Hari ini Raga, Aldi dan Zeta menemani Kim pemotretan. Mereka hanya bisa menunggu dari kejauhan karena takut mengganggu konsentrasi Kim.
Kostum pertama Kim itu terlihat manis di tubuhnya. Kesan casual tergambar pada penampilan Kim. Dia terlihat cute dan menggemaskan.
Ini pertama kalinya Raga melihat proses pemotretan. Ternyata nggak mudah. Kim harus berkali-kali pose untuk mendapatkan angel yang pas. Padahal menurutnya semua angel Kim terlihat bagus dari segi mana aja.
Nah untuk sesi kedua, ini bagian yang paling Raga kagumi. Kim terlihat luar biasa cantik. Bahkan Aldi memuji cewek itu terang-terangan padahal ada Zeta di sana.
Mata Raga nggak sedikitpun lepas dari gerakan Kim. Terkadang dia tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana gilanya dia mencintai cewek itu.
Nah untuk sesi terakhir, Raga kurang menyukainya. Kim memakai pakaian yang menurutnya terlalu terbuka di bagian d**a. Raga mengerti itu tuntutan profesi, dan dia nggak akan menghakimi Kim.
Nggak ada senyum sama sekali di wajah Raga. Hanya ada ekspresi datar dan sesekali melengos untuk membuang jauh rasa kesalnya melihat tubuh Kim terekspose seperti itu.
Saat jeda sejenak, Kim sempat melemparkan senyuman ke arah Raga. Raga hanya diam meresponnya.
"Gila si Kim makannya apa sih bisa punya badan sebagus itu?" Cicit Zeta. Dia sebagai cewek aja mengagumi tubuh Kim, apalagi cowok coba.
"Kamu mau kayak dia, Yang?" Goda Aldi.
"Mau kalo bisa," Zeta terang-terangan.
Aldi tertawa. Mau kalo bisa, kata-kata pasrah dari seseorang yang yakin kalo dia nggak akan bisa. Tubuh Zeta sebenernya juga bagus. Nggak terlalu tinggi dan berat badannya pas. Dadanya juga nggak rata-rata amat. Meski kulitnya nggak seputih Kim, tapi tetap terlihat bersih.
"Aku suka kamu apa adanya," bisik Aldi.
Raga sedikit gerah melihat sepasang sejoli itu. Aldi sangat alay menurutnya. Nggak cocok dengan sifat tempramen cowok itu saat menghadapi musuh. Kalo aja ada Dika di sana, pasti sudah diejek abis-abisan dia.
Akhirnya, sesi pemotretan Kim selesai. Lumayan juga sampe memakan waktu 3 jam. Raga dan dua lainnya menunggu Kim di parkiran. Cewek itu sedang berganti pakaian.
Tak lama Kim datang dengan pakaian santainya sama pertama mereka datang tadi. Make-up di wajah Kim juga sudah dihapus berganti dengan kealamian.
"Maaf ya lama nunggu," kata Kim merasa nggak enak.
"Santai aja. Malah seneng gue bisa liat secara live," sahut Zeta.
Kim terkekeh. "Lain kali ikut gue shoot," ajaknya.
"Jangan Kim. Kasian ntar foto-foto dia malah dibuang," ledek Aldi. Dia menjerit saat Zeta mencubit lengannya dengan keras. "Becanda sayang," ujarnya sambil menggaruk kepala.
Kim melirik Raga, nggak biasanya cowok itu diam. Dia pun mendekatinya. "Bete ya?" Wajar kalo Raga bete, dia cowok dan harus nungguin selama 3 jam dengan nontonin dia berpose doang.
"Nggak kok," Raga tersenyum tipis. "Balik ke Villa sekarang?" Tanyanya.
Tetap ada yang aneh. Kim merasa Raga sedang marah. Hanya saja cowok itu terlalu pandai menyimpan ekspresi. Saat Raga ingin mengitari mobil ke kursi pengemudi, Kim langsung menahan tangannya. "Ada apa?" Tanyanya dengan lembut.
"Apa?" Tanya balik Raga.
Kim meneliti wajah Raga. "Marah?" Tanyanya.
"Nggak lah. Marah kenapa?" Raga mengacak kepala Kim. "Yok," ajaknya.
Melihat itu, Zeta dan Aldi tersenyum-senyum sendiri. Ini pertama kalinya loh Raga berurusan sama cewek. Biasanya dia selalu datar kalo udah berhadapan dengan makhluk Tuhan paling Sexy.
Sepanjang perjalanan Raga masih aja diam. Membuat Kim semakin curiga kalo cowok itu emang marah. Dia nggak mau bertanya, percuma. Raga pasti akan bilang nggak papa.
"Eh eh, mampir dulu yuk! Jalan-jalan bentar," ajak Zeta setengah berteriak. Dia tergila-gila dengan pemandangan di sekitar sana.
Raga menurut dan langsung menepikan mobil. Zeta melompat keluar dengan tidak sabar dan Aldi langsung mengikuti.
Tinggal Raga dan Kim berduaan di dalam mobil. Hening. Keduanya sama-sama menunggu siapa yang akan memulai duluan.
"Mau ngomong atau aku diemin aja?" Tanya Kim setengah memancing. Kim bukanlah cewek yang pandai merayu. Dia lebih suka to the points.
Raga menatap Kim. "Dengan jadi model, apa yang kamu dapet?" Tanya Raga.
Kim mulai mengerti dengan arah pembicaraan Raga.
"Kalo jawabannya uang, aku nggak percaya. Kamu sangat mampu tanpa harus bekerja menjadi model," kata Raga lagi. "Hobi?"
"Suka. Tepatnya," jawab Kim. "Saat wajah aku terpampang di cover depan majalah, aku ngerasa puas."
"Termasuk pamerin badan kamu?" Raga sedikit berhati-hati saat menyebutkan itu. Dia nggak mau Kim merasa nggak nyaman. Seandainya pun Kim ingin tetap melakukan apa yang dia mau, Raga akan tetap mendukungnya.
"Oke. Jadi intinya kamu marah karena pakaian aku tadi?" Kata Kim, kembali tegas.
"Aku nggak marah. Cuma ngerasa sedikit..." Raga menggantung kalimatnya. "Terlalu kebuka, Kim. Banyak cowok di sana dan mereka lihat. Itu aja sih. Agak ngeganggu."
Raga mengusap pipi Kim dengan lembut. "Tapi selama kamu nyaman, aku nggak larang. Itu hak kamu."
Kim nggak pernah menemukan cowok seperti Raga. Dia nggak suka, tapi nggak memaksakan ketidak sukaannya itu untuk Kim turuti.
"Ayok turun," ajak Raga akhirnya. Dia membuka pintu mobil lebih dulu. Lalu berputar dan membukakan pintu untuk Kim. Raga menggandeng Kim mendekati Zeta dan Aldi yang sedang berfoto.
"Fotoin kita dong," suruh Raga. Seolah tak terjadi apa-apa.
Zeta mengarahkan kamera pada Kim dan Raga. Kedua insan itu langsung berpose dengan mesra. Begitu banyak foto yang dihasilkan dan semuanya bagus.
"Bang permisi," Zeta berteriak memanggil abang-abang yang baru aja lewat. Si Abang yang dipanggil pun berhenti. "Tolong fotoin kita, Bang!" Minta Zeta.
"Baik," nurutnya si Abang.
Klik.
"Makasih bang," ujar Zeta dan Aldi berbarengan.
"Sama-sama." Si Abang itu pun pergi melanjutkan perjalanan mereka.
Keempat orang itu tertawa melihat hasil foto mereka. Sungguh lucu dan menggemaskan. Terlebih lagi Raga terlihat begitu alay di sana. Nggak Raga banget...
***
Malam harinya...
Setelah selesai berkemas karena besok mereka semua harus pulang, Kim langsung menyusul Raga naik ke atas ranjang. Dia memeluk cowok itu dan meletakkan kepalanya ke d**a bidang Raga.
"Kalo kamu nggak nyaman ngeliat aku kayak tadi, aku bakal coba buat nggak ngelakuin itu lagi," kata Kim tiba-tiba.
"Aku nggak marah Kim," Raga mengingatkan.
"Tapi kamu nggak suka."
Raga menarik diri agar bisa menatap Kim. Dia nggak suka ngomong tanpa saling melihat. "Cowok manapun nggak akan suka ngeliat badan cewek yang dicintainya dinikmatin oleh cowok lain. Melalui mata sekalipun," tegasnya.
Dia meletakkan jarinya ke bibir Kim saat cewek itu mau bicara. "Tapi karena itu dunia kamu, aku bakal buat pengecualian. Aku bakal tutup mata."
Kim merasa sekujur tubuhnya menghangat. Dia menegakkan tubuhnya miring untuk bisa menatap Raga lebih dalam.
"Selama ini aku nggak pernah perduli dengan keinginan pacar aku. Aku benci dilarang. Aku nggak suka dikekang. Alasan itulah yang ngebuat aku selalu gonta ganti pacar."
Kim menghela nafas.
"Tapi, Ga... Ke-enggak-sukaan kamu itu cukup ngeganggu aku. Aku nggak bisa cuek kayak biasanya. Sejak tadi aku kepikiran, kalo aku selalu ngikutin ego aku doang, terus buat apa hubungan kita?"
Raga tersenyum.
"Larang aku kalo kamu emang nggak ngebolehin aku ngelakuin hal yang nggak kamu suka. Gunain hak kamu sebagai pacar. Jangan cuma diem."
"Aku takut kamu nggak nyaman, Kim."
"Aku lebih nggak nyaman kalo ngeliat kamu diem kayak tadi." Kim mengecup bibir Raga singkat, lalu kembali berbaring memeluk cowok itu.
"Kim, aku pengen minta sesuatu sama kamu," Raga harus bertarung keras saat mengatakan ini. Dia takut Kim berpikiran negatif nantinya.
"Hmm?"
Raga menyentak tubuh Kim dan dia menindihnya. Wajahnya berjarak sangat dekat dengan wajah cewek itu. Membuat mereka saling bertukar nafas.
Jantung Kim berpacu cepat. Dia selalu saja bermasalah dengan detak jantungnya tiap kali Raga memperlakukannya sedekat ini.
"Aku punya apartemen yang masih kosong. Aku mau kita tinggal di situ."
Kim mengerjap berkali-kali. Dia meneguk ludahnya dengan susah payah. Apa barusan Raga ingin mereka tinggal bersama?
"I just want you to be safe."
"Apa Marco ngelakuin sesuatu?"
"Buat jaga-jaga."
"Aku perlu pikirin itu dulu, Ga."
***