bc

TANGISAN RIYANA

book_age16+
18
IKUTI
1K
BACA
revenge
family
fated
tragedy
mystery
highschool
school
tortured
tricky
surrender
like
intro-logo
Uraian

Kalimat membenci demi melindungi ternyata memang ada. Awal kisah seorang Riyana Bratadikara bermula, ketika dia harus menerima kebencian yang kerap diberikan oleh sekumpulan orang yang ia sebut keluarga. Rasa sakitnya begitu nyata, saat kedua orang tua Riyana memutuskan untuk bercerai. Perlahan-lahan semua orang meninggalkan Riyana, mulai dari Ayah, Ibu, dan juga kedua kakaknya. Semesta seolah tidak mempedulikan Riyana yang tertinggal sendiri. Hingga suatu ketika, Riyana dipertemukan dengan seorang pria tak dikenal, orang itu yang membawa dirinya tau akan masal lalu kelam keluarga Bratadikara dan juga alasan mengapa Riyana dibenci oleh semua orang. Tragedi penghianatan yang berujung balas dendam, dan itu semua adalah kesalahan ibunya sendiri. Perjuangan harus Riyana lakukan agar keluarganya terbebas dari genggaman maut, bersama dengan harapan akan kebahagiaan yang kembali dirasa, Riyana akan berdiri dan membawa orang-orang penting dalam hidupnya untuk segera bebas. Segalanya akan dilakukan, meskipun Riyana harus gugur ditengah aksinya menyelamatkan keluarga Bratadikara.

chap-preview
Pratinjau gratis
PERCERAIAN PAPA DAN MAMA
Gerbang SMA Rajawali sudah terbuka, waktu juga sudah menunjukkan pukul 3 sore. Para murid terlihat mulai keluar dari area sekolah dengan wajah bahagia yang kentara, tidak ada hal paling menyenangkan selain pulang dari sekolah. Ditengah lapangan, seorang gadis nampak berjalan sembari menempelkan ponsel ditelinga, sepertinya sedang menelfon seseorang. Namanya Riyana Bratadikara. Gadis cantik itu nampak menghembuskan nafas kasar berkali-kali, sebab dia baru saja mendapatkan pesan bahwa Riyan tidak bisa menjemputnya, sedangkan Reyhan dari tadi tidak mengangkat telfon. Gerimis mulai turun dengan perlahan, membuat Riyana semakin kesal karna hari ini dia terpaksa pulang sendirian. Seseorang tiba-tiba merangkul bahunya, dan ternyata itu adalah Kevin. Senyum Riyana terbit ketika mendapati kedatangan kekasihnya yang sudah satu Minggu tidak pernah dia temui di sekolah, sebab Kevin sibuk mengikuti lomba Basket antar sekolah. Kevin membalas senyuman Riyana sambil merapikan poni gadis itu yang sedikit berantakan. "Pulang sama siapa?" Tanya Kevin, membuat langkah Riyana berhenti dan seketika menoleh. "Ngga tau. Kak Iyan ngga bisa jemput, Kak Rey juga ngga angkat telfon." Sahut Riyana sembari meniup poninya dengan kesal lalu bersedekap d**a. Kevin tertawa sejenak. "Pulang sama aku aja gimana?" "Ngga usah nawarin gitu deh, Vin. Aku tau kamu pulang sekolah harus latihan, mending kamu pesenin aku Grab aja." Riyana tersenyum tulus, membuat hati kecil Kevin berdesir kuat. "Tapi kan- "Tapi kan kita udah sepakat. Harus utamakan belajar, kalo hari Minggu baru boleh utamakan pacaran." Belum selesai Kevin bicara, Riyana sudah menyela sambil melebarkan senyumannya. Kevin hanya menghela nafas pasrah, namun pada akhirnya lelaki itu mengangguk dan segera menggandeng tangan Riyana menuju halte Bis. "Kayanya mau hujan, mending naik Bis aja daripada Grab." Ujar Kevin dan diangguki Riyana. Setelah sampai, Kevin pun tetap menemani Riyana sampai kekasihnya itu mendapatkan Bis. Langit yang semulanya gerimis akhirnya berubah menjadi hujan deras, membuat cuaca menjadi dingin tidak seperti biasanya. "Kevin ini emang cowo paling ngga peka di dunia. Cuaca dingin begini, ngga ada niat tawarin jaket gitu atau peluk?" Bisik Riyana, matanya sedikit melirik kearah Kevin yang termenung menatap hujan. Karna tak mendapat repon dari pacarnya, Riyana pun memutuskan untuk bungkam saja. Bahkan lima belas menit berlalu, keduanya belum ada yang memulai pembicaraan. Sampai akhirnya sebuah Bis pun datang, Riyana segera berdiri lalu meraih ranselnya yang tergeletak dikursi Halte. Sebelum pergi, Riyana sempat menoleh kearah Kevin sejenak. "Kevin keasikan bengong atau lupa udah punya pacar sih? Ngeselin banget." Gerutu Riyana. "Tumben ngambek. Biasanya aku tawarin jaket bilangnya ngga suka karna kegedean, kalo aku peluk katanya malu diliat orang. Kamu mau aku ngapain kalo lagi hujan? Berenang hm?" Tanya Kevin dalam sekali hembusan nafas. Riyana yang sempat melangkah menuju Bis seketika berhenti dan berbalik dengan perlahan. "Ngga tau mau apa." Kevin memutar matanya dengan malas, lelaki itu berdiri kemudian berbicara pada supir Bis yang berhenti didepan mereka. "Pak, maaf ya. Pacar saya ngga jadi naik Bis, maunya pulang sama saya biar bisa peluk katanya." Ujar Kevin, Bis itu pun segera pergi hingga membuat Riyana mengernyit bingung. "Vin, kok malah diusir? Nanti aku pulang pake apa?" Tanya Riyana. "Ya pake mobil." Riyana memicing. "Ngga mau naik mobil punya Sadewa, baunya itu loh kek ngajakin pingsan jalur damai." "Engga kok, sekarang naik mobil aku aja." Kevin melepaskan jaketnya dan memasangkannya ditubuh Riyana, bersamaan dengan itu sebuah mobil Tesla berwarna hitam berhenti dibelakang mereka, siapa lagi pemiliknya jika bukan seorang Kevin Pramudy, anak dari pemilik perusahaan Manufaktur yang cukup terkenal di Jakarta. "Hello sobat..." Sapa seseorang dari dalam mobil, ketika Riyana melihat lebih teliti, ternyata disana sudah ada Sadewa, sahabat Kevin yang gemar menggodai siswa SMA Rajawali. Sadewa pun segera keluar dan memberikan kunci mobil pada Kevin. "Kurang baik apa gue jadi temen Lo, Vin. Minta ambilin mobil, udah gue jalanin. Nanti traktir gue s**u Millo pokonya." Setelah berucap demikian, Sadewa langsung berlari menerobos hujan, entah lelaki itu akan pergi kemana. Merasa langit mulai gelap, Kevin lantas segera mengajak Riyana untuk segera pulang. Sesampainya dikediaman Bratadikara, Kevin menyempatkan untuk mencium kening Riyana sebelum gadis itu keluar dari dalam mobil. Dengan senyuman yang tak bisa ditahan, Riyana pun melambaikan tangannya sambil menyaksikan mobil Kevin yang perlahan pergi. "Tuhan, kalo suatu saat semesta ngga berpihak lagi sama aku, apa Kevin masih ada?" Gumam Riyana kemudian segera membuka gerbang rumahnya. Sebelum menekan bel rumah, Riyana sempat mengusap wajahnya yang basah karna terkena hujan, juga sedikit menyugar rambut agar tak meneteskan air didalam rumah. Belum sempat tanganya menekan bel rumah, Riyana mendengar suara bantingan kaca, kemudian berlanjut dengan teriakan dari Ayah dan juga Reyhan. "Jadi Kak Rey ngga angkat telfon karna lagi bertengkar sama Ayah?" Gumam Riyana. Setelah terdiam cukup lama untuk memberanikan diri, akhirnya Riyana memutuskan untuk langsung membuka pintu rumah. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah, Ayahnya yang hendak menampar Reyhan. "KAKAK!!" Teriak Riyana kemudian berlari mendekati Reyhan. Hal yang paling Riyana benci terulang seperti biasanya. Pertengkaran antara suami istri yang berusaha dihentikan oleh sang kakak, berbalik menjadi sebuah tamparan keras dari Bara, Ayahnya. Emosi Reyhan yang sedikit lagi hampir meledak, seketika redam saat ia melihat air mata Riyana yang bercucuran. Adik perempuan yang Reyhan lindungi, kini menangis dengan sorot mata penuh rasa sakit. "Masuk kamar." Perintah Reyhan. Riyana menggeleng lalu mengusap air matanya. "Engga. Aku ngga mau ke kamar sendiri, ayo Kak Rey ikut juga." Perlahan Riyana menoleh kearah Ayahnya. Pria yang berdiri sambil bersedekap d**a itu, sedikit pun tak bergerak hatinya untuk menatap anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Air mata Riyana kembali luruh. Dengan rasa sesak yang menghimpit d**a, gadis itu memberanikan diri untuk bicara. "Ayah, jangan marah lagi ya?" Tanya Riyana. "Saya bukan Ayah kamu." Seperti tebakan Riyana, jawaban itu kembali dia dengar. Tangan Riyana bergerak ingin meraih tangan Ayah namun malah ditepis dengan kasar oleh pria itu. Riyana pun berganti menatap Bunda, yang ternyata sedang duduk di sofa sambil menatap kearahnya. "Bunda sama Ayah, jangan bertengkar lagi.." Ujar Riyana dengan nada bergetar. Bunda bangkit dari duduknya, menghela nafas panjang lalu menatap Riyana dan Reyhan secara bergantian. "Seperti kemauan kamu, kami ngga akan bertengkar lagi." Katanya. Reyhan tiba-tiba menggenggam tangan Riyana. Lelaki itu memejamkan mata dan menelan salivanya cukup kuat, Reyhan tau apa yang akan diucapkan Bunda selanjutnya. Ketakutan terbesar seorang anak, akan terjadi dalam hidupnya dan juga kedua adiknya. "Kami akan bercerai. Riyana ikut saya, sedangkan Reyhan dan Riyan bebas memilih keputusan." Ujar Bunda lalu kembali duduk disofa, sikapnya seakan tak peduli bahwa apa yang baru saja diucapnya, membuat Riyana terdiam beberapa saat. "Kak, bohong kan?" Tanya Riyana kepada Reyhan, namun tak ada satu pun jawaban yang terdengar. Riyana merasa nafasnya tercekat, pipinya yang sempat mengering, kembali dibasahkan oleh air mata. Gadis itu menggeleng tanda tak percaya, dunia terasa seperti sedang mengajaknya bercanda. "AYAH SAMA BUNDA NGGA BOLEH PISAH KITA HARUS TINGGAL SAMA-SAMA LAGI, RIYA- "Berhenti, Riyana. Kamu ngga berhak membuat keputusan." Ayah menghentikan teriakan Riyana. Pria itu menahan Reyhan yang hendak bicara, ini adalah keputusan yang sudah tepat, Ayah tidak akan mengubah apa yang telah ia putuskan. Riyana mengusap air matanya yang terus bercucuran. "Ayah boleh deh bertengkar sama Bunda sampe larut malem, tapi jangan pisah ya? Nanti Riyana sedih.." Bukannya menjawab, Ayah malah mendorong tubuh Riyana dengan kasar. Seseorang datang dan menyangga tubuh Riyana agar tak terjatuh, saat dirinya menoleh, ternyata itu Riyan. Riyana langsung memeluk tubuh Riyan dengan erat, tangisannya semakin deras saat dia tau bahwa Riyan juga menangis. Tolong yakinkan, ini semua hanya tipuan kan? Emosi Riyan perlahan meluap, saat merasa bajunya basah terkena air mata Riyana, bahkan Riyan juga bisa merasakan betapa hati adiknya hancur karna keputusan orang tua mereka yang ingin berpisah. "Sampai kapan pun, Riyan ngga akan biarin Riyana tinggal sama Bunda." Ucap Riyan dengan penuh penekanan. "Baru tau, ada orang tua yang benci sama anaknya. Ditambah lagi, bencinya tanpa alasan. Ngga cukup bikin Reyhan, Riyan, sama Riyana begadang karna Ayah dan Bunda selalu ricuh sampe pagi, hm?" Tanya Riyan setenang mungkin, namun berhasil menyentil hati kedua orang tuanya. Ayah melangkah maju sambil membenarkan jasnya. "Keputusan saya bagus kan? Kalian jadi bisa hidup tenang, tanpa gangguan dari saya ataupun dari Safira." Mendengar hal tersebut, Reyhan seakan lupa bahwa Bara adalah Ayahnya. Jika saja Riyan tidak menahan tangan Reyhan, mungkin saja laki-laki itu sudah memukul wajah Ayahnya dengan penuh amarah. "Pernah ngga Ayah sekali aja tanya sama Reyhan, kalo keputusan yang Ayah anggap bagus ini kira-kira bikin hati Reyhan sakit ngga? Bikin kehidupan Reyhan dan hancur ngga?" Tanya Reyhan. Matanya mulai merah, hendak menangis. "Ayah, orang yang Reyhan banggakan, orang yang Reyhan jadikan panutan. Kenapa harus gini akhir keluarga Bratadikara yang dipandang tentram oleh dunia?" Lanjut Reyhan. Air matanya pun tak bisa laki-laki itu tahan, dengan hati yang berdenyut sakit, Reyhan berbisik pada Riyana yang masih berada dipelukan Riyan. "Maaf ya, Kak Rey ngga bisa bikin Ayah sama Bunda tetep sama kita.." Riyana melepas pelukannya sambil menarik nafas dalam-dalam. Matanya menatap Ayah dan Bunda secara bergantian, kemudian berujar. "Kalo Ayah sama Bunda udah mutusin buat berpisah, Riyana ngga papa. Tapi janji ya, habis ini Ayah dan Bunda harus bahagia, walaupun suatu hari nanti, Riyana bakal liat kalian dengan keluarga baru." Rasa sakit itu pun terasa begitu nyata dalam hati Riyana, sebanyak apapun penolakan yang dia usahakan, semua akan percuma. Reyhan menghembuskan nafas kasar dan akhirnya memberitahukan keputusannya dengan berat hati. "Reyhan dan Riyan bakal keluar dari rumah ini, Riyana juga bakal ikut. Kita keluar dari rumah ini tanpa sedikitpun harta dari Ayah. Reyhan punya perusahaan sendiri dan mobil sendiri, itu udah cukup." Reyhan menggenggam tangan kedua adiknya. Dengan air mata yang terus menetes, ketiganya berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan rumah yang sudah seperti semestanya. Riyana tak bisa menahan tangis. Sebelum membuka pintu dan keluar dari kediaman Bratadikara, gadis itu berbalik lalu menatap Ayah dan Bundanya dengan mata yang basah, menatap tiap sudut rumah besar yang dia tinggali sejak kecil. Rumah megah bernuansa emas itu, memiliki banyak kenangan dalam hidup Riyana. Rumah yang terlihat bagaikan istana itu, menjadi saksi seperti apa dan bagaimana hal-hal menyakitkan yang pernah Riyana alami. "Terimakasih, lukanya sakit sekali." Bisik Riyana kemudian mengejar langkah kedua kakaknya yang sudah lebih dulu keluar dari rumah. Selama kakinya melangkah menuju gerbang, Riyana terus meluaskan pandanganya. Mungkin hari ini adalah hari terakhir dirinya bisa berada dirumah ini. Pantas saja hujan turun tiba-tiba, ternyata semesta sedang turut menemani betapa beratnya seorang Riyana Bratadikara yang harus menerima bahwa orang tuanya akan bercerai, bersamaan dengan hari terakhirnya berada di kediaman Bratadikara. "Kak, Riyana pergi sebentar ya?" Tanya Riyana dengan pelan, Reyhan yang hendak masuk kedalam mobil seketika berhenti dan menatap Riyana sambil memicing. "Riyana pengen sendiri dulu, kak. Jam 7 malem nanti, Kak Rey jemput Riyana di Kaffe Lencana okey?" Lanjut Riyana sambil tersenyum. Reyhan mengerti apa maksud adik perempuannya itu, maka Reyhan pun mengangguk sambil mengusap rambut Riyana dengan lembut. "Yaudah, Kakak anter ya? Janji jangan kemana-mana, soalnya Kak Rey sama Kak Iyan mau cari rumah buat kita tinggalin." Ujar Reyhan, dan diangguki Riyana. Hujan membuat cuaca menjadi dingin. Dari dalam mobil, Riyana memandang jalan raya kota dengan mata berkaca-kaca. Masih tidak menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari paling buruk dalam hidupnya. Riyana menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil sambil menghela nafas, dia terdiam sambil mendengarkan obrolan Reyhan dan Riyan yang akan mencari rumah baru. Sesampainya di Kaffe Lencana, Riyana lantas segera membuka pintu, namun pergerakannya berhenti sebab tiba-tiba Riyan yang duduk dibelakang bersuara. "Kak Iyan temenin ya?" Riyana menoleh kebelakang lalu tersenyum. "Mending Kak Iyan temenin Kak Rey cari rumah. Kaya gatau aja Kak Rey kan suka uji adrenalin, takutnya pilih rumah samping kuburan." Cibirnya sambil melirik kearah Reyhan sejenak. Riyana mengusap sisa-sisa air mata yang menempel di pipinya, mengepang rambut, dan segera keluar dari dalam mobil. "Jangan dateng sebelum Riyana telfon, bye!" Ujar gadis itu sembari melambaikan tangan dan masuk kedalam Kaffe Lencana dengan senyum terukir. Riyana memilih untuk duduk didekat jendela. Selagi menunggu pesanannya datang, dia termenung dengan pandangan lurus kearah jendela. Munafik jika Riyana mengatakan hatinya tidak hancur akibat perceraian orang tuanya, detik ini hidupnya akan mengalami perubahan besar. Hidup tanpa dampingan Ayah dan Ibu, bukanlah hal yang mudah untuk anak perempuan seperti dirinya. "Ayah, Bunda. Dunia terlalu dingin tanpa genggaman kalian." Gumam Riyana kemudian memijat pelipisnya dengan pelan. Ditengah hujan deras yang membasahi bumi, samar-samar dari kejauhan Riyana melihat seseorang sedang berdiri menghadap kearahnya. Sosok dengan wajah tertutupi topeng itu, berdiri dibawah lampu jalan. Riyana bergidik ngeri, orang itu cukup membuatnya sedikit merinding. Karna merasa tidak nyaman, maka Riyana memutuskan untuk pindah tempat, karna sosok misterius itu masih tetap memandangnya dari luar Kaffe. Baru saja membalikkan badan, ternyata sudah ada seseorang yang duduk disebelahnya. Riyana terkejut dan reflek menampar wajah orang yang diam-diam berada didekatnya. "NGAPAIN LO DISINI?!" Teriak Riyana. Sadewa mengusap pipinya sehabis ditampar Riyana, seketika mereka berdua menjadi pusat perhatian. "Santai dong, pake nampar segala Lo." Kata Sadewa. Riyana kembali menampar Sadewa dan kali ini lebih keras. "Ya habisnya Lo muncul gitu aja ngga ada intronya. Udah, badan Lo gede banget, geser dikit gue mau lewat." "Dih, badan Lo kali yang gede. Ini jalan segede bumi Lo ngga bisa lewat?" Sahut Sadewa, Riyana mendengus kesal dan berlalu begitu saja dari Sadewa. Gadis itu menghentikan langkahnya saat merasa seseorang mengikuti dirinya dari belakang, Riyana lantas menoleh lalu bersedekap d**a. "Ngapain Lo ngikutin gue?" Tanyanya. Sadewa menoleh. "Sewot banget Lo. Giliran sama Kevin aja jinak, pake aku-kamu. Sama gue udah kaya ngomong sama orang tuli, teriak-teriak mulu." Ujar Sadewa, namun Riyana sama sekali tak berniat untuk menjawab. Dibelakang Kaffe Lencana terdapat sungai yang airnya begitu jernih, orang-orang menyebutnya Sungai Renung. Berhubung hujan sudah mulai reda, Riyana datang ke Sungai itu sambil membawa minuman hangat yang dia beli di Kaffe Lencana, dan seperti dugaanya Sadewa pasti ikut dibelakang. Riyana duduk ditepi Sungai sambil merendam kakinya, melepaskan segala rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Sadewa duduk disebelah Riyana, laki-laki itu memandang wajah gadis yang kini duduk bersamanya. Mata Riyana terlihat basah dan Sadewa yakin, telah terjadi sesuatu yang menyakiti gadis itu. "Hei, anak Ayah kenapa nangis?" Tanya Bara lalu menggendong Riyana yang saat itu baru berumur enam tahun. "Mainan Riyana hilang, Ayah.." Bara tersenyum kemudian mengusap air mata yang membasahi wajah Riyana. "Ngga apa-apa, nanti kita beli lagi. Ayah bakal beli apapun milik Riyana yang hilang." Setetes air mata Riyana luruh kembali. Kenangan itu, kenangan terakhir yang dia ukir bersama Ayahnya, sebelum rasa benci itu datang dan menusuk hatinya setiap saat. Suara isakan pun kembali terdengar sehingga membuat Sadewa reflek menoleh, namun lelaki itu hanya terdiam. "Ayah, kebahagiaan Riyana hilang, Ayah bisa beli lagi?" Ujar Riyana lalu menutupi wajahnya yang kembali menangis. Sadewa merasa hatinya berdenyut sakit, dia sama sekali tidak bisa melihat seorang perempuan menangis didekatnya, terlebih lagi yang menangis adalah Riyana, gadis yang diam-diam dia cintai. "Ngga semua yang hilang bisa dibeli. Buktinya Riyana kehilangan Ayah dan Bunda, tapi Riyana ngga bisa beli kalian dimanapun." Lirih Riyana. Tangisannya perlahan mereda, saat gadis itu merasakan sebuah usapan halus dikepalanya. Saat menoleh, Riyana tersentak ketika Sadewa memeluknya dengan erat. Sebuah dekapan hangat dari laki-laki itu mampu membuat Riyana merasa tenang. Benar kata orang, obat dari rasa sakit adalah pelukan. Riyana ingat akan perasaan Kevin, kekasihnya. Oleh sebab itu dia berusaha untuk melepaskan pelukan Sadewa, namun laki-laki itu malah semakin mengeratkan dekapannya. "Santai, Ri. Dulu sebelum Lo pacaran sama Kevin, Lo ngga pernah masalah dipeluk sama gue." Sadewa mengusap punggung Riyana dengan pelan. "Jangan pernah merasa paling sedih, Ri. Lo cuma anak broken home, gimana nasib mereka yang jadi anak yatim piatu?" Tanya Sadewa, suaranya terdengar begitu pelan. Riyana kembali menangis pilu. "Tapi gue mau apa yang gue punya dulu kembali lagi, Sa." Sahutnya. Sadewa melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Riyana, lelaki itu tersenyum tulus lalu berkata. "Inget kata gue, Ri. Kalo Lo merasa sedih, jauh diluar sana ada orang-orang yang lebih sedih dari Lo. Tuhan yakin Lo mampu, Tuhan udah siapin kebahagiaan yang abadi buat Lo." Riyana tercengang dengan apa yang diucapkan Sadewa. Tidak biasanya lelaki itu mengeluarkan kata-kata mutiara dan hebatnya Riyana membenarkan apa yang diucapkan Sadewa. Hidup bukanlah tentang kesedihan, namun tentang bagaimana kita menghadapi segala cobaan yang diselipkan dalam hidup kita. "Sa, kenapa Lo selalu ada disaat gue sedih? Tapi diwaktu gue bahagia kenapa Lo ngga ada?" Tanya Riyana, nada bicaranya begitu lirih. Sadewa melebarkan senyumannya. "Kebahagiaan Lo kan bersama Kevin, Ri. Nanti kalo Lo sedih, sama gue aja ya? Biar gue ada gunanya dikit jadi temen Lo. Plis deh Lo jangan nangis-nangis bombay depan Kevin, yang ada Lo diketawain." "Kok diketawain sih?" Tanya Riyana, wajahnya mulai kesal dan terlihat menggemaskan bagi Sadewa. "Karna muka Lo jadi jelek, udah ngga usah nangis lagi." Sadewa menepuk-nepuk kepala Riyana dengan pelan. Tak lama, seorang Waitress dari Kaffe Lencana datang, membawa beberapa makanan yang telah dipesan oleh Sadewa. Riyana mengeluarkan kakinya yang berendam di air sungai, kemudian menerima makanan yang dibawa Waitress dengan ramah. "Mau makan yang mana? Ada Spaghetti sama Sandwich." Tanya Sadewa. Riyana nampak berfikir kemudian memilih Sandwich, otomatis Sadewa mengambil Spaghetti dan segera melahapnya. Ditengah keduanya sibuk menghabiskan makanan, Riyana bertanya. "Lo ngga pesen minum, Sa? Ngga seret Lo habis makan?" Sadewa melahap makanannya, baru menjawab. "Gampang, minum aja air sungai." "Lawak ya Lo." Sahut Riyana. Sadewa hanya tertawa kecil, dan ketika dia menoleh kearah Riyana, Sadewa terkejut karna melihat gadis itu menangis lagi. Mau tidak mau, Sadewa bertanya. "Kenapa nangis lagi Lo? Kan udah gue bilang, bukan cuma Lo yang punya masalah model begini, ada banyak or- "Masalahnya gue nangis karna lidah gue ngga sengaja kegigit, Sadewa Maharaksa.." Sela Riyana, air matanya tak bisa dia tahan sebab lidahnya terasa luar biasa menyakitkan. Sadewa nampak menahan tawa. "Nih makan, kalo didiemin nanti makin kerasa sakitnya." Sadewa memasukan sesendok Spaghetti kedalam mulut Riyana, dan langsung dikunyah lahap oleh gadis itu. Belum sempat Riyana menjawab, ponselnya tiba-tiba berbunyi, sepertinya ada yang menelfon. Sambil mengunyah makanan, Riyana mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang menelfon. Seketika gadis itu terkejut, oh tidak ternyata Reyhan menelfon. Riyana pun segera mengangkatnya. "Hallo, Kak Rey?" "Betah ya sendirian? Duduk dimana kamu? Kakak ada di Kaffe Lencana." Riyana langsung tersedak, reflek Sadewa memberikan minuman yang memang sejak awal telah gadis itu pesan. Riyana menerima minuman itu dan meneguknya hingga tandas. "Habis gue sekarang, Sa.." Bisik Riyana, suaranya kecil sekali sampai Sadewa pun hampir tidak mendengarnya. "Hallo? Riyana? Kamu dimana, hey?" "Aku- aku ada dibelakang Kaffe, Kak. Di Sungai Renung!" Jawab Riyana kemudian segera mematikan telfon sepihak. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, Riyana segera mengusir Sadewa sebelum kedua kakaknya tiba. "Pulang Lo cepetan, bawa juga semua makanannya!" Ujar Riyana sambil mendorong-dorong tubuh Sadewa agar segera pergi. "Cepet Sadewa..." Kesal gadis itu. "Iya, sabar dong! Ngeselin banget ni orang, udah makan gue beliin sekarang diusir secara tidak hormat lagi!" Sadewa mengomel sambil memungut kedua makanan yang dia pesan, sesekali tubuhnya hampir jatuh sebab Riyana yang mendorongnya dengan keras. "Oh okey, ngga ikhlas ya?! Hilang aja Lo cepetan, besok bikin perhitungan kita di sekolah!" Riyana memandang Sadewa yang berlari menuju parkiran. Tepat saat dia berbalik, sudah ada Reyhan bersama dengan Riyan dibelakangnya. Riyana menghembuskan nafas lega, karna Sadewa bisa pergi diwaktu yang tepat. Riyan yang berjalan mengikuti Reyhan lantas buka suara. "Liat apaan? Sampe fokus begitu?" "Hm, tadi liat Parkiran, Riyana kira Kakak bakal muncul dari sana, eh tau-taunya dateng dari belakang." Jawab Riyana, bohong. Gadis itu pun segera mengajak kedua kakaknya keluar dari Kaffe, selama berjalan menuju mobil, Riyana tiba-tiba kembali memikirkan Sadewa. "Sadewa kan tadi pergi ke Parkiran, apa iya piring makanannya dibawa pulang sama dia?" Gumam Riyana. Ketika sampai dimobil, Reyhan yang sejak tadi terdiam lantas bicara. "Kak Rey sama Kak Iyan udah keliling cari rumah, dan ngga ada rumah yang sesuai tipenya Kakak. Jadi Kak Rey mau tau, Riyana ngga papa sekarang tinggal di kantor Kakak? Disana kan ada satu kamar yang biasa Kak Rey pake istirahat, atau Riyana mau kita tinggal di hotel?" "Loh, selamanya mau tinggal di Kantor?" Tanya Riyana. Belum sempat Reyhan menjawab, Riyan sudah lebih dulu menyahuti. "Ya engga lah, kita tinggal di Kantor selama belum ada rumah." Riyana lantas memicing. "Yaudah tinggal di kantor aja. Males banget tinggal di hotel, udah bayar mahal trus takut juga ketemu sama pedofil." "Yey udah lama ngga ke Kantornya Reyhan Bratadikara, ngga sabar!" Ucap Riyan yang begitu antusias. Ya meskipun disana hanya ada satu kamar, Riyan tidak akan masalah jika nanti mendapatkan posisi tidur disofa. Reyhan seketika tertawa mendengarnya, mereka pun segera pergi meninggalkan Kaffe Lencana. Riyana memandang padatnya jalan raya ibu kota sambil tersenyum tipis, semilir angin membuat rambutnya terbang kesana-kemari. Meskipun masalah dan rasa sakit datang bertubi-tubi dalam hidupnya, namun Riyana akan siap melewati itu semua selagi ada genggaman Reyhan, Riyan, Kevin, dan juga Sadewa dalam hidupnya. "Selamat datang di kehidupan yang sebenarnya, Riyana Bratadikara." Bisik Riyana untuk dirinya sendiri. Malam itu, adalah malam dimana masalah demi masalah akan hadir mengiringi hidupnya. Karna mulai sekarang, ini adalah masa untuk menjadi lebih dewasa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook