BAB 15. Kegelisahan Demas.

1154 Kata
Tidak pernah dibayangkan oleh Demas, bahwa ia akan masuk kedalam perangkapnya sendiri. Entah sudah berapa baris banyaknya para mantannya jika harus di sejajarkan membentuk sebuah barisan seperti orang yang akan upacara. Tapi, baru kali ada seorang gadis yang bisa mengalihkan perhatiannya. Seluruh gadis yang dipacari oleh Demas, akan memandang Demas dengan tatapan memuja, memperlakukannya layaknya seorang pangeran yang begitu berharga. Sedangkan, Arumi? Arumi hanya memandang Demas selayaknya manusia normal yang bisa di marahi dan ditinggalkan begitu saja. Marah yah marah, jika memang perlu. Bersikap lembut dan ceria sesuai kondisi, itulah yang selalu di cari oleh Demas. Sialnya, Ia dapati itu dari Arumi. Yah, sial! Karena ada satu hal yang belum diketahui oleh Arumi. Lalu jika hal tersebut Arumi ketahui dan ternyata, Demas sudah terlanjur cinta? Lantas apa yang akan terjadi setelahnya. “Arrghhh! s**t! Gimana kalau kayak gini? Kenapa, gw sampai kejebak sama perasaan gw sendiri,” keluh Demas. Ia bolak balikan tubuhnya diatas ranjang nyamannya. Senyaman apapun suasana kamar itu, tetap saja tidak bisa membuat hatinya yang gelisah menjadi lebih tenang. Demas serasa kena karmanya sendiri. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Arumi, “Rum, gw telpon loe sebentar, boleh nggak?” Menunggu lima menit lamanya, Demas masih belum mendapat balasan apapun. Ia kembali melihat sudah lebih dari Lima belas menit dan masih-masih tidak mendapat balasan. Galau sudah hati Demas, walau Demas tau ini sudah jamnya orang beristirahat, tapi, bagaimana sih rasanya orang kalau lagi tidak tenang di hati itu? yah seperti Demas sekarang ini. Akhirnya tidak tahan sudah Demas, ia lalu menelpon Arumi beberapa kali. Sampai akhirnya ada suara yang terdengar sedikit serak dan suara yang menahan kantuk. “Halo?” jantung Demas langsung berdebar kencang dan ngilu sekaligus. “Rum? Ma-maaf. Loe tidur yah?” “Uda loe bangunin kan? Kenapa sih Dev?” Arumi tampaknya masih belum sadar kalau yang menghubunginya itu bukan Devara tapi Demas. “Dev? Ini gw, Demas, Rum.” Protes Demas sambil mendengus kesal, “Oh, Demas? Iyah kenapa, Dem?” tanya Arumi masih dengan menahan kantuk yang begitu berat. Bisa dikatakan saat itu Arumi berbicara dengan Demas antara sadar dan tidak sadar, ibarat nyawa belum terkumpul. “Loe, ngantuk banget yah?” keluar lagi sebuah kalimat pertanyaan yang bodoh dari bibir Demas. “Kamu, nanyeaa? Kamu bertanyea, tanyeeaa?” ejek Arumi, bukannya kesal Demas malah tertawa dan semakin gemas dengan tingkah Arumi yang bahasa gaulnya, ‘nggak ada jaim-jaimnya’ sama sekali. “Anjirlah, loe Rum, gw mau minta maaf kejadian tadi di kantin yah Rum.” Rasanya permintaan maaf Demas saat ini tidak pada situasi dan kondisi yang pas. “Duh! Dem. Bisa nggak besok aja minta maafnya, gw ngantuk banget nih. Udah ah! Gw mau tidur dulu.” Nada sambungan ponsel terputus saat itu. Demas kembali tertawa dan terbahak. Rasanya puas bukan main mendengar suaranya Arumi walaupun dirinya harus diomel-omelin seperti itu. Tidak disangka sama sekali oleh Demas ternyata ketertarikannya pada Arumi, bisa membuat Demas menjadi pribadi yang lebih sabar. *** “Ayok, Rum. Buruan!” teriak Devara memanggil Arumi. Gara-gara terbangun tengah malam, Arumi sampai terlambat bangun pagi. Buru-buru Arumi pergi menyeberang ke rumahnya Devara dengan sepotong roti manis buatan sang mama tergigit di bibirnya. “Dev, thank you banget yah. Anjirlah, gw umur-umur kuliah mana pernah namanya terlambat. Mana hari ini ujian akhir semester lagi. Yuk, Dev,” ajak Arumi sambil memakai seatbelt mobil. “Habisin dulu itu roti di jalan, terus minum obat, Rum. Loe, ingatkan? Peringatan bokap gw?” Devara memicingkan matanya. Ia tau biasaan Arumi yang buru-buru pasti akan melupakan segala hal penting lainnya karena sudah fokus pada satu kejadian. “Iya, iya, duh! Cerewet banget sih loe, Dev. Nih, gw makan nih.” Arumi lalu menguyah dan memakan roti tersebut dengan cepat. Tidak lupa seperti yang diperintahkan oleh Devara, ia segera mengambil kotak obat dan meminum obat rutinnya. “Sebenarnya ini obat buat apa sih, Dev? Kata Om Sony kan, gw baik-baik aja. Kenapa harus ada obat rutin sih? Heran gw.” Wajah Devara tiba-tiba berubah. Tidak mungkin dia yang akan memberitahu bagaimana hasil diagnosa kesehatan sahabatnya itu saat ini. Satu-satunya yang berhak dan bisa memberitahu adalah kedua orang tuanya. “Emangnya, gw, Dokter kayak bokap gw gitu? Udah ah! Cerewet amat sih loe, Rum. Awas yah, begadang lagi. Tidur harus tepat waktu, okay?” Arumi memutar matanya jengah saat mendengar omelan dan warning dari Devara. “Devara, sahabat gw yang paling cakep. Gw, semalam uda tidur tepat waktu. Terus Demas telpon gw minta maaf. Gw aja awalnya kira yanh telpon, itu eloe. Tapi ternyata Demas. Tuh, lihat. Dia uda nunggu gw di loby. Aisshhh! Mana gw buru-buru masuk kelas lagi.” Benar saja terlihat Demas sedang berdiri bersama beberapa teman-temannya di loby. Entah untuk apa, tapi feeling Arumi, mungkin saja Demas sedang menunggu dirinya. Devara seketika mendengus, kesal, cemburu, semua campur aduk menjadi satu. Awalnya ingin berhenti di loby, tapi niatnya diurungkan saat itu juga. Devara memilih untuk turun langsung di pintu samping gedung fakultas ekonomi. “Dev, emang boleh parkir di sini?” Arumi heran melihat Devara parkir di area parkiran mobil para dosen. Demi menghindari Demas, Devara sanggup melakukan apapun dan menjadi siapapun. Bahkan, menjadi mahasiswa parlente yang paling dibencinya selama ini. Devara lalu turun dari mobil yang diparkir tepat disamping mobil rektor universitas tersebut dengan mengeluarkan uang dua ratus ribu, yang akan di gunakan untu ‘atur damai’ dengan si juru parkir yang terkenal sangat rewel. “Duh! Den! Gak boleh parkir di situ!” teriak si juru parkir sambil berlari mendekati Devara. “Ssst! Saya buru-buru, Pak. Ini buat uang rokok. Titip mobil saya yah, Pak.” Betapa terkejutnya juru parkir yang bernama Mang Deden itu melihat dua lembar uang seratus ribuan. “Alhamdullilah, yah Allah. Walah Den, siap Den. Akan saya mobilnya, Den. Selamat ujian yah, moga nilainya bagus yah Den, si Eneng juga. Semangat!” ucap Mang Deden dengan bahagia, matanya tidak hijau tapi ikut merah saat melihat dua lembar uang berwarna merah tersebut. “Ck! Gaya banget loe, Dev. Uda kayak mahasiswa borju pada umumnya aja tingkah loe. Jijai gw.” Gantian Arumi yang mendengus kesal dan berjalan lebih cepat dibandingkan langkah Devara. Devara hanya tersenyum tipis, dan tidak menghiraukan Arumi yang kesal dengannya. Ia lalu berlari kecil menyusul Arumi dan merangkul bahu sahabatnya itu. “Gw, mending kasih uang 'damai' ke Mang Deden uang dua ratus ribu. Dari pada, jadi pusat perhatian cewek-cewek di kampus. Loe kan tau, gw nggak pernah bawa mobil pribadi ke kampus. Syukur-syukur uang itu berguna buat beli beras untuk keluarganya.” Pintarnya Devara membela diri membuat Arumi terkekeh dan mencubit pinggang sahabatnya itu. “Dasar, pintar ngomong loe, yah!” “Auch!” keduanya lantas tertawa dan bercanda sepanjang jalan lorong menuju ke kelas masing-masing. Hingga suara Demas dari belakang terdengar memanggil namanya. “Arumi! PACAR GW!” teriak Demas, seketika membuat langkah sepasang sahabat ini terhenti dan menoleh. “Anjir!” gumam Arumi. “What The F?” umpat Devara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN