bc

Backstreet

book_age16+
1.6K
IKUTI
8.4K
BACA
dark
drama
tragedy
comedy
humorous
lighthearted
like
intro-logo
Uraian

Raga, memiliki dendam khusus terhadap Marco yang telah membuat nyawa sahabatnya melayang. Dia merancang sebuah permainan yang melibatkan seorang cewek bernama Kimberly, pacar dari Marco. Saat Raga memulai permainannya, tiba-tiba saja sebuah rasa membuatnya meng-claim Kim sebagai miliknya. Gayung pun bersambut, Kim menerimanya.

Tapi permasalahan terbesarnya sekarang adalah Raga dan Kim harus merahasiakan hubungan mereka itu dari semua orang, terutama Marco.

Dan... Akankah mereka bisa bertahan dalam hubungan yang bernama backstreet tersebut? Lantas, bagaimana jika Marco tahu?

Cinta memang bukanlah hal yang simple. Harus ada perjuangan serta pengorbanan. Akan ada yang bahagia, juga terluka.

Satu paket.

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1 First Impression
Tidak semua perang harus berakhir dengan berdarah-darah. Ada cara lebih mematikan dari pada harus membunuh. *** Markas Drunks. Nama dari sebuah markas besar tempat berkumpulnya para komunitas pencinta mobil balap ternama di Kota Jakarta. Sebut saja mereka adalah Infierno Car Community (ICC) dan Wolf Ride Community (WRC). Hanya dengan menyebut namanya saja, semua orang akan mundur teratur bila harus berhadapan dengan para anggotanya. Setiap malam Minggu, Drunks selalu dipadati oleh sekumpulan geng yang tergabung dalam kelompok Car Community. Mereka yang tidak taat peraturan akan diusir keluar dari Markas. Untuk itulah Markas selalu menjadi tempat paling aman mempertemukan ICC dan WRC tanpa harus ada pertumpahan darah. Kedua geng tersebut hormat pada pemimpin besar Car Community yang telah membangun Drunks menjadi besar seperti sekarang. Setiap Ketua Geng akan mengerahkan sebagian kemampuan mereka untuk unjuk kebolehan dalam ajang balapan liar. Khusus untuk malam ini, hanya ICC dan WRC yang akan bertarung. Taruhannya pun nggak main-main. Siapa yang kalah harus merelakan mobil kesayangan mereka menjadi santapan lezat para pemenang. Mobil dengan harga Milyaran itu akan dijual dan hasilnya dibagi? No! Melainkan dibakar. Tapi tentu ada pilihan lain jika memang mobil tersebut terlalu sayang untuk direlakan, yaitu dengan memotong salah satu jari tangan. Serem bukan? "Woi, Ga!" Raga menoleh ke sumber suara yang telah memanggilnya tadi. Raga adalah Ketua Geng ICC, dia ditakuti karena sifatnya yang dingin bagaikan gunung es. Raga bahkan nggak perlu menggunakan senjata tajam untuk membunuh, dia cukup mengintimidasi seseorang melalui tatapan matanya. "Baru dateng Lo," Raga langsung menyambut Aldi dengan salam khas-khas cowok, yaitu saling menepuk tangan dengan keras. "Sory, tadi gue nganterin cewek gue dulu ke rumahnya," cengir Aldi. Aldi adalah anggota Geng ICC. Terkenal ganas namun takut perempuan. Dia bisa menghabisi orang dengan mudah menggunakan berbagai jenis alat mengerikan yang sering dibawanya. Tapi saat sudah berurusan dengan Zeta, dia seperti anak kucing yang selalu netek pada emaknya. "Dika mana?" Tanya Aldi. Raga menunjuk keberadaan Dika dengan dagunya. Nah beda lagi dengan Dika, cowok itu bisa disebut sebagai dominan dalam hal berpacaran. Dia suka mengatur dan mengekang pacarnya sesuka hati. Sifat posessif Dika terkadang terlalu berlebihan, justru membuat para cewek takut mendekatinya. Karena seorang Dika, akan menghabisi siapa saja yang melirik pacarnya. Siapapun... Tanpa ampun. "Dika!" Panggil Aldi. Cowok bernama Dika itu menoleh. Dia tersenyum lebar sambil memamerkan tiga botol minuman alkohol di tangannya. Percayalah, minuman itu pasti sudah diracik Dika dengan tingkat kadar Alkohol super gila. Memabukkan! Dika mendekati Raga dan Aldi. Meletakkan tiga botol minuman itu ke atas meja yang terbuat dari ban mobil bekas. Dika lebih dulu menenggak isi botol itu dengan penuh kenikmatan. Sesekali kepalanya ikut bergoyang bersamaan dengan hentakan musik disko yang terdengar keras di sana. "Malem ini WRC dateng?" Tanya Dika ke Aldi. "Cemen kalau dia nggak dateng," jawab Aldi. "Udah gue pastiin dia nggak bakal ngelak lagi malam ini. Nyawa harus dibayar dengan nyawa," desis Aldi dengan mata berapi-api penuh dendam. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Itu adalah dendam khusus yang akan mereka balaskan pada kelompok WRC. Karena dengan sadisnya kelompok itu telah menganiaya salah satu anggota geng mereka hingga meninggal dunia. Alasannya klise, hanya karena Banio menyenggol salah satu mobil dari anggota geng WRC hingga menyebabkan Banio dikeroyok dan dipukuli secara membabi buta. Bukan hanya bekas pukulan, tubuh Banio pun bahkan terdapat banyak bekas sulutan api rokok. Berkat kekuasaan dari orangtua pemimpin geng WRC, semua anggota geng itu lolos dari jeratan hukum. Entah dengan sogokan apa hingga keluarga dari Banio mau berdamai dan melepaskan tuntutan hukum pada semua orang yang tidak berperikemanusiaan itu. Tapi yang pasti, tiga hari setelah Banio meninggal, keluarga Banio tiba-tiba mendadak kaya raya. "Marco Broooo, What's up!!" Raga, Aldi dan Dika langsung menatap benci pada seorang cowok yang baru aja turun dari mobil hitam full modifikasi super mahal. Pada Marco, ketua geng WRC yang ditakuti karena sangat suka menguliti musuhnya. Marco itu kejam, hatinya mungkin hitam dan dia berteman dengan iblis. Marco menyeringai pada Raga saat tatapan keduanya bertemu. Menunjukkan bahwa dia siap berperang malam ini. Marco yakin dia bisa membuat Raga melucuti pakaian kerajaannya saat dirinya bisa mengalahkan cowok itu nanti. Saking percaya dirinya, Marco bahkan menggunakan mobil kesayangannya yang paling mahal sebagai bahan taruhannya malam ini. "Siapa tuh?" Tanya Aldi dengan mata terbelalak. Mata Raga dan kawan-kawan kini berpusat pada seorang cewek yang baru aja turun dari mobil Marco. Cewek dengan postur tinggi, ramping dan rambut panjang lurus tergerai. Cewek itu mengenakan jeans sobek-sobek dan kaos oblong putih ketat. Marco memang sering bergonta ganti pasangan, tapi demi apapun kali ini dia membawa cewek yang luar biasa cantik. "Bukannya itu Kim?" Aldi yang matanya sangat jeli ini langsung berkomentar. "Anjing, Kimberly?" Aldi langsung tersentak shock. Raga sih ekspresinya biasa aja, datar. Nggak terlihat berlebihan sama sekali. Dia hanya melihat sekilas, lalu tatapannya kembali berfokus pada Marco. Melihat Marco membuat Raga mengingat bagaimana menderitanya Banio saat dikeroyok sendirian. Raga mengepalkan tangannya. Kalau saja dia nggak ingat di tempat itu ada Bang Oscar, pemimpin Car Community, dia pasti sudah kalap dengan menghajar Marco sampe mati. "Gilak! Pakek pelet apa dia bisa dapetin Kim? Anjing anjing anjing!" Umpat Aldi. Siapa yang tak mengenal Kimberly Tanuwijaya? Cewek cantik yang sering malang melintang di cover depan sebuah majalah ternama. Seorang model yang memiliki bentuk mata setajam burung Elang. Kim juga kuliah di tempat yang sama dengan mereka, tapi sayangnya sangat susah untuk menyentuh cewek dengan kelas cuek tingkat dewa seperti Kim. Marco menggandeng tangan Kim, membawanya mendekat ke arah meja yang berseberangan dengan meja Raga dan kelompok ICC lainnya. Cara Marco memperlakukan Kim menunjukkan bahwa cowok itu lah pemilik Kim saat ini. "Beib, kamu duduk di sini dulu ya. Aku mau temuin Bang Oscar sebentar," kata Marco dengan penuh kelembutan. Mendengar suara Marco dan cara bicara cowok itu pada Kim, membuat Aldi dan Dika ingin muntah. Marco sepertinya sengaja, memamerkan Kim pada mereka semua. Setelah ditinggalkan oleh Marco, Kim mengeluarkan ponsel dari tas kecil Selempangnya. Dia duduk menumpukan kaki kanan di atas kaki kirinya, duduk anggun layaknya seorang cewek. Punggungnya bersandar pada sandaran keras yang terbuat dari batang bambu. Dan matanya hanya berfokus pada layar ponsel, seakan tidak ada siapapun di sana. "Cantik gilaaaaa," cicit Aldi lagi dengan suara setengah berbisik. Baru kali ini Aldi melihat Kim secara dekat. Karena cewek itu jarang terlihat berada di tempat umum di kampus. Dikarenakan mereka beda fakultas dan kampus mereka bukan sebesar toilet umum, susah untuk tiba-tiba bisa ketemu Kim secara nggak sengaja layaknya sinetron. Aldi hanya tidak melewatkan setiap majalah yang memuat wajah Kim, satu pun. "Mulus," sahut Dika. Paha Kim terpampang cukup indah dari balik sobekan-sobekan nggak beraturan di celana jeans cewek itu. "Padet," lanjutnya lagi tentang body atas Kim yang meliuk indah dengan bentuk sempurna. "Body goals banget," Aldi seakan mengeluarkan liur dari sudut bibirnya. Raga mendesah kasar. Kedua temannya itu sangat berlebihan dalam memuji Kim. Seakan Kim ini adalah cewek paling cantik sejagat raya saja. Bukan Raga nggak normal, dia tau Kim cantik, matanya masih sehat walafiat untuk mengakui penglihatannya itu. "Ga," Aldi menyikut Raga. "Hmm," jawab Raga tanpa menoleh. Dia pun sedang asyik dengan game war di ponselnya. "Lo nggak tertarik?" Tanya Aldi. "Sama apa?" "Itu, Kim," Aldi menunjuk dengan dagunya. "Gue nggak minat dengan bekasnya tuh cowok laknat," berbarengan dengan Raga mengangkat kepalanya menatap Kim, cewek itu juga tengah mengangkat matanya menatap Raga. Beberapa detik tatapan mereka berdua seolah terkunci satu dengan yang lain. Sama-sama tajam, dingin dan nggak bersahabat. Lalu Kim menurunkan matanya kembali ke layar ponsel. Bersikap tak acuh seakan-akan yang dilihatnya barusan hanyalah cowok biasa yang nggak menarik minatnya sama sekali. And you know what? Raga tersentak dengan cara Kim itu. Ada sengatan kecil yang mencubit ego Raga, merasa dirinya diabaikan. Siapa yang pernah mengabaikan Seorang Raga di muka bumi ini? Belum ada. Dan sekarang ada. Tak lama, Marco sudah kembali menemui Kim lagi. Dengan gaya sengaknya dia bersiul menantang Raga secara halus. Bukan Raga namanya kalau terlalu mudah terpancing oleh tantangan Marco. Tipikal Raga ini lebih ke nggak perduli dengan apapun. Kecuali jika Marco memang secara terang-terangan menginginkan minta dihabisi, Raga akan memberinya dengan senang hati. "Beib, udah mau mulai nih. Kamu mau ke sana atau tunggu di sini?" Tanya Marco pada Kim. "Di sini aja," jawab Kim. "Nggak bete, kan? Atau mau pulang aja? Nanti aku suruh Rendy anter kamu." Kim menurunkan ponselnya ke pangkuan. Menatap Marco dengan intens, "emang lama?" Tanyanya. "Sebentar. Nggak sulit kok ngalahin dia." Dia yang dimaksud Marco tentu saja adalah Raga. Kim melihat Raga melalui pergerakan matanya. Cowok itu juga sepertinya sejak tadi melihat ke arah dirinya dan Marco. Mungkin