempat menyalimi tangan Riyan kemudian keluar dari dalam mobil dengan senyum yang merekah.
"Semangat kuliahnya, Kak Iyan!" Seru Riyana sambil melambaikan tangan, dan hanya dibalas ancungan jempol oleh sang kakak.
Mobil yang dikemudikan Riyan pun melaju pergi, bersamaan dengan senyum Riyana yang semakin pudar. Sekuat apapun ia memaksakan diri untuk tersenyum, nyatanya hal itu semakin menyakiti relung hatinya.
Riyana menghela nafas dan masuk kedalam sekolah. Saat melintasi lapangan, dia bertemu dengan Pia, teman sebangkunya yang menjabat sebagai Bendahara di kelas. "Kenapa Lo? Datar banget tuh muka kaya layar hp." Celetuk Pia, gadis itu menatap wajah Riyana dengan seksama.
Belum sempat menjawab, Riyana terdiam ketika merasa sebuah tangan merangkul bahunya. Riyana tidak terkejut apalagi menoleh, pelakunya cuma dua, jika bukan Kevin ya pasti Sadewa.
"Hello, Kutub. Bisakah kamu bicara? Jangan diem mulu kaya orang bisu." Sapa Pia kepada Kevin, dan seperti biasa ucapanya tidak akan mendapat sahutan.
Riyana tersentak saat Kevin menarik tubuhnya untuk pergi. Dari kejauhan, Riyana bisa meramal bahwa Pia saat ini pasti sudah emosi jiwa, memang Kevin ini kadang halal untuk dibuang ke luar Angkasa, dan menjadi Astronot disana.
"Bisa ngga sih, kamu ngomong dulu kalo mau pergi depan muka orang? Kaya dunia punya kamu aja." Riyana memutar matanya dengan malas lalu menjauhkan tangan Kevin yang merangkul bahunya.
"Jalan ngga boleh ngomong." Sahut Kevin, membuat Riyana menggeleng heran. Jika saja Kevin bukan kekasihnya, atau Kevin berubah menjadi Sadewa, rasanya tangan Riyana sudah siap untuk meninju wajah lelaki itu.
Keduanya melangkah beriringan tanpa sepatah katapun. Saat sampai didepan kelas XII IPA 1, Kevin menghentikan langkahnya dan mencekal tangan Riyana yang hendak pergi. "Pam-
"Pamitan sama pacar adalah kewajiban pacar." Riyana menyela ucapan Kevin, dia sudah tau kalimat kebangsaan milik kekasihnya yang harus diucapkan sebelum Riyana masuk kedalam kelas.
Senyum Kevin terbit, dia mengusap rambut Riyana lalu mencium dahi gadis itu sejenak. "Nanti istirahat, jangan pergi sebelum gue dateng ya." Ujar Kevin. Riyana mengangguk dengan malas lalu memandang Kevin yang berjalan pergi menuju kelasnya.
"BAYAR UANG KHAS LO SEMUA, NJING!"
Teriakan Pia menyambut kedatangan Riyana di kelas. Pia terlihat depresi didepan papan tulis, berdiri membawa penggaris, dengan d**a yang naik turun. Riyana duduk dibangkunya lalu melirik Sadewa yang duduk dibelakang.
"VANYA, BAYAR UANG KHAS LO CEPETAN! PERCUMA BARANG LO GUCCI, TAPI UANG KHAS BOLONG SATU BULAN!" Pia masih kuat berkoar-koar didepan sana, sedangkan Riyana hanya duduk dan menyaksikan teman-teman kelasnya yang mulai berbaris untuk membayar tagihan kelas.
"Nah gini dong, bayar sesuai waktu. Coba deh Lo rajin bayar uang khas sama gue, dijamin deh utang Lo yang tinggi semakin pendek, dan Lo yang pendek bisa nambah tinggi." Celetuk Pia ketika temannya yang bernama Ateng mendekat dan memberikannya uang.
"Sadewa Maharaksa, yang badanya segede raksasa. Duit mana duit?" Tanya Pia, matanya melirik ke arah Sadewa yang ternyata sedang tidur.
Riyana yang posisinya dekat dengan Sadewa lantas menyahuti. "Sadewa mah tetep tidur sampe jadi Mumi."
Riyana pun berdiri dan memberikan uang kepada Pia. "Kalo duitnya masih sisa, biar gue yang bayarin Sadewa." Ujarnya.
Pia mengangguk. "Sadewa k*****t, heran gue dia itu tidur atau mati sih."
Keadaan kelas kembali ricuh ketika Pia pergi keluar bersama dengan buku keramatnya, alias catatan hutang para masyarakat XII IPA 1. Masih ada 1 jam lagi sebelum Pak Acim datang dan mengajar di kelas, maka dari itu Riyana memutuskan untuk membangunkan Sadewa.
"Lah kemana perginya tu jigong?" Tanya Riyana ketika tidak mendapati keberadaan Sadewa dibangku belakang. Saat dia menoleh ke kanan, ternyata lelaki itu sudah duduk dimeja Vanya sambil menulis.
Riyana bangkit dan menghampiri Sadewa. "Sa, anter gue ke Kantin yuk."
"Gue lagi nyalin PR. Noh si Ateng lagi boring, sama dia aja." Sadewa menjawab tanpa memandang Riyana, lelaki itu sedang sibuk bertempur dengan buku dan pulpennya.
Riyana menghela nafas, dari pada ditemani Ateng, lebih baik dirinya pergi sendiri saja. Riyana pun berjalan meninggalkan kelas dengan wajah sebal, gadis itu berniat akan pergi ke Lapangan Basket untuk melihat Kevin yang berlatih disana, ketimbang pergi ke Kantin sendirian seperti seorang jomblo karatan.
Riyana menuruni tangga dengan langkah gontai. Tepat dibelokan tangga, dia bertemu dengan Ferra, teman satu kelasnya Kevin yang jago bela diri. Riyana tersenyum canggung, begitu pun dengan Ferra. "Lo darimana?" Tanya Riyana, basa basi.
"Habis dari parkiran, ambil baju karate. Lo mau kemana?"
Riyana menyelipkan rambut kebelakang telinganya. "Ngga tau sih mau kemana, yang jelas pengen minggat aja dari kelas."
Ferra mengangguk, kemudian pamit pergi. Riyana pun kembali menuruni tangga, dan saat baru saja melewati lapangan utama, gadis itu menghentikan langkahnya sebab ponselnya yang tiba-tiba berdering.
Senyum kecil terbit diwajah Riyana, ketika mengetahui bahwa ponselnya berdering karna mendapatkan notifikasi penting. Hari ini, adalah Anniversary pernikahan Ayah dan Bunda. Seketika niat Riyana yang hendak menemui Kevin lenyap seketika, gadis itu pun berjalan pelan kearah Taman belakang sekolah yang berada didekat Ruang Guru.
Hening menyambut kedatangan Riyana, gadis itu duduk kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi. Tiba-tiba saja, memori buruk ketika perceraian Ayah dan Bunda kembali berputar dalam pikiran Riyana, detik-detik bagaimana dia merasakan sesuatu yang menusuk hatinya.
Riyana lantas menghela nafas. "Ayah Bunda, ini Anniversary yang terakhir ya? Kita ngga akan ngerayain ini lagi?"
Riyana memejamkan matanya. Dia mengenang masa-masa indah ketika Ayah dan Bunda masih menyayanginya, momen bagaimana Ayah yang selalu siap memberikan pundaknya untuk Riyana bersandar, masa dimana Bunda yang selalu menggenggam tanganya disituasi apapun.
Panutannya telah hilang, malaikatnya telah pergi. Bisakah Riyana kembali ke masa lalu?
"Ayah Bunda, apa ngga ada lagi kisah buat kita? Ini udah terakhir banget ya?" Riyana merasakan matanya memanas, dia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Sungguh, sedikitpun Riyana tidak pernah membayangkan bahwa keluarganya akan mengalami hal menyakitkan seperti ini.
"Riyana masih perlu Ayah dan Bunda.."
Suara isakan terdengar memenuhi area taman, air mata itu pun menetes tanpa bisa Riyana tahan. Sakit sekali, semesta seolah mengatakan bahwa Riyana bukanlah orang yang pantas mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Usapan apapun dan senyuman manapun, belum bisa Riyana rasakan layaknya seorang anak.
"Tolonglah pulang, disini masih ada seseorang yang menunggu Ayah dan Bunda kembali."
Sebuah sapu tangan terulur, Riyana mendongak dan menatap Sadewa yang berdiri dihadapannya. Alih-alih menerima sapu tangan itu, Riyana malah semakin terisak. Sadewa mengernyit bingung kemudian berjongkok dihadapan Riyana.
"Kenapa, hm?" Tangan Sadewa terangkat untuk mengusap air mata Riyana yang bercucuran.
"Gue kangen sama Ayah dan Bunda, Sa."
Sadewa tersenyum tipis, dia duduk disamping Riyana lalu menarik gadis itu untuk bersandar pada bahunya. "Lo tau ngga, Papa gue pernah bilang. Ada masa dimana Tuhan ngasih kita rasa sakit, memberikan luka perih dihati para pemujanya. Lo tau karna apa?"
Riyana menggeleng.
"Karna Tuhan cuma mau tau, kuat ngga sih manusia ini? Seberapa besar sih kepercayaannya dia pada Tuhan? Lo pasti pernah denger pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian."
Sadewa memposisikan Riyana untuk berhadapan dengannya, kemudian memberikan senyuman tulus untuk gadis itu. "Sama seperti kehidupan, sesakit apapun Lo saat ini, itu akan tergantikan dengan kebahagiaan yang abadi. Dengan Lo ngeluh begini, apa Tuhan ngga kecewa karna pengikutnya ternyata ngga sekuat yang dia mau?"
Riyana terdiam cukup lama, meresapi tiap kata yang terlontar dari mulut Sadewa. "Ketimpa sepatunya Pak Acim Lo? Ngga biasanya ngasih gue wejangan begini."
"Terserah Lo mau ngomong apa, yang jelas." Sadewa menghela nafas. "Gue bakal jadi lilin buat Lo, gue bakal ngehabisin diri sendiri demi menjadi cahaya buat hidup Lo."
Riyana tertegun. Jujur saja, apapun yang diucapkan Sadewa itu memang memiliki kekuatan yang dasyat, kekuatan dimana dalam hitungan detik Riyana bisa kembali menjadi sosok yang mampu menerima apa yang telah diselipkan dalam hidupnya.
"Iya, Sa. Tapi bisa ngga Lo ngomongnya jauh dikit dari muka gue? Masalahnya jigong Lo muncrat dimana-mana."
Antara malu dan kesal, Sadewa baru sadar bahwa semakin banyak dia bicara maka semakin maju wajahnya, dia reflek menjauhkan diri lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Dasar anak setan, dikasi wasiat bukanya bilang makasih malah ngomongin jigong."
Riyana tertawa. "Dasar Lo bulu babi."
.
.
.
Jam pulang telah tiba, para murid SMA Rajawali terlihat berlarian menuju gerbang sekolah. Riyana berjalan ditemani Kevin dan Sadewa menyusuri lorong sekolah, cuaca hari ini cukup panas tidak seperti kemarin.
Ketiganya berpisah di gerbang sekolah, sebab Kevin dan Sadewa harus mengambil motor mereka yang ada di Parkiran. Sambil melambaikan tangan, Riyana memandang kekasih dan sahabatnya yang berjalan kian menjauh, kemudian melanjutkan langkahnya keluar sekolah.
"Kak Iyan dimana dah.." Gumam Riyana, dia berdiri dihadapan Post Satpam sembari meluaskan pandangan, mencari sosok Riyan yang sama sekali belum terlihat keberadaanya.
Karna menyadari kakaknya belum datang, maka Riyana segera mengeluarkan ponselnya, berniat akan menelfon Riyan. Namun pergerakannya berhenti saat Riyana tak sengaja melihat mobil Ayahnya berhenti didepan gerbang sekolah, seulas senyuman terbit dibibir gadis itu.
"Ayah dateng?" Riyana hendak menghampiri sang Ayah yang berada diseberang jalan, namun langkah itu terpaksa berhenti ketika Riyana melihat seorang gadis mendekati Ayahnya, gadis yang berseragam sama seperti dirinya.
"Anggita?" Dengan mata memicing, Riyana berusaha mengenali wajah dari gadis yang kini sedang mengobrol dengan Ayah. Dan benar saja, dia adalah Anggita. Tanpa membuang banyak waktu, Riyana pun menghampiri Ayahnya, masih dengan senyuman yang dipertahankan.
"Hay, Ayah!" Sapa Riyana, dia baru menyadari bahwa ada seorang wanita yang ternyata berdiri disebelah Anggita.
"Siapa Lo?" Tanya Anggita. Gadis dengan jaket hitam penuh logo itu, nampak tidak menyukai akan kedatangan Riyana.
Wanita yang berdiri disebelah Anggita lantas bersuara. "Mas Bara, dia siapa?"
"Aku anaknya-
"Dia anak tetangga aku." Bara menyela dengan cepat. Lelaki itu tak ingin menatap mata putrinya yang sekarang sudah berkaca-kaca.
Riyana terdiam beberapa saat. Hanya empat kalimat, dan itu sukses membuat hatinya berdenyut sakit. Sekuat mungkin Riyana berusaha menahan air matanya yang siap akan luruh dalam sekali kedipan, gadis itu lantas menyentuh dagu Ayahnya, membuat tatapan keduanya bertemu.
"A- aku anak Ayah." Ucapan Riyana terdengar penuh penekanan, meskipun dia berbisik namun Bara masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Ayo kita pulang, Pa. Panas banget nih." Ujar Anggita, membuat Riyana seketika menoleh dengan tatapan tak percaya.
"Hah, Papa? Jelasin sama aku Ayah, kenapa Anggi manggil Ayah dengan sebutan Papa?" Riyana mengguncang bahu Ayahnya, namun sama sekali tak ada jawaban.
Riyana relfek tertawa, bersamaan dengan air matanya yang kembali menetes. "Ayah, ini baru kemarin loh kalian mutusin buat berpisah, Ayah sama Bunda aja belum sepenuhnya sah bercerai, dan Ayah udah bawa keluarga baru?"
"Luka ini masih basah, Ayah."
Riyana berujar dengan nada bergetar, masih tetap bersikeras menahan tangis meskipun air matanya tetap saja bercucuran. Katakan, kenapa sesakit ini untuk menjadi seorang Riyana? Apa Tuhan benar-benar yakin dengan ujian yang harus dia jalani saat ini?
Riyana mengusap air matanya, lalu melirik Anggita yang berdiri tidak jauh dari posisinya. "Anggi, jaga rumah gue baik-baik ya. Gue harap, Ayah gue bisa menjadi sosok berbeda buat Lo."
Anggita nampak bingung, dia memandang Bara dan juga Riyana secara bergantian. "Pa, Riyana ada hubungan apa sih sama Papa?" Tanya gadis itu.
Riyana menatap sang Ayah, hati kecilnya berharap bahwa Ayahnya akan mengatakan jika Riyana adalah Putri satu-satunya dari keluarga Bratadikara. Namun semua itu hanya hayalan semata, Ayah malah terdiam tanpa mau membuka suara.
Dengan d**a yang penuh rasa sesak, Riyana menampilkan senyum terbaiknya lalu menjawab. "Gue anak tetangganya."
Riyana berbalik pergi. Dadanya semakin terasa sesak sebab ia memaksakan untuk tidak terisak, sulit rasanya jika hidup seperti ini. Malas jika selalu mengeluh, sebab hal itu bukanlah jalan yang bisa merubah kehidupan Riyana menjadi sedia kala.
Riyana mendengar suara klakson mobil, dan ternyata Riyan baru saja datang dengan mobil yang sama seperti tadi pagi. Riyana harap kakaknya tidak melihat keberadaan Ayah disini, sebab dia juga tak mau jika nanti rasa sakit yang sama akan berlaku bagi Riyan juga.
Riyana masuk kedalam mobil, melempar ranselnya kebelakang lalu duduk meringkuk membelakangi Riyan. Munafik jika Riyana mengatakan dia masih baik-baik saja, buktinya hanya dengan melihat senyum Riyan tadi, tangis Riyana langsung tak tertahan dan memilih untuk menangis tanpa suara.
Ditempat yang sama, Riyan cukup bingung melihat adik perempuannya yang tiba-tiba menangis. Namun tidak perlu diragukan lagi, jika bukan karna Bunda pasti Riyana bertemu dengan Ayah, hanya mereka yang selalu membuat Riyana menangis.
Riyan mengusap rambut Riyana yang posisinya masih membelakangi dirinya. "Ingat ya, kamu ngga pernah sendiri. Kak Iyan bisa kok gantiin posisi Bunda, Kak Rey juga bisa jadi Ayah buat kamu. Jangan sedih-
"Tapi ya tetep aja hati aku sakit, kak. Ini hati, kalo disakitin terus menerus ya bakal hancur." Riyana memejamkan matanya, berusaha untuk berhenti menangis.
Tak ada lagi percakapan yang terdengar setelah itu, Riyan pun segera melanjukan mobilnya. Padahal hari ini lelaki itu ingin mengabarkan pada Riyana bahwa sekarang mereka telah mempunyai rumah, namun melihat wajah adiknya seperti ini, rasanya kabar gembira itu tidak sepenuhnya terdengar bahagia.
Mobil Riyan berhenti didepan sebuah rumah yang didominasi cat berwarna biru, bangunan bertingkat dua dengan bagasi luas yang terletak disebelah kanan. Riyana tidak kaget melihatnya, gadis itu pun keluar dari dalam mobil dan membuka gerbang, memberikan jalan agar mobil mereka bisa segera masuk.
"Gimana rumahnya? Bagus kan?" Tanya Riyan, lelaki itu muncul sambil membawa ransel Riyana yang disampirkan dibahu kanannya.
Riyana menatap kesetiap sudut rumah, lalu mengangguk dan tersenyum. "Rumahnya warna biru, pasti pilihan Kak Iyan ya?"
"Asal kamu tau ya, ini rumah kaya pelangi. Didepan warnanya biru, dibagasi cat-nya warna abu-abu karna itu warna favoritnya Kak Rey." Riyan berjalan menuju pintu, sedangkan Riyana masih terdiam pada posisinya.
"Kalo didalem rumah, warnanya Pink sesuai warna kesukaannya Riyana."
Riyan membuka pintu rumah, dimana membuat Riyana tak bisa menahan senyuman. Benar saja, ketika pintu dibuka, dia bisa melihat didalam sana warna pink sudah mendominasi. Riyana berlari memeluk Riyan lalu berujar. "Rumahnya lawak banget."
Keduanya pun memasuki rumah baru mereka. Riyana mengedarkan pandangannya, memandang tiap satu persatu sudut rumah yang bisa dibilang tidak begitu mewah dibanding rumah milik keluarga Bratadikara.
Cukup lama duduk disofa, Riyana mendengar suara derap langkah. Ternyata Reyhan datang, lelaki dengan tubuh berbalut jas hitam itu, melempar tas kerjanya lalu duduk disebelah Riyana yang sedang bermain ponsel, jangan tanya Riyan kemana karna dia sudah hilang duluan untuk memasak makan siang.
Riyana berdiri dan memijat bahu Reyhan. "Ini rumah berasa kek pelangi." Cibir lelaki itu.
Riyana tertawa mendengarnya. "Masih mending, daripada kalo Kak Rey yang pilihin rumah, bisa disebelah kuburan."
Baru saja hendak menjawab, Reyhan sudah lebih dulu terbatuk, lelaki itu kemudian bersin-bersin. Alih-alih untuk membantu, Riyana kembali tertawa melihatnya. "Gini amat punya adik, dia itu masak apa mau bunuh orang sih? Goreng bumbu baunya sampe nyekik begini."
Reyhan lantas berdiri dan berjalan keluar dari rumah, Riyana berniat akan naik ke kamarnya untuk segera ganti baju, namun hal itu ter-urung sebab dia melihat seseorang sedang berdiri didepan pintu rumah dan berhadapan langsung dengan Reyhan.
"A- ayah?" Gumam Riyana. Seulas senyumnya terbit, dan gadis itu langsung berlari menghampiri Ayahnya tanpa ingat apa yang terjadi saat bertemu didepan sekolah beberapa menit yang lalu.
Tangan Riyana merentang dan hendak memeluk Ayah, namun tubuhnya malah didorong dengan kasar oleh pria itu. Tubuh Riyana terhuyung kebelakang, Reyhan yang berada tak jauh pun reflek menahan tubuh Riyana agar tak jatuh.
"Ayah, ayo masuk." Ujar Riyana. Gadis itu hendak menyentuh tangan Ayahnya, namun malah ditepis dengan kuat.
Ayah memandang Riyana cukup lama, kemudian berkata. "Bisa ngga, kamu berhenti manggil saya Ayah? Berhenti ganggu hidup saya, kalo bisa kamu jangan muncul didepan saya."
Kembali lagi, Ayah membuat air mata Riyana ingin menetes. Dengan wajah miris menahan tangis, dia bersuara. "Riyana ini anak Ayah, Riyana punya hak ketimbang Anggita yang belum apa-apa udah manggil Ayah Papa!"
"Sekeras apapun Ayah nutupin fakta, nyatanya bagi semesta, Riyana tetep anak Ayah. Darah Ayah dan Bunda mengalir disini, apa itu kenyataan yang salah?" Riyana maju selangkah, menatap Ayahnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Reyhan masih menonton dibelakang, bahkan Riyan saja sudah berdiri didekat pintu entah sejak kapan.
Riyana tertawa sejenak, lalu mengangguk. "Aku udah ngga pantes lagi ya jadi anak Ayah? Sebenernya Riyana ini salah apa? Kenapa tiba-tiba Ayah benci sama aku?"
"Kamu ngga ada salah, tapi saya yang salah karna mempunyai anak seperti kalian. Anak yang membawa kesialan dikeluarga saya, dan anak yang tidak pantas saya banggakan sebagai penerus dari keluarga Bratadikara." Tatapan Ayah terlihat begitu tajam, memandang lurus kearah putrinya yang terlihat menahan tangis.
Riyana merasa dadanya terasa perih, ucapan Ayah seperti sebuah pedang yang menusuk hatinya. Gadis itu menoleh saat merasa sebuah usapan lembut dibahunya, Riyan datang dan tersenyum pada Riyana, sebuah senyuman yang terlihat begitu mengisyaratkan betapa hancur hati laki-laki itu.
Riyana menghembuskan nafas panjang. "Andai dikehidupan sebelumnya, Riyana bisa memilih kehidupan sendiri. Riyana ngga akan pernah mau Tuhan menempati aku dikeluarga Bratadikara, keluarga yang sama sekali tidak memperlakukan anaknya sebagaimana mestinya."
Reyhan melangkah maju, berdiri disebelah Riyana dan menggenggam tangan gadis itu dengan kuat. "Kalo kedatangan Ayah cuma buat memutuskan hubungan, silahkan pergi. Kami, sudah siap hidup tanpa bisa memanggil Ayah dan Bunda lagi. Pergilah, temui kebahagian Ayah dan tinggalkan kami yang pernah menjadi alasan Ayah pulang."
Air mata Riyana luruh mendengar ucapan Reyhan, hatinya terasa benar-benar sesak melebihi apapun. Dengan sorot mata yang penuh rasa sakit, Riyana masih menatap Ayahnya meskipun Reyhan dan Riyan sudah memilih untuk masuk kedalam rumah, meninggalkan Riyana dengan Ayah berdua.
"Ayah, jika ini memang kisah terakhir kita. Bisa pelukan itu Riyana rasakan lagi? 5 tahun Ayah ngga pernah peluk Riyana, apa ini yang menjadi penutup kisah kita?"
Permintaan Riyana tidak dipedulikan oleh Ayah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik pergi meninggalkan Riyana sendiri, meninggalkan Putrinya yang berdiri dengan harapan akan dekapannya masih berlaku.
Riyana mengangguk pelan, menatap kepergian Ayahnya dengan senyuman lebar meskipun air matanya sudah luruh. "Inget kata Sadewa, ini adalah ujian untuk menjadi orang yang kuat."
Gadis itu lantas berjalan masuk kedalam rumah lalu menutup pintu, mengambil ranselnya dan pergi begitu saja meninggalkan Reyhan yang termenung disofa. Sambil menaiki tangga, Riyana berbisik dengan yakin.
"Terimakasih, Ayah. Terimakasih sudah menjadi panutan yang baik selama 18 tahun Riyana ada di Bumi. Kali ini, biar Riyana sendiri yang menjadi panutan untuk untuk diri ini."