Dunia Arumi seketika runtuh saat mengetahui kondisi kesehatannya hari itu. Pikirannya sudah kemana-mana. Bayangan kematian terus saja mengganggu tidurnya. “Mungkin, ini alasannya Mama dan Papa, menyimpan rahasia ini.” Arumi kini paham keputusan keluarganya. Hari ini rasanya Arumi hanya ingin sendiri. Seperti tadi pagi, Devara sudah datang di rumah Arumi pukul enam pagi, tapi Arumi meminta Devara untuk pulang. “Dev, gw pengen sendiri, tolong kasih gw waktu. Hari ini aja, gw pengen me time.” Devara tertunduk kecewa, tapi ia tidak ingin memaksa Arumi. Arumi adalah Arumi, apa yang dia katakan bukanlah basa basi, jika iya maka iya. Jika tidak maka tidak, jangan bermimpi untuk merubah pendirian Arumi. Sejak kecil pun, Devara sudah paham betul sifat keras Arumi. “Kalau ada apa-apa kabarin gw.”