saja mendengarkan percakapan mereka. "Ya udah aku tunggu," Kim kembali menatap layar ponsel. Dia diam saja saat pelipisnya diberi kecupan hangat oleh Marco. "Raga!" Panggil Bang Oscar. Raga menoleh. Lalu dia mendekat saat tangan kekar Bang Oscar melambai menyuruhnya mendekat. Saat melewati Marco, Raga melihat dengan jelas seringaian yang minta dihancurkan oleh kepalan tangan Raga itu. "Mau dimulai sekarang. Siap?" Tanya Bang Oscar begitu Raga sampai pada tempatnya berdiri. "Gue sih selalu siap Bang," sahut Raga tanpa sedikitpun rasa takut. Dia sudah siap sejak terbunuhnya Banio. Dia nggak mengharapkan mobil Marco, melainkan memotong jari tangan cowok itu hingga habis. Marco sudah ada di antara Bang Oscar dan Raga. Berlagak sengak layaknya seorang Marco. "Oke. Bagus!" Bang Oscar langsung meninggalkan tempat itu menuju ke arena yang sesungguhnya. "Siap-siap nyusul Banio," bisik Marco menyulut emosi Raga. Mata Raga berkilat. Tangannya mengepal. Dia nggak akan memaafkan Marco atas kematian Banio. Akan ada waktunya Raga membalaskan itu semua. Tunggu dan lihatlah! Semua orang sudah berkumpul di arena untuk menyaksikan dua ketua geng besar unjuk nyali. Bahkan beberapa di antara mereka sampai memasang taruhan kecil dengan memilih siapa yang menang. "Gue ngerasa ada yang nggak beres," bisik Aldi ke Dika. Dika mengangguk. "Marco nggak pernah jadiin mobil b*****t itu sebagai taruhan. Kalo dia sampe ngelakuin itu, artinya dia punya keyakinan besar bakal menang." "Menurut Lo apa yang udah dia rencanain?" Dika mengangkat bahu. Dia sendiri nggak tau apa yang ada di balik seringaian licik Marco itu. Terlebih, cowok itu tidak pernah sepercaya diri ini melawan Raga. Biasanya, dia akan terlihat gigih dan tegang di wajahnya. Tapi kali ini, Marco lebih banyak cengengesan di depan semua orang. Dika menepuk pundak Aldi. "Tenang aja. Gue yakin Raga lebih tau dari pada kita," yakinnya. "Kalian siap?!" Teriak Bang Oscar. Raga dan Dika mengangguk. "Bersiap," suruh Bang Oscar. Raga dan Dika langsung masuk ke mobil masing-masing. Langkah pertama dari permainan ini adalah meletakkan posisi ban depan tepat di garis start. Lalu, baik Raga maupun Marco mereka sama-sama menginjak pedal gas dan rem bersamaan hingga suaranya terdengar begitu memekakkan telinga. Seorang cewek berpakaian sexy tengah melenggok penuh godaan di depan dua mobil yang akan bertarung itu. Dengan bendera di kedua tangannya, wanita itu memainkan perannya. Bendera diangkat tinggi-tinggi, membuat suara knalpot semakin terdengar nyaring. Lalu... Saat bendera dijatuhkan, mobil Raga dan Marco langsung menerjang arena balap dengan sama brutalnya. Semua bersorak, memberikan dukungan juga gencatan. Ada yang pro ke Raga, tapi juga ada yang pro ke Marco. Anggap saja suporter saat ini imbang. ?? Pertandingan berlangsung sengit. Baik Raga ataupun Marco sama-sama berada dalam posisi sejajar. Bahkan tak jarang mobil keduanya saling bersenggolan hingga menimbulkan percikan api kecil yang membuat suasana semakin panas. Para suporter menyaksikan itu melalui layar besar yang terpampang di sana. Bang Oscar memang menjadikan Drunks sebagai markas yang megah. Di setiap sudut dipasangnya CCTV. Dan bahkan, untuk arena balapan pun terpasang CCTV layaknya sirkuit besar. "Gue rasa emang ada yang salah dengan mobilnya sih Marco," kata Aldi berkomentar. Dika mengangguk membenarkan. "Tapi kelicikan dia kayaknya nggak cukup berarti buat Raga. Seenggaknya skor imbang," tukas Dika sedikit lega. "Gue bener-bener udah