"Jangankan dompet sama hape Lo. Nyopet hati lo aja gue bisa."
****
Raga berbaring di atas kasurnya dengan tangan terangkat memegang sebuah dompet. Dia membuka dompet berwarna pink tersebut dan memandang isinya. Hanya ada beberapa kartu kredit unlimited dan kartu ATM di dalam sana. KTP serta SIM dan kartu penting lainnya. Juga member VIP dari sebuah club ternama. Dan... Member hotel yang cukup mengganggu penglihatan Raga.
Kim sepertinya nggak suka membawa uang cash. Di dalam dompetnya hanya ada beberapa lembar uang kecil yang mungkin digunakan untuk keperluan membayar parkir atau lain sebagainya.
Nggak ada yang menarik. Kecuali satu, sebuah foto Kim yang diambil secara candid di dalam dompet tersebut. Raga mengeluarkannya. Dia tersenyum melihat foto itu.
"Kalo lo senyum terus kayak gini, lo jauh lebih cantik," ujarnya pada foto itu.
Raga teringat sesuatu. Dia mengambil ponselnya dan amat sangat bersyukur karena tadi sempat menyimpan semua akses kontak Kim di ponselnya itu. Diam-diam Raga juga telah mengembalikan ponsel Kim ke dalam tas cewek itu.
Raga membuka aplikasi pesan, lalu mengirimkan sebuah SMS ke kontak bernama Kim.
Lo masih harus kabulin satu permintaan gue kalo mau dompet Lo kembali.
Sent.
Setelah mengirimkan pesan itu, Raga menaruh kembali ponselnya di samping dompet Kim. Dia masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
****
Kim baru aja selesai mandi saat telinganya sayup-sayup mendengar dering telepon. Dia yakin itu berasal dari ponselnya. Mengikuti arah suara, Kim mulai mencari keberadaan benda sialan itu. Dan telinganya semakin terfokus ke dalam tasnya.
Kim langsung membuka tasnya dan mendapati iPhone keluaran terbaru itu di dalam sana. Kening Kim makin berkerut dengan kejanggalan ini. Jelas-jelas ponselnya itu nggak ada saat dia berbelanja tadi. Bagaimana bisa sekarang ada di dalam tasnya? Memikirkan itu membuat Kim mengabaikan panggilan dari Marco.
Sampai akhirnya Marco nggak menghubunginya lagi, Kim mengusap layar ponselnya. Dia membaca sebuah pesan yang dikirimkan dari nomor tak dikenal.
Lo masih harus kabulin satu permintaan gue kalo mau dompet Lo kembali.
Kim marah, tentu saja. Dia merasa penasaran tentang siapa yang tengah bermain-main dengan dirinya sekarang. Nggak perlu membalas pesan tersebut, Kim lebih memilih untuk menelpon orang itu langsung.
Menunggu panggilan terhubung, Kim berbaring di atas kasurnya. Hampir saja dia mematikan sambungan telepon karena terlalu lama nggak ada jawaban, sebuah suara sahutan langsung terdengar dari ujung telepon.
"Ini siapa?" Tanya Kim langsung. Terdengar orang yang ditelponnya itu terkekeh.
"Gue nggak minat buat main-main sama lo. Apa mau Lo?"
"Jutek banget sih Lo jadi cewek," sahut si penelpon.
Deg.
Kim jelas masih mengingat suara itu. Suara menyebalkan yang telah membantunya tadi siang. Cowok yang dengan pamrihnya meminta balasan atas jasa yang telah diberikan. Dan...
"Jadi Lo?!" Bentak Kim.
"Iya gue. Kenapa?"
"Licik. Lo berniat main-main sama gue, hah?"
"Tepat sekali."
"Mau Lo apa sih?! Gue nggak kenal ya sama lo. Jadi gue rasa kita harusnya nggak ada urusan apapun," tegas Kim.
"Gue bakal bikin lo kenal sama gue kalo lo mau. Bahkan lebih dari sekedar kenal."
"Nggak Sudi!"
Raga tertawa. "Jadi lo udah nggak berminat nih dengan dompet lo ini?"
Kim mendengus. Mana mungkin dia nggak berminat. Dia paling malas melaporkan kehilangannya itu ke kepolisian untuk mendapatkan pengganti yang baru. Bisa memakan waktu lama dan bertele-tele.
"Apa yang lo mau?" Tanyanya. Sekali lagi, dia kalah
"Nge-date sama gue. Just one day. Tapi bener-bener satu hari full."
Kim memijat pangkal hidungnya. Dia nggak mau memperpanjang cerita lagi. "SMS gue kapan dan dimana. Pastiin kalo ini yang terakhir."
Lalu telepon ditutup.
Kim membanting hapenya dengan kesal ke lantai. Dia nggak suka berinteraksi dengan orang asing. Nyatanya sekarang dia harus melakukan hal yang paling dibencinya itu. Hanya untuk sebuah dompet yang isinya adalah surga dunia baginya.
****
Hari yang Raga nantikan akhirnya telah tiba. Di mana seorang Kim akan mengikuti permainannya. Raga telah merancang segala sesuatu untuk hari ini. Sesempurna mungkin.
"Gue nggak nyangka Lo punya bakat jadi pencopet," sindir Kim. Membuat Raga tertawa.
"Jangankan dompet sama hape Lo. Nyopet hati lo aja gue bisa."
Kim bereaksi dengan mengernyitkan mukanya untuk perkataan menjijikkan Raga itu. "Gue punya pacar kalo Lo lupa," ujar Kim mengingatkan.
"Dan sebentar lagi Lo akan berkabung buat pacar Lo itu," sahut Raga santai.
Kim melotot pada Raga. Tapi pada akhirnya dia memilih untuk diam ketimbang berdebat lebih panjang.
"Bisa jalan sekarang?" Tanya Raga dengan senyuman jahilnya. Dia terkekeh karena Kim nggak menjawab apapun, apalagi menatapnya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Menerobos sepinya Ibu kota di Sabtu pagi yang indah ini. Sepanjang perjalanan Kim hanya memainkan ponselnya tanpa berminat mengajak Raga mengobrol.
Raga membiarkan itu, dia terus berfokus pada jalanan di depan. Mobilnya mulai melintasi pinggiran Ibukota.
Mata Kim terangkat ke depan. Dia memperhatikan jalanan yang mulai asing di matanya. "Kita mau kemana?" Tanyanya.
"Puncak," jawab Raga tanpa menoleh.
"Apa?! Lo gila ya?!" Kim kembali gusar. Puncak bukanlah tempat berjarak dekat hingga mereka bisa datang dan pergi seenaknya ke sana. Apalagi berduaan doang dengan cowok yang aneh ini.
"Berisik," Raga seakan nggak perduli. Dia terus menginjak gas melanjutkan perjalanan.
"Raga ini nggak lucu ya!"
"Gue nggak lagi melucu," jawab Raga santai.
"Puter balik nggak?" Kim menekan suaranya. "Raga!" Masih nggak ada respon dari cowok itu.
Tenang Kim. Semakin Lo emosi, cowok sinting itu akan semakin menang.
"Kita mau ngapain ke puncak?" Tanya Kim lagi, kali ini dengan nada yang lebih terdengar waras.
"Nge-date," tapi Raga justru menjawab dengan kata-kata yang bisa memancing emosi cewek itu lagi.
Kim menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sandaran kursi. Dia memijat pelipisnya.
"Santai Kim. Kenapa segitu takutnya Lo gue apa-apain di sana? Sementara Lo nggak pernah takut keluar masuk hotel sama cowok Lo itu."
Kedua alis Kim bertaut. Dia nggak ngerti maksud dari omongan Raga barusan. Apakah sebuah sindiran atau menghina terang-terangan.
Raga menatap Kim dengan intens. Cewek itu diam, nggak marah ataupun protes dengan ucapannya barusan. Itu artinya dia mengatakan hal yang memang terjadi, Kim secara diam telah mengakuinya.
****
Karena ini weekend, puncak padat. Membuat perjalanan Raga dan Kim berakhir setelah enam jam. Mereka bahkan nggak sempat makan karena Kim nggak mau diajak mampir kemana pun. Kim yang keras kepala ini selalu saja menampilkan wajah jutek dan dinginnya pada Raga. Padahal kalo aja yang diajak oleh Raga ini adalah cewek normal kebanyakan, pasti sudah lompat kegirangan.
Berhenti di sebuah Villa mewah di kawasan puncak, membuat mata Kim menatap Raga penuh kecurigaan. "Lo bermaksud ngajak gue nginep di sini?" Tanyanya. Terlalu santai kalo dibilang Kim takut Raga melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Raga nggak menjawab. Dia langsung turun dan menyapa para penjaga Villa dengan ramah. Melihat itu, Kim yang tadinya nggak berniat turun pun mulai mendekati Raga.
"Sore Nona. Kamar Nona sudah saya persiapkan. Mau beristirahat?" Tanya seorang Ibu-Ibu tua berpakaian tradisional.
Kim tersenyum. Dia mengangguk.
"Mari saya antar," Ibu itu mengajak Kim masuk ke dalam. Kim mengikutinya tanpa permisi pada Raga lagi.
Villa ini sepertinya milik keluarga Raga. Terlihat dari beberapa panjangan Poto yang tertempel di dinding. Begitu banyak potret kebahagiaan keluarga tergambar dari setiap Poto tersebut.
"Ayo Nona," ajak Ibu itu.
Kim mengangguk dan mengikutinya kembali. "Nama Ibu siapa?" Tanya Kim. Dia harus mengetahui nama seseorang untuk bisa memanggil orang tersebut dengan sebutan apa.
"Panggil aja Bik Idah, Non."
"Iya Bik Idah, terima kasih ya."
"Kalau Nona butuh bantuan. Panggil aja, Bibik selalu ada di dapur."
Kim mengangguk. Dia membiarkan Bik Idah pergi meninggalkannya seorang diri di sebuah kamar besar yang terkesan girly itu. Kim menyusuri setiap jejak arsitektur di kamar tersebut. Hingga dirinya sampai pada sebuah teras yang menyajikan sebuah view panorama luar biasa indah dari luar kamarnya itu.
"Lo nggak mau makan?" Tanya Raga yang tiba-tiba aja udah ada di sana.
Kim menoleh ke belakang. "Belum laper," jawabnya. Lalu menoleh ke depan lagi menikmati sejuknya udara puncak.
Raga berdiri di samping Kim. Menumpukan tangannya pada pembatas teras. Dia memiringkan kepalanya ke samping untuk dapat melihat wajah Kim. "Tenang aja. Gue nggak akan apa-apain Lo kok di sini. Gue punya alasan kenapa gue bawa Lo ke sini."
Kim sedang berada dalam mode good mood. Dia menatap Raga dengan sama intens nya. "Alasan apa?"
"Kalo gue ngajak Lo jalan di Jakarta, akan besar kemungkinannya antek-antek Marco ngeliat kita. Gue cuma nggak mau Lo harus ngeliat pertumpahan darah karena itu."
Kim menggeleng. "Penting banget ya ngehabisin seseorang cuma untuk nunjukin siapa yang lebih berkuasa?"
Raga tersenyum simpul. "Dunia ini nggak akan damai tanpa adanya seorang pemimpin kan?"
Kim nggak menjawab. Tatapan Raga sepertinya baru saja menyihirnya dalam letupan gila yang merambat ke jantungnya saat ini.
"Dan untuk menjadi pemimpin, perang diperlukan. Darah harus dialirkan. Harus ada yang kalah."
Kim mengangkat bahu. Dia kurang mengerti dengan politik semacam itu. "Dan tujuan Lo bawa gue kesini apa?" Dia kembali menatap Raga dengan cara yang lebih memikat.
Raga tersenyum. Tanpa bisa dicegah tangannya terangkat dengan jari mengusap bibir Kim yang memerah alami. "Buat nunjukin ke elo, kalo ada yang lebih pantes buat dampingi Lo ketimbang Marco."
Kim tersentak. Apa itu maksudnya Raga yang lebih pantas? Cowok itu bahkan masih mengusap bibirnya. Membuat jantungnya melonjak sesak. Nyatanya Marco tidak pernah membuatnya deg-degan seperti sekarang. Apa itu artinya Raga benar? Sadar Kim!
Raga mengulum senyum. Dia menjauhkan tangannya dari bibir Kim. "Makan yok. Meski Lo bilang nggak laper, perut Lo tetep harus diperhatiin. Kalo sama diri sendiri aja Lo nggak sayang, gimana bisa Lo punya rasa sayang ke orang lain."
Sekali lagi, Kim dibuat tercengang oleh Raga. Dia nggak bisa mengelak. Malahan kakinya dengan patuh mengikuti langkah Raga keluar dari kamar itu. Turun ke bawah menuju dapur yang telah membuat hidung Kim mencium aroma wangi dari masakan.
Selama makan, Kim melahap habis isi di piringnya. Masakan Bik Idah luar biasa enak, terlebih lagi Kim nggak pernah memakan masakan khas rumahan seperti ini. Biasanya, dia hanya menyantap hidangan fast food atau jenis modern lainnya.
"Lo istirahat dulu aja. Ntar malem gue mau ajak Lo ke suatu tempat," kata Raga setelah mereka selesai makan.
"Kemana?"
"Lo nggak akan tau meski gue sebutin. Pasti Lo suka," sekali lagi Raga menyentuh wajah Kim. Kali ini mengusap hangat pipi cewek itu hingga rona samar muncul akibat sentuhan itu.
Lalu Raga meninggalkan Kim dengan segala keterkejutan cewek itu.