Hari ini Riyana tidak sekolah, sehabis datang dari pesta menyakitkan dirumah Bratadikara, kondisi Riyana cukup menurun. Kemarin malam, suhu tubuhnya naik secara drastis, ditambah lagi d**a Riyana yang terasa lumayan sesak, membuat Riyan harus bergadang semalaman karna harus menjaganya.
Suara dering telfon terdengar, membuat Riyana terbangun dari tidumya. Bau Minyak Kayu Putih menyeruak dalam penciumannya, Riyana pun segera mendudukkan tubuh dan menoleh kearah meja dekat ranjang. Ternyata ponselnya yang berdering, gadis itu lantas segera meraih ponselnya.
"Hallo, siapa?" Tanya Riyana sambil memijat pelipisnya..
"Ini Pia, Lo ngga sekolah karna sakit kan?"
Riyana menghela nafas. "Iya, kondisi que belum pulih banget ini, Kak Rey juga tadi udah ke sekolah buat bawa surat ijin punya gue."
"Yaudah deh. Lima menit lagi bel pulang, gue sama temen-temen mau ke rumah Lo nih, boleh kan kita jenguk Lo?."
"Boleh dong, gue tunggu ya."
Telfon pun terputus, Riyana tersenyum kecil kemudian meletakan ponselnya kembali diatas meja. Dia menoleh kearah sofa, disana ada Riyan yang tertidur sambil membawa kompres ditangannya, lelaki itu pasti lelah karna harus menjaga dirinya semalaman.
Tanpa sengaja mata Riyana melirik sebuah foto yang terpasang tepat diatas sofa, gambar dirinya bersama seluruh keluarga Bratadikara, foto cantik yang diambil saat hari ibu 4 tahun yang lalu, dan gambar itu masih indah sampai sekarang.
Senyum Riyana terpatri. "Dunia ini terlalu jahat bagi aku yang masih perlu Ayah dan Bunda."
Riyana menyandarkan tubuhnya, menghembuskan nafas kasar lalu meminum segelas air. Dia masih merasa suhu tubuhnya begitu naik, kepalanya tetap pusing bersama bibirnya yang terasa kering. Tidak ada yang bisa Riyana lakukan selain merenung sendiri, menikmati rasa sakit pada hatinya dan memutar kenangan-kenangan manis bersama Ayah dan Bunda, betapa indah kehidupannya dulu.
Riyana menyentuh perutnya, dia merasa sesuatu hendak keluar, sepertinya Riyana ingin muntah. Menyadari hal itu, dia segera menyibak selimutnya, berdiri dengan tergesa-gesa dan berlari menuju kamar mandi. Tepat saat sampai di Wastafel, Riyana langsung memuntahkan apapun yang dia makan kemarin.
Riyan yang mendengar sesuatu dari dalam kamar mandi, otomatis terbangun dan reflek menoleh. Lelaki itu terkejut menyaksikan Riyana yang sedang muntah di Wastafel, dalam sekali hentakan Riyan langsung berlari menghampiri adiknya dan memijat tengkuk leher gadis itu.
"Kakak, aku kapan sembuhnya?" Ujar Riyana dengan pelan, matanya berair setelah mengeluarkan segala isi perutnya.
Riyan tak menjawab, dia membersihkan sisa muntahan adiknya lalu membawa Riyana kembali menuju tempat tidur. Sambil menuangkan air, lelaki itu berkata. "Kak Rey lagi ke kantor ambil berkas biar bisa kerja dirumah, kamu sendiri dulu ya? Kakak mau masak bubur biar kamu bisa minum obat."
Tanpa mendengar jawaban dari Riyana, Riyan sudah lebih dulu melangkah pergi dan keluar dari kamar. Riyana meletakan gelasnya sehabis meminum air, nafasnya sedikit tak beraturan sehabis memuntahkan isi perutnya. "Kenapa sih manusia itu harus sakit, heran." Kesalnya.
Daripada melamunkan kehidupannya yang sangat tidak jelas, Riyana memutuskan untuk kembali tidur saja, setidaknya dia bisa berbahagia dengan keluarganya meskipun dalam mimpi. Baru saja memasukkan kaki kedalam selimut, Riyana mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya yang membuat pergerakan gadis itu berhenti.
"Buset, cepet banget Kak lyan bikin bubur, masih mentah ngga itu berasnya?" Ujar Riyana saat melihat Riyan masuk kedalam kamar, namun aneh karna lekaki itu tidak membawa semangkuk bubur seperti dugaan Riyana.
Riyan memutar matanya dengan malas lalu berkacak pinggang. "Noh, temen-temen kamu dateng sekampung. Sinih kalian masuk, jangan nempel ditembok kaya cicak."
Empat orang masuk secara bergilir menemui Riyana, Ada Pia, Vanya, Sadewa, dan juga Ateng. Senyum Riyana terbit melihat kedatangan teman-temannya, gadis itu menerima Hoodie yang diberikan Riyan, karna saat itu tubuhnya hanya tertutupi Thanktop saja.
"Gue demam ya bukan kena virus sampe Lo semua duduk jauh gitu, sini deketan." Riyana menepuk-nepuk ranjangnya, menyuruh teman-teman yang duduk disofa agar pindah ketempat tidurnya.
"Nanti Lo ga perawan dong, kalo kita satu ranjang." Sahut Sadewa, yang mendapat anggukan setuju oleh Ateng.
Pia dan Vanya duduk disebelah Riyana, mereka memberikan sebuah keranjang mini yang dipenuhi buah-buahan. Vanya, yang merupakan murid paling rajin dan pintar dikelas XII IPA 1, mengeluarkan buku tulisnya dan memberikanya pada Riyana. "Ini materi yang kita pelajarin tadi, besok kalo Lo ngga sekolah, gue bisa kok kesini lagi." Ujarnya.
"Mau Lo kasi dia materi sebanyak mantan gue juga dia bakal tetep bego." Celetuk Sadewa yang membuat Riyana langsung melemparkan bantal kearah lelaki itu.
"Lo masih nyontek sama gue ya, Bambang!" Sahut Riyana sambil menerima buku yang diberikan Vanya.
Pia memberikan buah apel yang telah dia kupas kepada Riyana, membuat Sadewa yang melihatnya lantas berkata. "Gue mau juga, kupasin buat gue satu dong."
Pia reflek menatap Sadewa dengan sorot mata yang tajam, namun gadis itu tetap mau mengupas satu apel lagi untuk dimakan Sadewa. "Nanti gue nebeng sama Lo ya, kan udah gue kupasin apel." Ujar Pia yang mendapat anggukan malas dari Sadewa.
Riyana menggeleng pelan sambil mengunyah buah apel, gadis itu seketika menoleh saat Vanya yang duduk disebelahnya bersuara. "Ri, Lo ngga tanya gitu kenapa si Ateng ngga bosen-bosen ngaca?"
Riyana melirik Ateng, dan dia baru menyadari bahwa lelaki itu temyata dari tadi asik berkaca pada meja riasnya. Riyana pun menghendikan bahunnya sambil tertawa. "Kenapa emang?"
"Biasalah si Ateng kan rada nolep, ada jerawat dimuka dia terus dia takutnya itu tumor karna saking gedenya." Bukan Vanya yang menjawab, melainkan Pia. Dia berjalan kearah Sadewa dan memberikan lelaki itu buah apel.
Vanya mengangguki ucapan Pia. "Dia ngaca terus, mungkin takut jerawatnya nelen muka dia tiba -tiba." Ujarnya, membuat tawa Riyana pecah seketika.
"Kok gue pendek banget sih jadi cowo?" Tanya Ateng, membuat Sadewa otomatis menoleh.
"Ngga apa-apa. Kalo Lo pendek kan jadi gampang dibanting." Jawab Sadewa, yang memang mulutnya dari tadi memberikan tanda-tanda agar seseorang bisa menggampar mulutnya dengan sukarela.
Melihat wajah Ateng yang berubah muram, Riyana pun membela. "Tapi muka Lo imut, njir. Harusnya Lo bersyukur, meskipun Lo pendek tapi Lo punya temen-temen yang segede raksasa buat jadi pelindung Lo. Si Arren tuh, dia aja langsung tunduk sama Lo, Teng."
Sadewa bangkit dari duduknya, menghampiri Ateng dan mencubit pipi lelaki itu. "Lo tetep jadi Kurcaci-nya Rajawali. Btw, Lo itu sama kaya hp Nokia, tahan banting." Ujar lelaki itu.
"Lo sama kaya duit, sama-sama segalanya." Kata Vanya, ikut-ikutan.
Seisi kamar tertawa mendengarnya, Ateng pun hanya tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya. Sadewa kembali duduk disofa, dia mengambil ransel milik Ateng karna lelaki itu menyimpan ponselnya disana. Baru saja hendak membuka, Ateng lebih dulu merampas tas-nya dengan nafas memburu.
Sadewa mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kamu kenapa, Mas Ateng? Aku hanya ingin membuka tas mu, bukan membuka rahasia negara." Ujarnya dengan wajah dramatis.
"Ngga, ngga boleh. Biar gue aja yang ambil hp Lo." Ateng berjalan kepojokan, membuka tas-nya dengan gaya misterius lalu mengeluarkan ponsel milik Sadewa.
Bukan Sadewa namanya jika lelaki itu hanya diam melihat tingkah Ateng yang sangat aneh, dia pun berlari menghampiri Ateng dan berhasil merampas tas milik temannya. Saat Sadewa melihat kedalam tas, ternyata tidak ada emas 100 gram seperti yang dia duga, hanya ada sebuah cermin kecil yang bergambar Hello Kity disana.
Sadewa mengernyit bingung, dan membaca sebuah deretan huruf disudut cermin itu. "Piyak? Siapa Piyak?" Tanyanya.
Ateng menahan senyumnya, membuat Vanya dan Pia menjadi geli sendiri. Sambil menutup wajahnya dengan malu, Ateng pun menjawab. "Piyak itu nama yang dikasi Arren buat gue, itu cermin kemarin dikasi dia."
"Gue curiga nih, Arren ngajakin Lo temenan apa pacaran? Ya ngga salah sih abisnya muka Lo kiyut banget, gue aja kadang hilaf pengen bawa Lo bulan madu." Sadewa mengembalikan tas dan cermin milik Ateng, lalu duduk kembali disofa.
Riyana tersenyum menyaksikan interaksi teman-temanya. 2 tahun menempuh pendidikan di SMA Rajawali, baru kali ini Riyana benar-benar merasakan indahnya dunia pertemanan. Hubungan yang dipenuhi tawa, tanpa sedikitpun ada niat untuk saling menyakiti satu sama lain.
"Udah sore, kita balik sekarang ya, Ri?" Pia berkata seraya meraih ranselnya yang terletak diujung ranjang.
Riyana sedikit terlonjak. "Sekarang? Cepet banget, belum ada 1 jam."
"Tadi Pak Acim ngasi PR, padahal cuma satu soal sih, tapi gue yakin jawabannya bakal bercabang. Maaf ya gue ngga bisa lama-lama, kalo gue ngga buat entar satu kelas nyonteknya sama siapa?" Sahut Vanya, gadis itu menutup ranselnya yang terbuka kemudian berdiri.
Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka, ternyata Riyan datang sambil membawa sendok goreng ditangan kanannya. "Kalian pasti belum makan, ayo ke dapur, kita makan sama-sama." Ujar lelaki itu.
Riyan menahan Pia yang hendak bicara. "Jangan nolak, Abang ngga masak batu yang pake air tuba." Lanjut lelaki itu. Tanpa mau mendengar segala penolakan, Riyan langsung pergi meninggalkan kamar Riyana dan kembali menuju dapur.
Riyana mengeluarkan kakinya yang bersembunyi didalam selimut. Melihat gadis itu yang hendak berdiri, Sadewa reflek mendekat dan merangkul bahu Riyana, membantu seseorang yang selama ini dia cintai untuk berjalan dalam kondisi yang belum pulih.
Sadewa menatap teman-temanya secara bergantian. "Lo semua ngga mau makan gratis? Kapan lagi bisa nyobain masakan dari daki tanganya Bang Riyan?"
Bagaikan komandan, setelah Sadewa berucap demikian, teman-temanya langsung mengangguk setuju, mereka melangkah bersama menuju dapur yang berada dilantai bawah. Saat menuruni tangga, mereka berpapasan dengan Reyhan yang muncul dengan banyak berkas ditanganya.
"Kak Rey jangan kerja dulu, ayo kita makan sama-sama. Ada temen-temen aku nih dateng, aku tunggu dimeja makan ya." Ujar Riyana yang posisinya masih dirangkul Sadewa, membuat raut. wajah Reyhan berubah datar.
Menyadari bahwa sang Kakak tidak suka melihatnya bersentuhan dengan lelaki lain, Riyana pun reflek mencolek pinggang Sadewa, menyuruh temannya itu untuk segera membawanya pergi dari hadapan Reyhan. Mereka pun melanjutkan langkah untuk menuruni tangga, dan berhenti saat sampai dimeja makan.
Riyana duduk kemudian melirik Riyan yang sibuk menata piring. "Kak lyan tumben baik, pake segala masak buat temen-temen aku."
"Jadi selama ini Kakak jahat?" Riyan menjawab tanpa memandang Riyana, dia sibuk membuka masakan-masakan yang akan dihidangkan untuk semua teman-teman adiknya.
Reyhan datang ke meja makan, lelaki itu duduk sambil melipat lengan kemejanya dan membuka beberapa kancing baju didadanya. Membuat Pia dan Vanya yang melihat itu sedikit terpesona. "Boleh ngga sih gue nikah muda, Van? Modelan Bang Reyhan aja deh udah cukup buat gue, bau duitnya kecium sampe disini." Bisik Pia.
Vanya yang duduk disebelahnya, lantas menjawab. "Bang Reyhan milih-milih kali, Lo yang mata duitan mana mau dijadiin istri sama dia."
"Kalo mau ngobrol jangan bisik-bisik lah, k*****t. Gue ngga denger nih." Ujar Ateng yang duduk disebelah Vanya, membuat Riyana menoleh kearah mereka.
"Ngobrolin apaan?" Tanya Riyana, gadis itu memandang Vanya dan Pia secara bergantian.
Sadewa yang kebiasaanya menyahuti ucapan orang lain, lantas berkata. "Masa ngga tau sih, itu loh ngomongin Pak Acim yang tadi dikejar komplotan ibu-ibu Zumba depan sekolah."
"Bang lyan, ada sambel ngga? Tuman nih Sadewa nyaut mulu." Ucapan Vanya membuat Riyan tertawa.
Obrolan berhenti sampai disitu, dan mereka segera melahap makanan masing-masing. Riyana yang pada dasarnya tidak ingin makan, tiba-tiba bernafsu untuk mengisi perutnya saat mengetahui bahwa teman-temannya juga akan makan dimeja yang sama dengannya. Sejujurnya, momen ini terasa lebih lengkap jika Ayah dan Bunda juga ada disini, duduk disebelah Riyana dan berbincang dengan kedua kakak dan teman-temannya.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Riyana memutuskan untuk sekolah. Kondisinya kian pulih sebab Riyan dan Reyhan menjaga dirinya dengan sangat baik, Riyan rela tidak datang ke Kampus dan juga Reyhan yang sanggup bekerja dirumah hanya demi memantau keadaan Riyana agar cepat sembuh. Katakan, apa yang harus Riyana keluhkan pada semesta jika kedua kakaknya masih berada disini?
Waktu baru menunjukan pukul 6 pagi, Riyana sengaja datang lebih awal karna hari ini dia ada jadwal piket, selain itu hari ini juga ada ulangan harian dari Pak Acim, jadi dia harus datang ke sekolah lebih pagi untuk belajar. Setelah mobil Riyan pergi, Riyana tidak masuk kedalam sekolah, gadis itu nampak berjalan kearah timur sambil mengeluarkan setangkai bunga mawar dari dalam ranselnya.
Hari ini, adalah hari ibu sedunia. Kemarin Riyana mendapatkan informasi dari Vanya, bahwa tiap pagi Bunda sering berkunjung ke Restoran dekat sekolah dan meminum kopi hangat disana sebelum bekerja. Maka dari itu, Riyana memberanikan diri untuk datang kesana untuk bertemu dengan Bunda, mengucapkan selamat hari ibu dengan senyuman tulus, meskipun dia sudah membayangkan seperti apa reaksi Bunda nanti.
Hanya berjalan selama lima menit, Riyana sampai di Restoran Anggara, Restoran unik yang terkenal dengan kopi Dalgona Coffe buatannya dan terletak tak jauh dari SMA Rajawali. Dari seberang jalan, Riyana bisa melihat Bunda yang duduk didepan Restoran dengan Kopi Luwak disebelahnya.
Riyana menatap bunga mawar putih yang dia bawa, sehabis menarik nafas dan memejamkan matanya sejenak, gadis itu pun menyebrangi jalan raya dan melangkahkan kaki kecilnya menuju keberadaan Bunda. Melihat kedatangan putrinya, wajah Bunda seketika berubah datar.
"Ngapain kam-
"Selamat hari Ibu, Bunda. Jangan marah-marah lagi ya, maaf Riyana belum bisa jadi anak seperti yang Bunda mau. Riyana ngga apa-apa kalo Bunda masih benci sama Riyana, setidaknya Bunda masih baik-baik aja, itu sudah cukup." Riyana berucap dalam sekali hembusan nafas, gadis itu meletakan bunga mawar yang dia bawa disamping kopi milik Bunda.
Ditempat yang sama, Bunda terkesiap saat Riyana bersujud dan mencium kakinya. Tiba-tiba saja gerimis mulai bermunculan, seakan mewakili perasaan Riyana yang berusaha menahan air matanya. "Bunda, percayalah. Riyana ngga akan pernah bisa membenci Bunda sebagaimana Bunda membenci Riyana. Meskipun senyum itu belum bisa Riyana lihat, dan tamparan keras itu belum bisa berubah menjadi usapan halus, Riyana akan tetap berharap Bunda bisa kembali pulang."
Setetes air mata Riyana luruh, dan Bunda merasakannya. Ada sebuah cairan yang jatuh dan membasahi kaki Bunda, dan untuk pertama kalinya, perasaan hangat yang terakhir kali dirasakan Bunda 5 tahun yang lalu, kini terasa kembali dan membingkai hatinya.
Riyana berdiri dengan perlahan, tersenyum lebar ditengah air matanya yang luruh. Gadis itu merasa bahagia, benar-benar bahagia, karna respon Bunda jauh diluar ekspetasinya. Meskipun reaksi Bunda hanya terdiam, itu sudah membuat Riyana bahagia, karna dia menduga bahwa Bunda akan membentak dan menghinanya seperti biasa.
"Riyana percaya. Meskipun setitik, setidaknya ada rasa sayang dihati Bunda yang berusaha disembunyikan." Riyana melirik jam tanganya, dia harus pergi ke sekolah dan segera membersihkan ruang kelas..
Riyana menghembuskan nafas lega berkali-kali. "Sekali lagi, selamat hari Ibu, Bunda. Tetap menjadi sosok wanita yang hebat bagi Riyana ya, cukup Ayah yang udah berubah, Riyana berharap banyak sama Bunda."
"Sampai jumpa, nanti kita bertemu lagi tanpa ada rasa benci ya." Riyana berbalik dan langsung berlari meninggalkan Restoran Anggara, juga meninggalkan Bunda yang masih terdiam dengan berbagai pertanyaan mengitari pikiranya.
Tak lama, Bunda tersadar lalu menoleh kearah bunga mawar yang Riyana letakkan disebelah kopinya. Tangan Bunda meraih bunga itu, lalu bergumam, "Tuhan, bukankah ini semua aku lakukan atas kehendakmu?"
Disisi lain, Riyana berlari diatas trotoar sambil menutup kepalanya, jangan sampai dirinya kembali sakit hanya karna gerimis yang datang diwaktu tidak tepat seperti sekarang. Riyana melintasi gerbang sekolah dengan tergesa-gesa, tepat ketika menyusuri lapangan, seseorang menabrak tubuhnya dari belakang membuat gadis itu jatuh tersungkur.
Riyana mengusap sikunya yang sakit karna bertubrukan dengan sisi lapangan. Saat dia menoleh, ternyata Anggita yang telah menabraknya, entah itu sengaja atau tidak, yang jelas Riyana benci melihat Anggita tertawa remeh dihadapannya.
"Gue kasian sama lo. Udah jadi anak yang bawa kesialan, dan dipesta waktu itu Lo sama Kakak Lo malah dateng, bikin malu aja. Miris." Ujar Anggita, Riyana berdiri dengan sudut bibir yang sedikit dinaikkan lalu tertawa pelan.
"Ngga malu Lo, dapet Ayah bekas gue? Bangga banget baru jadi anak tiri, gue yang jadi anak kandungnya biasa aja tuh, ngga songong kaya Lo." Riyana puas dengan perkataanya sendiri.
Anggita tersentak kaget, tanganya bergerak hendak menampar wajah gadis didepannya, namun Riyana lebih dulu mencekal pergelangan Anggita dengan satu alis yang dinaikkan. "Lo ada masalah apa sih sama gue sebenernya? Kenal aja baru, sok-sok'an ngedrama depan gue."
Riyana menghempas tangan Anggita, membuat tubuh gadis itu sedikit tumbang kesamping. "Ayah malu liat kelakuan anak tirinya yang lebih buruk dari anak kandungnya." Sorot mata Riyana menjadi tajam.
Anggita menyeka rambutnya yang sedikit berantakan, maju satu langkah kemudian menjawab. "Gue benci sama Lo, karna Lo adalah Riyana Bratadikara."
Mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian dari murid-murid yang melintas di lapangan. Riyana yang menyadari hal itu, lantas menghembuskan nafas kasar beberapa kali. Setelah menatap Anggita cukup lama, gadis itu memilih pergi meninggalkan lapangan dengan emosi yang cukup terkuras.
"Bisa ngga Lo keluar dari hidupnya Papa?"
Pertanyaan Anggita membuat langkah Riyana berhenti, tanpa membalikan badan, gadis itu menjawab. "Lo ngga akan bisa memisahkan sesuatu yang sudah semestinya ditakdirkan bersama,"
Kini giliran senyum Anggita yang terbit, dia memutar matanya sambil bersedekap d**a. "Keluarga Lo udah hancur, Ri. Berhenti bersikap seakan keluarga Lo masih utuh kaya dulu, jijik tau ga."
Mendengar itu, Riyana seketika membalikkan tubuhnya, menatap Anggita dengan pandangan yang sulit dijelaskan, "Lalu, kenapa Lo yang repot? Gue punya dunia sendiri dan Lo juga punya dunia sendiri, jadi berhenti ngurus dunia orang lain, percuma. Lagian, kalo Lo dan ibu Lo ngga hadir dalam hidup Ayah, gue yakin Ayah ngga akan mutusin buat cerai sama Bunda."
Anggita terdiam.
"Asal Lo tau. Dikisah ini, Lo yang menjadi anak pembawa sial bagi gue dan semua orang." Riyana kembali tertawa melihat kebungkaman Anggita. Karna tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, gadis itu segera melangkah pergi dan menaiki tangga dengan cepat menuju kelasnya.
Saat sampai, Riyana mendapati Kevin dan Sadewa sedang berdiri didepan pintu kelasnya. Riyana pun berjalan menghampiri kedua lelaki itu. "Ngapain jadi Manekin disini?" Tanyanya.
Sadewa menoleh dan langsung menyentil dahi Riyana dengan sebal, membuat pawangnya alias si Kevin mendengus. "Ini nih, cecunguk yang gue tungguin dari tadi. Kemana aja Lo? Kelas udah selesai gue bersihin, baru nampak. Ayo traktir gue bakso sekarang."
Riyana menyengir lebar, lalu melirik kearah Kevin yang asik bermain ponsel. "Kok kamu ngga ikut Sadewa jenguk aku waktu itu?" Tanyanya.
Kevin memasukan ponselnya kedalam kantong celana, kemudian menjawab, "Justru aku yang mau tanya sama kamu, katanya aku ngga boleh ke rumah kamu, kenapa Sadewa boleh?"
Sadewa menatap Kevin dan Riyana secara bergantian. Karna merasa posisinya tidak aman, maka lelaki itu pun memilih untuk pergi. "Waduh, gue minggat aja ya. Silahkan diselesaikan dulu masalah rumah tangganya, saya tunggu di Kantin ya, Wak."
Riyana melirik Sadewa yang berjalan pergi, lalu kembali memandang Kevin yang masih berdiri menatapnya. "Kamu tau, Kakak ngga suka kalo aku deket sama cowo selain mereka, tapi kalo kamu datengnya sama temen cewe aku, mereka ngga terlalu bermasalah kok. Tapi ngga bisa bohong sih, kemarin aja Kak Rey ngga suka liat Sadewa sama Ateng dateng ke rumah."
Kevin menghembuskan nafasnya dengan pelan, dia menarik tubuh Riyana dan memeluk gadis itu dengan erat. Mendekap seseorang yang berkuasa penuh atas dirinya, seseorang yang menjadi alam semestanya, dan seseorang yang mendapat kendali penuh atas hidupnya, dan dia adalah Riyana Bratadikara. Gadis berambut panjang dengan poni tipis menutupi dahinya itu, hanya milik Kevin Pramudy, sekali lagi, hanya Kevin si Kutub penakluk segalanya.