Hari ini Kim menghabiskan banyak waktu di Mall sendirian. Dia mengelilingi satu butik yang menjual berbagai macam pakaian branded untuk keperluan photo shoot nya nanti. Butik yang dimasukinya ini cukup lengkap sehingga dia nggak perlu keluar masuk di butik lain.
Beberapa pakaian telah selesai Kim beli. Sepatu-sandal ber-heels tinggi pun telah sesuai dengan seleranya. Tak lupa, dia juga mengambil beberapa Tas jenis baru yang belum dipunyainya. Beberapa pegawai toko nampak begitu semangat melayani pembeli berkelas macam Kim. Sekali belanja, cewek itu bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan juta untuk satu toko saja.
Setelah selesai dan merasa cukup lelah. Kim akhirnya menyelesaikan belanjaannya dengan mengantri di kasir. Dia menunggu giliran dari beberapa orang yang hanya membeli pakaian sale. Nggak butuh waktu lama, Kim telah disapa dengan ramah oleh pegawai Kasir dan satu orang asisten yang membantu membungkus semua barang belanjaan Kim.
Menunggu semua belanjaannya di scan ke komputer, Kim berulang kali melirik ke jam di tangannya. Di belakangnya, antrian sudah sangat banyak. Mungkin Kim lah pembeli yang memakan banyak waktu di depan kasir karena belanjaannya yang super banyak itu.
"Mbak, totalnya tiga puluh enam juta enam ratus tujuh puluh tiga ribu rupiah," beritahu pegawai Kasir.
Mungkin beberapa orang di belakang Kim tercengang dengan nilai belanjaan fantastis itu. Bahkan ada yang sampai berjinjit untuk melihat bagaimana rupa cewek yang punya uang sebanyak itu untuk sekedar berbelanja. Tapi bagi Kim, nilai itu hanyalah sebagian kecil. Dia bisa lebih gila dari itu kalau dia mau.
Kim merogoh tasnya semakin dalam, mencari dompet miliknya yang nggak juga dia dapatkan. Masih dengan wajah tenang, Kim membuka lebar tas Prada mahalnya dan memusatkan matanya ke isi di dalam sana. Jantungnya berdegup karena melihat hanya ada beberapa benda nggak penting di dalam sana. Dompet serta ponselnya nggak terlihat sama sekali. Kim mencoba mengingat, dia yakin sudah memasukkan semuanya sebelum pergi tadi.
Tik tok tik tok tik tok.
Kim mulai diserang rasa panik. Nggak mungkin banget dia membatalkan semua belanjaannya dengan bilang dompetnya hilang. Bisa-bisa harga dirinya jatuh bersamaan dengan tatapan orang-orang yang mulai curiga karena dia terlalu lama.
"Mbak, mau dibayar cash atau..."
"Sebentar," potong Kim. Dia mencoba kembali mengaduk-aduk isi tasnya. Bener-bener nggak ada. Kim menoleh ke belakang, antrian semakin panjang dan semua orang sedang menunggu untuk mentertawakannya saat ini.
Nggak ada yang dikenal lagi, batin Kim. Andai saja cuma dompetnya yang hilang dan ponselnya masih ada. Kim bisa menelpon siapa saja untuk membantunya. Atau mentransfer ke rekening pemilik butik itu melalui mobile banking di ponselnya.
"Mbak, bagaimana?" Ulang kasir itu nggak sabaran.
Kim pasrah. Ini pertama kalinya di dalam hidupnya dia akan malu. Amat sangat malu. Semua orang akan mengiranya sok berbelanja banyak tapi kenyataannya nggak punya uang.
"Hai," sapa seorang cowok pada Kim.
Mata Kim terangkat meneliti cowok itu dengan seksama. Dari kerutan di keningnya sepertinya Kim sedang berpikir apakah dia mengenal cowok itu atau nggak.
"Butuh bantuan?" Tanya Raga dengan senyum menawan di wajahnya. Raga bisa menyaksikan jerit histeris cewek-cewek di belakang Kim atas ketampanannya. Tapi anehnya Kim tetap datar saat menatapnya. Mungkin itu alasan kenapa Raga bisa ada di tempat ini.
Kim mengabaikan Raga. Dia nggak butuh bantuan dari seorang cowok yang asing menurutnya. Dia hanya sedikit mengingat wajah Raga tapi lupa pernah melihatnya di mana.
Pegawai Kasir nampak gusar karena menunggu terlalu lama. Wajah ramah mereka berubah datar dan sedikit menekuk. Antrian masih sangat panjang dan Kim masih saja nggak memberikan jawaban atas nasib barang belanjaan cewek itu.
"Mbak, maaf itu antriannya udah panjang banget. Bisa tolong dipercepat?" Tanya pegawai Kasir itu. Pertanyaan halus namun menyakitkan. Menandakan bahwa Kim harus segera ambil sikap.
"Gue bisa bantu," bisik Raga masih menunggu.
Kim menatap Raga dengan teliti. "Apa yang Lo mau?" Tanyanya.
Raga terkekeh. Dia suka dengan sifat Kim yang pandai dalam menebak jasa dari tawaran bantuannya itu. "Setelah ini jalan sama gue," ajak Raga.
Alis Kim terangkat sebelah. Segaris senyum miring penuh ejekan tercetak di wajahnya. "You wish," ujarnya sambil menggeleng.
"Oke... Selamat menikmati rasa malu, super model," Raga mengedipkan sebelah matanya. Dia menunjukkan ketidak pedulian meski Kim akan dipermalukan di sana. Raga berbalik hendak meninggalkan Kim.
"Oke fine gue mau!" Teriak Kim akhirnya. Dia lebih baik jalan dengan kunyuk di hadapannya ini dari pada harus terhina oleh semua cewek di sana.
Raga berbalik, senyum penuh kemenangan terpampang jelas di depan wajah Kim. Lalu dia mendekat ke meja kasir, mengeluarkan dompet miliknya beserta kartu debit dan menyerahkan itu pada pegawai Kasir.
Dengan senang hati pegawai Kasir itu menerima kartu debit milik Raga. Menggesekkannya pada mesin EDC senilai belanjaan Kim. "Pin nya Mas," minta si pegawai Kasir.
Raga memasukkan enam angka kombinasi pin kartu debitnya. Setelah pegawai Kasir menekan tombol hijau, keluarlah struk yang menandakan Kim boleh membawa semua barang belanjaannya.
Kim melipat tangan di d**a, menyaksikan bagaimana Raga terlihat puas karena telah membantunya dengan sebuah imbalan. Terlebih Raga dengan baiknya membawakan barang belanjaannya. Membuat Kim menghentakkan kaki dan berjalan keluar lebih dulu.
Flashback...
Raga nggak akan datang ke sebuah Mall kalau saja Mamanya nggak memintanya untuk membelikan sesuatu yang hanya ada di Mall tersebut. Sebuah kue yang kata Mamanya paling enak dan belinya harus di toko langganan mamanya itu.
Begitu turun dari mobil, Raga melihat Kim sedang berjalan memasuki pintu mall yang tak jauh dari tempat parkiran itu. Seperti mendapatkan sebuah kesempatan, diam-diam Raga mengikuti Kim.
Kim yang memang merupakan tipikal cewek cuek yang nggak perduli terhadap sekitar, nggak menyadari kalau sejak tadi dia diikuti. Bahkan masih dengan santainya Kim masuk ke sebuah restoran dan mengabaikan keberadaan Raga yang duduk persis di sebelah mejanya.
Raga ingin menyapa, tapi cara Kim bertingkah membuatnya yakin cewek itu nggak akan menyambut sapaannya dengan kesenangan. Untuk itu Raga hanya perlu bersabar.
Hingga...
Kim tanpa sengaja meninggalkan tasnya di kursi saat akan mencuci tangan di wastafel yang nggak jauh dari sana. Mungkin Kim memang sengaja meninggalkannya karena terlalu percaya diri nggak akan ada orang yang mencuri di dalam sana.
Tangan Raga bergerak cepat membuka tas Kim. Matanya terus tertuju pada Kim saat tangannya mengambil dompet dan ponsel milik cewek itu. Raga kembali memastikan nggak ada apapun di sana yang bisa Kim pakai sebagai alat untuk membantu cewek itu saat kesusahan nanti.
Anjirrrrr, Raga merasa dag dig dug untuk ulah mencurinya yang baru pertama kali dia lakoni seumur hidup itu. Dia langsung pergi dari situ, karena kalau akhirnya Kim menyadari keberadaannya cewek itu pasti akan tau kalau dia yang mengambil semua benda berharga milik Kim itu.
Setelah selesai meminum habis juice yang dipesannya, Kim terlihat keluar dari restoran itu. Untunglah sistem pembayaran di restoran itu adalah membayar terlebih dahulu sebelum makanan datang. Jadi Raga nggak perlu cemas. Kim masih nggak menyadari kehilangannya itu.
Raga masih mengikuti saat Kim memasuki beberapa butik untuk mencari sesuatu. Hingga akhirnya Kim berada lama pada sebuah butik terakhir, Raga tetap setia menunggu dalam persembunyiannya.
Kaki Raga mulai pegal karena Kim berbelanja hingga tiga jam lamanya. Hampir putus asa rasanya menunggu cewek itu selesai. Raga ingin menyerah tapi akan sia-sia usahanya mencuri tadi jika itu dia lakukan.
Finally...
Kim akhirnya sampai pada tempat yang paling Raga nantikan. Di depan sebuah meja kasir, dengan barang belanjaan super gila yang membuat cowok itu geleng-geleng kepala.
Sepertinya semua cewek memang suka belanja.
Setelah dirasa puas melihat Kim cemas karena nggak bisa membayar barang belanjaan cewek itu. Barulah Raga muncul bak pahlawan dan menawarkan jasanya.
And ... the game starts.
Raga mengajak Kim masuk ke sebuah toko kue langganan Mamanya yang ada di Mall itu. Tadi, dia sudah lebih dulu memasukkan barang belanjaan Kim ke dalam mobilnya agar mereka mudah untuk berjalan-jalan.
"Langganan di sini juga?" Tanya Kim. Dia mengeluarkan suara juga akhirnya. Tadinya Raga kira cewek itu akan terus membisu karena marah padanya.
"Nyokap gue," jawab Raga seadanya. "Bentar ya," Raga pun menuju ke pajangan kue yang memajang kue Favorite Mamanya. Sebuah cheese cake berukuran panjang dengan taburan almond di atas parutan kejunya.
Kim mendekati Raga. Dia sudah lebih dulu mengambil sebuah cake dan menyodorkannya pada Raga. "Sekali-sekali nyokap Lo harus makan ini. Ini yang paling enak menurut gue," beritahu Kim.
Raga langsung mengurungkan niatnya mengambil kue kesukaan mamanya itu. Dia menatap Kim yang masih memasang wajah datar namun sudah terlihat bersahabat. Raga menerima kue itu dan langsung membawanya ke kasir.
Setelah selesai membayarnya, Raga langsung mengajak Kim ke parkiran. Kim yang berpikir Raga hanya ingin mengajaknya membeli kue, dan setelah ini mereka akan pulang, ternyata salah besar. Raga bahkan belum memulai sama sekali.
"Gue mau Lo kasih ini langsung ke nyokap gue," ujar Raga memberitahukan permintaannya.
"Apa?" Kim nampak terkekeh nggak percaya. Lagi-lagi senyum ejekan tercetak di wajahnya. "Lo becanda?"
"Lo lupa tadi tadi lo janji apa ke gue?" Raga memperingatkan.
Kim mendengus kesal. "Oke. Lo duluan, gue ikutin dari belakang," geramnya.
"Lo ikut mobil gue. Gue nggak suka iring-iringan," sentak Raga.
"Gue bawa mobil!" Sentak Kim balik.
"Gampang. Gue bisa suruh orang kirim mobil lo pulang." Raga membukakan pintu depan mobil agar Kim segera masuk.
Sebelum masuk, Kim sempat melayangkan tatapan tajam pada Raga. Melalui tatapan itu Kim menyuarakan kelicikan Raga. Dan Raga dengan senang hati membalas tatapan itu dan bilang, ya gue emang licik.
Mobil Raga memasuki kawasan perumahan elite di Jakarta. Sejak perjalanan menuju ke rumah Raga, nggak ada jenis obrolan dalam bentuk apapun di antara mereka.
Saat mobil berhenti di depan sebuah rumah, Kim langsung keluar lebih dulu. Dia ingin mengakhiri pernjanjian gila atas jasa Raga. Dia ingin lepas dari hal konyol yang menyiksanya ini.
Raga mengulum senyum melihat ekspresi Kim yang semakin kesal. "Jangan cemberut di depan nyokap gue," bisik Raga sebelum masuk ke dalam rumah.
Kim nggak merespon. Wajahnya tetap nggak berubah dari semula. Dia hanya sedikit kaget saat tangan Raga menggandengnya masuk ke rumah besar itu.
"Mama," sapa Raga pada seorang wanita berumur empat puluh tahunan yang terlihat masih cantik dan segar.
"Raga, lama sekali kamu sayang," sapa Evelyn balik. Mata Evelyn nampak melebar melihat Raga menggandeng seorang cewek. "Siapa?" Tanyanya penuh minat.
"Hallo Tante," sapa Kim ramah. Bukan hanya ramah, Kim bahkan mencium punggung tangan Evelyn.
Raga cukup terkejut karena ternyata cewek itu mengerti tentang tata Krama. Dia pikir Kim hanya mengerti caranya menghabiskan uang dengan berbelanja.
"Cantik sekali. Siapa nama kamu?" Tanya Evelyn.
"Kim, Tante," jawab Kim sambil tersenyum.
Demi si Doel anak sekolahan, Raga terpana melihat garis senyum menawan dari bibir Kim itu. Ini pertama kalinya cewek itu memasang wajah normal layaknya manusia. Nggak jutek. Nggak dingin. Dan tatapannya melembut di depan Evelyn.
"Pacar kamu, Raga?" Tanya Evelyn setengah menggoda.
"Bukan Tante. Saya temannya," Kim yang menjawab. Dia nggak mau dianggap sebagai pacar untuk cowok sejenis Raga.
"Calon, Ma," jawab Raga santai. Dia tersenyum simpul saat mata Kim melotot ke arahnya. "Mama temenin calon pacar Raga dulu ya. Raga mau ganti baju," ucap Raga.
Evelyn terkekeh. Terlebih saat Raga mengedipkan sebelah matanya pada Kim dan cewek itu membalasnya dengan pelototan. Menggemaskan baginya melihat sepasang muda mudi itu.
"Ayo Kim, duduk," ajak Evelyn.
Kim duduk di sebelah Evelyn dengan nyaman. Tiba-tiba saja mereka berdua tenggelam dalam obrolan yang nggak dan habisnya. Sepertinya Kim dan Evelyn cocok. Semua yang mereka bahas berdasarkan atas sudut pandang yang sama. Mulai dari hal fashion, make-up hingga ke jenis makanan.
Dari atas, Raga menyaksikan itu dengan takjub. Dia nggak pernah melihat mamanya sesenang ini. Karena selama ini Raga memang nggak pernah membawa perempuan ke rumahnya. Raga membawa Kim karena dia terbelit janji pada Mamanya soal kue itu. Awalnya hanya berniat sebentar lalu dia akan membawa Kim ke tempat lain untuk memanfaatkan kesempatan dari janji Kim padanya. Tapi ternyata, Kim akan berakhir di rumahnya ini.
☄️☄️☄️