nggak sabar ngadepin perang yang sebenernya, Dik." "Apalagi gue." Mata Dika menajam. "Gue nggak akan biarkan mereka semua hidup dengan senyum di wajah lagi seperti sekarang. Bakal gue pastiin mereka bayar setiap jengkal kesakitan Banio." Aldi menyeringai. Dia menatap tajam pada semua kelompok WRC yang tengah bersorak memberikan dukungan pada Marco. Bagaimana mungkin mereka semua masih bisa berpesta setelah menghabisi nyawa seseorang dengan cara paling mengerikan. Semua orang makin bersorak nyaring saat mobil Raga dan Marco terlihat hampir mendekati garis finish. Garis finish berada satu garis dengan garis start. Itu artinya kedua petarung itu akan kembali ke tempat semula setelah saling memamerkan kekuatan. DRUMMMM... "HUUUUUUUU!!" Sorakan heboh menyambut kedatangan dua mobil mewah itu di garis finish. Semua suporter netral bertepuk tangan. Tibanya dua mobil itu secara bersamaan menandakan bahwa tidak akan ada perang setelah ini. Hasil imbang dan pertandingan ulang akan diatur nanti. Marco turun dari mobil lebih dulu. Nampak ada gurat kecewa di balik wajahnya karena ekspektasinya untuk mengalahkan Raga ternyata tidak akurat. Dia menatap tajam pada Raga yang dengan santainya memasang wajah datar seolah tidak terpengaruh dengan caranya bermain tadi. "Good Raga," puji Bang Oscar sambil menepuk pundak Raga. "Makin hebat Lo," puji Bang Oscar pada Marco juga sambil menepuk pundak cowok itu. "Pertandingan ulang bakal gue infokan ke kalian semua nanti," beritahu Bang Oscar pada semua orang. Tepuk tangan riuh menyambut ucapan pimpinan Car Community itu. Bang Oscar, dengan tato memenuhi seluruh tubuh. Rambut panjang. Dan tubuh yang berotot. Siapa saja akan takut padanya. "Gue udah duga ada yang nggak beres dengan mobil dia sekarang," kata Aldi kepada Raga. "Nggak masalah. Dia nggak akan bisa menang," jawab Raga santai. "Tapi gue rasa, hasil ini bakal bikin dia melakukan lebih, Ga. Lo harus lebih hati-hati," sahut Dika menasehati. Raga mengangguk. Marco melewati mereka semua dengan membawa Kim dalam gandengannya. Dia sempat berhenti di depan Raga dan berbisik, "gue tunggu kekalahan lo di pertandingan berikutnya." Raga tersenyum mendesis. Jenis senyum meremehkan yang sangat kentara. "Bukan kekalahan lo yang gue tunggu, Marco. Tapi kematian lo," desisnya lebih menakutkan. Mendengar itu, Kim menoleh pada Raga. Masih dengan diam dan tatapan singkat. Kim kemudian dibawa pergi oleh Marco. "Masih aja sok tuh cowok," kata Aldi berkomentar. "Makin besar kepala dia bisa gandeng cewek inceran satu kampus." "Gila, Ga. Gue nggak ngeliat Marco lebih unggul dibanding lo dalam hal fisik. Tapi dia bisa dapetin cewek jenis kayak Kim. Payah lo Man..." Ejek Dika. Raga nggak menyahut. Matanya terarah pada cara Marco memperlakukan Kim. Ada ketulusan dan rasa bangga dalam diri Marco bisa merangkul cewek yang disebut-sebut inceran satu kampus oleh Aldi tadi. Raga tau persis bagaimana cara Marco memperlakukan seorang wanita yang nggak lebih hanya dianggap sebagai p***k. Tapi kali ini beda, Marco sepertinya serius pada Kim. Untuk itu... Raga memiliki rencana yang Marco sendiri nggak akan menduganya. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.6K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1.4K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.3K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.0K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

I Love You Dad

read
297.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook