BAB 16. Percakapan Demas dan Kawan-kawan

1096 Kata
Suara langkah kaki berlari melewati lorong menuju ke arah loby. “Demas!” panggil salah satu teman Demas yang bernama Rangga. “Iya, ada apa toh, Rang? Loe, heboh banget.” Demas terkekeh. Masih dengan kepalanya yang celingukan kesana kemari. “Loe, pasti lagi nunggu Arumi, kan? Dia ada di parkiran rektor sama Devara. Buruan ke sana. Tadi gw nggak sengaja liat Devara ngasih uang ke Mang Deden” Rangga bercerita dengan nafas yang ngos-ngosan. “Wah, thanks yah, Rang.” Kini giliran Demas yang berlari diikuti oleh Rangga dari belakang. Terlihat sudah jika Devara dan Arumi sedang bercanda satu sama lain. Hal tersebut, tidak menyenangkan di mata Demas. Maka munculah ide gilanya saat itu juga. Demas berteriak memanggil Arumi dengan sebutan pacar agar membuat Devara jengkel. Sebagai sesama lelaki, tentu saja Demas memiliki insting jika Devara ingin menyaingi dirinya. Dia juga yakin, jika Devara memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Semua lelaki pasti peka terhadap tingkah lelaki lainnya. Ini adalah cara halus untuk membuat Devara mundur dengan teratur. “Dem, ngapain sih. Loe, sampe teriak-teriak gitu? Norak tau nggak.” Devara mendengus melihat tingkah Demas yang dianggapnya kampungan. “Norak? Emang gw mikirin omongan orang gitu? Rum, ayok gw antar ke kelas. Nanti pulang bareng yah.,” ajak ketua BEM tersebut. “Gw, ujian Dem. Gw, harus pulang dan gw juga harus bantu bokap nyokap gw. Sory yah. Next time yah, Dem.” Arumi lalu melangkah kembali menuju ke arah ruangannya. Devara terlihat menyeringai puas mendengar jawaban dari Arumi. “Loe, masih marah sama gw, Rum?” Demas benar-benar khawatir akan posisinya saat ini. Jika saja Arumi seperti gadis lainnya, ini tidak akan begitu sulit. Tapi, Arumi adalah Arumi, dengan segala keunikan karakternya. “Gw, nggak marah. Tapi, gw mau ujian dan lagi buru-buru. Kalo, loe halangi gw terus. Lama-lama yah pastilah gw bakal marah, Dem,” sahut Arumi mulai jengah. Bukan karena Demas sebenarnya, tapi karena ada Rangga yang seolah ikut memanas-manasi keadaan dengan sorakan dan huraannya. Hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian. Hal yang paling dihindari oleh Arumi selama ini. “Wiihhh ..., pedas yah d**a Kakak Demas. Baru kali ini dijutekin sama gebetannya sendiri.” Rangga kembali menggoda keduanya. “Bisa diem nggak loe?!” Demas menyergah Rangga sambil melotot. “Okay bos, sori bro, sori. Jangan kayak orang lagi haid jugalah ngamuknya. Hahahaha!” lagi-lagi Rangga menggoda Demas. Arumi yang memang tidak nyaman dengan keadaan sekitar, langsung menarik tangan Devara dan kembali berjalan ke arah ruangan mereka. Kebetulan kali ini, ruangan mereka satu arah. Demas mengusap wajahnya, ia cukup frustasi dengan sikap Arumi. Apalagi, kedekatan Arumi dengan Devara selalu menjadi ancaman bagi dirinya. Dasarnya, memang Demas suka memiliki rasa iri hati dan selalu ingin bersaing dengan para mahasiswa lain yang sering di bilang tenar atau famous. Tapi, hanya Devara satu-satunya mahasiswa yang tidak pernah takut dengan latar belakang keluarga Demas. Kekayaan keluarga keduanya memang setara. Secara, ketampanan wajah mereka juga cukup bersaing. Ada yang bilang Demas lebih tampan, tapi banyak pula yang mengatakan jika Devara lebih tampan. Jika di suruh memilih para wanita banyak yang memilih Devara, dengan alasan jika Devara adalah pria misterius yang tidak pernah terlihat berjalan dengan gadis manapun terkecuali Arumi. Dan sudah menjadi rahasia umum, jika Arumi dan Devara adalah tetangga dan sahabat sejak kecil. Jadi, banyak di antara mereka yang mendekati Arumi, hanya sekedar untuk mendapatkan perhatiannya Devara. Semua rangkuman hal tersebut, membuat Demas kesal dan jengah. Dirinya kembali berpikir seribu satu cara, bagaimana caranya agar bisa mengubur popularitas Devara. Serta cara untuk membuat Devara terlihat buruk di mata Arumi. Agar Demas bisa dengan leluasa mendapatkan perhatian dari Arumi sepenuhnya. “Dem, loe kok diem aja diperlakukan kayak gitu sama Arumi? Wah, jangan-jangan loe naksir beneran nih sama Arumi, Dem? Mantaplah Anjir! Kalo emang gitu, gw harus kasih info ke anak-anak lainnya nih,” Rangga lalu berlari sambil teerbahak dan tentu saja Demas mengejar Rangga karena tidak ingin rahasianya dibuka di kalangan geng mereka. Bisa hancur cap playboy si penakhluk wanita yang dimiliki oleh Demas. “Stop yah Rangga! Jangan fitnah loe! Gw marah banget nih yah sama loe. Berhenti, gw bilang!” teriak Demas sambil terus mengejar Rangga. “Gw mau ujian Dem, nanti ketemuan di ruangan BEM jam sebelas.” Rangga lalu berbelok ke arah fakultas sambil melambaikan tangannya dan meninggalkan Demas yang ngos-ngosan juga terkikik akan nasibnya sendiri. *** “Devara, tolong nanti antarkan makala teman-teman kamu di ruangan saya.” Pak Bono seorang dosen ekonomi makro memberi perintah kepada Devara, sebelum beranjak meninggalkan kelas walau jam pelajarannya belum berakhir. “Baik, setelah ini akan saya antarkan, Pak,” jawab Devara dengan sopan. Sementara Devara berjalan menuju ke ruangan dosen dengan makala penuh di dekapan tangannya, Demas dan kawan-kawannya juga sedang berjalan menuju ke ruangan BEM yang letaknya bersebelahan dengan ruangan dosen. Mereka sisipan, tapi tidak ada satu pun yang berniat untuk menegur satu sama lainnya. “Permisi pak, ini makala teman-teman saya, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” tanya Devara kepada Pak Bono. “Iyah, saya minta tolong kamu ambilkan cap stempel BEM, minta kepada petugas mahasiswa yang saat ini sedang piket yah. Saya ada perlu juga, sekalian kalau kamu lihat Demas atau Rangga wakilnya panggil kesini. Saya juga ada perlu dengan mereka berdua.” Devara mengangguk. Walau, sebenarnya dalam hati Devara sungguh malas melihat wajah Demas. Apalagi harus berinteraksi dan berbicara satu sama lain. Duh, alergi rasanya. Sementara Devara berjalan, dan hendak membuka ruangan BEM. Ada nama Arumi disebut-sebut di dalam ruangan itu, yang disambut dengan gelak tawa. “Ada apa ini? Apa mereka sedang mengejek Arumi? Atau sedang mengejek Demas?” batin Devara yang saat itu langsung berniat untuk sedikit usil yaitu menguping pembicaraan Demas dan kawan-kawan. “Dem, loe yakin nggak ada perasaan sama Arumi? Gw lihat dari pancaran mata loe nih yah. Fix loe lagi bohong sama kita-kita deh,” kikik Iwan mengejek Demas. “Jelaslah dia nggak bakal ngaku Wan. Taruhannya dia sama kita lima puluh juta, bro! Sampe dia bisa buat Arumi bertekuk lutut sama dia, pasti kita berlima yang bakal rugi patungan sepuluh juta masing-masing kan? Hahaha! Udah, ngaku aja deh loe, Dem. Loe emang bakal kalah taruhan, kan? Kali ini loe bakal kalah dalam permainan yang loe buat sendiri. Hahahaha!” Dodi ikut menimpali perkataan Iwan. “Kalian, semua dengar baik-baik yah. Gw, nggak bakal kalah sama permainan gw sendiri. Siapin aja uang kalian dan siap-siap patungan dalam waktu dekat. Setelah Arumi bertekuk lutut di hadapan gw, saat itu juga gw bakal ninggalin dia. Bye bye love!” ucap Demas begitu meyakinkan sambil terbahak-bahak. “SIALAN, LOE DEMAS!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN